Sunday, October 25, 2009

Pelawak

Melihat Tukul, Srimulat, Cagur, Patrio dan banyak grup lain kadang membuat saya iri juga, senangnya ya kerja ga serius dan cengengesan begitu tapi dibayar mahal. Lebih mahal dari gaji karyawan managerial level yang bekerja keras memeras otak untuk melahirkan ide dan kreasi baru, konsolidasi anak buah hingga menjadi leader di lapangan.

Sudah begitu mereka terkenal pula, banyak yang ingin berdekatan sekedar berjabat tangan, berfoto bareng atau meminta tandatangan.. hmm… sekilas sungguh merupakan sebuah cara menjalani hidup yang menyenangkan.

Mulia, karena mendatangkan keceriaan bagi orang lain. Menghibur, terhibur dan dibayar!

Namun ternyata tidak semua orang bisa melucu, sering juga saya melihat orang yang berusaha melucu tapi tidak berhasil, malah garing dan wagu.

Dulu waktu ada API di TPI kita bisa melihat bahwa semua kontestan berlatih keras dan tampil luar biasa dengan skenario yang telah dirancang sedemikian rupa, namun tidak semua berhasil mengocok perut kita. Kalaupun penonton tertawa mungkin tertawa sinis karena tidak ada yang perlu ditertawakan.. hehe..

Jadi kesimpulan saya melawak itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk berhasil menjalani pekerjaan (yang sekilas indah dan menyenangkan karena selalu cengengesan dan serba bercanda) itu pasti dilatar belakangi oleh pemikiran super serius untuk mencapai target dalam durasi yang terbatas:

Penonton harus bisa terpingkal-pingkal!

Hal ini tentu lebih diperberat tatkala si pemain sendiri mood-nya sedang tidak baik karena ada masalah pribadi atau keluarga, yang mana pasti terjadi dalam hidup setiap manusia.

Kalau kita, saat mood sedang jelekpun masih dimungkinkan untuk bekerja, namun mood jelek pelawak tentu merupakan sebuah hambatan fatal dalam karirnya jika tidak pandai ditutupi.

Seorang teman pernah berkata, pelawak yang hebat adalah pelawak yang tidak tertawa ketika melawak. Dengan kata lain bisa menahan ketawa.Pendapat saya boleh jadi berbeda. Mereka bisa tidak tertawa mungkin karena lawakan yang sama diucapkan berulang-ulang hingga bosan dan tidak ada efek lucunya lagi bagi mereka. Bisa jadi karena sebenarnya mereka sedang dirundung masalah.

Yang lebih repot lagi, image pelawak ini tidak bisa ditanggalkan meskipun saat tidak bekerja. Jadi kemana-mana terpaksa berusaha tampil lucu, segar dan menghibur.

Nah, menurut saya ini sebenarnya justru merupakan tekanan tersendiri.

Jadi……Sebenarnya siapa yang lebih terhibur dan berbahagia: kita yang tertawa lepas karena lawakan pelawak atau pelawak yang berusaha mati-matian membuat kita tertawa?

Posted by ndablek at 15:20:16 | Permalink | No Comments »

Monday, October 19, 2009

Sumpah (Sampah??)

Membaca status seorang teman di FB mengenai kontrak anti korupsi para menteri tiba-tiba saya jadi tergelitik.  Seberapa efektif kah kontrak politik, sumpah jabatan atau sejenisnya itu?

Dokter punya sumpah profesi, tapi sering saya menjumpai oknum dokter yang profit oriented, ada yang suka mengganti resep dokter lain dan bilang jangan diteruskan, padahal obatnya masih banyak (belakangan saya ketahui isinya sama hanya beda produsen à mungkin demi mengejar insentif), ada yang  tidak empatik macam robot dan terkesan selalu jump to conclusion  tanpa mau mendengar sampai tuntas. Ada yang hasil labnya belum keluar, tapi berhubung dokternya sudah mau pulang akhirnya saya langsung dikasih resep. Bahkan saya juga pernah datang dalam kondisi sakit parah, tapi banyak ditanya-tanya kerja dimana dan ada asuransi tidak (karena ini mahal banget lho, katanya), baru dipersilahkan masuk ruang periksa setelah saya pastikan saya tercover perusahaan.

Pengen misuh sebenarnya, tapi itu sdh cerita lalu.

Ada juga oknum polisi, yang saya yakin juga ada sumpah pengabdiannya. Tapi sudah menjadi rahasia umum kalau ada oknum polisi juga menyukai suap, yang punya pengalaman ditilang lalu diajak damai pasti sudah banyak. Hebatnya mereka sudah pasang harga kadang tawar menawar persis seperti jual beli sayur di pasar. Saya pernah mengalami juga pakai kendaraan plat AD melewati kota Tasikmalaya (plat Z), ditilang karena menerobos lampu merah yang tertutup pohon lebat, yang kalau bukan orang Tasik pasti tidak tahu ada traffic light-nya.

Eh polisinya membenarkan tidak terlihatnya traffic light-nya itu tapi bilang tak peduli, itu bukan urusan mereka tapi DLLAJR. Hhegghh.. lalu diminta ‘titip 50ribu’ atau datang sidang.. Ya terpaksa pilih titip, masa saya harus ke Tasikmalaya lagi demi sidang hal sepele begitu? Solo – Tasik butuh 7 jam perjalanan darat, Bro!

Hebatnya lagi di Samsat tempat saya dulu ngurus SIM ada spanduk besar “Hindari calo”, tapi begitu selangkah masuk saja sudah banyak tawaran dari para calo. Logikanya para polisi kalau memang niat memberantas calo kan gampang saja, pasti wajahnya sudah sangat dihafal karena sliweran disitu. Eh..begitu masuk ruang foto, didalam juga ada calo, seenaknya masukin orang untuk foto tanpa antri.

Lalu, kalau melihat televisi mengenai persidangan, sebelum bersaksi pasti semua akan diminta bersumpah tapi tetap saja ya banyak yang memutar balikkan fakta. Lalu uang bermain disana.

Sumpah sepertinya tidak sakral lagi.

Kalau begitu, apakah sumpah itu masih diperlukan?

 

 

 

 

 

Posted by ndablek at 08:10:06 | Permalink | No Comments »

Monday, October 5, 2009

Master Hipnotis

Belakangan ini makin populer tayangan mengenai kekuatan hipnotis (atau kekuatan pikiran jika menurut versi pelaku) yang ada di TV.

Jam tayangnyapun ada yang sore hari ada pula yang malam hari.

Menyenangkan sekali nampaknya kalau kita bisa mengendalikan pikiran kita untuk mensugesti hal-hal positif , dimana segala pikiran ketakutan dan perasaan negatif bisa dienyahkan.

Bahkan beberapa artikel yang pernah saya baca, hipnotis ternyata bisa dimanfaatkan pula untuk keperluan medis dan terapi, misalnya untuk operasi, persalinan, mengatasi kecanduan, trauma, phobia, perilaku dan sebagainya. Misal untuk mengubah kenakalan remaja menjadi hilang dan terganti dengan sugesti untuk hormat pada orang tuanya.

Hmm… sepertinya ini kok adalah jalan pintas ya?

Legal atau tidak, etis atau tidak, wajar atau tidak..terserah anda menilainya.

Yang menjadi ganjelan saya adalah ketika hipnotis itu dipraktekan semena-mena, setidaknya dalam pandangan saya.

Menghipnotis orang lain kemudian memintanya untuk melakukan hal-hal yang lucu (baca: memalukan) bahkan kadang mengungkapkan sesuatu yang kurang pantas, rahasia pribadi dimuka umum hanya untuk hiburan semata. Parahnya lagi, ditayangkan di televisi yang bisa diakses siapapun dan dimanapun.

Seolah mengerjai atau mempermalukan bahkan menyakiti orang lain merupakan hal yang sah-sah saja, toh itu dikerjakan di alam bawah sadar dan antara pelaku dan si korban telah ‘berdamai’ dengan jabatan tangan dan ucapan terima kasih.

Cukup mengherankan memang, hanya dengan menepuk pundak, menjabat tangan, menatap mata atau bahkan hanya mendengar suara di telepon maka ketika si korban diperintahkan untuk tidur oleh si penghipnotis, seketika itu pula dia tertidur dalam ketidaksadarannya.

Terlepas dari apakah ini hiburan semata, fiksi, sihir, mistik, gendam atau bahkan ilmiah..namun menurut saya hal tersebut tidak pantas untuk ditayangkan.

Bayangkan jika yang 0,01% saja pemirsa yang melihat adalah orang yang tidak bisa memfilter bahkan kemudian berniat mempelajarinya untuk kegiatan negatif dan kejahatan lainnya.

Saya ragu kalau pembuat dan pelaku tayangan tersebut mau bertanggung jawab.

Apa pendapat anda?

Posted by ndablek at 18:21:14 | Permalink | No Comments »

Sunday, October 4, 2009

2 zona

Banyak yang bilang kalau mau maju semestinya kita berani meninggalkan comfort zone (zona nyaman) kita. Dengan ketidaknyamanan maka diri kita terpacu untuk beradaptasi lebih baik dan mengembangkan seluruh potensi yang ada untuk bertumbuh.

Kadang agak aneh kalo saya diminta menyatakan posisi sekarang ada di zona apa, krn kalo dibilang nyaman ya nyaman..kalo dibilang tidak nyaman ya tidak nyaman juga. Tinggal dari sisi mana saya memandangnya saja.
Ketika melihat kebawah, saya merasa nyaman…tatkala melihat ke atas maka ketidaknyamananlah yang muncul.

Ke dua zona ini jadinya kok mirip yin dan yang yah? hehehe…
Atau kalo dengan perumpamaan yang lain, sebenarnya jalan hidup ini seperti rel kereta, sementara diri kita adalah kereta yg melaju diatasnya.
Maksud saya adalah, sisi kehidupan terletak beriringan. Dimana ada ketidaknyamanan, maka pasti ada sisi kenyamanan dan sebaliknya…namun demikian kita pasti menggunakan keduanya untuk melaju menuju ketempat yang berbeda..bisa ke arah yg lebih baik, atau ke arah yg lebih buruk.

Ketidaknyamanan membuat kita terpacu untuk beradaptasi (dlm hal positif tentunya), namun kenyamanan membuat kita bisa balance untuk tetap mensyukuri proses yg telah dilalui.
Kenyamanan hidup yang kita terima dan rasa bersyukur, disaat yg sama membuat kita siap dan berani menerima ketidaknyamanan sebagai tantangan yang harus diatasi.

Jadi melihat kedepan dalam proporsi yg tepat antara ke bawah dan ke atas akan membuat kita melangkah lebih baik.

Posted by ndablek at 15:03:49 | Permalink | No Comments »

Tuesday, August 11, 2009

Diriku, dirimu, dan dirinya

Aku mencarimu untuk menemuinya
Aku menelponmu untuk bicara dengannya

Aku menyapamu untuk menyapanya
Aku melihatmu untuk menatapnya
Aku mendengarmu untuk mendengarkannya

Melaluimu aku memujinya
Melaluimu aku bercengkerama dengannya
Melaluimu aku mengungkapkan padanya
Melaluimu aku berbicara

Aku mengesampingkanmu demi mengutamakannya

Aku mengesampingkanmu meski dia ada… karenamu

Posted by ndablek at 15:52:25 | Permalink | No Comments »

Tuesday, July 28, 2009

Gemblung


Horeeeee….warung nasi Padang itu buka lagi.. pufff setelah seminggu tutup..ternyata kangen juga sama tunjang (kikil), rendang dan terongnya hehehe…

Sumpah, saya doyan semua menu di RM Padang..tapi kalo bener-bener suka..ya baru versi warung itu, sangat berani bumbu.. hmm.. mungkin pake ganja kali wakakakk…

Begitu melihat wajah saya, tanpa babibu dan blablabla apalagi abrakadabra maka si Uda langsung menyambar kertas pembungkus dan mulai meramu menyusun menu favorit saya itu. Kadang saya juga mengurungkan niat beli yang lain karena sudah kadung diambilkan yang itu hahaha…masa dikembalikan lagi ke baskomnya itu.

Akhirnya segenap kegundahan dan kebosanan saya hari ini terbayar lunas hanya dengan makan enak 

Oya nama warung Padang didaerah Sumur Batu ini tidak akan saya sebut demi menjaga etika promosi dan demi menjaga stabilitas logistik warung tersebut, terutama stok tunjang dan terongnya. Jangan sampai terlalu populer dan nanti justru saya yang tidak kebagian karena anda memborongnya  (*terkekeh sinis egoistis…penuh kecurangan)

Ahh…saya mungkin sudah mulai tidak waras.. 

Cuma menu makan malam saja begitu girang dan sempat-sempatnya diceritakan lewat tulisan.

Maaf yah…

Hehehe….(*kabuuuurrrrr….)

Posted by ndablek at 14:20:07 | Permalink | No Comments »

Friday, July 17, 2009

Ledakan di Kuningan

Lagi-lagi ledakan keras terjadi di Jakarta..hingga gombalan ini diturunkan, masih belum jelas apa penyebabnya. Yang pasti bukan saya aktornya :)

Level saya sih baru meledakkan confetti dan mercon waktu saya kecil dulu.

Dalam kesimpang siuran berita dan rasa penasaran banyak orang maka spekulasi bermunculan karena ingin menciptakan jawaban atas pertanyaan dan rasa ingin tahu mereka…lha sudah ga sabar lagi..jadi mengumbar opini yang logis hingga tak masuk akal bisa dipaparkan…ono-ono wae Mas…hahaha.. mari kita simak opini ga jelas itu:

  1. Ini adalah bom teroris yang baru saja merampok uang BNI senilai 15 Milyar, jadi masih termasuk ulah teroris yang ingin diketahui publik bahwa mereka masih eksis.
  2. Ini adalah ledakan dari dapur restoran yang wajar terjadi karena kualitas tabung gas yang kita ketahui memang tidak layak, berkarat dan mungkin las-lasannya sudah tidak aman lagi.
  3. Ini adalah persaingan antar perusahaan telco karena seperti diketahui bahwa MU akan datang disponsori oleh salah satu telco company hmm…jadi pesaing ingin mempermalukan pihak sponsor.
  4. Ini adalah salah satu bentuk cara mengalihkan ketidak siapan penyelenggara pertandingan besar timnas Indonesia dengan MU, biar dapat asuransi kerugian.
  5. Ini adalah ulah penggemar sepak bola Indonesia yang tidak mau timnya kalah dengan memalukan dikandang sendiri, jadi dibatalkan saja deh pertandingannya
  6. Ini adalah ulah penggemar MU yang kuatir MU akan kalah di Indonesia, sehingga dibatalkan saja dengan isu ketidakstabilan keamanan Jakarta
  7. Ini adalah pengalih konsentrasi dari hasil Pilpres kemarin dan carut marutnya DPT dan penghitungan suara
  8. Ini adalah murni kriminal persaingan bisnis karena salah satu korban adalah Presdir Semen terkemuka.
  9. Ini adalah skenario negara tetangga yang ingin Indonesia menjadi sepi turis agar wisatawan itu pindah tujuan ke negara mereka, bahkan mungkin sejak awal bom Bali dulu.
  10. Ini adalah pengalih perhatian dari polemik ketidak siapan menangani flu babi di Indonesia
  11. Ini adalah ulah para pekerja sekitar Mega Kuningan yang ingin pulang cepat menjelang long week end hahaha….
  12. dll yg belum sempet saya dengar lagi weleh..weleh..

 Jadi apa kesimpulan dari tulisan ini? Ya jelas tidak ada, wong ini opini tadi saya dengar dari obrolan ga karuan para pihak yang mungkin muak dengan rentetan peristiwa buruk di negeri ini…jadi tidak usah di ’reken’ (digubris).

Yang pasti, saya prihatin dan muak dengan kejadian ledakan ini, entah sengaja atau karena kecelakaan teknis. Intinya: Masih saja byk korban jiwa melayang sia-sia di negeri ini.

Semoga kedepannya tidak ada lagi.

Posted by ndablek at 05:00:48 | Permalink | No Comments »

Wednesday, July 8, 2009

Diingini…simpan..lupakan

Karena sakit saya terpaksa tidak melakukan aktivitas diluar.. iseng-iseng bongkar peti harta karun saya berupa dus-dus.
Ada mainan…mainan..terus mainan lagi (hehe… my guilty pleasure, sebagian besar sudah dipindahtangankan ke keponakan, cuma dibeli tapi ga pernah dimainkan sih)  lalu ada buku-buku..suvenir-suvenir dll..
Hmm.. Saya pun hanya  bisa bergumam ’oh..ternyata punya ini..punya itu juga yah..’ dan ’wahhh..ada juga, kirain udah ilang’ .

Kini giliran laci yang jadi sasaran saya..puluhan amplop tagihan kartu kredit..rekening koran…slip-slip ATM, nota-nota, karet, pulpen..buseeettt… jorok amat yah..semua mua masuk ke situ. Haha…terpaksa saya musnahkan, buang jauh-jauh ke tempat sampah.
Di laci yang lainnya ada beberapa DVD yang baru saya sadari belum saya tonton sejak saya beli lebih dari setahun yang lalu hahaha… dasar gemblung saya ini, cuma kepengen beli tapi lupa nyetel! Yah..berarti bisa dibilang DVD itu bukan kebutuhan saya sebenarnya, karena sayapun masih baik-baik saja tanpa mengingatnya ada.

Memang sifat manusia..lebih berminat pada sesuatu yang diingini, bukan yang dibutuhkan.
Sepertinya ini juga yang tampaknya dicari manusia terhadap lingkungannya.

Misal dalam dunia hiburan..orang lebih suka acara gosip daripada acara tuntunan agamis atau film dokumenter..akibatnya stasiun tv juga mengikuti selera pasar demi pemasukan iklan yang lebih besar.

Dalam panggung politik juga begitu, banyak orang yang hanya cenderung menginginkan pemimpin tertentu tanpa tahu sebenarnya dia itu yang dibutuhkan atau tidak. Lha bagaimana tidak..karena semua visi misinya normatif, diawang-awang, dalam debatpun tak ada perbedaan mencolok benang merah para kandidatnya.
Pembantu saya pun tadi saya tanya kenapa suka sekali dengan SBY? Dia bilang ya karena gagah. Walahh…kirain karena program 5 tahunannya, ternyata cuma karena nge fans..

Tapi saya berharap siapapun yang menang pada Pilpres kali ini, semoga dia sadar dan merasa bahwa dia ’dibutuhkan’ negeri ini, bukan hanya ’diinginkan’ negeri ini. Kalaupun sebenarnya hanya diinginkan, bersikaplah seolah dibutuhkan sbg Satria piningit!
Dengan demikian ada tanggung jawab pribadi, ada nurani yang tumbuh dalam mengambil setiap keputusan dan kebijakan yang menyangkut hajat hidup bangsa ini.

Kalau tidak…hmmm..mungkin nasibnya tidak akan beda jauh dari DVD saya tadi, diingini sesaat lalu dimasukkan laci dan akhirnya dilupakan (baca: tidak digubris).
Hahahaha….!

Posted by ndablek at 16:37:10 | Permalink | No Comments »

Monday, June 8, 2009

Naik pesawat terbang


Pesawat terbang sih sudah lama saya kenal..tapi menaikinya dan melesat cepat, terbang bersamanya mengangkasa sampai ketip-ketip yo belum lama, semenjak kerja saja. Selain dibiayai, kadang juga sudah bisa pergi  dengan tabungan sendiri.. eleuh-eleuh… (padahal aslinya sering manfaatin reimburse point reward juga hahaha…)

Yah, kalau dihitung-hitung nih selain pernah nyobain maskapai luar, mungkin sudah ratusan kali terbang dengan maskapai Indonesia yang cukup merangsang adrenalin itu karena rumor dan opini yang beredar dimasyarakat. (wahh…bahasanya lebih santun nih, takut sama UU ITE   *adijikkss..)

Beruntung standar perusahaan adalah memprioritaskan ke salah satu maskapai yang cukup tersohor di negeri ini, jadi relatif sedikit tenang meskipun maskapai itu memiliki catatan buruk juga yang terakhir di Yogya.

Selain sensasi terbang yang menyenangkan bisa pindah-pindah kota dalam waktu singkat, namun sebiasa-biasanya, semaklum-maklumnya, seyakin-yakinnya dan seberani-beraninya saya…ternyata saya ini masih punya rasa takut juga lho kalau naik pesawat. Terutama kalau cuaca mendung dan musim penghujan yang sudah pasti akan terjadi banyak goncangan dan ser-seran di udara. Wah ketambah lagi kalau terbangnya antara sore – malam.

Sayang hal ginian ini belum jadi perhatian suatu Departemen dalam perusahaan..diitung juga dong biaya kompensasinya! Ngeri tau! Loe sering bilang, ”Enak nih ini jalan-jalan terus…” 

”Jalan-jalan moyang lu?” balas ku.

Hehe..back to topic.

Nah kalau sudah begitu, selain mencengkeram pegangan tangan erat-erat (meskipun gak ngaruh yah?) saya biasanya berusaha tenang dengan berdoa dan membaca-baca apapun yang ada tulisannya…hehe termasuk membaca nama pramugari dibajunya (ini berlaku khusus yang cantik aja lho hakhakhakkk..)

Ujung-ujungnya, saya merasa paling pasrah kepada Tuhan ya dalam kondisi itu, wis miturut karep-Mu wae Tuhan, aku manut…wong kalau dalam kondisi biasa saya ini cukup ngeyelan dan seenaknya sendiri sama Tuhan.

Naik pesawat, mirip dengan saat menjalani kehidupan. Saya sudah terbiasa menghadapi yang tidak enak, yang penuh tantangan, yang menakutkan, yang penuh ketidakpastian dll. Sungguh merupakan kemurahan Tuhan karena sampai sekarang saya masih bisa hidup dengan ’layak/cukup’ dan survive menghadapi semua rintangan tersebut.

Tapi masih saja, kekuatiran saya akan masa depan tidak menjadi hilang begitu saja padahal Tuhan telah berkali-kali membuktikan kalau Dia tidak pernah meninggalkan saya bermasalah tanpa jalan keluar. Saya paling takut kalau rencana tata kehidupan saya meleset dari rute yang telah ditentukan. Dan efeknya saya akan ’menunjuk-nunjuk’ siapapun yang saya rasa membuat itu terjadi, termasuk menyalahkan diri sendiri.

Sejauh ini melangkah, semakin banyak bukti penyertaan-Nya, semakin tua pula saya tapi belum membuat saya semakin dewasa, semakin percaya kalau Tuhan selalu melindungi.

Masih saja saya berkutat dengan kekuatiran masa depan saya dan akhirnya lebih berharap pada manusia dan logika daripada kepada Tuhan.

Semoga tidak terjadi pada anda.

Posted by ndablek at 17:30:58 | Permalink | No Comments »

Thursday, May 28, 2009

Raksasa yang semakin ompong


Tubuh harimau yang kekar itu mencerminkan kegagahannya, kegesitan dan kekuatannya dalam mengejar buruan..bahkan ketika harus berebutan mangsa dengan hyena kompetitor abadinya. Gesekan pun tak pelak sering terjadi jika mereka memperebutkan kekuasaan dan dominasi diarea yang sama.

Namun kini harimau itu sudah mulai tidak menyeramkan dan rapuh. Giginya yang sering dipakainya sebagai senjata mulai ada yang retak, cuil bahkan beberapa sudah mulai tanggal. Terbayang sudah sekuat dan sesehat apapun harimau tadi kalau nantinya tanpa gigi maka dia hanyalah sekedar macan ompong. Mangsanyapun tak mampu lagi dia kunyah, cuma bisa ditangkap tapi sejurus kemudian hanya bisa diemut-emut lalu terlepas karena licin oleh liurnya sendiri.

Yah..ini memang cerita yang mengada-ada, tidak riil karena senyatanya jika harimau telah kehilangan gigi maka tak lama kemudian dia pasti segera mati, entah infeksi entah kelaparan.

Namun fenomena di alam bisa dijadikan pelajaran berharga bahkan ketika dikorelasikan dengan konteks bisnis. Yup..salah satu raksasa otomotif di Indonesia sekarang ini bak macan ompong, tak punya gigi lagi. Ketenaran akan ketangguhan dan kekuatannya menangkap mangsa (konsumen) dan mengalahkan dominasi hyena (kompetitor) makin diragukan.

Bagaimana tidak, SDM dibagian marketingnya yang berfungsi sebagai gigi semakin banyak saja yang mengundurkan diri entah karena tidak betah, tertekan bahkan dibajak perusahaan lain. Tapi hingga kini sejak 1,5 tahun belakangan masih saja belum tampak nyata perubahan maupun perhatian nyata yang diperlihatkan oleh manajemen perusahaan tersebut terhadap masalah ini. Yang ada hanyalah menumbuhkan kembali gigi baru..hmm…bisa dibilang gigi susu yang sudah pasti tidak setajam dan setangguh gigi yang lama.

Bagaimana tidak, seharusnya mereka berlari namun karena terlalu banyak yang baru sehingga hanya berjalan ditempat, meneruskan yang diwariskan saja. Itupun jika yang mewariskan ikhlas ilmunya dipakai.

Mestinya ada langkah nyata pembelajaran karena sejatinya pekerja yang handal meninggalkan posisi sekarang hanya disebabkan oleh: masalah remunerasi, suasana kerja, sistem kerja dan masalah pribadi (yang tidak dapat dielakkan lagi, misal mengurus anak).

Kalau ditilik dari website raksasa ini maka kriteria yang digunakan untuk merekrut juga kurang mantap. Posting di posisi marketing tapi yang dicari berlatar belakang teknik hhmm… Mungkin untuk posting sales hal tersebut bisa diterima namun perspektif marketing jauh lebih luas dari sales. Sales hanyalah bagian kecil dari arena marketing dengan segala strategi perangnya.

Kini, mungkin jika tetap seperti sekarang dan tidak ada lagi keprihatinan dan perhatian mendalam terhadap tanggalnya gigi-gigi tersebut, maka tak lama lagi harimau raksasa ini akan tersingkir dari denominasinya.

 

Salam

Posted by ndablek at 07:47:40 | Permalink | No Comments »