Friday, January 29, 2010

ATM = Anjungan Tanpa Melihat

Sejak merebaknya kasus pembobolan dana simpanan nasabah melalui ATM, maka sudah beberapa kali ini kalau ke ATM saya jadi ikutan waspada dan ekstra hati-hati. Sebenarnya modus ini sudah lama saya ketahui dari milis, tapi ga nyangka sekarang benar-benar jadi berita besar di Indonesia.

Yang menarik, dalam seminggu saya mengunjungi 3 ATM yang berbeda dari 2 bank, ternyata ada perangkat baru yang ditempelkan untuk menutupi gerakan tangan nasabah saat menekan keypad. Perangkat ini terbuat dari material plastik dengan bentuk melengkung mirip kubah. Hal ini diyakini menambah rasa aman dan nyaman karena kemungkinan untuk diintip menjadi lebih kecil, baik oleh orang dibelakang maupun melalui kamera pengintai.

Tidak ada yang salah sih dari niat ini, tapi yang saya rasakan dan saya perhatikan pada antrian didepan saya, ada kesulitan karena tidak terbiasa menekan tombol tanpa melihat angkanya. Meskipun saya sangat tahu persis layout dari angka 0-9 namun masih saja kesulitan ketika merabanya (hmm..andai meraba yang lain..jagoan!! misal saat meraba telinga/hidung/mulut sendiri… wkwkwkkk ..pasti mikir jorok. Iya kan? Kannn? Kaaaannnnnn??? Hehe..)

Saat menekan angka PIN karena hanya terdiri dari 6 angka dan sudah terbiasa melakukannya, hal ini tidak begitu merepotkan. Namun yang menyebalkan adalah saat memasukkan banyaknya variasi angka saat membayar tagihan maupun melakukan transfer.

Nah yang terjadi saya malah jadi berlama-lama didepan mesin ATM, celakanya karena salah meraba saya melakukan kesalahan pencet. Repotnya lagi tombol cancel pun tidak terlihat. Akhirnya terpaksa membungkukkan badan dan memiringkan kepala demi mengintip lokasi yang benar (pose yang agak aneh memang).

Walah..walah..walah… ingin aman kok malah jadi repot begini ya..sekarang bener-bener harus murni ke e-banking lagi deh..

Posted by ndablek in 15:43:38 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 12, 2010

Punya? Jagalah.

Memiliki adalah hasrat dari setiap orang. Ada yang giat berlomba-lomba memiliki jabatan tinggi, ada yang ingin memiliki keluarga yang bahagia/pasangan yang super jelita, ada pula yang mengingini kekayaan besar dan mengejarnya dengan rajin.

Anehnya ketika yang dimiliki sudah diraih, atau dalam kondisi ber-’ada’ seringkali orang justru cenderung menjadi lebih malas.

Bagi wanita yang belum punya suami maka akan sangat rajin menjaga penampilannya, berusaha semodis dan se- ’special edition’ mungkin. Tapi begitu sudah punya suami dan berasa laku, konon tampilan akan menjadi ’home edition’, daster dan lemak menggelambir itu biasa (betul gitu ga sih? Haha..)

Pria juga sama saja, ketika belum berpasangan maka akan menjaga penampilan, cara berpakaian dan fisiknya. Tapi begitu sudah aman dengan istrinya maka perutpun mulai dibiarkan membuncit dan selalu menggunakan baju yang sama (pokoknya yang ditumpukan paling atas hehe..)

Saya teringat ini kebetulan karena barusan saat mencuci gelas dan sendok (maklum hehe..) saya sadari sekarang saya selalu membiarkannya menjadi banyak dulu. Padahal dulu saat hanya punya 2 gelas dan sedikit sendok maka habis pakai langsung dicuci karena takut kehabisan, tapi sekarang berpikir ”kan masih ada yang lainnya dulu..” sehingga kadang tidak tercuci hingga lewat 2 hari hahaha…

Jadi pantas saja saya merasa selalu ada hal yang rasanya tidak segera bisa saya miliki dengan ’lebih’, mungkin saya masih dilihat kalau saya memilikinya maka saya akan malas, tidak lagi giat bekerja, malas belajar, malas bangun pagi dan malas membangun kualitas pribadi.

So, moral of this story:

Nampaknya tidak selalu dalam kondisi ber-’ada’ selalu menjamin saya menjadi orang yang lebih baik.

Posted by ndablek in 17:07:52 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 5, 2010

Pengkhianatan Tanda Baca

Saya baru ngeh akhir-akhir ini, dengan saya sadari sepenuhnya tanda baca antara titik dan koma itu terbalik-balik ketika mengetiknya di Excel, tapi tidak saya pedulikan.

Bahasa Indonesia yang kita pelajari sejak SD menganut titik untuk pembatas ribuan (contohnya 1.250.000.000) dan koma untuk unit dibawah satuan (misal: 0,6). Hal ini juga berlaku untuk penulisan jumlah uang.


Namun saat bekerja, penulisan Rp 1.000.000,00 terbalik menjadi Rp 1,000,000.00 dan sepertinya kita cuek saja meskipun jelas-jelas standar dunia Barat yang dipakai.

Kita pasti tahu yang dimaksud dan demikian juga orang lain yang menggunakan file tersebut.

Namun ketika menuliskannya dengan tulisan tangan ternyata.. saya masih konsisten lho menggunakan yang diajarkan sejak SD itu.

Jadi penyakit ’maklum’ ini hanya kambuh saat bekerja dengan dokumen di komputer. Bahkan kadang orang masih melafalkan 7.5 (tujuh point lima) sebagai tujuh koma lima.

Nah, kalau saja ada tabel yang mencantumkan angka 6.500 hhyaaa..bakal berabe kalau ternyata hanya desimalnya yang sengaja dibuat 3 digit.

Meskipun demikian banyak yang tidak mau repot menyetting ulang software-nya sesuai sistem penulisan di Indonesia meskipun itu bisa dilakukan dengan mudah, karena akan terasa janggal.

Apakah ini merupakan pengkhianatan Sumpah Pemuda?

Wkwkwkkk..terlalu jauh ya…


Posted by ndablek in 14:28:19 | Permalink | No Comments »

Saturday, December 19, 2009

Mencoba hal baru

Tadi siang saya menyempatkan ke tempat cuci mobil setelah selama ini cuma disiram-siram saja kalau habis kehujanan. Males juga sih kalau dicuci bersih besoknya kehujanan lagi, yah minimal lapisan air hujannya terbilas bagi saya sudah cukup.

Kadang kalau tengah malamnya kehujanan, ga mungkin kan harus bangun, maka paginya ketika mau berangkat kerja saya sempatkan untuk menyiramnya dulu dengan air ledeng. Tapi biasanya tidak sempat mengelapnya, akhirnya kalau di lampu merah cenderung dilirik karena jalanan sudah kering tapi mobil saya masih kuyup, dengan wiper yang sesekali saya nyalakan kalau air dari atap masih mengalir ke kaca saat direm hahaha…

Ditempat cuci itu ternyata pekerjanya sebagian besar berbahasa daerah, artinya mereka sama seperti saya yang merantau ke Jakarta.

Berpetualang atau mencoba hal yang baru, melakukan yang belum pernah dilakukan atau mengadu nasib ditempat yang belum pernah dikunjungi sangat membutuhkan keberanian.. berani keluar dari zona nyaman.

Perantau yang merata dimana-mana memang umumnya dari pulau Jawa. Mungkin Jawa sudah terlalu padat, terlalu banyak anak dilahirkan. Apakah ada hubungannya dengan ’mangan ora mangan asal ngumpul–>jadi beranak banyak? We never know haha..

Seperti perjalanan saya minggu lalu di Pangkal Pinang, saya bisa jumpai orang Solo yang sukses membuka sop buntut Solo, RM Bakso Solo, RM Sate kambing Solo. Hmm..pulau yang bahkan baru saya ketahui exist sejak tahun 2004 (oh my God hehe..) itupun karena dapat tugas kantor.

Entah bagaimana tapi setahu saya, kami yang tinggal di Solo hanya familier dengan Bali atau Batam kalau menyangkut pulau diluar Jawa. Diluar itu rasanya sudah terlalu asing untuk dicari tahu apalagi ditinggali.

Nah karena itulah saya menjadi sangat salut kepada para perantau itu tadi, sangat berani menentukan arah hidupnya bahkan ke tujuan perantauan yang tidak populer.

Kata kuncinya adalah BERANI MENCOBA HAL BARU, DILUAR YANG UMUM.

Berani mencoba itulah yang saya coba terapkan sore ini. Karena di Bangka pula saya pernah dikenalkan jeruk panas yang dicampur garam (dan ternyata sangat enak), maka kali ini saya mencoba air teh dicampur garam, tetap dengan gula tentunya.

Sebelumnya saya nikmati dulu separuh gelas dengan citarasa yang wajar. Baru kemudian separuh sisanya yang dipakai untuk eksperimen garam tadi.

Dan hasilnya…

Jreng..jreng… ga enak! Sumpah! Yiakksss!!!

Kesimpulan:

Well, tidak semua hal baru bisa mendatangkan kebaikan/manfaat…tapi at least sudah mencoba.

Hehehe…

Posted by ndablek in 15:43:55 | Permalink | No Comments »

Friday, December 18, 2009

Si udik maen ke Mal

Mumpung long weekend tidak ada salahnya dong jalan-jalan, yah.. meskipun Jakarta ini kota yang aneh dan tidak bisa saya pahami meskipun sudah 6,5 tahun saya tinggal disini sejak pindah kerja dari Karawang. Bagaimana tidak, wong jalan yang begitu lebar dan sanggup untuk 6 lajur searah aja bisa macet parah karena U-turn yang dimaksudkan untuk 2 lajur paling kanan diembat sampai 4 lajur sebelah kanan. Salah ambil jalur, ya tinggal bilang I’m sorry good bye, dadaaahh..atau kalau ngeyel nungguin bisa sampe kumisan disitu, minimal dipelototi dan diklakson-klakson!

Tujuan kali ini ke Super Mal Kelapa Gading untuk cari buku di Gramedia, sebuah tujuan yang sebenarnya kurang bersahabat buat saya yang asal kampung ini, apalagi sudah lama sekali ga maen ke Mal untuk tujuan cucimata. Biasanya saya langsung nyasar supermarketnya terus pulang.

Kenapa? Karena:

- untuk mendapatkan tempat parkir dihari libur ini saya butuh 20 menit lebih meskipun gedung parkirnya super besar.

- mengingatkan saya pernah tersesat mencari pintu keluar menuju parkiran yang benar saat mengantar teman luar kota yang pengen jalan-jalan disitu (malu deh..)

- niat belanja 100ribu bisa jadi 400ribu –> bahaya buat kelangsungan hidup saya esok hari.

- terlalu banyak cewek cantik modis yang jalan ama cowok borju gendut, which is..very very annoying.. ibaratnya timbangan dipasar: perlu di ‘terra’ ulang karena tidak balance

(hahahah…terbuktinya teori planet Venus: wanita lebih menyukai ’rasa aman’ daripada penampilan!)

Singkat cerita buku yang dicari sudah didapat, saya memutuskan untuk sedikit menyusuri Mal dan walahhh..ternyata Super MKG yang dulu gabungan MKG I, II dan III sekarang sudah sampai V…buset gede banget. (Tapi masih belum saya temukan yang IV, ada yang tahu?)

Disini juga nampak bedanya sama pasar Klewer di tempat asal saya (wkwkwkkk..kebangetan ga sih perbandingannya?), penjaga toko saja nampak jauh lebih modis dan sedap dipandang, apalagi pengunjungnya…wow..blonde, bright smooth skin, long legs, short skirt, low neck etc..etc..

Kalau di Klewer wis sempit, sumpek, yang jualan berkonde dan jarikan. Hahaha..

Lalu saya makan di Food Temptation (seingat saya dulu food court biasa), lagi-lagi dapat pengalaman seru. Makan disitu ternyata butuh license card berupa deposit. Jadi bayar deposit terserah mau berapa, 500ribu, 2juta, 5juta juga boleh. Nanti konsumen pegang kartunya yang bisa digesek mirip kartu kredit, aktif setahun kalau ga salah, bisa di top up juga kalau mau habis saldonya. Cuma kalau bayarnya pakai kartu kredit ga bisa ditukar uang lagi.

Karena mau makan disitu, akhirnya setelah tanya ini itu saya ambil juga….yang 50ribu! Setelah selesai masih sisa 15ribu, langsung saya refund-kan. Wakakakakkkk…


Ada-ada saja kota ini. Masih mencengangkan buat wong kampung seperti saya.


Posted by ndablek in 10:14:46 | Permalink | No Comments »

Monday, December 7, 2009

Investasi Koin

Berkat kasus Prita maka popularitas koin meningkat kembali.
Bedanya kalau emas ato permata popularitasnya naik maka harganya akan ikutan meroket, tapi pada kasus “Koin Untuk Prita” ini yang terjadi sebaliknya.
Orang menjadi sangat mudah untuk memberikan koinnya, artinya…value dari koin itu sendiri telah terdepresiasi dan menjadi jauh lebih kecil dibandingkan nominal yang tertera (bisa dibilang = NOL).

Nah… dalam hukum investasi, saat seperti inilah saat yang paling tepat untuk berinvestasi dengan membeli sebanyak-banyaknya koin, tentunya dengan harga yang tetap menguntungkan si pemilik koin,
Contohnya koin Rp 500, - yang nilainya sudah NOL bagi pemiliknya dihargai / dibeli dengan harga Rp 100,-
lalu menunggu kembali hingga nilainya kembali ke nominal awal untuk mengeruk keuntungan (profit taking).

Mariii….berinvestasi dengan koin..

wkwkwkkkkk….

Posted by ndablek in 13:57:44 | Permalink | No Comments »

Saturday, December 5, 2009

Sebahasa

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:”MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:”MS 明朝”; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”\@MS Mincho”; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”MS Mincho”; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:72.0pt 68.05pt 2.0cm 68.05pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Kebetulan saya lagi di NTB kok jadi kepikiran hal ini.

Hal apa tho kuwi? Nah begini…

Semalam waktu saya makan di salah satu restoran lesehan di Mataram…saya melihat seekor kucing mengeong, kambing embek embek, kodok teot tekblung..halahhh..lebay.. J yg benar seekor kucing saja kok…dan beberapa ayam.

Saya perhatikan, bunyi meongnya saat minta makan (dan saat ditendang hehee..) kok sama ya pd saat saya melakukan hal yang sama di kota-kota lain di Indonesia?

Apakah semua kucing itu bersaudara atau sebangsa dan sebahasa?

Saya jadi kepikiran kambing yang embek-embek itu tadi, kemudian ayam dan tiba-tiba saya sudah menjadi pengamat sastra hewan karena mencermati suara dan bahasa mereka.

Ketika diingat-ingat waktu dulu saya sempat pelihara anjing, apapun rasnya maka suara dan menyalaknya akan sama untuk aktivitas yang sama, meskipun beda bass dan treble nya. Coba lihat di tv untuk hewan-hewan diluar negeri, pasti sama kok bahasanya J

So, untuk hewan maka kesimpulan saya dimanapun mereka dilahirkan, sepanjang masih satu spesies maka mereka tetap berbahasa satu..bahasa spesiesnya.

Namun apakah hal ini berlaku ada manusia? Kenapa manusia bahasanya beda-beda?

Hmm…jangan buru-buru..

Manusia sebenarnya juga memiliki bahasa yang universal, yaitu saat oek-oek, saat menangis sesenggukan, saat tertawa dan saat bersiul. Benar ga sih? (*belum yakin*)

Namun seiring dewasa maka bahasa manusia semakin kaya dan akhirnya berbeda antar daerah sehingga tidak universal lagi. Tidak usah beda negara, lha wong sesama pejabat saja tidak sebahasa kok soal siapa yang menikmati 6,7triliun uang talangan bank Century..(wkwkkkk makin ga nyambung!)

Trus kenapa dibahas? Iseng aja hahaha…!

Posted by ndablek in 12:34:38 | Permalink | No Comments »

Monday, November 9, 2009

Mati Gaya

Bengong deh siang ini karena notebook terpaksa parkir sejenak di IT, kurang lebih 2 jam saya mati gaya tdk ada yang bisa dikerjakan karena kalau dikantor hampir semua pekerjaan menggunakan komputer (termasuk maen games, baca koran dan denger radio hehe…eh itu termasuk pekerjaan bukan?)
Kemudian menjelang sorenya ada lebih dari 5kali listrik tidak mengalir dikantor saya. Genset cadanganpun nampaknya melempem menghadapi kejadian tersebut.
Berkali-kali lampu nyala untuk kemudian mati lagi untuk waktu yang lebih lama daripada waktu nyalanya.
Ruangan jadi PENGAP, PANAS dan GELAP!
Kasihan juga yg pakai PC pasti kesal dan kemungkinan besar filenya tidak teramankan karena UPS yang mirip kerupuk diangin-angin tadi. Beruntung saya pakai notebook.

Tersadar pula, ternyata kehidupan saya ini memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi. Begitu ada yang hilang, saya langsung tidak nyaman.
Dulu tanpa AC saya bisa tidur, sekarang rasanya..beeuuhh di Jkt tanpa AC?? Bisa bikin pabrik garam non subsidi!
Dulu tanpa komputer masih bisa kerja di ruangan, sekarang rasanya ga mungkin.
Dulu tanpa koneksi internet masih tidak masalah, sekarang bisa mati gaya.
Dulu tanpa kendaraan masih bisa, sekarang mualeeessss polll kalo harus jalan kaki.
Dulu tanpa HP fine2 saja, sekarang… rasanya sudah setara ketinggalan dompet, mesti diambil!

Sudah mirip psikotropika barangkali, adiktif dan tanpanya bisa bikin SAKAW!

Posted by ndablek in 11:44:22 | Permalink | No Comments »

Sunday, October 25, 2009

Pelawak

Melihat Tukul, Srimulat, Cagur, Patrio dan banyak grup lain kadang membuat saya iri juga, senangnya ya kerja ga serius dan cengengesan begitu tapi dibayar mahal. Lebih mahal dari gaji karyawan managerial level yang bekerja keras memeras otak untuk melahirkan ide dan kreasi baru, konsolidasi anak buah hingga menjadi leader di lapangan.

Sudah begitu mereka terkenal pula, banyak yang ingin berdekatan sekedar berjabat tangan, berfoto bareng atau meminta tandatangan.. hmm… sekilas sungguh merupakan sebuah cara menjalani hidup yang menyenangkan.

Mulia, karena mendatangkan keceriaan bagi orang lain. Menghibur, terhibur dan dibayar!

Namun ternyata tidak semua orang bisa melucu, sering juga saya melihat orang yang berusaha melucu tapi tidak berhasil, malah garing dan wagu.

Dulu waktu ada API di TPI kita bisa melihat bahwa semua kontestan berlatih keras dan tampil luar biasa dengan skenario yang telah dirancang sedemikian rupa, namun tidak semua berhasil mengocok perut kita. Kalaupun penonton tertawa mungkin tertawa sinis karena tidak ada yang perlu ditertawakan.. hehe..

Jadi kesimpulan saya melawak itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk berhasil menjalani pekerjaan (yang sekilas indah dan menyenangkan karena selalu cengengesan dan serba bercanda) itu pasti dilatar belakangi oleh pemikiran super serius untuk mencapai target dalam durasi yang terbatas:

Penonton harus bisa terpingkal-pingkal!

Hal ini tentu lebih diperberat tatkala si pemain sendiri mood-nya sedang tidak baik karena ada masalah pribadi atau keluarga, yang mana pasti terjadi dalam hidup setiap manusia.

Kalau kita, saat mood sedang jelekpun masih dimungkinkan untuk bekerja, namun mood jelek pelawak tentu merupakan sebuah hambatan fatal dalam karirnya jika tidak pandai ditutupi.

Seorang teman pernah berkata, pelawak yang hebat adalah pelawak yang tidak tertawa ketika melawak. Dengan kata lain bisa menahan ketawa.Pendapat saya boleh jadi berbeda. Mereka bisa tidak tertawa mungkin karena lawakan yang sama diucapkan berulang-ulang hingga bosan dan tidak ada efek lucunya lagi bagi mereka. Bisa jadi karena sebenarnya mereka sedang dirundung masalah.

Yang lebih repot lagi, image pelawak ini tidak bisa ditanggalkan meskipun saat tidak bekerja. Jadi kemana-mana terpaksa berusaha tampil lucu, segar dan menghibur.

Nah, menurut saya ini sebenarnya justru merupakan tekanan tersendiri.

Jadi……Sebenarnya siapa yang lebih terhibur dan berbahagia: kita yang tertawa lepas karena lawakan pelawak atau pelawak yang berusaha mati-matian membuat kita tertawa?

Posted by ndablek in 15:20:16 | Permalink | No Comments »

Monday, October 19, 2009

Sumpah (Sampah??)

Membaca status seorang teman di FB mengenai kontrak anti korupsi para menteri tiba-tiba saya jadi tergelitik.  Seberapa efektif kah kontrak politik, sumpah jabatan atau sejenisnya itu?

Dokter punya sumpah profesi, tapi sering saya menjumpai oknum dokter yang profit oriented, ada yang suka mengganti resep dokter lain dan bilang jangan diteruskan, padahal obatnya masih banyak (belakangan saya ketahui isinya sama hanya beda produsen à mungkin demi mengejar insentif), ada yang  tidak empatik macam robot dan terkesan selalu jump to conclusion  tanpa mau mendengar sampai tuntas. Ada yang hasil labnya belum keluar, tapi berhubung dokternya sudah mau pulang akhirnya saya langsung dikasih resep. Bahkan saya juga pernah datang dalam kondisi sakit parah, tapi banyak ditanya-tanya kerja dimana dan ada asuransi tidak (karena ini mahal banget lho, katanya), baru dipersilahkan masuk ruang periksa setelah saya pastikan saya tercover perusahaan.

Pengen misuh sebenarnya, tapi itu sdh cerita lalu.

Ada juga oknum polisi, yang saya yakin juga ada sumpah pengabdiannya. Tapi sudah menjadi rahasia umum kalau ada oknum polisi juga menyukai suap, yang punya pengalaman ditilang lalu diajak damai pasti sudah banyak. Hebatnya mereka sudah pasang harga kadang tawar menawar persis seperti jual beli sayur di pasar. Saya pernah mengalami juga pakai kendaraan plat AD melewati kota Tasikmalaya (plat Z), ditilang karena menerobos lampu merah yang tertutup pohon lebat, yang kalau bukan orang Tasik pasti tidak tahu ada traffic light-nya.

Eh polisinya membenarkan tidak terlihatnya traffic light-nya itu tapi bilang tak peduli, itu bukan urusan mereka tapi DLLAJR. Hhegghh.. lalu diminta ‘titip 50ribu’ atau datang sidang.. Ya terpaksa pilih titip, masa saya harus ke Tasikmalaya lagi demi sidang hal sepele begitu? Solo – Tasik butuh 7 jam perjalanan darat, Bro!

Hebatnya lagi di Samsat tempat saya dulu ngurus SIM ada spanduk besar “Hindari calo”, tapi begitu selangkah masuk saja sudah banyak tawaran dari para calo. Logikanya para polisi kalau memang niat memberantas calo kan gampang saja, pasti wajahnya sudah sangat dihafal karena sliweran disitu. Eh..begitu masuk ruang foto, didalam juga ada calo, seenaknya masukin orang untuk foto tanpa antri.

Lalu, kalau melihat televisi mengenai persidangan, sebelum bersaksi pasti semua akan diminta bersumpah tapi tetap saja ya banyak yang memutar balikkan fakta. Lalu uang bermain disana.

Sumpah sepertinya tidak sakral lagi.

Kalau begitu, apakah sumpah itu masih diperlukan?

 

 

 

 

 

Posted by ndablek in 08:10:06 | Permalink | No Comments »