Wednesday, August 18, 2010

Konsumerisme Puasa

Makin mahal saja ya harga barang saat ini.

Yang paling berasa tentunya harga kebutuhan sehari-hari. Dari pengalaman pribadi, berita di tv hingga keluhan para pedagang makanan yang kadang terucapkan sambil menyiapkan pesanan, akhirnya saya tahu betapa tingginya harga sembako saat ini.

Terutama di bulan puasa menjelang Lebaran. Pola konsumerisme saat ini telah mendarah daging, justru mencapai puncaknya di bulan suci yang penuh himbauan mulia tahan diri, tahan emosi, tahan hawa nafsu dll. Tapi seolah masyarakat cuek dan menganggap nafsu ini (kalau boleh saya sebut begitu) adalah hal biasa. Waktu berpuasa justru menjadi pelampiasan untuk makan nikmat dan mewah, membeli jajanan ini dan itu. Tak heran banyak bermunculan undangan Buka Puasa bersama di restoran-restoran besar sekalian untuk reuni, begitu dalihnya.

Industri kakap dan pedagang dadakan pun semakin menghidupkan pola konsumerisme ini. Sale baju, tas, sepatu dll ada dimana-mana, sementara pedagang dadakan semakin menjamur berlomba menggelar lapaknya. Bahkan harus diakui bahwa di bulan Ramadhan bagi hampir seluruh industri adalah bulannya panen raya, bulan dengan target pemasaran tertinggi dalam 1 tahun. Betapa mahalnya harga tiket KA, pesawat, bus dan sewa kamar hotel. Lalu mari kita tengok pasar, supermarket atau Mall, yang gang-gangnya menjadi sangat sempit karena semua barang dikeluarkan dan didisplay, semakin menggoda para pengunjung saja.

Tak ketinggalan para pendatang baik yang memiliki pekerjaan maupun pengangguran menganggap ini bulan penuh rejeki dan kebaikan, maka berbondonglah mereka mengadu nasib di kota besar. Yang positif tentunya berdagang, namun ada yang memanfaatkan momentum ini untuk mengemis dan meminta belas kasihan yang sifatnya terencana tahunan hingga Pemkot dan Satpol PP pun kewalahan menghadapinya.

Dipenghujung bulan, uang THR dan rencana mudik juga semakin meghidupkan pola ini. Mudik menjadi semacam ruang etalase keberhasilan para perantau, gadai sana, gadai sini, hutang sana hutang sini. Setelah Lebaran lewat, tak apalah pusing membayar cicilan kredit atau menebus barang yang digadai. Mungkin dianggap masih sepadan dengan citra diri yang dikesankan.

Apakah ini hanya menyerang kaum muslim? Tidak. Kalau yang puasa saja tidak tahan, apalagi yang tidak puasa? Sama kalapnya. Hehehe..

Tapii…yah, inilah realita bangsa kita. Kontradiktif. Semoga kedepan kita semakin arif dalam menjawab tantangan kehidupan yang semakin berat dan justru harus semakin berhemat. Bagi rekan muslim, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.

Posted by ndablek in 11:49:20 | Permalink | Comments Off

Tuesday, June 22, 2010

Doa dalam perjalanan

Siklus musim benar-benar kacau, musim penghujan ini rasanya lebih panjang dari tahun sebelumnya dan entahlah mungkin tidak akan sempat ada musim kemarau.

Sesuai pelajaran SMP yang saya masih ingat jelas adalah musim penghujan sewajarnya ada antara bulan Oktober-April sementara musim kemarau adalah April-Oktober, dengan tentu saja April dan Oktober adalah masa transisinya. Namun hingga kini hujan masih saja mengguyur tanah katulistiwa ini.

Salah satu efek dari musim penghujan adalah ketidaknyamanan saat berada di pesawat terbang yang sering ajrut-ajrutan itu. Nah, entah darimana sumber inspirasi para pengelola maskapai penerbangan kok ya ternyata ada halaman khusus di majalah penerbangan tentang doa perjalanan dari berbagai agama.

Apakah motifnya untuk mengisi halaman yang kosong, sekedar menebalkan majalah (trik yang persis saat saya bikin skripsi dulu hahaha..) rasanya juga tidak.

Sebagai bangsa yang meng-klaim agamis (klaim lho, entah benar atau tidak aslinya anda yang lebih tahu hehe..) tentu saja hal ini merupakan respon yang positif yang sudah semestinya punya andil dalam menyuburkan kehidupan beragama.

Mungkin para tokoh agama (atau bisa jadi, siapapun yang merasa kualitas beragamanya lebih baik)  sedang manggut-manggut bangga, rasanya kehidupan beragama, berserah pada Yang Kuasa, sudah menular diperusahaan besar, harapannya tentu saja bisa diterima baik di kalangan umum. Mestinya stasiun teve harus mencontoh, bukannya justru menebar rasa penasaran tentang video porno yang marak belakangan ini…upss..hehehe..

Membaca doa di halaman tersebut sangat indah, mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur dan berserah pada Tuhan, karena hidup ini adalah mutlak anugerah-Nya. Harapannya tentu saja penumpang tenang, pesawat aman dan penerbangan yang penuh sukacita. Ingat selalu pada Tuhan, seandainya mengalami saat-saat terakhir kehidupan.

Apa masalahnya? Jelas..ini kan pesawat terbang dimana resiko apapun bisa terjadi. Tapi doa tersebut seakan mengajak penumpang berdoa bersama agar selamat dengan kondisi pesawat yang ‘kabarnya’ dirawat seadanya (sehingga sempat di banned terbang ke Eropa) lha wong kadang guncangan kabin pesawat aja bisa seperti efek gempa bumi kok.

Seperti pil penenang saja, akibat beberapa tahun ini terjadi beberapa kali musibah…

Hmm.. Memang segala sesuatu di tangan Tuhan, namun keselamatan tentunya masih tanggungjawab pengelola juga dong. Ada sinkronisasi antara usaha manusia dan kehendak Tuhan.

Jadi doa yang ada di majalah itu kok akhirnya daripada menimbulkan ketenangan malah menimbulkan sedikit kecemasan dan tanda tanya di benak saya. Lhahh, memangnya ada apa dengan pesawat ini?

Nah, seandainya anda naik becak atau ojek, dimana segala resiko juga dapat terjadi…terus ternyata anda disodori buku doa-doa dalam perjalanan, apa anda tidak panik?

Supir berkata “Silahkan berdoa ya pak, semoga kita selamat, terhindar dari celaka karena lalu lintas dan kondisi kendaraan kan kadang tidak bisa ditebak.”

Apa respon anda? Kalau saya mungkin mengurungkan niat saya dan ganti ojek lain hehe..

Posted by ndablek in 17:59:11 | Permalink | Comments Off

Sunday, June 6, 2010

Anak = barang industri kah?

Menarik sekali cuplikan cerita yang saya baca pagi ini tentang sebuah keluarga yang bersama-sama pergi ke restoran untuk makan siang.  Pelayan melayani yang dewasa terlebih dulu, kemudian sampai pada anak yang berumur tujuh tahun.

“Mau pesan apa?” tanya si pelayan.

Anak itu memandang ragu ayah ibunya lalu menjawab, “Saya mau roti sosis.”

Sedang pelayan akan menuliskan pesanannya, ibu anak itu menyela, “Jangan roti sosis, beri dia bistik daging  dengan kentang dan ekstra wortel.”

Pelayan itu tersenyum tapi tidak mengindahkan si ibu, lalu kembali bertanya pada anak kecil itu, “Mau saus tomat atau mustard untuk roti sosisnya?”

Saus tomat.” jawab anak itu.

Tunggu sebentar” kata pelayan itu sambil pergi ke dapur.

Ketika pelayan itu pergi, suasana menjadi sepi dan semua diam sampai akhirnya anak itu berkata, ”Kalian tahu? Ia menganggap saya ada.”

Dari cerita diatas terlihat bahwa si ibu telah mematikan kespontanan anaknya dan menggantikan keinginan yang muncul dari dalam hati si anak tanpa melibatkannya dalam diskusi.

Yah, sepertinya cerita ini sangat familiar ya dalam lingkungan kita.

Tanpa disadari, salah satu syarat pendidikan yang manusiawi, yaitu dialog, telah dihilangkan dan digantikan dengan keputusan sepihak orang yang merasa lebih berhak atas kehidupan orang lain. Dalam hal ini si ibu terhadap anaknya.

Cerita yang mirip saya lihat semalam saat di mall seorang anak merengek untuk bermain, namun si ibu muda dengan sigap menolak, ”No, no,no..!!” sambil mengeluarkan selembar uang 50 ribuan dan memberikannya kepada baby sitter agar si anak diajak bermain jenis lain saja. Sementara si ibu asyik meneruskan belanjanya di outlet sebelah.

Hmm..melarang aja sudah pakai bahasa Inggris..mungkin demi agar si anak lebih go intenational (barangkali..hehehe..)

Kalau dicermati lagi, pendidikan masa kini kadang juga membuat saya sedikit ragu apakah benar bisa membentuk karakter mulia anak, atau hanya sekedar menciptakan anak-anak super saja. Permainan luar ruang berkelompok mulai dimininimalisir dan digantikan dengan pengasahan intelektual individu. Belajar dan terus belajar membaca buku, berkutat dengan berbagai les mata pelajaran dan internet sampai seolah tak ada waktu lagi untuk bermain.

Dengan kecenderungan mengabaikan kebebasan membentuk jati diri, ekspresi dan keinginan pribadi anak, maka harapan, perasaan dan pemikiran dunia luar dipaksakan kepada anak sehingga output yang dihasilkan bisa seperti yang diinginkan pihak lain (misal: orang tua, pihak sekolah, atau ‘pasar’)

Jadi jangan heran kalau sekarang ini sering kita jumpai anak yang lebih berani(seenaknya sendiri), yang kadang malah jadi kurang sopan, cenderung egois dan kurang memperhatikan kepentingan orang lain karena pendidikan bersosialisasi minim.

Setidaknya, dulu waktu saya kecil masih ditanamkan sekali etika, rasa malu, sungkan yang mesti diekspresikan saat menghadapi berbagai peristiwa.

Saya tidak tahu apakah era saat ini membutuhkan jenis pendidikan seperti itu, namun setahu saya anak bukanlah mesin dan tidak perlu harus selalu mengikuti ‘selera pasar’. Biarkan anak tersebut berkembang sesuai jati dirinya yang asli.

Posted by ndablek in 10:48:45 | Permalink | Comments Off

Monday, May 10, 2010

Pedulikah anda? (Jijay dot com)


Malam ini sebelum makan gulai kambing di warung, sembari menunggu pesanan saya kok terusik bahwa selama ini alat makan seperti piring, mangkuk dan sendok garpu di tempat umum, kalau dipikir-pikir dipakai oleh ratusan bahkan ribuan orang yang berbeda-beda.

Kita seringkali tidak menganggapnya sebagai sebuah masalah, karena dimana-mana ya begitu.. sehingga tidak memperhatikan hal tersebut. Paling banter, mengelapnya dengan tisu, itupun bagi orang yang peduli dengan kesehatan. Bagi yang lain, yang penting kering dan berada ditempat sendok garpu baru.

Ya memang sih pasti dicuci, soal kualitas cucian dan metodenya pasti bervariasi.

Sebelum mulai makan, saya geli membayangkan betapa beruntungnya saya tidak pernah melihat orang yang memakai sendok garpu sebelum saya.

Seandainya dia cantik jelita, putih dan wangi..beeuuhh..ga usah dicuci juga ga apa-apa hahaha..

Tapiiii.. kalau yang pakai sebelumnya cowok, kucel, bau ketek, liurnya lengket (yiakkkss!), sariawan, gigi bolong dan kumisan gondrong…lalu saya bisa melihat sedang dicuci kemudian diserahkan pada saya, maka…HOOEEEEEEKKKKKKK!!!!! Najis tralala!

Hmm…ini mungkin yang dimaksud para orang tua bahwa ada baiknya tidak semua hal perlu kita ketahui.

Mungkin ada waktunya rasa ingin tahu itu kita batasi saja..biarlah ada hal-hal yang kita sekedar menerima saja tanpa kenjelimetan pikiran. Dan biarlah hidup ini dijalani dengan sederhana, make it simple.

Hehe…benar juga, makin banyak yang kita ketahui maka semakin ruwet dan kompleks lah kehidupan yang kata orang cuma ‘mampir ngombe’ (Jawa: mampir minum) ini.

Posted by ndablek in 16:03:49 | Permalink | Comments Off

Monday, April 26, 2010

Ngguyu Njengking-njengking

Malam ini ketika pulang kantor sudah agak larut, maka saya memutuskan langsung menuju ruko dikawasan Sunter untuk membeli makan malam sekalian daripada nanti keluar lagi..males : )

Saya memilih duduk menghadap keluar yang dibatasi pintu kaca karena ruangan ber-AC dan tak lama terjadilah peristiwa yang ganjil buat saya..tapi lucu juga.

Sebuah mobil Panther warna merah merapat, lalu keluarlah seorang Om yang sudah cukup berumur (prediksi saya sekitar 60 tahun) masuk kedalam ruko.

Om                   : (masuk sedikit tergopoh) Cik, televisinya lagi ditonton ga ya?

Tante Pemilik     : (agak tergagap kaget dari posisi nontonnya) Hhhh? Oh..iya..eh.. ga tuh, kenapa?

Om                   : Boleh diganti RCTI ya? (sambil ngeloyor keluar lagi menuju mobil)

Tak lama kemudian Om tadi masuk lagi, tapi kali ini bersama istrinya yang sudah diajak turun…

Istri Om : *tersipu* Permisi ya..mau sambil lihat (sinetron), terlanjur ngikutin soalnya.

Wakakakakakakkkk… segitunya banget kah?

Moral of the story:

-         Jangan pisahkan sinetron dari para ibu

-         Jadi suami mesti mengutamakan kebahagiaan istri, kalo ga boleh diganti..pindah warung

-         Contohlah tante pengusaha yang mengutamakan CS pelanggannya

-         Beli tv dong buat dimobil hehe..

Wakakakakakkkkk….GUBRAKK!!

Posted by ndablek in 16:41:33 | Permalink | Comments Off

Saturday, April 24, 2010

Berita hari ini

Jaman dulu waktu televisi cuma ada TVRI, rasanya kalau tidak nonton Berita Nasional atau Dunia Dalam Berita sepertinya akan ketinggalan informasi terbaru. Yah meskipun pembawaannya kaku, posisi duduk penyiarnya sepaneng tapi cukup berjaya dan ditunggu-tunggu pemirsa pada masanya. Yang khas lagi adalah Berita Terakhir, masih ingat? Sesuai namanya maka disiarkan terakhir pada larut malam..sebelum acara hari itu diakhiri.

Sekarang ini dengan banyaknya stasiun televisi maka acara-acara sejenis sangat banyak tertayangkan dilayar kaca, bahkan hampir tiap jam ada meskipun sifatnya sekilas.

Berbeda dengan jaman dulu yang cuma satu saluran televisi dan satu versi, serta adanya fungsi kontrol pemerintah melalui Dep. Penerangan, saat ini nampaknya narasi yang dibacakan sudah mulai berkembang luas, lebih variatif dan kadang mengalami pergeseran karena terbumbui unsur bombastis, unsur konon/kabarnya, unsur opini, unsur emosional, kontroversi dsb pada liputannya. Pewartaan berita dan informasi yang mestinya bersifat fakta aktual, liputan, dan data sudah berkembang lagi, hingga muncul beberapa slogan seperti tajam, terdepan, terpercaya dll.

Secara implisit ada kesan bahwa sajiannya yang paling bisa diandalkan dan layak tonton daripada yang lainnya.

Kalau menilik dari tujuan acara berita, mestinya berita yang satu dengan yang lain bersfat melengkapi, bukan saling menggantikan. Harus merupakan pewartaan kembali sebuah liputan atas suatu peristiwa yang terjadi.

Namun mungkin persaingan usaha dan rating yang nampaknya membuat hal ini seolah menjadi wajar adanya.

Yang patut dikuatirkan dari efek rating dan slogan ini adalah tidak menutup kemungkinan masuknya opini dan rekayasa berita yang belakangan ini sempat terindikasi.

Hal-hal yang semestinya belum jadi bahan berita kadang sudah keburu dimasukkan kedalam konten berita sehingga bisa menggiring opini bagi sebagian pemirsa dan membuat bingung sebagian lainnya.

Bukan tidak mungkin perbedaan pendapat bahkan bentrokan bisa terjadi akibat opini yang seolah sudah menjadi kebenaran karena masuk televisi duluan. Antara yang benar dan salah bisa rancu.

Contoh lain adalah penggunaan kata ’nyaris’ yang semakin sering terdengar pada acara berita seperti nyaris terbakar, nyaris dipukuli massa, nyaris tewas, nyaris bentrok dll tentu akan mengaburkan fakta yang ada. Orang bukan fokus pada ’nyaris’ nya tapi pada kata-kata dibelakangnya yaitu: terbakar, dipukuli massa, tewas, bentrokan.

Belum lagi eksploitasi emosi pada pihak yang terlibat didalamnya, seringkali orang diwawancarai masih dalam kondisi emosional yang amburadul, saat menangis, saat panik dan bingung, saat marah dsb demi semata mendengar pendapat orang pada waktu itu.

Maka konten berita sebenarnya akan rawan terpeleset.

Tidak berarti semua demikian, namun ada kecenderungan kesana lebih kuat.

Jadi sebenarnya penyebutan yang pas untuk program acara yang sekarang banyak tersebut apa ya?

Liputan (tentang suatu peristiwa), berita atau cerita?

Posted by ndablek in 10:04:59 | Permalink | Comments Off

Panti Wreda, istana atau tempat buangan?


Saya bersyukur masih dikaruniai orang tua yang lengkap, sehat dan masih aktif. Namun ketika pagi ini di gereja ada simbolis pemberian bantuan untuk pemugaran panti Wreda, saya mulai berpikir.

Banyak orang yang masih dibuat bingung ketika harus memutuskan, bagaimana seharusnya mereka bersikap.

Ingin lansia tetap dirumah tapi tidak ada waktu dan perhatian yang bisa diberikan ekstra, namun kalau di panti jompo-kan, maka yang ada malah kesan tidak mau repot, menyingkirkan dan tidak tahu balas budi.

Oya, bagi yang masih asing, panti wreda adalah tempat dimana para lansia (kaum jompo) dikumpulkan dan dirawat, disatukan dalam satu bangunan dengan berbagai kegiatan positif.

Ada berbagai faktor yang sering dijadikan alasan bagi anak untuk menitipkan orang tuanya di panti wreda. Namun memang ada juga lansia yang tinggal disana karena tuna wisma, tidak memiliki anak atau tidak memiliki sanak keluarga yang bisa mengurusnya.

Tapi lain halnya dengan sebagian anak yang tinggal diluar kota atau yang sudah terlalu sibuk dengan dunianya sendiri (tuntutan kerja&keluarga baru), maka terkadang panti wreda adalah suatu jawaban. Tanggungjawab pada orang tua masih bisa  diperlihatkan dengan menempatkan orang tuanya pada komunitas seusianya (agar bisa saling bernostalgia), sembari mengunjungi sesekali dan sambil tetap memberikan uang saku. Disana selain ada berbagai kesibukan supaya para lansia tidak ’ngelangut’ (nganggur), yang pasti ada pemantauan intensif dari pengurus terhadap kesehatan penghuni panti. Biasanya juga selalu ada bimbingan rohani dalam mempersiapkan hati di masa tua dan menuju tutup usia.

Intinya segala keperluan lansia pasti ada disana.

Dalam pandangan anak, setidaknya dengan uang dan segala keterbatasan yang ada, mereka masih berusaha memberikan yang terbaik bagi orang tuanya yang sudah lanjut usia.

Hmm..tidak ada yang salah juga dari alasan-alasan tersebut diatas sih, namun terkadang orang masih ragu ’baik’ kah demikian? Dan benarkah panti wreda adalah satu-satunya jawaban?

Apakah dijamin bahwa para lansia tidak merasa terbuang?

Apakah dijamin bahwa berkumpul dengan sebayanya akan membuatnya lebih tenteram?

Disisi lain, jika para lansia tetap dirumah, apakah anak akan benar-benar punya waktu ya buat mereka? Punya sumber daya berlebih untuk menjaga dan merawatnya? Memprioritaskan waktu dan tenaga setara dengan prioritas pada anak-anak kecilnya? Membimbingnya secara rohani? Dan bisa memunculkan ketentraman meskipun rekan seumurannya sudah tidak ada lagi? Terganti dengan teriakan cucu yang mengganggu tidurnya?

Well, sepertinya panti wreda akan terus menimbulkan kontradiksi bagi pemanfaat-nya.

Semua berpulang pada keputusan masing-masing.

Posted by ndablek in 10:01:03 | Permalink | Comments Off

Tuesday, April 6, 2010

Balada dunia aviasi Endonesah Rayah

Sejak dari menginjakkan kaki akan berangkat.

- Tawaran porter bertubi-tubi menyergap (kita bisa merasa seperti selebriti yang tolah toleh sambil dadah-dadah.. sok ngartis aja deh haha..)

- Saat koper akan di scan logam maka orang yang tidak sabar akan menyerobot urutan koper kita (baginya lebih cepat lebih baik kalii..niru politisi hehe..)

- Saat naik pesawat meskipun sudah diumumkan urutan masuknya dimulai dari orang tua dan anak-anak, kemudian kelas bisnis, kemudian kelas ekonomi yang berlokasi dibelakang..ehh.. tetap saja rebutan boarding, saling nyelip bahkan tiba-tiba saja yang duduk didepan atau ditengah nyelinap masuk duluan sehingga ujung-ujungnya lorong pesawat menjadi macet. Akibatnya tak jarang pesawat delay karena hal ini.(lho..bukannya tadi lebih cepat lebih baik? *bingung*)

- Sudah ada aturan bawa barang ke kabin max 2 tas ukuran kecil, tapi masih banyak yang melanggar menuh-menuhin bagasi diatas kursi sehingga orang lain tidak kebagian. Kadang duduk di row 8 tapi barangnya jadi terpisah di row 15 karena terdesak tak ada tempat tersisa. Celaka deh kalau ngalami yang begini. Bisa dipastikan keluar paling akhir.

- Aturan hp dimatikan masih saja ada yang melanggar (maklum hp baru kali yah..)

- Belum lagi orang yang gendut duduk dikursi ekonomi..pppfffhhh…sesak, sumpekkk!!

Nah, saat mendarat…

- Saat taxi, dimana hp belum boleh dinyalakan selalu sudah terdengar dering khas No**a dan bunyi sms. Bahkan ada yang sudah menelepon. Paling parah, saya pernah mendengar hp berdering saat masih 15 meteran akan mendarat! (Mungkin dia sibuk sekali hidupnya.. You’re the man!)

- Penumpang sudah buru-buru dilorong padahal pintu pesawat belum dibuka. (pengen pipis?ato eek? hakhakhakhakkk…)

- Saat naik bis akan diangkut menuju gedung, banyak yang malas naik dan duduk di kursi, sehingga padat sekali orang bergelantungan ditengah-tengah sementara kursi justru menyisakan banyak ruang. (menyalurkan keahlian bawaan, bergelantungan dipohon? wkwkwkkk…)

- Berikutnya saat menuju pengambilan bagasi maka telah disediakan eskalator horizontal agar mempercepat langkah dan meringankan kaum lansia. Tapi lagi-lagi di Endonesah Rayah ini..para penumpang justru asyik berdiri di eskalator karena malas berjalan! (pengen berasa jadi kunti kali? Jadi ga perlu jalan dah bisa bergeser hehe)

- Begitu keluar dari pintu langsung saja tawaran taksi resmi maupun non resmi termasuk pengojek bertubi-tubi menghadang. Tas ransel saya pernah disobek pake cutter dengan sangat rapi oleh orang yang saya sadari belakangan adalah tukang ojek yang menawarkan jasa tadi. (mo nyolong kan, Mas?)

- Mau naik taksi favorit, seperti sengaja dibuat antri panjang, padahal di pool pengendapan tersedia sangat banyak ( security-nya berprinsip semua taksi harus sama rata sama rasa)

- Nunggu di bangku, banyak pedagang gelap yang nawarin parfum sudah seperti nawarin ganja karena parfumnya disimpan di saku celana dan mereka menjual dengan mengendap-endap, lirik kiri kanan takut disergap. Ada juga yang nawarin minuman botol dalam tas ransel, agar mengesankan mereka juga merupakan penumpang pesawat. (*no comment*)

- Mau naik bis DAMRI, datangnya tidak ajeg plus kalau belum penuh muter terus antar terminal, sehingga pernah sejak landing hingga saya meninggalkan komplek bandara itu sampai 2 jam! (bayar murah naiknya lama.. PUASSSSS bangettttss…)

Mau menambahkan?

Posted by ndablek in 03:59:18 | Permalink | Comments Off

Kebal Aturan

Susah juga ya jadi orang tua yang harus mendidik anak-anak jaman sekarang.

Beberapa hari yang lalu saat di Jogja, saya dapat nasehat dari seorang kawan baik tentang trik menjadi orang tua yang harus bisa berperan juga sebagai pendamping anak.

Dulu waktu kecil, rasanya orang tua pasti benar, harus ikuti nasehat orang tua.

A ya harus A, B ya harus B, dan C ya harus C.

Bagaimanapun bentuk penyampaiannya, saya sebagai anak tak pernah berani bertanya ataupun meragukannya hingga baru tahu alasan sesungguhnya ketika beranjak dewasa, itupun dengan berusaha mengkait-kaitkan satu sama lain sesuai logika berpikir saya.

Ternyata sekarang berbeda.

Anak-anak tidak lagi bisa hanya sekedar dilarang dan diperintah ini itu, namun harus selalu disertai penjelasan logis yang kadang harus sangat detil agar bisa diterima akal budi mereka.

Apa konsekuensinya? Apa substitusinya? Kapan boleh dilakukan? Apa manfaatnya? Dan seabrek pertanyaan detil lainnya.

Nah, apa jadinya jika kebaikan itu dipaksakan tanpa melihat waktu, tanpa alasan yang kuat dan terus menerus di cekokkan tanpa ada kesempatan mencerna?

Menurut kawan saya tersebut, anak-anak justru akan berontak ketika dewasa, tidak bisa diatur, tidak mempan ditegur bahkan tidak lagi punya rasa takut dan hormat pada orang tua.

Nada tinggi ketika menegur hanya akan menjadi sesuatu yang biasa, nasehat hanya menjadi sekedar ’cerewetnya’ orang tua.

Ucapan ini sepertinya benar karena keponakan-keponakan sayapun banyak yang sekarang pandai berargumentasi dan tidak malu-malu saat mempertanyakan sesuatu hal yang bagi mereka baru atau bersifat ’HARUS’. Bahkan siap debat di tempat kalau kita terlihat tidak punya alasan yang kuat.

Wah..jangan-jangan ini karena gizi anak Indonesia yang semakin baik, sehingga sekarang makin pintar dan kritis, tidak seperti waktu saya kecil yang masih polos dan kurang encer.

Dikaitkan dengan perkembangan topik yang diwartakan media saat ini, terus terang membuat saya sedikit mengernyitkan dahi…sepertinya ada korelasi dengan kisah kawan saya tadi.

Saat ini didalam maupun diluar tubuh pemerintah banyak sekali yang seolah menjadi ’pemerintah bayangan’ dalam hal regulasi umum maupun yang bersifat khusus.

Bisa jadi ini merupakan efek euforia kebebasan yang kebablasan hingga sekarang, bisa pula dikarenakan kelompok masyarakat menilai pemerintahan yang sekarang kurang tegas dalam menentukan arah, sehingga harus ada pahlawan yang muncul ke permukaan.

Sehingga saat ini gampang sekali keluar aturan demi aturan tanpa mendetilkan alasan yang bisa diterima, tanpa mempertimbangkan proses dan tanpa melihat secara lebih jernih. Bahkan aturan yang sudah adapun belum sempurna dijalankan dan dikontrol, tapi sudah dibombardir lagi yang baru.

Semua terkesan dipaksakan, buru-buru, namun tidak siap, karena sudut pandang yang kurang menyeluruh.

Nah, kekuatiran saya yaitu jika lama-lama masyarakat yang makin kritis dan pintar ini menjadi seperti anak-anak pada kisah tadi. Terlalu banyak aturan baru yang kurang matang dimunculkan, yang tidak bisa diterima logika namun dipaksakan. Apa jadinya?

Kemungkinan besar akan terjadi ’pembiaran’, cuek, menyepelekan dan membandel.. karena terlalu cerewetnya dan terlalu biasanya keluar aturan tanpa penegakan hukum pada aturan yang sudah berlaku sebelumnya, sehingga tidak ada lagi aturan yang elegan.

Ibaratnya penjumlahan satuan aja belum mahir tapi sudah mau belajar perkalian dan integral.

Kira-kira akan muncul celotehan seperti ini, ”Halaaaahhh…percaya deh ini ga akan jalan, toh yang kemarin demikian bombastis aja ga ngefek.. belum lagi yang ini..yang itu…siapa yang sempat ngurusin? Paling-paling ini cuma ulah segelintir orang yang ingin cari nama saja.”

Hehehe…betewe..saya ini ngegombal soal apa tho?

Ya sudah ini yang saya maksud: misalnya penegakan lalu lintas yang masih carut marut, eh malah dimunculkan “Belok kiri tidak boleh langsung”, dan “Helm mesti berlabel SNI”. Lha wong soal lampu motor harus nyala pada siang hari saja sekarang menguap entah kemana. Belum lagi soal tilang damai, marka jalan yg tidak jelas, tutup pentil yang bermasalah, pelanggaran rambu lalin dll yang tetap saja carut marut.

Yang disiasati mestinya menekan angka kecelakaan, cek infrastruktur dan prosesnya, bukan malah membiarkan kecelakaan namun menekan angka kematiannya!

Kemudian ada lagi soal haramnya rokok, pengojek wanita, rebonding, bank dll.

Pasti masyarakat lelah, bisa dibayangkan kalau akhirnya kewibawaan institusipun akan jatuh.

Kasih lah kesempatan mencerna dan pembuktian penegakan aturan sebelumnya, baru bicarakan hal lainnya.

Posted by ndablek in 03:55:57 | Permalink | Comments Off

Pilih pintar akademis atau cerdas?

Pemikiran ini terus mengusik saya.

Penjajahan yang terlalu lama di Indonesia mungkin sudah membuat mental orang jaman dahulu berpikir, sebaiknya pintar akademis saja lalu bekerja pada kumpeni yang berkuasa.

’Ga usah macam-macam ini itulah, nanti malah banyak masalah.’ umum di doktrin kan guru dan orang tua pada anaknya, termasuk saya.

Kenyataan bicara lain, teman yang sukses secara materi dan waktu, justru yang dulu ga menonjol akademisnya dan yang sedikit berandal seperti mencontek, berkelahi, geng-geng an, membolos, kelayapan, jrang jreng main gitar di sekolah, sepedanya di preteli atau dicat sendiri, jualan ikan peliharaan disekolah, nyolong jambu dll. (Tapi tolong pisahkan dengan yang skala kriminal berat ya)

Tipe ini biasanya cenderung pintar bergaul, solidaritasnya tinggi, kemampuan verbal dan persuasifnya bagus, kreatif, lebih berani dan punya banyak kegiatan diluar sekolah formal.

Waktu remaja berusaha pintar akademis dipenuhi dengan les dan super alim ternyata bukan 100% jaminan kesuksesan dimasa tua.

Hal ini yang akhirnya saya yakini benar.

Terlalu pintar akademis malah membuat orang terlalu takut untuk mencoba, takut gagal, terlalu banyak perhitungan, takut mempertaruhkan reputasi akademis yang pernah disandangnya.

Yang pintar-pintar akademis sekarang malah pada jadi buruh dengan bayaran yang tertakar. Apakah ini jelek? Tentu saja saya juga tidak menjustifikasi seperti itu.

Namun dengan tidak mengurangi rasa hormat pada guru dan orang tua, mungkin kini saatnya bagi calon/para orang tua tidak lagi mengejar nilai akademis semata, menjejali anaknya dengan les pelajaran ini itu, tapi harus fokus pada kesiapan untuk mandiri kelak. Pembekalan harus lebih fokus pada mental dan ketrampilan nyata daripada teori pelajaran belaka.

Posted by ndablek in 03:53:31 | Permalink | Comments Off