<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0">
 <channel>
  <title>Ndablek ngudarasa</title>
  <link>http://yodykristian.blog.com/</link>
  <description>..sejatinipun ukara jeroning mustika..</description>
  <language>id-ID</language>
  <pubDate>Mon, 11 Aug 2008 10:04:36 +0200</pubDate>
  <lastBuildDate>Mon, 11 Aug 2008 10:04:36 +0200</lastBuildDate>
  <generator>Blog.com</generator>
    <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3497330/</guid>
   <title>Pendoa disampingku itu</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3497330/</link>
   <description><b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br /></font></font></span></b>&#160;<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Pagi itu cuaca sangat cerah, saya bangun sedikit siang karena hari Minggu, jadi kalau baru bangun jam delapan rasanya tidak masalah, bolehlah secara berkala saya memanjakan diri untuk bermalas-malasan sedikit lebih lama.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Setelah menikmati sarapan sederhana yang terdiri dari sebungkus wafer Tango, pisang dan segelas teh panas, saya bergegas menuju ke gereja biasa tempat saya ikut beribadah. Pagi itu saya sempat memilih untuk duduk di bangku yang masih longgar, cuma ada seorang pria duduk diujung bangku yang lainnya...yang terlihat sedang serius berdoa sembari terdengar gumaman doanya.<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Tepat pukul 09.30..terdengar teng..teng..teng...begitu bunyi lonceng pertanda ibadah segera dimulai.<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Seiring dengan jalannya ibadah, didalamnya ada beberapa segmen doa yang harus dilalui. Pertama saya angggap biasa, namun gumaman orang yang berada disamping saya ini lama kelamaan mulai mengganggu konsentrasi doa saya. Setiap kali pendeta ataupun lektor memimpin doa, maka dengan serta merta orang ini juga berdoa dengan kata-katanya sendiri yang diucapkan secara bergumam...terkadang sedikit berdesis..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">”Kenapa sih gak dalam hati saja?!” batin saya.<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Konsentrasi saya terganggu karena saya yang <i>single tasking</i> ini jadi tidak bisa mendengar jelas ucapan doa pendeta, sementara doa orang disebelah sayapun juga tidak jelas..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Dalam hati saya mulai menggerutu...padahal digereja...dan saat sedang ibadah...<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Disaat terakhir menjelang pulang terdapat doa syafaat, sekali ini saya sudah pasang ancang-ancang. Awas, saya tidak akan kalah konsentrasi berdoa!<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Sayapun sudah mempersiapkan diri untuk lebih berkonsentrasi lagi terhadap ’hanya suara doa pendeta’ ketimbang terganggu dengan gumaman dan desisan. Namun hal yang lucupun terjadi ketika pada doa terakhir penggumam disebelah saya tiba-tiba hening, saya justru merasa kehilangan.<br />
<br /></font></font></span> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Saya tunggu-tunggu dan coba perhatikan kalau-kalau saya yang kurang jelas mendengarnya. Hingga pendeta berkata ’Amin’ saya baru sadari kalau ternyata saya tidak memperhatikan kata-kata doa pendeta. Artinya sayapun tidak berdoa..hanya memejamkan mata namun sebenarnya mencari sumber pengganggu yang tiba-tiba hilang. Terlewat lah sudah kesempatan saya untuk bersama-sama jemaat berdoa syafaat.<br />
<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Terlalu fokusnya saya pada kesempurnaan..sok benar..sok suci..sok khusyuk, membuat saya terusik terhadap bunyi doa tulus orang yang justru saya anggap sebagai pengganggu.<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari kalau saya terlalu fokus pada kesempurnaan, fokus mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, bisa jadi saya justru yang akan kehilangan saat terbaik hidup saya, karena orang hanya menaruh benci dan dengki kepada saya dan mereka menjauhi saya.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><span>&#160;</span><br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman">Jadi kalau dipikir-pikir, penggumam tadi justru lebih baik karena beribadah serius sesuai keyakinannya, sementara saya malah menyesal, kehilangan saat terbaik ibadah itu...seiring kehilangan suara desisannya.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br /></font></font></span></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Mon, 11 Aug 2008 16:50:58 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3497321/</guid>
   <title>Tatoo itu Lambang Kekuasaan</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3497321/</link>
   <description><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times"><img align="bottom" width="381" src="http://amadeo.blog.com/repository/1282249/3413510.jpg" height="292" style="width: 381px; height: 292px" /><br />
<br />
<br />
Suatu pagi yang normal di Jakarta ketika menuju sirkuit, bis carteran yang saya tumpangi terjebak kemacetan parah. Seperti biasanya kapasitas jalan yang sebenarnya sudah cukup besar masih saja disesaki oleh kendaraan yang berpacu menuju perhentian masing-masing. Cukup lama saya merambat disatu titik hingga saya mulai memperhatikan seoarng pengemudi angkot disebelah kiri bis yang saya tumpangi. Wajahnya bersahaja, berpakaian sederhana dan mengumbar senyum yang menurut saya sangat ramah kepada setiap penumpang yang akan naik.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="times new roman,times">&#160;<br /></font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Namun ada yang saya perhatikan dari supir tersebut, yaitu sebuah tatoo dilingkar lengan kanannya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa tatoo merupakan sebuah karya seni bahkan warisan budaya namun dikalangan modern tatoo masih lebih lumrah digunakan dikalangan ’hitam’ kalaupun bukan seniman.<br />
<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="times new roman,times">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Hanya saja yang menarik adalah kontrasnya wajah dan senyuman orang ini dengan tatoo di lengannya. Kalau saja yang mentatoo adalah supir biasa yang sorot matanya saja seram, preman terminal atau musisi rock, saya masih akan menganggapnya angin lalu.<br />
<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="times new roman,times">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Saya jadi ingat pengalaman saya sendiri waktu remaja, dimana tidak jarang saya berpapasan dengan remaja garang dikampung, geng sekolah atau preman Mall. Seperti menatap tajam seolah akan menerkam, jika tidak mencari gara-gara dengan memelototi terlebih dulu bahkan meminta uang jajan. Meskipun sebenarnya saya tidak takut karena telah membekali dengan ilmu bela diri namun lelah juga berpura-pura takut dengan tidak berani menatap lama mata preman atau anak geng itu.<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Lalu saya punya gagasan bahwa penampilan bisa jadi mengubah status saya dimata mereka. Akhirnya saya memutuskan menindik telinga kiri saya sendiri, dan memakai anting agar terkesan tidak kalah berandalnya dengan mereka.<br />
<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="times new roman,times">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Teori saya pun teruji, seringkali saya meladeni tatapan tajam preman atau anak geng kampung saya dengan tatapan wajar namun tidak berusaha semakin tajam. Anehnya saya seperti merasa mendapat status baru, dimana seringkali saya tidak lagi perlu membuang tatapan saya namun akhirnya justru orang yang pertama menatap tajam itu justru mengakhirinya sendiri dengan segera melihat ke arah lain..mungkin mereka jadi takut sendiri cari gara-gara hahaha...<br />
<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3" face="times new roman,times">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Kini sejak bekerja diperkantoran anting itu tak lagi saya pakai, namun supir angkot yang murah senyum ini mengingatkan akan masa lalu saya..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times">Mungkin dia sedang menambah rasa aman karena lingkungan kerjanya yang rawan penodongan dan pemerasan oleh komplotan preman, meskipun ironis, seharusnya rasa aman bukanlah didapat dari atribut melainkan harus diberikan oleh pemerintah negeri ini selaku penyelenggara keamanan.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="times new roman,times"><br />
Cuma saya tergelitik, jangan-jangan dalam bekerjapun saya kembali memakai ’anting’ jabatan untuk memperoleh kekuasaan terhadap rekan kerja dan membuat mereka segan bukan karena kewibawaan saya pantas disegani tapi lebih karena segan karena ’anting’ yang memiliki kuasa seperti preman tadi.<br />
<br /></font></font></span></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Mon, 11 Aug 2008 16:49:05 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3497307/</guid>
   <title>Kemrungsung</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3497307/</link>
   <description><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2"><img align="bottom" width="345" src="http://amadeo.blog.com/repository/1282249/3413498.jpg" height="291" style="width: 345px; height: 291px" /><br />
<br />
Coba perhatikan apa yang salah dari foto yang saya ambil diatas?<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Hahaha..betul sekali, ternyata tulisannya terbalik sehingga stiker pelindung akriliknya tidak jadi dilepas mungkin setelah disadari oleh pemasangnya. Neon box sign ini ada di bandara Hang Nadim Batam, tepatnya di lantai 2 dekat Bintan Lounge..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2"><br />
Entah sengaja atau kurang cermat, namun saya pikir ini karena kemrungsung saja sehingga kesalahan yang tidak perlu ini bisa terjadi dan mengundang senyum saya.<br /></font></font></span> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Ingin cepat ternyata tidak selalu menjadi solusi terbaik..kalau tanpa persiapan yang matang.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2" face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Karena ingin cepat sampai, maka orang cenderung mengabaikan keselamatan..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Karena ingin cepat minum, maka orang bisa tersedak..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Karena ingin cepat menjual, maka orang mengkarbit pisang..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Karena ingin cepat dipromosi, maka orang menjadi egois..<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Karena ingin cepat selesai, maka orang menyuap..<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2" face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Dan pemenangnya, eng ing eng....<span>&#160;&#160;</span> <i>here it goes</i>....<br /></font></font></span> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">Karena ingin cepat terpasang maka malah terbalik..<br /></font></font></span> <span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2">hahahaha....sumpah, tragis banget nih...<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="tahoma,arial,helvetica,sans-serif"><font size="2"><br />
<br /></font></font></span></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Mon, 11 Aug 2008 16:45:34 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3497269/</guid>
   <title>Kulit Pisang Itu</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3497269/</link>
   <description><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><img align="bottom" width="308" src="http://amadeo.blog.com/repository/1282249/3413490.jpg" height="192" style="width: 308px; height: 192px" /><br />
<strong><br />
HARI</strong> Sabtu merupakan hari belanja buah, setidaknya begitu bagi saya karena tiap hari Sabtu saya pasti menyempatkan diri membeli buah dipinggiran pasar dekat rumah. Maklum hidup terpisah dari istri, jauh dari keluarga membuat saya harus bersikap bijak, kalau hanya mengandalkan buah katering kantor mestinya tidak cukup buat kebutuhan badan yang sedemikian besar ini. Biasanya saya juga mengkonsumsi suplemen / vitamin namun itu kan kurang alami. Siang ini saya menyempatkan membeli sesisir pisang ambon, biar jantung sehat sehingga istri saya tidak perlu kuatir karena suaminya bisa jaga diri dengan baik.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><br />
Silahkan dipilih..dipilih...dipilih...eh..kok malah saya yang jualan.. hkkhkhkk... singkat kata saya berhasil menyingkirkan pisang yang jelek dan mendapatkan pisang yang baik, mulus dan minim flek doklat kehitaman. Tawar menawar harga dan akhirnya dengan suka cita saya bawa pulang pisang itu dan tak sabar memakannya.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2" face="verdana,geneva">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2">Tidak habis memakannya dalam sehari maka pisang ini segera saja menjadi cadangan makanan saya hingga 3 hari. Mengagumkan ketika saya lihat sisa pisang yang masih ditangkainya itu masih segar meskipun gurat layu mulai nampak dikulitnya. Sangat berbeda dengan saudaranya yang terpisahkan dari tangkai maka dengan cepat kulit pisang itu ditaburi flek coklat kehitaman.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2" face="verdana,geneva">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2">Hal yang sebenarnya lumrah dan sering saya lihat, namun baru kali ini saya memperhatikannya, seolah memberi tahu saya bahwa ketika sesuatu kehilangan suplai energi maka ia akan dengan cepat layu.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="2" face="verdana,geneva">&#160;</font></span></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2">Rasanya sebagai manusia saya mengalami hal serupa,<span>&#160;</span> ketika suplai energi itu mulai hilang, bisa yang bersifat lahir seperti makanan-minuman hingga yang bersifat batin seperti kebahagiaan, nurani, kesetiakawanan dan nilai kemanusiaan maka sejatinya manusia dalam bahaya menuju kematian.<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2">Sejak saat ini saya akan mengecek lagi apakah suplai saya tersumbat, karena saya belum mau mati.<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><br />
<br /></font></font></span></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Mon, 11 Aug 2008 16:25:20 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3432115/</guid>
   <title>Kemben Melorot</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3432115/</link>
   <description><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Hahaha...jangan marah ya kalau Anda sedang searching dengan keyword ’kemben melorot’ ternyata blog ini yang ditemukan..maaf.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Saya memang mau mengulas tragedi kemben tapi dari sisi yang lain. Sudah diketahui umum dan bahkan saya sempat dikirimi gambarnya oleh seorang teman tragedi kemben melorot, mulai dari Dewi Persik hingga Sarah Azhari..hmm..<s>tubuh yang luar biasa memang</s><span>&#160;</span> memang amat disayangkan..(*ngelap keringet dulu nih..puff..gak boleh sampe KSO2 alias kelingan sing ora-ora haha)<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Ramai-ramai orang menghujat mereka, terutama ke Dewi Persik yang memang sedang hangat dibicarakan orang karena tengah naik pamor. Dewi Persik diaggap tidak senonoh, tidak berusaha menjaga aurat dan sebagainya. Saya tidak sedang berusaha membelanya sih, memang saya setuju kalau goyangan Dewi dianggap erotis dan terlalu berlebihan. Namun untuk masalah kembennya saya rasa sebetulnya ada pihak yang lebih bisa dimintai pertanggung jawaban untuk kejadian tersebut.<br />
<br /></span> <span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Siapa?<br />
<br /></span> <span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV">Yupp.. Anda bisa membaca pikiran saya kalau mengatakan yang lebih bertanggung jawab semestinya adalah si perancang dan pembuat busana Dewi Persik. Kenapa? Ya karena dia sudah tahu persis busana tersebut akan digunakan untuk manggung oleh seorang Dewi yang gerakannya heboh, mestinya dia memberikan ukuran yang lebih ketat dan memberikan ekstra perlindungan untuk antisipasi kalau busana tersebut tidak sanggup mengimbangi mentul-mentulnya volume dada Dewi saat bergoyang.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Saya yakin Dewi tidak menghendakinya, jadi ya sebenarnya dia adalah korban..maka dia juga tidak mutlak yang salah.<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV">Masalah gampang menyalahkan orang ini ternyata selain saya (yang dengan sengaja menyalahkan si desainer tadi) juga merupakan kecenderungan masyarakat Indonesia pada umumnya. Coba perhatikan, banyak penabrak lari yang sebenarnya lari bukan karena ingin melarikan diri tapi bisa jadi cenderung lari karena ingin menyelamatkan diri dari amuk massa. Padahal belum tentu si penabrak ini yang salah, tapi dia justru korban dari orang yang ugal-ugalan atau dari orang yang secara ceroboh menyeberang jalan secara tiba-tiba. Namun orang tidak mau tahu, pokoknya yang masih segar bugar dialah yang bersalah dalam kecelakaan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Sudah kebiasaan umum juga kalau yang membawa kendaraan lebih besar menjadi lebih pantas disalahkan daripada menyalahkan yang sebenarnya melakukan kesalahan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Kalau ada demonstrasi juga demikian, orang gampang saja menyalahkan polisi ketika ada korban yang jatuh, padahal dalam kondisi yang sangat <i>chaos</i> alias kacau dan genting tentunya keselamatan diri dan pihak pelapor juga tidak kalah penting. Sebenarnya kalau menurut saya polisi juga korban, karena dia hanya semacam pion yang diadu dengan demonstran yang seringkali dengan kalap malah berusaha menyakiti polisi penjaga ketertiban itu tadi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Contoh lain ketika anak gagal, kecenderungan orang tua adalah menyalahkan anak yang dianggap malas belajar, padahal bisa jadi anak yang gagal itu adalah korban dari orang tua yang tidak memberinya perhatian dan arahan yang tepat.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Hhhh...kita memang masih perlu banyak belajar untuk lebih berhati-hati supaya tidak gampang menyalahkan orang lain<br />
<br />
<br /></span></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Mon, 04 Aug 2008 10:28:36 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3432103/</guid>
   <title>Hepi Bersdei</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3432103/</link>
   <description><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><img align="bottom" width="178" src="http://amadeo.blog.com/repository/1282249/3394792.jpg" height="124" style="width: 178px; height: 124px" /><br />
<br />
Entah siapa yang memulai, namun hingga kini saya masih tersenyum geli kalau mendengar orang menyanyikan lagu <i>Happy Birthday</i> namun dengan pelafalan ’hepi bersdei’ karena kadang yang menyanyikannya adalah orang yang jago inggris.<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV">Yah...kesalahan yang dibiasakan oleh pendahulu kita (dulu mungkin akibat kurang mengerti) memang akhirnya sampai era milenium ini masih saja terbawa-bawa oleh generasi mudanya, bukan karena tidak tahu namun lebih karena tidak sadar bahwa yang diucapkan salah, cenderung karena kebiasaan saja dari kecil.<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV">Inilah bahayanya hidup, mengataakan, melakukan atau memutuskan sesuatu karena kebiasaan atau sudah terbiasa. Saking biasanya kadang kita lupa untuk menelaah lebih dalam, apakah apa yang kita biasakan itu sudah tepat atau belum.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Kepada anak buah kita sering membiasakan menganggap mereka jongos yang bahkan untuk menghapus whiteboard, membereskan proyektor dan kabel usai meeting, mengambil print kita sendiri pun perlu anak buah yang bergerak, membiasakan anak buah yang datang dengan cara kita panggil dan bukannya kita yang mendatangi mereka.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Di kantor saya belakangan sering dipakai anak yang praktek kerja (PKL), namun alih-alih memberikan mereka ilmu dan pengalaman kerja, akhirnya kami malah lebih sering menyuruh mereka untuk memfotokopi, mengambilkan hasil print, membendel berkas, mengembalikan proyektor ke Dept lain, memanggilkan OB dan segala remeh yang lain yang semestinya bisa kami kerjakan sendiri. Bukan karena tidak ada waktu sehingga perlu pendelegasian, namun lebih karena ingin cari enaknya. Dalam diri kami bersemayam impian menjadi raja kecil ,jadi tiap ada kesempatan maka tak lupa memaksimalkannya. Justru ilmu kerja yang mereka cari tidak kami berikan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Nampaknya kami masih terbiasa mencari enaknya diri sendiri..karena dari dulu ya begitu, turun menurun tanpa sempat menyadarinya hingga sekarang.<span>&#160;</span> Jadi kasus perploncoan STPDN (dulu IPDN), lalu korupsi, kolusi, pungli, money politic dan sebagainya bukan diciptakan karena tapi karena sudah ada sebagai kebiasaan.<br /></span>
<p><br />
<br />
<br /></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Mon, 04 Aug 2008 10:23:55 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3425221/</guid>
   <title>Semua bermanfaat, asal....</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3425221/</link>
   <description><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV">Pasti pembaca sekalian sudah tahu atau minimal pernah mendengar nama masakan seperti cap cay, pak lay, ayam bakar+lalapan, mie kuah, sayur asem, tahu/tempe bacem, asem-asem kikil, kangkung cah terasi, rujak cingur, kerapu tim, siomay Bandung, gulai, gudeg, timlo, pecel ndeso ataupun soto daging sapi.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Semuanya menjanjikan cita rasa khas masing-masing yang sudah barang tentu akan mampu menggoyang lidah para penikmatnya. Menulis dan membayangkannya saja sudah mamu membuat saya ngiler hahaha.. apalagi ditutup dengan secangkir wedang teh manis, atau segelas es jeruk nipis yang menyegarkan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Tak hanya cita rasa, namun soal kandungan gizi baik protein maupun vitamin sudah barang tentu diberikan oleh masakan tersebut meskipun dalam porsi masing-masing. Akhirnya akan mampu diserap dengan baik oleh tubuh..yang semestinya akan memberikan kesehatan, pengganti sel tubuh yang rusak dan tambahan kekuatan. Membuat tubuh kita menjadi besar dan semakin tinggi hingga batas masing-masing.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Semuanya baik, namun coba kita bayangkan ya...seandainya semuanya itu dijejalkan kedalam mulut kita, kita makan dengan rakusnya atas nama kecukupan gizi dan kesehatan...mungkin respon setelah 30 menit menyantapnya sekaligus adalah rasa penuh, kembung, lalu tak tahan lagi akhirnya muntah..lalu lambung infeksi karena dipaksa terlalu melar dalam waktu singkat. Enzim pencerna juga tidak lagi mampu mencerna semua makanan tersebut dengan baik.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Yah..begitulah..ilustrasi diatas menggambarkan semua hal yang baik dan kelihatan perlu, namun jika terlampau dipaksakan serta merta pasti ada efeknya juga. Semua hal yang kelihatan (atau memang dipikirkan) baik tidak harus selalu dicoba dalam satu waktu secara instan untuk mewujudkan badan yang sehat dan kuat seperti badan Ade Ray. Bahkan Ade Ray saja butuh waktu bertahun-tahun, bukan 1-2 tahun.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Justru ketika makanan itu disantap pada waktu yang berbeda, maka selain tubuh akan merespon dengan baik(menyerapnya), maka lidahpun akan merasa dimanjakan, kandungan gizi akan termaksimalkan, isi kantong juga lebih bisa dikendalikan.<br />
<br /></span><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana" lang="SV" xml:lang="SV"><br />
Kepada siapapun yang merasa berambisi, ingatlah ilustrasi makanan ini..semua hal itu diciptakan baik namun tidak semua hal itu perlu. Kegagalan bukanlah akibat kurang banyaknya ilmu&amp;strategi, namun lebih pada kurangnya praktek pada ilmu&amp;strategi sederhana yang sudah dimiliki. Karena meskipun memiliki hanya 1 keahlian namun jika diterapkan dengan sangat baik maka akan membawa pada kesuksesan besar.<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br />
<br /></span></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Fri, 01 Aug 2008 15:52:51 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3340197/</guid>
   <title>Perangkat, aparat atau keparat??</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3340197/</link>
   <description><p><b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><img align="bottom" width="434" src="http://amadeo.blog.com/repository/1282249/3355773.jpg" height="316" style="width: 434px; height: 316px" /></font></font></span></b></p>
<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><font size="2"><strong>BEBERAPA</strong></font>&#160;waktu yang lalu saya ada perlu mengurus beberapa administrasi kependudukan di Kelurahan tempat saya tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah. Setelah minta pengantar dari pak RT maka pergilah saya menuju Kelurahan yang jaraknya hanya sepelemparan batu jauhnya dari rumah pak RT.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Saya terhenyak, karena meskipun jaman katanya sudah berubah ke arah yang lebih baik, jaman reformasi, namun saya masih melihat pemandangan para perangkat Kelurahan ini kebal-kebul menghisap sigaretnya sambil sesekali meminum kopi dan terus melanjutkan membaca koran pagi itu. Saya tidak merasa mereka sedang mencari komplain di media, namun memang itulah kebiasaannya.<br />
Kenapa?<br />
Karena pada saat ada seorang ibu masuk menanyakan BLT mereka seperti tidak serius, saling lempar tugas, tidak ada layanan khas pejabat publik yang ideal dan dicita-dicitakan. Akhirnya yang melayani adalah petugas wanita yang kebetulan juga melayani saya. Ibu ini memang paling muda, namun apakah itu berarti semua pekerjaan harus dilimpahkan kepadanya, sementara kalau dibandingkan gaji dan fasilitasnya mestinya yang senior mendapatkan lebih banyak sehingga sudah seharusnya yang senior kerjanya lebih banyak. Terlepas dari itu semua sudah seharusnya jiwa melayani dengan baik dan setulus hati ada pada mereka tanpa pamrih, karena itulah profesionalitas apalagi kalau sampai dibilang pekerjaan ini sebagai pengabdian.<br />
<br />
Saya juga pernah mengalami kejadian saat saya mengendarai kendaraan melewati Tasikmalaya, saya salah arah karena rambu yang tertutup dedaunan pohon sehingga tidak terlihat sebagai rambu. Meskipun jelas-jelas plat polisi kendaraan saya dari luar kota dan saya menunjukkan rambu yang tertutup itu, polisi tidak mau tahu. Tetap menilang saya dan akhirnya bilang kalau rambu yang tertutup itu bukan urusannya, melainkan urusan DLLAJ.<br />
Uang pun berpindah karena tawaran ’titip sidang’ menjadi masuk akal, tidak mungkin saya kembali lagi ke Tasikmalaya hanya untuk sidang.<br />
<br />
Betapa keterpaksaan yang menjengkelkan.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Mungkin perangkat publik ataupun aparat publik dinegara ini masih lebih cocok disebut keparat!<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
<br />
<br /></font></font></span></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Sat, 19 Jul 2008 17:56:58 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3340192/</guid>
   <title>Semua mesti dibayar</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3340192/</link>
   <description><b><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br /></font></font></span></b>&#160;<span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><font size="2"><strong>DIJAMAN</strong></font>&#160;sekarang apa sih yang tidak perlu bayar? Mau makan enak ya mesti bayar lebih. Mau tidur nyaman ya mesti bayar hotel yang lebih mahal. Mau muter haluan aja bayar ke pak Ogah, mau nunggu lampu hijau nyala saja mesti membayar para pengamen dan pengemis. Senyumpun sekarang dikaitkan dengan uang, kalau potensial jadi konsumen ya disenyumin tapi kalau tidak ya bakal mlengos aja tuh SPG. Ndak percaya? Coba ada tidak SPG yang senyum sama pengunjung yang kelihatan kere dan tidak terawat?<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Air putih yang dulu sepertinya sumber tak terbatas kini juga sudah dijual. Nah, kalau air pipis, kita kan memberikan sesuatu namun nyatanya ditarik bayaran juga. Mulai yang sekedar Rp 500,- hingga Rp 2.000,- sekali buang. Mahal pisan! Bahkan kalau di KLCC (Twin tower) saya pernah ditarik RM 2 untuk sekali masuk toilet...alamak...<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Bahkan teman saya di Jepang mengatakan untuk membuang kursi anak yang sudah tidak terpakaipun harus membayar ke tukang sampahnya, cukup mahal kurang lebih Rp 40.000. Ndak tahulah suatu saat nanti menangis perlu bayar juga atau tidak.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Saya kuatir kelak untuk bernafaspun (menghisap dan membuang) mungkin manusia harus membayar karena tidak ada lagi yang gratis. Sinar matahari pun perlu dibayar. Pertemanan dan ketulusan hati juga berpotensi untuk dikomoditaskan, cinta tanpa uangpun tak bisa langgeng.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Untungnya untuk kentut belum perlu bayar ya hehe..<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br />
Nah mumpung sekarang belum perlu bayar marilah kita kentut sesuka hati kita..braatttt......breeetttt.....bruuoootttttt......<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font size="3"><font face="Times New Roman"><br /></font></font></span></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Sat, 19 Jul 2008 17:52:12 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://yodykristian.blog.com/3340160/</guid>
   <title>Lambatnya internet kantor</title>
   <link>http://yodykristian.blog.com/3340160/</link>
   <description><b><span lang="SV" xml:lang="SV"><br /></span></b>&#160;<span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2">MENGGUNAKAN internet sekarang sudah menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan lagi, baik untuk bekerja, mencari informasi maupun sekedar mencari hiburan. Apapun hampir bisa dicari disana mulai dari informasi ’lurus dan terang’ sampai dengan informasi ’kusut dan gelap’. Kebutuhan untuk mendownload email tatkala email kantor bermasalah juga penting.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><br />
Cuma saya heran dengan aturan beberapa kantor, bahwa bandwith sangat dipengaruhi golongan dan jabatan. Otomatis untuk golongan menengah bawah alias kaum ndelosor ya cuma dapat kepretan saja. Download file berukuran 1 MB dipastikan menjadi lama padahal jelas hal itu mengganggu ritme kerja staf operasional. Kontradiktif dan kontraproduktif, karena justru orang arus bawah<span>&#160;</span> waktunya lebih tersita untuk operasional sehingga pemakaian waktu yang optimal menjadi sangat penting, ketimbang kaum penggede yang tidak banyak memanfaatkannya. Toh kerjanya lebih banyak meeting, mikar mikir, ngusul dan...... sudah, ya cuma itu...tidak tersita untuk membuat laporan harian grafik, analisa dan sebagainya. Semua hampir dikarjakan oleh bawahan maupun ajudannya.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><br />
Yang bikin saya kemingkel geli, dikantor seorang teman di salah satu kota di Sumatera, dengan alasan efisiensi dan agar karyawan tidak malas bekerja maka manajemennya memutuskan koneksi dibuka dua kali sehari yaitu pukul 10 – 11 dan pukul 14 -15. Hahahaa..,aturan yang aneeehh...<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><span><br /></span>Dimana coba letak efisiensinya? Yang ada kan malah kemacetan arus karena semua orang jadi terkonsentrasi di jam itu, lagian kalau ada hal mendesak tapi akses ditutup jadi mesti ke warnet..atau rela berkorban dengan pulsa pribadi.<br />
<br /></font></font></span><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><br />
Bingung deh....<br /></font></font></span>
<p><span lang="SV" xml:lang="SV"><font face="verdana,geneva"><font size="2"><br /></font></font></span></p></description>
   <author>ndablek</author>
   <pubDate>Sat, 19 Jul 2008 17:35:29 +0200</pubDate>
  </item>
  </channel>
</rss>