Berangkat 10’ lebih awal
Pagi ini saya terbangun lebih awal berhubung saya menumpang eh kok terkesan ga bayar ya? Menaiki terkesan naik diatas atap … maksudnya ”membeli tiket secara resmi terus duduk didalam kereta Argo Dwipangga” itu lho, dari Solo menuju Jakarta.
Untung sebelah saya seorang wanita muda blasteran Jawa Arab yang cukup cantik jadi iseng-iseng kalau pas bangun saya sempatkan memandanginya…lumayan tombo nguaaantuuuuuk….
Memang wanita akan terlihat cantik saat dia tertidur.. Okelah, cukup sudah soal wanita tadi….ntar jadi KSO2 alias kelingan sing ora-ora.
Singkat cerita, saya tiba dirumah pukul 05.30..nah jam segitu males banget tidur lagi karena bisa diprediksi kalau tidur jadi nanggung.
Saya meneruskan dengan ritual pagi, lalu setelah menyeruput teh panas dan kesumpel roti jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.50, berangkat ahh.. Biasa gas dibejek habis maen diatas 60km/h sekarang justru tidak pernah sampai 50km/h. Berkendara menjadi lebih rileks, sedikit ketawa melihat orang pada ngebut dan buru-buru..ahh kali ini saya tidak seperti kalian.
Tapi lama kelamaan jengkel juga sering diklakson dan melihat orang yang pada gak sabar mau minta jalan.. ”Apa situ ndak tahu tho, saya ini sedang nyantai..ngebut-ngebut gitu bahaya, eman sama keluarga!” batin saya.
Tapi sejenak habis membatin, saya jadi ingat kalau saya berangkat seperti biasa meskipun tidak begitu ugal-ugalan namun sering juga mengklakson-klakson orang minta jalan. Sering juga merasa jengkel karena orang yang didepan saya ini lelet banget plus membuat manuver yang makan waktu dan tempat. Hahaha…kutu tengik! Ternyata saya sendiri tidak berbeda dari orang yang biasanya saya umpat, ndak ada bedanya!
Situasinya sama, yang membedakan hanyalah sudut pandang saja..kalau lagi buru-buru maka orang yang berkendara dengan pelan menjadi menjengkelkan dan bersalah, sementara kalau saya lagi nyantai maka orang yang ngebut dan cepat menjadi menyebalkan.
Didalam dunia kerja juga demikian adanya, batas perbedaan antara dinamis, fleksibel dan serba cepat sangat tipis bedanya dengan manajemen tanpa perencanaan dan grusa grusu dalam menyiapkan strategi baru.
Bagi punggawa kantor, orang yang kekeuh bekerja sesuai plan kadang terkesan bekerja lambat, padahal bisa jadi sebenarnya orang yang sama yang merasa semua hal serba lambat tadi sedang kemrungsung oleh ketidaksiapannya sendiri dalam me-manage pekerjaannya.


