Sabtu, Juli 19, 2008

Perangkat, aparat atau keparat??

BEBERAPA waktu yang lalu saya ada perlu mengurus beberapa administrasi kependudukan di Kelurahan tempat saya tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah. Setelah minta pengantar dari pak RT maka pergilah saya menuju Kelurahan yang jaraknya hanya sepelemparan batu jauhnya dari rumah pak RT.


Saya terhenyak, karena meskipun jaman katanya sudah berubah ke arah yang lebih baik, jaman reformasi, namun saya masih melihat pemandangan para perangkat Kelurahan ini kebal-kebul menghisap sigaretnya sambil sesekali meminum kopi dan terus melanjutkan membaca koran pagi itu. Saya tidak merasa mereka sedang mencari komplain di media, namun memang itulah kebiasaannya.
Kenapa?
Karena pada saat ada seorang ibu masuk menanyakan BLT mereka seperti tidak serius, saling lempar tugas, tidak ada layanan khas pejabat publik yang ideal dan dicita-dicitakan. Akhirnya yang melayani adalah petugas wanita yang kebetulan juga melayani saya. Ibu ini memang paling muda, namun apakah itu berarti semua pekerjaan harus dilimpahkan kepadanya, sementara kalau dibandingkan gaji dan fasilitasnya mestinya yang senior mendapatkan lebih banyak sehingga sudah seharusnya yang senior kerjanya lebih banyak. Terlepas dari itu semua sudah seharusnya jiwa melayani dengan baik dan setulus hati ada pada mereka tanpa pamrih, karena itulah profesionalitas apalagi kalau sampai dibilang pekerjaan ini sebagai pengabdian.

Saya juga pernah mengalami kejadian saat saya mengendarai kendaraan melewati Tasikmalaya, saya salah arah karena rambu yang tertutup dedaunan pohon sehingga tidak terlihat sebagai rambu. Meskipun jelas-jelas plat polisi kendaraan saya dari luar kota dan saya menunjukkan rambu yang tertutup itu, polisi tidak mau tahu. Tetap menilang saya dan akhirnya bilang kalau rambu yang tertutup itu bukan urusannya, melainkan urusan DLLAJ.
Uang pun berpindah karena tawaran ’titip sidang’ menjadi masuk akal, tidak mungkin saya kembali lagi ke Tasikmalaya hanya untuk sidang.

Betapa keterpaksaan yang menjengkelkan.


Mungkin perangkat publik ataupun aparat publik dinegara ini masih lebih cocok disebut keparat!




Posted by ndablek at 16:56:58 | Permanent Link | Comments (0) |

Semua mesti dibayar


 DIJAMAN sekarang apa sih yang tidak perlu bayar? Mau makan enak ya mesti bayar lebih. Mau tidur nyaman ya mesti bayar hotel yang lebih mahal. Mau muter haluan aja bayar ke pak Ogah, mau nunggu lampu hijau nyala saja mesti membayar para pengamen dan pengemis. Senyumpun sekarang dikaitkan dengan uang, kalau potensial jadi konsumen ya disenyumin tapi kalau tidak ya bakal mlengos aja tuh SPG. Ndak percaya? Coba ada tidak SPG yang senyum sama pengunjung yang kelihatan kere dan tidak terawat?


Air putih yang dulu sepertinya sumber tak terbatas kini juga sudah dijual. Nah, kalau air pipis, kita kan memberikan sesuatu namun nyatanya ditarik bayaran juga. Mulai yang sekedar Rp 500,- hingga Rp 2.000,- sekali buang. Mahal pisan! Bahkan kalau di KLCC (Twin tower) saya pernah ditarik RM 2 untuk sekali masuk toilet...alamak...


Bahkan teman saya di Jepang mengatakan untuk membuang kursi anak yang sudah tidak terpakaipun harus membayar ke tukang sampahnya, cukup mahal kurang lebih Rp 40.000. Ndak tahulah suatu saat nanti menangis perlu bayar juga atau tidak.


Saya kuatir kelak untuk bernafaspun (menghisap dan membuang) mungkin manusia harus membayar karena tidak ada lagi yang gratis. Sinar matahari pun perlu dibayar. Pertemanan dan ketulusan hati juga berpotensi untuk dikomoditaskan, cinta tanpa uangpun tak bisa langgeng.


Untungnya untuk kentut belum perlu bayar ya hehe..


Nah mumpung sekarang belum perlu bayar marilah kita kentut sesuka hati kita..braatttt......breeetttt.....bruuoootttttt......


Posted by ndablek at 16:52:12 | Permanent Link | Comments (0) |

Lambatnya internet kantor


 MENGGUNAKAN internet sekarang sudah menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan lagi, baik untuk bekerja, mencari informasi maupun sekedar mencari hiburan. Apapun hampir bisa dicari disana mulai dari informasi ’lurus dan terang’ sampai dengan informasi ’kusut dan gelap’. Kebutuhan untuk mendownload email tatkala email kantor bermasalah juga penting.


Cuma saya heran dengan aturan beberapa kantor, bahwa bandwith sangat dipengaruhi golongan dan jabatan. Otomatis untuk golongan menengah bawah alias kaum ndelosor ya cuma dapat kepretan saja. Download file berukuran 1 MB dipastikan menjadi lama padahal jelas hal itu mengganggu ritme kerja staf operasional. Kontradiktif dan kontraproduktif, karena justru orang arus bawah  waktunya lebih tersita untuk operasional sehingga pemakaian waktu yang optimal menjadi sangat penting, ketimbang kaum penggede yang tidak banyak memanfaatkannya. Toh kerjanya lebih banyak meeting, mikar mikir, ngusul dan...... sudah, ya cuma itu...tidak tersita untuk membuat laporan harian grafik, analisa dan sebagainya. Semua hampir dikarjakan oleh bawahan maupun ajudannya.


Yang bikin saya kemingkel geli, dikantor seorang teman di salah satu kota di Sumatera, dengan alasan efisiensi dan agar karyawan tidak malas bekerja maka manajemennya memutuskan koneksi dibuka dua kali sehari yaitu pukul 10 – 11 dan pukul 14 -15. Hahahaa..,aturan yang aneeehh...


Dimana coba letak efisiensinya? Yang ada kan malah kemacetan arus karena semua orang jadi terkonsentrasi di jam itu, lagian kalau ada hal mendesak tapi akses ditutup jadi mesti ke warnet..atau rela berkorban dengan pulsa pribadi.


Bingung deh....


Posted by ndablek at 16:35:29 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, Juni 24, 2008

Berangkat 10’ lebih awal



Pagi ini saya terbangun lebih awal berhubung saya menumpang eh kok terkesan ga bayar   ya? Menaiki terkesan naik diatas atap ... maksudnya ”membeli tiket secara resmi terus duduk didalam kereta Argo Dwipangga” itu lho, dari Solo menuju Jakarta.
Jam bangun tidur yang biasanya pk 06.00 ketika dua alarm hape saya menyala dengan keras, tadi pagi tidak sempat berbunyi karena sudah keburu saya matikan sebelum bersuara. Bukan karena rajin, tapi karena memang tidak bisa tidur nyenyak, posisi kursi yang bisa direbahkan kebelakang 45 derajat masih terasa tidak nyaman bagi tulang punggung saya. Berkali-kali terbangun akibat badan sering melorot, sementara kaki juga pegal tidak bisa sepenuhnya selonjor karena terlalu sempit.
Untung sebelah saya seorang wanita muda blasteran Jawa Arab yang cukup cantik jadi iseng-iseng  kalau pas bangun saya sempatkan memandanginya...lumayan tombo nguaaantuuuuuk....
Memang wanita akan terlihat cantik saat dia tertidur..

Okelah, cukup sudah soal wanita tadi....ntar jadi KSO2 alias kelingan sing ora-ora.
Singkat cerita, saya tiba dirumah pukul 05.30..nah jam segitu males banget tidur lagi karena bisa diprediksi kalau tidur jadi nanggung.
Saya meneruskan dengan ritual pagi, lalu setelah menyeruput teh panas dan kesumpel roti jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.50, berangkat ahh..

Biasa gas dibejek habis maen diatas 60km/h sekarang justru tidak pernah sampai 50km/h. Berkendara menjadi lebih rileks, sedikit ketawa melihat orang pada ngebut dan  buru-buru..ahh kali ini saya tidak seperti kalian.
Tapi lama kelamaan jengkel juga sering diklakson dan melihat orang yang pada gak sabar mau minta jalan.. ”Apa situ ndak tahu tho, saya ini sedang nyantai..ngebut-ngebut gitu bahaya, eman sama keluarga!” batin saya.
Tapi sejenak habis membatin, saya jadi ingat kalau saya berangkat seperti biasa meskipun tidak begitu ugal-ugalan namun sering juga mengklakson-klakson orang minta jalan. Sering juga merasa jengkel karena orang yang didepan saya ini lelet banget plus membuat manuver yang makan waktu dan tempat.

Hahaha...kutu tengik! Ternyata saya sendiri tidak berbeda dari orang yang biasanya saya umpat, ndak ada bedanya!
Situasinya sama, yang membedakan hanyalah sudut pandang saja..kalau lagi buru-buru maka orang yang berkendara dengan pelan menjadi menjengkelkan dan bersalah, sementara kalau saya lagi nyantai maka orang yang ngebut dan cepat menjadi menyebalkan.

Didalam dunia kerja juga demikian adanya, batas perbedaan antara dinamis, fleksibel dan serba cepat sangat tipis bedanya dengan manajemen tanpa perencanaan dan grusa grusu dalam menyiapkan strategi baru.
Bagi punggawa kantor, orang yang kekeuh bekerja sesuai plan kadang terkesan bekerja lambat, padahal bisa jadi sebenarnya orang yang sama yang merasa semua hal serba lambat tadi sedang kemrungsung oleh ketidaksiapannya sendiri dalam me-manage pekerjaannya.


Posted by ndablek at 00:28:04 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Juni 21, 2008

Sapu Tangan

WAKTU kemarin lihat-lihat parfum di Batam (soalnya ndak beli hiks..takut kena razia bandara.. eh btw bener ndak tho kalau masih bisa lolos bawa cairan lebih dari 100mL???)...saya melihat seorang pria yang sedang melihat-lihat tas kulit sempat menyeka wajahnya dengan saputangannya warna biru muda. Oh no...oh noo... oh yes...oohh...nooo....wah opo tho iki? (kekekekkss...)

Hari geneee geto loooh masih pakai sapu tangan? Padahal secara medis dijamin dah, itu pasti kurang bagus, soalnya dalam kondisi basah keringat atau kena minyak wajah trus dimasukin lagi kedalam kantong (sehingga tidak ada sirkulasi udara dan cahaya) pasti akan mengundang jamur dan bakteri.
Saya sendiri lebih suka pakai tissue karena sekali pakai langsung buang, jadi sudah pasti lebih higienis. Selain itu juga lebih praktis kan daripada ngantongin saputangan, apalagi pas lagi pilek sentrap sentrup kayak Temon...wah..kan mesti juga ada yang nyepret atau malah sengaja disimpen dalam sapu tangan itu. Bayangkan saja saat dibuka lipatannya...mlenyek...lengket, ketarik-tarik...hiiiiiiii.....jijay jablay semlohai kalee..

Sapu tangan pernah berjaya pada masanya, namun kini sudah mulai ditinggalkan. Saya sempat canggung juga membawa tissue..takut terkesan cewek banget...tapi akhirnya memutuskan kita harus berpikir jernih, kebersihan tetaplah lebih penting dari image. Lagian saya ikut mbantuin penebang pohon untuk memanfaatkan kayu yang ditebangnya kan? hahahaa...(*plak!!)

Okelah, intinya, mungkin kita bisa belajar menjadi temen yang baik lewat cerita sapu tangan tadi.
Kemauan menyimpan cerita aib teman atau sahabat, menutupnya rapat dan rela kalau demi si teman tadi kita mau jadi tempat pembuangan ’ingus’-nya demi dia terlihat tampil menarik dan elegan. Kemudian merelakan dicuci dengan empati dan simpati yang harus diperas demi hilangnya aib ingus itu tadi...untuk kemudian menenaminya lagi.

Persahabatan seperti itu apa masih ada ya?



Posted by ndablek at 02:46:38 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 16, 2008

Kucing hitam bandara


 Sesaat sebelum terbang ke Jambi minggu lalu saya sempat mengabadikan foto seekor kucing dari kejauhan bilik boarding room, maklum kalau dari dekat pasti saya sudah keluar dari lingkungan bandara dong? Hakhaks..garing..

Kucing ini menarik perhatian saya karena dia hidup sendiri, mengelana tanpa ada yang ngopeni. Bertugas sebagai pekerja dibandara juga bukan, peliharaan tukang kebon atau restoran juga sepertinya bukan. Saya merasa kalah jauh dari kucing itu, dia lebih berani menghadapi hidup. Saya kadang masih takut dengan tidak dipenuhinya Janji Besar dari Sang Pemilik Hidup ini, sehingga sisi finansial selalu dikedepankan bahkan rela mengorbankan kebahagiaan berkumpul dengan orang yang mencintai saya dan yang saya cintai.

Kucing hitam itu tidak terpelajar apalagi berijazah, tidak menjaga kesehatan dengan medical check up 1 tahun sekali, tidak bekerja dan menerima gaji, tidak bisa berpikir layaknya manusia..namun ia sehat terpelihara oleh kuasa Sang Pemilik Hidup..dia lincah bermain dengan semut-semut yang waktu itu sempat mengganggunya. Ahh..betapa hidup yang tanpa beban, meskipun saya juga sempat bingung dia makan dari mana..atau sempatkah menemukan tikus?

Atau hidup tanpa beban dan ekspresi stres kucing tersebut karena memang dia tidak berakal budi untuk mengungkapkannya? Jikalau demikian kenapa dengan akal budi yang seharusnya mempermudah hidup manusia kita justru dibuat penuh kekuatiran?

Ironi, namun inilah yang sering terjadi pada diri manusia, seringkali kekuatiran hidup dan ketidakpasrahan kepada Yang maha Kuasa menjadi biang masalah dari stres dan berjuta beban hidup yang lain...seperti saya!
Posted by ndablek at 18:01:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 09, 2008

Mobil Balap


 Belakangan dilingkungan kerja saya lagi demam balapan.

Balap karung? Oh..bukan..bukan...

Balap karir?..Nyerempet tapi bukan juga
Cuma balap mobil dikomputer aja kok (*plakk*...duh yang baca marah)

Senang rasanya bisa sejenak ’menjadi orang kaya’ punya mobil mewah yang bisa dimodifikasi sendiri tanpa keringetan berpikir berapa sisa tabungan aktual di bank, maklum uangnyapun uang virtual selama pemain bisa menang pertandingan maka disitu pemain bisa mendapat uang yang ditabung untuk biaya modif. Ndak pusing beli BBM juga.
Sejenak pula rasanya bebas merdeka bisa melanggar aturan tanpa perlu dikejar Polantas, nabrak kesana kemari tanpa masalah dan rasa sakit, serta tanpa surat tilang atau uang damai.

Pada sesi ’out run’ ternyata yang paling digemari. Artinya pemain yang bertanding melawan mobil lain dengan rute yang sangat bebas, yang penting mencapai jarak 300m maka lawan dinyatakan kalah.

Menipu lawan menjadi hal yang menyenangkan, tidak dihitung kok poin dosanya, yang penting menang. Bila perlu dari awal disenggol dulu lawannya agar terguling, atau berpura-pura lurus namun begitu didekati lawan dari belakang langsung berbelok dipersimpangan sehingga lawan terkecoh...keciaann deh loe... Ketawa lepas pun bergema

Hhakhakahak...

Kekekkkekkk...

Heueheuuehueueeee...dll nya pokoknya semua jenis tawa ada.

Senyum puas ketika bisa menipu dan akhirnya meninggalkan lawan yang kebingungan menyusuri rute mobil didepan...300m pun terlalui, uangpun bertambah.

Ada pula seorang kawan yang ketika menang dan mendapatkan uang hanya berpikir untuk modif tampilan supaya sangar, padahal ini game balapan. Walaaah ..... hehehe.... cara berpikir yang aneh. Pokoknya tampilan dulu, mesti sangar dulu, sampai lupa jenis pertandingan bukanlah kontes modif melainkan adu cepat. Meskipun penting untuk reputasi (dan pamer tentu saja...kikikkkikkk...), semestinya mengubah tampilan menjadi prioritas kedua, setelah tentunya menggunakan tabungan untuk modifikasi mesin dan hal teknis lainnya.
Salah fokus? Entahlah..yang pasti akhirnya mengeluh sendiri karena ditahap berikutnya yang mobilnya kencang-kencang, mobil dia sudah tidak bisa mengimbangi. Lagi-lagi contoh menggelitik tentang eksistensi yang dikedepankan dan melupakan esensi.

Yah..yang pasti dari permainan ini saja sudah ketahuan sifat dasar manusia (padahal selalu ingin ditutup-tutupi hekhekk..), yaitu: ingin menang dengan segala cara bahkan menyikut orang yang dianggap lawan dan berusaha menipunya...untuk kemudian tertawa diujung sana.
Lalu sepertinya saya juga diingatkan supaya tidak salah fokus, mengerti bidang yang digeluti dan curahkan energi disana. Tidak melebar kemana-mana, sehingga terpilah betul mana yang ’penting’ dan mana yang ’genting’, meskipun sedikit tetapi tajam, daripada banyak tetapi tumpul. Seorang bijak pernah berkata, ”Kegagalan bukan disebabkan karena kurangnya ilmu, tapi lebih karena ilmu yang ada tidak digunakan dengan sebaik-baiknya.”

Alangkah hebatnya Sang Pencipta karena sebenarnya kalau manusia jeli, maka dalam hal sekecil apapun selalu saja ada hikmah yang bisa dipetik dari kehidupan sehari-hari, tanpa harus nyepi dan semedi ke gunung.

Ternyata dalam game remeh temeh pun ada pelajaran yang bisa dipetik, dan semoga ini bukanlah cerminan diri kita, hanya semata game seru-seruan. Dan dalam hitungan ketiga .satu..dua..cklik...Anda lupakan semua..
Posted by ndablek at 09:44:23 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 02, 2008

Norma Hahahaha...



P
ernahkah memperhatikan dilayar televisi atau saat menonton pertandingan olahraga secara langsung maka ada ritual khusus yang dilakukan yang berbeda dengan ritual pertandingan jenis lain. Maksud saya misalnya pada sepakbola, disetiap klub bola manapun, bermain dimanapun, apapun eventnya maka setiap seorang pemain berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan pasti dia akan dikerubuti dan dipeluk rekan-rekan se-timnya.

Namun beda lagi halnya jika seorang pemain voli berhasil mencetak angka pasti tidak ada pelukan dan rangkulan berlebihan, namun hanya tempelan tangan saja.

Pada bulu tangkis, jika pemain sudah mengakhiri permainan dalam sebuah set maka pasti si pemenang akan mengangkat kedua tangannya sembari mengepalkan tangan yang tidak sedang memegang raket.

Kenapa make up lebih cocok digunakan wanita, bisa mempercantik penampilan? Ketika dicoba pada pria justru akan terkesan menjijikkan. Padahal taruhlah jenis torehan warnanya dibuat sama. Mengapa pakaian pria itu-itu saja modelnya, beda dengan wanita yang variasinya sangat banyak tapi tetap pantas? Justru ketika Ivan Gunawan berani memakai pakaian yang beda maka yang ada dibenak adalah..”Bences amat seeeh?”

Selalu saja cewek tomboi lebih gampang diterima daripada cowok feminin.
Coba bayangkan seandainya:
1.      Setelah gol maka para pemain tidak bergerombol namun masing-masing cukup mengepalkan tangan sambil kembali ke posisi masing-masing.
2.      Setelah memenangkan set pertandingan maka pebulu tangkis hanya saling tempel tangan saja tapi tidak mengepalkan tangan.
3.      Pemain voli setelah mencetak angka, segera berpelukan dan bahkan saling bergelayut layaknya pemain bola.
4.      Seorang pria kantoran memakai baju bervariasi, mulai gaun, rok mini, tanktop, kadang celana panjang plus kaos, sepatu hak dll serta ber make up. Sementara wanita selalu bercelana panjang/pendek dan kaos atau kemeja serta tidak make up.

 

Aneh? Janggal? Takut dikira gila? Takut dikira melanggar pakem? Atau karena ya memang sudah begitu dari dulu, kenapa dipertanyakan lagi?

Hahaha..mungkin inilah yang dinamakan normatif tak tertulis, sudah nyaman dan terlalu aneh kalau sampai diubah dengan semena-mena meskipun dalam rangka ”VARIASI / TEROBOSAN”.

Mungkin itu pula yang membuat saya nyaman untuk nunggu gajian, belanja awal bulan, akhir bulan ngitung-ngitung hari dst.

Mungkin itu pula yang mengakibatkan dimana-mana loading pekerjaan selalu berbanding terbalik dengan usia kerja dan jabatan.

Ada yang berminat berani keluar dari pakem?
Posted by ndablek at 11:51:38 | Permanent Link | Comments (0) |

Wajah wanita



Sebagai pria
, tidak saya pungkiri ada jenis naluri kenakalan yang saya miliki terkait wanita. Terus terang saya senang sekali mengamati keindahan fisik wanita, bagi saya seperti the piece of finest art . Kalau ada yang gemar memandang lukisan alam, bagi saya wanita adalah lukisan hidup terbaik yang ada didunia. (tentunya yang saya bayangkan disini adalah yang cantik-cantik saja kkekkekekekkkk...maap main pisik)

Namun ada yang masih menggelitik benak saya, tidak tahu Anda pernah terpikir tidak tentang hal ini. Secara visual (dalam kondisi samar sekalipun) seorang wanita sangat mudah dikenali dari adanya gundukan buah dada yang alamak...benar-benar indah..huss! dan bentuk panggul yang khas. Nah saya bereksperimen dengan membandingkan sebanyak mungkin wajah wanita yang bisa saya ingat dan saya lihat meskipun hanya lewat media...dari seluruh ras manusia yang ada di bumi. Gambaran dari leher kebawah serta rambutnya saya hilangkan sehingga tersisa hanya bagian wajah saja.

Aneh, atau lebih tepat dibilang ajaib kali.. Dengan mudah saya mengenali bahwa inilah bentuk wajah seorang wanita, apapun rasnya, apapun warna kulitnya, apapun bentuk tulang dagu, tulang pipi, hidung, mata dan sebagainya. Padahal wanita memiliki bagian wajah yang sama dengan pria, dengan jumlah yang sama pula. Selain itu variasi wajah wanita juga sangatlah banyak. Namun kenapa saya masih saja bisa membedakannya dari pria?

Sebenarnya kode khusus apa ya yang bisa memberikan petunjuk tersebut?

Hal ini juga baru saya pikirkan (emang dasar kurang kerjaan out of the box, jadi mikirnya hal-hal beginian) ketika saya mengetik tulisan ini.
Hampir menggunakan jenis font apapun, bahkan yang tidak pernah saya gunakan, saya masih saja bisa membacanya.

Kenapa ya?
Posted by ndablek at 11:39:48 | Permanent Link | Comments (0) |

Pedagang Keliling

Salah satu tulisan di Suara Merdeka ini sangat menarik, sehingga saya mengutipnya disini. Semoga author berkenan, semata apresiasi saya dan karena saya merasa telah sangat diingatkan.”

Salah satu kesukaanku adalah mengamati para pedagang keliling yang lewat disekitarku. Alasan utamanya, karena di antara dagangan itu, adalah jenis makanan kesukaanku, misalnya bubur ayam. Tetapi karena kemajuan zaman, sebagian diantaranya sudah tidak lagi mendorong atau memikul, melainkan sudah berganti kendaraan, termasuk penjual bubur ayam kesukaan ini.

Tetapi aku selalu punya masalah dengannya. Laju kendaraannya itu menjadi terlalu cepat dibanding keinginanku. Urut-urutannya adalah sebagai berikut: pertama kudengar denting pukulan sendok di mangkoknya. Kedua aku tergerak untuk memanggilnya. Ketiga, ketika aku keluar rumah ia sudah tidak ada. Penjual bubur ini lebih menyerupai pembalap katimbang pedagang keliling. Berkali-kali aku gagal berpacu dengan kecepatannya. Daripada untuk membeli semangkok bubur aku harus bertaruh nyawa, kuputuskan untuk berhenti berlangganan saja.

Pedagang bubur ayam ini mengajarkan kepadaku, betapa ada jenis kecepatan yang keliru. Indonesia termasuk negeri seperti itu: ingin cepat mengonsumsi tetapi gagal berproduksi. Risikonya, negeri ini berpotensi mencetak generasi benalu dari waktu ke waktu. Begitu perilaku negaranya, begitu pula perilaku rakyatnya. Ada banyak pengejar kecepatan i negeri ini yang menuju ke arah yang keliru: cepat kaya, cepat berkuasa, cepat populer untuk akhirnya cuma berakhir di ujung derita.

Kali ini masih pedagang bubur, tetapi dengan gerobak dorong yang kutemui agak jauh diluar kampungku. Aku menghentikannya karena sebuah penawaran yang tak biasa. Dari jauh tampak jelas bahwa ia menjual bubur yang belum pernah ada didunia yang tertulis mencolok di sisi kanan gerobaknya: ”BUBUR KACA”. Astaga, bubur apa ini? Apakah ini pedagang yang khusus melayani para pemain kuda lumping kesurupan pemakan beling alias pecahan kaca itu? Padahal setahuku, bahkan kesenian kuda lumping itu sudah menjadi barang langka.

Karenanya ku hampiri dia. Aku ingin tahu bubur apa gerangan ini dan siapa yang hendak memakannya. Olala, semua ini gara-gara tulisan yang kubaca itu belum rampung adanya. Bunyi lengkapnya adalah:” BUBUR KACA-NG HIJAU”. Cuma karena bidang gerobak ini tidak mencukupi, tulisan itu harus berbelok di sisi gerobak yang lainnya. Jadilah dari samping, yang terbaca adalah sebuah tulisan yang menawarkan dagangan paling aneh di dunia. Karena sibuk tergelak, aku gagal membeli bubur yang mestinya juga aku sukai ini. Dibenakku, bubur kacang hijau iu sudah rancu dengan remukan kaca yang dioplos didalamnya. Baru membayangkan saja seluruh tenggorokanku sudah gatal sedemikian rupa.

Pedagang ”bubur kaca” ini dengan jelas mengajarkan kepadaku sebuah spekulasi yang berbahaya. Bahwa inilah pedagang yang gagal membaca bidang gerobaknya sendiri. Betapa dengan gerobak sekecil itu, ia harus membuat tulisan sebesar itu sehingga ia harus menjalar ke mana-mana, ke bidang yang tidak semestinya sehingga mengacaukan mata pembacanya, dan akhirnya mengacaukan pula sumber rezekinya.

Tetapi jangankan pedagang yang lugu ini, karena memang begitu pula keadaan negeriku. Perencanaan adalah sebuah kemewahan karena apa yang telah direncanakan selalu luput dalam pelaksanaan. Karena apa yang dilaksanakan, malah bukan berasal dari perencanaan. Maka Indonesia yang luas ini, akan teramat luas bagi pikiran yang sempit. Maka lahan yang sempit pun akan menjadi padang belantara tanpa keluasan berpikir. Jangankan mengatasi kemiskinannya, membagikan bantuannya saja sudah begini rawan keributan.

Ada lagi pedagang yang satu ini, yang berkeliling kemana-mana tetapi tidak cukup dengan menjual dagangannya, melainkan juga keburukan pesaingnya. Sambil melayani pembeli, mulutnya akan nerocos menjual aib pesaingnya. Bahwa hanya aku yang begini, sementara dia selalu begitu. Jika ada seorang ketahuan berbelanja diseberang, ia segera menganggapnya sebagai permusuhan. Lama-lama pedagang ini tidak sibuk berjualan tapi sekedar sibuk marah dan uring-uringan dan akhirnya bangkrut sendiri. Pedagang ini dengan telak mengajariku, bahwa pesaing terberat di dalam hidup ini adalah kekeliruan diri sendiri.

Posted by ndablek at 11:25:13 | Permanent Link | Comments (0) |