
Melihat polahnya memang menggelikan, hampir 15 menit saya terpana dan sesekali tak bisa menahan senyum melihat tingkah lucu monyet kecil itu. Iya, itulah sebuah pertunjukan topeng monyet yang saya saksikan saat berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Mulai dari membawa senapan dan berlagak menyerang dengan sigap tiarap dan berlari, lalu berganti peran sebagai pemain reog dengan mengigit topeng persis seperti reog aslinya, lalu menunggang ’jaran kepang’ semuanya dilakukan dengan luwes dan sempurna.
Yang membuat saya terpingkal adalah ketika dia disuruh berbelanja ke pasar, maka dengan genitnya dia mengambil payung dan keranjang mini sambil berkeliling.
Hiburan yang murah meriah ini memang kalau tidak dilestarikan akan punah suatu saat. Saya ingat gampang sekali waktu kecil menemukan pertunjukan ini hampir setiap sore lewat didepan rumah saya. Namun setelah sekian lama saya baru melihat kembali di TMII.
Monyet yang lucu, yang bisa berjalan tegak dengan kostum yang baik. Entah bisakah disebut pitecanthropus erectus J
Sekilas dia tampak cerdas dan pintar, ketrampilannya sudah barang tentu melebihi sejawatnya yang masih hidup liar di alam lepas. Bisa berdiri dari sewajarnya berjalan dengan keempat kakinya saja, sudah bisa mengundang tawa dan sorak penonton, penonton suka dengan pertunjukan itu.
Sementara yang lain hanya bisa mencari makanan dengan cara tradisional seperti memetik dan berburu, monyet kecil ini telah lebih maju dengan cara membarter skill dengan sejumput makanan sebagai penghargaan.
Untuk itu dia dikenakan pakaian yang pantas bagi statusnya sebagai ’monyet karir’ ketimbang monyet liar.
Namun saya tidak tahu apakah dia bahagia dengan hal itu, karena wajahnya tidak berekspresi…tetap dingin meskipun dia sedang berperan. Hanya menjalani skenario yang diperintahkan dalangnya. Mungkin kalau monyet ini disuruh memilih, dia akan lebih memilih hidup lepas sebagai monyet liar yang tidak perlu disorot dan terkenal, tidak pula perlu status sebagai monyet cerdas, cukup sebagai monyet awam…alias M-O-N-Y-E-T.
Melihatnya membuat saya sadar siapa diri saya..yah..mirip monyet itu! Pria karir yang sejatinya memilliki bahagia semu karena dalam menjalani profesi lebih karena tuntutan, skenario, perintah dan ambisi, bukan karena keikhlasan hati.
Meskipun tetap saya usahakan yang terbaik, namun sepertinya pekerjaan diciptakan hanya sebagai pemanis dan bukan kebutuhan untuk berkembang maju. Para pembesar itu juga seringkali lupa hakikat kerja, cuma ingin menonjol untuk sesuatu yang tidak penting tapi dipenting-pentingkan.
Dan saya mesti loyal menjalankannya karena tetap ingin memilki ’status’ seperti monyet tadi. Kenapa menjadi awam menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang termasuk saya..hhhh…
saya masih belum cukup mengerti.
Semakin lama dijalani saya semakin bingung pada langkah kaki saya sendiri, karena seringkali bertentangan dengan apa yang saya yakini. Seringkali kita menjadi dalang buat orang lain, dan hebatnya si obyek juga merasa berhak menjadi dalang bagi yang dibawahnya.
Sudahlah, stop rantai ini!
Bagi sesiapa yang merasa hanya mengenakan topeng..mulailah mencari jati diri sendiri dan sadari semua ini hanya peran dan tuntutan saja. Tidak perlu ada kesombongan dan merasa diri lebih tinggi, lebih bijaksana, lebih pintar, lebih berpengalaman dan sebagainya.
Kamu dan aku sama…seperti monyet berkostum, cuma beda dalang saja!