Konsumerisme Puasa
Makin mahal saja ya harga barang saat ini.
Yang paling berasa tentunya harga kebutuhan sehari-hari. Dari pengalaman pribadi, berita di tv hingga keluhan para pedagang makanan yang kadang terucapkan sambil menyiapkan pesanan, akhirnya saya tahu betapa tingginya harga sembako saat ini.
Terutama di bulan puasa menjelang Lebaran. Pola konsumerisme saat ini telah mendarah daging, justru mencapai puncaknya di bulan suci yang penuh himbauan mulia tahan diri, tahan emosi, tahan hawa nafsu dll. Tapi seolah masyarakat cuek dan menganggap nafsu ini (kalau boleh saya sebut begitu) adalah hal biasa. Waktu berpuasa justru menjadi pelampiasan untuk makan nikmat dan mewah, membeli jajanan ini dan itu. Tak heran banyak bermunculan undangan Buka Puasa bersama di restoran-restoran besar sekalian untuk reuni, begitu dalihnya.
Industri kakap dan pedagang dadakan pun semakin menghidupkan pola konsumerisme ini. Sale baju, tas, sepatu dll ada dimana-mana, sementara pedagang dadakan semakin menjamur berlomba menggelar lapaknya. Bahkan harus diakui bahwa di bulan Ramadhan bagi hampir seluruh industri adalah bulannya panen raya, bulan dengan target pemasaran tertinggi dalam 1 tahun. Betapa mahalnya harga tiket KA, pesawat, bus dan sewa kamar hotel. Lalu mari kita tengok pasar, supermarket atau Mall, yang gang-gangnya menjadi sangat sempit karena semua barang dikeluarkan dan didisplay, semakin menggoda para pengunjung saja.
Tak ketinggalan para pendatang baik yang memiliki pekerjaan maupun pengangguran menganggap ini bulan penuh rejeki dan kebaikan, maka berbondonglah mereka mengadu nasib di kota besar. Yang positif tentunya berdagang, namun ada yang memanfaatkan momentum ini untuk mengemis dan meminta belas kasihan yang sifatnya terencana tahunan hingga Pemkot dan Satpol PP pun kewalahan menghadapinya.
Dipenghujung bulan, uang THR dan rencana mudik juga semakin meghidupkan pola ini. Mudik menjadi semacam ruang etalase keberhasilan para perantau, gadai sana, gadai sini, hutang sana hutang sini. Setelah Lebaran lewat, tak apalah pusing membayar cicilan kredit atau menebus barang yang digadai. Mungkin dianggap masih sepadan dengan citra diri yang dikesankan.
Apakah ini hanya menyerang kaum muslim? Tidak. Kalau yang puasa saja tidak tahan, apalagi yang tidak puasa? Sama kalapnya. Hehehe..
Tapii…yah, inilah realita bangsa kita. Kontradiktif. Semoga kedepan kita semakin arif dalam menjawab tantangan kehidupan yang semakin berat dan justru harus semakin berhemat. Bagi rekan muslim, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa.