Saturday, July 19, 2008

Perangkat, aparat atau keparat??

BEBERAPA waktu yang lalu saya ada perlu mengurus beberapa administrasi kependudukan di Kelurahan tempat saya tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah. Setelah minta pengantar dari pak RT maka pergilah saya menuju Kelurahan yang jaraknya hanya sepelemparan batu jauhnya dari rumah pak RT.


Saya terhenyak, karena meskipun jaman katanya sudah berubah ke arah yang lebih baik, jaman reformasi, namun saya masih melihat pemandangan para perangkat Kelurahan ini kebal-kebul menghisap sigaretnya sambil sesekali meminum kopi dan terus melanjutkan membaca koran pagi itu. Saya tidak merasa mereka sedang mencari komplain di media, namun memang itulah kebiasaannya.
Kenapa?
Karena pada saat ada seorang ibu masuk menanyakan BLT mereka seperti tidak serius, saling lempar tugas, tidak ada layanan khas pejabat publik yang ideal dan dicita-dicitakan. Akhirnya yang melayani adalah petugas wanita yang kebetulan juga melayani saya. Ibu ini memang paling muda, namun apakah itu berarti semua pekerjaan harus dilimpahkan kepadanya, sementara kalau dibandingkan gaji dan fasilitasnya mestinya yang senior mendapatkan lebih banyak sehingga sudah seharusnya yang senior kerjanya lebih banyak. Terlepas dari itu semua sudah seharusnya jiwa melayani dengan baik dan setulus hati ada pada mereka tanpa pamrih, karena itulah profesionalitas apalagi kalau sampai dibilang pekerjaan ini sebagai pengabdian.

Saya juga pernah mengalami kejadian saat saya mengendarai kendaraan melewati Tasikmalaya, saya salah arah karena rambu yang tertutup dedaunan pohon sehingga tidak terlihat sebagai rambu. Meskipun jelas-jelas plat polisi kendaraan saya dari luar kota dan saya menunjukkan rambu yang tertutup itu, polisi tidak mau tahu. Tetap menilang saya dan akhirnya bilang kalau rambu yang tertutup itu bukan urusannya, melainkan urusan DLLAJ.
Uang pun berpindah karena tawaran ’titip sidang’ menjadi masuk akal, tidak mungkin saya kembali lagi ke Tasikmalaya hanya untuk sidang.

Betapa keterpaksaan yang menjengkelkan.


Mungkin perangkat publik ataupun aparat publik dinegara ini masih lebih cocok disebut keparat!

Posted by ndablek at 09:56:58 | Permalink | No Comments »

Semua mesti dibayar


 DIJAMAN sekarang apa sih yang tidak perlu bayar? Mau makan enak ya mesti bayar lebih. Mau tidur nyaman ya mesti bayar hotel yang lebih mahal. Mau muter haluan aja bayar ke pak Ogah, mau nunggu lampu hijau nyala saja mesti membayar para pengamen dan pengemis. Senyumpun sekarang dikaitkan dengan uang, kalau potensial jadi konsumen ya disenyumin tapi kalau tidak ya bakal mlengos aja tuh SPG. Ndak percaya? Coba ada tidak SPG yang senyum sama pengunjung yang kelihatan kere dan tidak terawat?


Air putih yang dulu sepertinya sumber tak terbatas kini juga sudah dijual. Nah, kalau air pipis, kita kan memberikan sesuatu namun nyatanya ditarik bayaran juga. Mulai yang sekedar Rp 500,- hingga Rp 2.000,- sekali buang. Mahal pisan! Bahkan kalau di KLCC (Twin tower) saya pernah ditarik RM 2 untuk sekali masuk toilet…alamak…


Bahkan teman saya di Jepang mengatakan untuk membuang kursi anak yang sudah tidak terpakaipun harus membayar ke tukang sampahnya, cukup mahal kurang lebih Rp 40.000. Ndak tahulah suatu saat nanti menangis perlu bayar juga atau tidak.


Saya kuatir kelak untuk bernafaspun (menghisap dan membuang) mungkin manusia harus membayar karena tidak ada lagi yang gratis. Sinar matahari pun perlu dibayar. Pertemanan dan ketulusan hati juga berpotensi untuk dikomoditaskan, cinta tanpa uangpun tak bisa langgeng.


Untungnya untuk kentut belum perlu bayar ya hehe..


Nah mumpung sekarang belum perlu bayar marilah kita kentut sesuka hati kita..braatttt……breeetttt…..bruuoootttttt……


Posted by ndablek at 09:52:12 | Permalink | No Comments »

Lambatnya internet kantor


 MENGGUNAKAN internet sekarang sudah menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan lagi, baik untuk bekerja, mencari informasi maupun sekedar mencari hiburan. Apapun hampir bisa dicari disana mulai dari informasi ’lurus dan terang’ sampai dengan informasi ’kusut dan gelap’. Kebutuhan untuk mendownload email tatkala email kantor bermasalah juga penting.


Cuma saya heran dengan aturan beberapa kantor, bahwa bandwith sangat dipengaruhi golongan dan jabatan. Otomatis untuk golongan menengah bawah alias kaum ndelosor ya cuma dapat kepretan saja. Download file berukuran 1 MB dipastikan menjadi lama padahal jelas hal itu mengganggu ritme kerja staf operasional. Kontradiktif dan kontraproduktif, karena justru orang arus bawah  waktunya lebih tersita untuk operasional sehingga pemakaian waktu yang optimal menjadi sangat penting, ketimbang kaum penggede yang tidak banyak memanfaatkannya. Toh kerjanya lebih banyak meeting, mikar mikir, ngusul dan…… sudah, ya cuma itu…tidak tersita untuk membuat laporan harian grafik, analisa dan sebagainya. Semua hampir dikarjakan oleh bawahan maupun ajudannya.


Yang bikin saya kemingkel geli, dikantor seorang teman di salah satu kota di Sumatera, dengan alasan efisiensi dan agar karyawan tidak malas bekerja maka manajemennya memutuskan koneksi dibuka dua kali sehari yaitu pukul 10 – 11 dan pukul 14 -15. Hahahaa..,aturan yang aneeehh…


Dimana coba letak efisiensinya? Yang ada kan malah kemacetan arus karena semua orang jadi terkonsentrasi di jam itu, lagian kalau ada hal mendesak tapi akses ditutup jadi mesti ke warnet..atau rela berkorban dengan pulsa pribadi.


Bingung deh….


Posted by ndablek at 09:35:29 | Permalink | No Comments »