Thursday, October 30, 2008

Oper-mengoper

Dalam bermain bola, jika seseorang main sendiri menjadi superman dan bukan super team maka sudah pasti permainan tidak enak dilihat dan hampir dipastkan kawan se tim nya akan kesal karena merasa ada yang memonopoli bola. Jadi untuk itu selain bola perlu digiring sendiri, penting juga untuk diberikan kepada rekan lain yang lebih dipandang/ dipercaya bisa memiliki peluang mencetak gol lebih besar dibanding dirinya.

Namun dalam hal lain, tampaknya sudah menjadi kebiasaan manusia untuk mengoper sesuatu yang akan merepotkan dirinya. Bisa mengoper rasa bersalah, mengoper pertanyaan dan jawaban, bahkan sampai mengoper tanggung jawab.

Sebenarnya ada istilah pendelegasian terhadap rekan se tim atau dibawah koordinasinya jika yang bersangkutan berhalangan karena tidak hadir atau ada proyek lain yang lebih membutuhkan konsentrasinya.

Namun kini pendelegasian tidak lagi dibumbui dengan arahan dan dukungan moril, cukup melalui email berantai yang diforward turun menurun berakhir ke lini bontot seperti saya ini.

Bukan perintahnya yang saya sesalkan, namun cara delegasi dengan cara memforward email tersebut. (yang celakanya lagi history asli tidak dihapus sehingga ketahuan alirannya operannya itu) semakin menegaskan ketidak mampuan menjadi pimpinan dan kemalasan dalam bekerja.

Hhhh..bukankah sebenarnya kita sama-sama orang upahan?

 

Pernah mengalami situasi yang sama?

Posted by ndablek at 17:34:25 | Permalink | No Comments »

Monday, October 27, 2008

Topeng Monyet(mu)


Melihat polahnya memang menggelikan, hampir 15 menit saya terpana dan sesekali tak bisa menahan senyum melihat tingkah lucu monyet kecil itu. Iya, itulah sebuah pertunjukan topeng monyet yang saya saksikan saat berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).


Mulai dari membawa senapan dan berlagak menyerang dengan sigap tiarap dan berlari, lalu berganti peran sebagai pemain reog dengan mengigit topeng persis seperti reog aslinya, lalu menunggang ’jaran kepang’ semuanya dilakukan dengan luwes dan sempurna.


Yang membuat saya terpingkal adalah ketika dia disuruh berbelanja ke pasar, maka dengan genitnya dia mengambil payung dan keranjang mini sambil berkeliling.
 

Hiburan yang murah meriah ini memang kalau tidak dilestarikan akan punah suatu saat. Saya ingat gampang sekali waktu kecil menemukan pertunjukan ini hampir setiap sore lewat didepan rumah saya. Namun setelah sekian lama saya baru melihat kembali di TMII.
 

Monyet yang lucu, yang bisa berjalan tegak dengan kostum yang baik. Entah bisakah disebut pitecanthropus erectus J

 

Sekilas dia tampak cerdas dan pintar, ketrampilannya sudah barang tentu melebihi sejawatnya yang masih hidup liar di alam lepas. Bisa berdiri dari sewajarnya berjalan dengan keempat kakinya saja, sudah bisa mengundang tawa dan sorak penonton, penonton suka dengan pertunjukan itu.

Sementara yang lain hanya bisa mencari makanan dengan cara tradisional seperti memetik dan berburu, monyet kecil ini telah lebih maju dengan cara membarter skill dengan sejumput makanan sebagai penghargaan.


Untuk itu dia dikenakan pakaian yang pantas bagi statusnya sebagai ’monyet karir’ ketimbang monyet liar.

Namun saya tidak tahu apakah dia bahagia dengan hal itu, karena wajahnya tidak berekspresi…tetap dingin meskipun dia sedang berperan. Hanya menjalani skenario yang diperintahkan dalangnya. Mungkin kalau monyet ini disuruh memilih, dia akan lebih memilih hidup lepas sebagai monyet liar yang tidak perlu disorot dan terkenal, tidak pula perlu status sebagai monyet cerdas, cukup sebagai monyet awam…alias M-O-N-Y-E-T.


Melihatnya membuat saya sadar siapa diri saya..yah..mirip monyet itu! Pria karir yang sejatinya memilliki bahagia semu karena dalam menjalani profesi lebih karena tuntutan, skenario, perintah dan ambisi, bukan karena keikhlasan hati.

Meskipun tetap saya usahakan yang terbaik, namun sepertinya pekerjaan diciptakan hanya sebagai pemanis dan bukan kebutuhan untuk berkembang maju. Para pembesar itu juga seringkali lupa hakikat kerja, cuma ingin menonjol untuk sesuatu yang tidak penting tapi dipenting-pentingkan.

Dan saya mesti loyal menjalankannya karena tetap ingin memilki ’status’ seperti monyet tadi. Kenapa menjadi awam menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang termasuk saya..hhhh…

saya masih belum cukup mengerti.
 

Semakin lama dijalani saya semakin bingung pada langkah kaki saya sendiri, karena seringkali bertentangan dengan apa yang saya yakini. Seringkali kita menjadi dalang buat orang lain, dan hebatnya si obyek juga merasa berhak menjadi dalang bagi yang dibawahnya.

Sudahlah, stop rantai ini!
Bagi sesiapa yang merasa hanya mengenakan topeng..mulailah mencari jati diri sendiri dan sadari semua ini hanya peran dan tuntutan saja. Tidak perlu ada kesombongan dan merasa diri lebih tinggi, lebih bijaksana, lebih pintar, lebih berpengalaman dan sebagainya.

Kamu dan aku sama…seperti monyet berkostum, cuma beda dalang saja!

 

Posted by ndablek at 01:21:29 | Permalink | No Comments »

Saturday, October 25, 2008

Hollow..



Yang kini menyeruak..mengalir sesak..tipis disesali
Wajarkah dipertanyakan?
Ketika diam selalu berujung kekosongan, hampa… 
    
    Andai waktu berputar ulang, akan kuhindari salahku 
    Bijakkah menganulir putusan? Mungkinkah? 
    Demi ego kuputuskan dan karena ego kusesali.

Ketika semakin kusut, kadang tersimpul naik, kadang turun,
Tak kusadari terikat..mati.
 
        Mustahil mundur, hanya terdiam..terpaku..bisu..sendiri..disini! 
        Dan waktu terus berjalan….
        seiring keriput harapku dan senanar visiku.
        Fragile…like an empty egg

Posted by ndablek at 08:57:16 | Permalink | No Comments »

Thursday, October 23, 2008

Hahaha….


Lucu banget tulisan ditutup botol ini.
Ya ieyalaaahhh….dodol.
Kalau airnya gak mengalir disebutnya kolam kan?!

Hahahahahahaaaa…..

Posted by ndablek at 17:42:45 | Permalink | No Comments »

Wednesday, October 22, 2008

Seragam yang memaksa kita


Saya tergelitik untuk memfoto deretan wanita pramugari didepan saya saat menunggu di gate F4 menuju Batam. Iseng aja sih gara-gara Garuda ngaret, dari yang tertulis akan boarding 10.45 ternyata baru 11.15 diijinkan masuk pesawat. Ya udah kebiasaan saya mengamati hal disekitar saya jadi kumat.

Sedikit geli karena saya cukup sering juga naik pesawat dari maskapi lain dengan pramugari yang masih muda, putih, wangi dan cantik-cantik, benar-benar kontras dengan pramugari Garuda. Bahkan tak jarang saya masih menjumpai pramugara lho.

Ya memang tidak fair juga sih kalau kita menilai profesionalisme dari fisik, namun agak aneh kalau manajemen Garuda tidak melihat bahwa pramugari selain dikaryakan sebagai pelayan dan penanggung jawab keselamatan, mereka sebenarnya juga merupakan pemanis dari sebuah maskapai. Nah, kalau sudah tua kan ya manisnya sudah berkurang, buah-buahan aja kalau sudah tua jadi asem kok hahaha…

Lagipula, menurut saya pramugari yang ’senior’ (kadang ada yang beruban) tentunya menyerap expense perusahaan yang lebih besar karena gaji mereka tentunya ikut naik terus.

Oke..oke…cukup sudah membahas yang tidak penting.

Intinya saya memperhatikan sejak saya mondar-mandir lewat didepan mereka, kemudian duduk didepan mereka, sesekali saling bertemu pandang…saya tidak mendapatkan satu senyumanpun!

Merekapun cenderung ngobrol sendiri tanpa menghiraukan calon penumpang yang duduk maupun hilir mudik disekitar mereka.

Tapi begitu penumpang dipersilahkan masuk, mereka yang lebih duluan masuk kedalam pesawat langsung saja menebar senyum dan sapaan ramah ke setiap penumpang.

Hmm… sepertinya tidak tulus ya.

Tapi tidak hanya pramugari sih, petugas call centre yang demikian ramah, pelayan cafe/restoran, petugas hotel dan bagian reception, termasuk sayapun sebenarnya kalau sudah diluar jam kerja ya tidak lagi beramah-ramah dalam kadar yang sama seperti  saat bekerja. Iya kan? Demikian juga ketika saya masih berseragam ’status’ perusahaan, maka ketika saya berkunjung kedaerah manapun yang ada jaringan produknya, saya pasti mendapatkan sambutan, sikap dan jamuan yang luar biasa.

Kadang saya bertanya sendiri, kalau saya tidak bekerja lagi diperusahaan sekarang apakah saya masih diperlakukan demikian ya oleh rekan didaerah..

Mungkin yang tidak terikat waktu kerja cuma pegawai pemerintah ya..dimana-mana ya tetep aja ga ada senyuman dan ramah-tamahnya sedikitpun.. pernah ngalami kan kalau bayar listrik, ngurus KTP, ngurus SIM, ngurus paspor, sidang di pengadilan karena ketilang hahaha…

Jadi, sebenarnya hal-hal yang kita jumpai sebenarnya semu..berbalut seragam saja, selama bayarannya cocok!


Posted by ndablek at 10:27:40 | Permalink | No Comments »

Siapa sih yang lebih butuh?

Aneh juga ketika perusahaan membudgetkan ’uang saku’ saat peluncuran perdana produk perusahaan dimana saya bekerja. Lha kan sebenarnya antara perusahaan dan wartawan kan sama-sama butuh dan sama-sama diuntungkan. Wartawan tabloid membutuhkan materi mengenai produk terbaru secara resmi, tidak perlu lagi mengintai demi mendapatkan jepretan eksklusif. Dengan demikian pembelinya juga akan semakin banyak. Bagi pihak perusahaan pun juga diuntungkan, karena hitung-hitung promosi. Namun setahu saya kenyataan didunia bisnis tidak begitu.

Kalau saya bandingkan mungkin sama kejadiannya antara stasiun tv dengan grup band yang video clipnya ditayangkan. Karena sama-sama diuntungkan, band tidak perlu bayar biaya siar/slot, dan pihak stasiun tv juga tidak perlu bayar publikasinya atau sejenisnya karena telah menayangkan video clipnya. Entahlah, semoga demikian karena kalau dulu untuk nonton siaran TVRI kita diharuskan membayar pajak, kini perusahaan swasta lebih bijak untuk menggratiskannya dan membebankan ke pihak pengiklan. Toh sama-sama butuh kan? Pemirsa butuh hiburan, stasiun tv butuh uang, perusahaan butuh iklan.

Namun kemarin ketika mengganti channel tv saya sempat mampir ke sebuah tontonan infotainment. Kebetulan lagi dibahas mengenai Tora Sudiro yang marah kepada wartawan dan diangggap berubah sikap dari dulu, sombong, dan mengatakan kata-kata yang tidak pantas kepada pencari berita.

Bukan pertama kali saya mendengar selebriti berseteru dengan wartawan pencari berita. Dulu sempat Baim Wong kena masalah yang sama.

Sebagai pemirsa tv, saya kok rasanya gerah sekali ya kalau bangsa ini disuguhi pertengkaran, perceraian, saling fitnah, saling bantah dan saling tuding. Infotainment bagi saya kok 75% lebih mirip ajang gosip, fitnah, saling menyudutkan dan bukan lagi menyuguhkan hiburan yang membangun. Namun kalau mereka mengatakan hiburan, apakah bangsa ini hiburannya hanya pantas untuk sekelas gosip saja ya?

Sebagai orang awam saya sangat mengerti bagaimana orang sabarpun bisa menjadi kecewa dan marah jika kehidupan pribadinya diusik terus, tak jarang dibumbui pedas dengan persepsi yang kadang dipelintirkan atau disangatkan. Orang kerja dengan kegiatan yang seabrek tentunya butuh istirahat, baik fisik hati maupun pikiran. Namun seringkali pencari berita ini tak mau mengerti dengan hal itu, dengan alasan sudah menunggu lama, menganggap wawancara adalah resiko seorang public figure. Lalu ketika si selebriti marah maka dibilang kalau mereka seperti kacang yang lupa kulitnya, belagu, sombong dan tidak bersahabat. Padahal seringkali pertanyaan yang diajukan kelewat pribadi dan tidak pantas.

Sebenarnya siapa yang kelewat batas ya? Apakah ini semacam evolusi penjajahan hak privasi baru?

Dalam pandangan saya sebenarnya banyak pasangan selebriti yang ceraipun masih punya peluang bisa diselamatkan pernikahannya kalau saja tidak diekspos besar-besaran. Kadang pengkonfrontasian pendapat semakin diruncingkan demi nilai berita yang lebih tajam…yang sebenarnya justru melebarkan jurang diantara pasangan tersebut.

Api kecil kalau dikipas ya pasti akan membesar, luka kecilpun kalau dikorek-korek juga akan melebar dan membuatnya makin perih.

Daripada meributkan RUU Anti Pornografi sebenarnya bangsa ini lebih butuh dilindungi dari tontonan semacam ini, kecuali jika penyedia infotainment ini mau mengubah beritanya ke arah yang lebih positif dan sekiranya memberikan manfaat dan nilai tambah bagi penontonnya. Tidak menarik? Hmmm… memang yang berrguna tidak selalu menarik, tapi inilah yang mesti diambil secara berani demi kemajuan bersama bangsa ini.

Kembali lagi pada judul diatas…

Sebenarnya siapa yang lebih butuh siapa ya?


Posted by ndablek at 10:21:25 | Permalink | No Comments »

Saturday, October 18, 2008

Mengantuuukkkk….


Ini cerita yang saya tulis kemarin..

Ngantuk sekali pagi ini. Tiga hari berturut-turut saya bersama rekan didaerah mempersiapkan launching produk baru perusahaan kami sekaligus meng-agendakan Rapat Kerja Semester genap. Meetingnya sendiripun berlangsung sampai larut pk 22.00, ya karena memang demi efisiensi mengingat banyak partner kerja yang tempat tinggalnya jauh dari Pekanbaru sehingga kasihan juga kalau acaranya tidak sekaligus. Berat diongkos, berat di waktu kerja yang terbuang juga.

 

Tapi yang menyebabkan geli adalah ketika saya menyadari kalau saya harus kembali ke Jakarta pk 08.10WIB. Memang saya tidak begitu memperhatikan jadwal karena penerbangan saya cukup padat, dalam empat hari saya sudah melanglang buana Jakarta – Medan – Jakarta – Pekanbaru – Jakarta. Minggu depan sudah harus siap ke Batam, lalu sambung lagi ke Jambi.


Yah, selain ini merupakan resiko pekerjaan namun juga sebenarnya merupakan rekreasi tersendiri buat saya. Bisa menjalin pertemanan dengan orang yang berlainan daerah merupakan keasyikan tersendiri. Tapi ya itu tadi, saking padatnya saya jadi tidak begitu emperhatikan jadwal penerbangan saya.

Saya segera bangun pagi ini meskipun mengantuk, mata ini terasa begitu beratnya. Kebetulan tiket yang saya bawa adalah hasil fax yang kurang begitu jelas, mungkin karena tintanya hampir habis, maka saya meyakini bahwa penerbangan ke Jakarta tepat pk. 08.10. Coba lihat screen shoot berikut:

 

 

Betul kan? Namun saking ngantuknya saya mengamini saja ketika saya baca bahwa jam tiba adalah pk.10.50WIB.

10.50 dikurangi 08.10 adalah 1 jam 40 menit. Yup!

Namun saya sempat bete karena check in counter tak kunjung buka, kok stafnya baru beres-beres sementara waktu penerbangan makin mepet.


Akhirnya setelah counter dibuka dan saya menerima boarding pass yang tertera bahwa penerbangan pk 09.10 maka terbelalak seketika ngantuk saya hilang…

”Aduuuhhh….stupid…stupid…stupid…..!” Bego amat saya ini! Meskipun tulisan keberangkatan kurang jelas namun waktu kedatangan kan sudah jelas. Eh….mengurangkan waktunya saja salah. Saya mestinya lebih berpatokan pada waktu kedatangan yang tertulis lebih jelas sehingga tidak kejadian seperti ini.

 

Akhirnya saya terkatung-katung di lounge bandara cukup lama. Bukan waktu tunggunya yang saya sesalkan, tapi waktu tidur saya yang mestinya masih bisa nambah satu jam lagi hehehe…. Lumayan tuh!

Posted by ndablek at 06:14:45 | Permalink | Comments (3)

Cerita semrawut..carut..marut..keparut..bau kentut


 

 

Rabu sore tanggal 15 Oktober yang lalu terbang dari Cengkareng menuju Pekanbaru. Luar biasa juga ya orang jaman sekarang, pada saat screening kalau saya perhatikan banyak sekali…mungkin diatas 70% orang yang melalui gate detektor logam mengeluarkan dua ponsel. Hhhh….saya pikir cuma saya dan beberapa teman kantor yang memakai ponsel lebih dari satu, eh ternyata hampir semua orang melakukan yang sama.


Terus terang saya juga memakai lebih dari satu ponsel yang semuanya aktif, bukan karena kaya atau mau pamer tapi ini hanya karena ingin mempermudah dan mempermurah orang lain yang ingin menghubungi saya (eh..tapi termasuk saya juga sih), dulu kan yang jangkauan luas cuma GSM sementara yang murah CDMA.. ya saya berusaha mengkombinasikannya saja karena pekerjaan saya sangat mobile dari pulau ke pulau, operator pun tidak semua menjangkaunya. Nomor terakhir yang saya beli lebih karena fasilitas 3G nya yang merata sehingga memudahkan saya melepas kangen pada si bos kecil dan mommy-nya. Mau melepas nomor GSM sebelumnya sudah malas karena berarti harus mengirimkan pemberitahuan pada lebih dari 800-an nomor di ponsel saya. Sungguh trilematis…hahakhakhak..bukan dilematis lagi. Saya risih membawa lebih dari satu ponsel, tapi tidak ada yang merupakan keinginan, semuanya kebutuhan untuk berhemat.

 

Akhirnya saya tiba dibandara Pekanbaru.

Sempat deg-degan saat terbang karena langit diatas Sumatera cukup mendung berawan. Goncangan berulang-ulang dan sesekali pesawat kehilangan drag force karena udara yang vakum saja sudah membuat nyali ini ciut. Dan biasanya doa semakin sering. Manusia memang lemah, kalau sudah diberi kekuatiran baru mendekat dan khusyuk berdoa, tapi kalau lagi senang sering lupa bersyukurnya. Ada rasa cuek, toh pasti Tuhan mengerti…padahal memang saya aja yang malas…membiarkan saja berlalu tanpa makna.

 

Pada saat antri bagasi mata saya cukup terpana dengan seorang ibu yang mengenakan perhiasan hingga mirip etalase berjalan. Coba lihat deh… saya sampai ingin mengurut dada  wanita  melihat ibu itu.

 

Duh, apa ya tidak kuatir nanti mengundang kejahatan ya? Dengan asyiknya berkerincing-kerincing (terkesan sengaja) memamerkan hartanya.

Saya saja yang melihat malah was-was, ada kali bangsa 1,5 – 2  ons kalau ditotal beratnya.

Dari cerita ponsel penumpang dan perhiasan ibu ini sepertinya Indonesia jauh dari krisis, bahkan mencerminkan kalau orang mau berusaha dengan sungguh-sungguh maka negeri ini mampu menyediakan kemewahan bagi penghuninya.

 

Namun beda nasib dengan Maisaroh yang tinggal dipinggiran rel daerah Jakarta. Ia menangis sejadinya dan seperti hendak marah namun tak tahu siapa yang akan membelanya. Ia dan ratusan keluarga lainnya diusir paksa alias digusur sehubungan dengan proyek rel ganda PT KAI dan Dishub. Sebuah potret negeri yang bertolak belakang. Hanya stasiun televisi yang bersimpati dan mewawancarainya, namun itu juga demi nilai berita.

 

Dari tiap penggusuran sebenarnya yang saya sesalkan adalah sikap pemerintah yang seperti tidak peduli dengan rakyatnya. Memang penghuni liar tidak berhak tinggal ditanah yang bukan miliknya, namun dengan tingkat pendidikan yang rendah maka jika ada ’pembiaran’ berlarut..dari satu penghuni, dua..30…50..dan seterusnya tanpa ada law enforcement maka hal ini akan mengakar. Bahkan diantara mereka tak jarang bisa membayar listrik, mendapat KTP, membayar sewa dan sebagainya. Maka jika sesuatu yang liar terbiarkan hingga membentuk komunitas, yang terjadi berikutnya adalah rasa sakit dan amarah yang luar biasa ketika ’kenyamanan’ itu diambil paksa.

Semestinya pemerintah negeri ini belajar untuk tidak perlu membiarkan sesuatu menjadi besar, menunggu berlarut sampai akhirnya banyak biaya, emosi dan tenaga yang terkuras untuk menertibkannya.

 

Hal serupa kembali saya lihat begitu kaki menginjak pintu depan bandara…

 

 

Luar biasa.

Yah…beginilah Indonesia tercinta, terlalu banyak yang meremehkan kebesaran nama Indonesia dengan cara berperilaku seenaknya sendiri. Tidak saja yang kaya berpamer tanpa kasihan yang miskin, tidak pula yang miskin menempati lahan seenaknya atas nama perut dan hak azasi manusia, bahkan yang berkuasa seolah tak mau mengerti atas nama belum ada budget  penertiban.

Itulah Indonesia!


 

Posted by ndablek at 06:06:01 | Permalink | No Comments »

Wednesday, October 15, 2008

Malas vs Kreatif


 

Masihdiseputaran stasiun Jogja saya melihat orang ini mengenakan kaos bertuliskan Crew Wing King.

Apa yang ada dibenak Anda kalau membaca tulisan tersebut?

Kalau saya, segera mengartikannya Anggota/Kru Raja Sayap…yah semacam nama restoran mungkin..yang menu utamanya sayap ayam..  Namun berhubung ini di Jogja yang pusatnya plesetan Indonesia, maka sesaat setelah saya telaah lagi, saya paham yang dimaksud adalah personil Dapur (Jawa: wingking= belakang/dapur)

Haha..sekali lagi saya tertawa dalam hati, benar-benar kreatif orang yang menciptakannya. Ingin mendapatkan kesan elegan dan modern maka bahasa Jawapun dimodifikasi sedemikian rupa, seolah bahasa asing.

Sebuah kreativitas yang patut diteladani, andai saja saya bisa sekreatif itu maka saya akan lebih banyak lagi berkontribusi dalam kemajuan negeri ini, tidak sekedar mengekor apa yang dilakukan orang lain.

Seperti kita tahu bahwa kemalasan dan budaya mencari gampangnya saja telah begitu dalam merangsek masuk dalam urat nadi bangsa ini, sehingga bangsa ini ya begini-begini saja. Coba lihat orang muda ini:

Eskalator horizontal dibandara diciptakan bagi orang yang terburu-buru, kaum lansia maupun yang sakit. Tapi kalau di Indonesia, justru dimanfaatkan untuk mengistirahatkan kakinya yang saya yakin juga tidak lelah karena hanya duduk dipesawat sekitar umumnya 1-2 jam. Bahkan seringkali menggerombol sehingga menghalangi orang yang sedang buru-buru.

Malas akan sesuatu acapkali menjadi wajar jika dibiarkan begitu saja.

Contoh, kalau saya lihat sungai di sekitar Sunter, Kelapa Gading dan beberapa daerah yang langganan banjir kala musim penghujan di Jakarta, tetap saja hingga kini masih kotor. Masyarakatnya malas menjaga kebersihan, cari gampangnya saja buang ke sungai. Pemerintahnya malas membersihkannya dari sampah padahal sedang kemarau. Pengembangnya malas merawat karena semua unit sudah terjual, jadi bukan tanggung jawabnya lagi. Saya yang sering melewatinya pun ikut-ikutan malas memperhatikannya, toh bukan tempat tinggal saya. Akhirnya terjadi pem-wajar-an dan permakluman kalau Jakarta banjir tiap musim penghujan.

Duh..Indonesia…kenapa kemalasan begitu lekat dihatimu dan dihatiku, tular menular antara kau dan aku…berputar-putar dan saling menguatkan.

Posted by ndablek at 16:51:30 | Permalink | No Comments »

33 polisi tidur

Kalau Anda mengamati gambar disamping maka sudah terbayangkan betapa letihnya keluarga ini karena mungkin saja baru menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Kebetulan saat itu adalah rame-ramenya orang mudik, sementara saya sendiri setelah mampir di Solo saya naik kereta api yang sama menuju tugas yang menanti di Jogja, yakni rutinitas posko Lebaran.

Tapi memang selain letih, yang namanya manusia pasti akan ngantuk dan tertidur kalau diayun atau digoyang-goyang. Tidak percaya? Coba lihat bayi yang sejak sebelum bisa ngomong saja sudah bisa minta diayun dan digoyang-goyang hingga tertidur. Kemudian coba amati orang-orang yang menumpang kendaraan baik umum maupun pribadi, baik didarat, udara maupun di laut. Anda akan segera menjumpai orang yang tertidur karena ayunan, guncangan dan getaran kendaraan yang ditumpanginya.

Jadi kalau istri Anda rewel gendong aja dia, terus diayun-ayun..maka dia akan mengantuk hahaha..yang ini pasti bercanda..

Saya sendiri tidak tahu kenapa bisa begitu fenomenanya, karena saya pernah mencoba ingin tidur dengan cara menggoyang-goyangkan badan sendiri tapi bukannya ngantuk eh malah semakin segar.

Nah kalau masuk gang menuju kantor saya justru ada guncangan yang sengaja dibuat..yaitu polisi tidur sejumlah 33 buah! Namun kali ini bukannya membuat mengantuk tapi malah menjengkelkan saya karena berarti ada 33 bunyi gluduk dan 33 goncangan badan akibat melalui polisi tidur itu. Tujuannya baik sih agar orang yang melintas lebih disiplin, tidak ngebut, tapi malah menjengkelkan pengguna jalan lain yang melewatinya. Tapi biarlah, andai saja saya bisa menikmati guncangan ke 33 polisi tidur tadi justru berbahaya karena berpotensi membuat saya terkantuk dan bisa kecemplung ke sungai.

Jadi untuk sebuah kedisiplinan berhati-hati saja masyarakat ini lebih menyukai paksaan daripada menanamkan kesadaran..

Posted by ndablek at 16:37:41 | Permalink | No Comments »