Monday, November 24, 2008

Nostalgia Diary


 

 

Masih ada yang ingat buku harian 15 – 20 th yang lalu? Waktu yang sama dengan jamannya film Catatan Si Boy, ACI (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan, Losmen dll. Wah…dah berapa tahun itu yah?


Waktu itu rasa euforianya seperti memiliki handphone saat ini dikalangan anak sekolah. Banyak diantara anak sekolah mulai SD hingga SMA yang memilikinya. Namun meskipun namanya D-I-A-R-Y tidak banyak waktu itu teman-teman yang memfungsikannya sebagai catatan harian tapi lebih pada buku pertemanan. Kalau sekarang sih lebih maju dengan adanya Friendster, Facebook, Hi5 dan banyak lagi situs pertemanan dunia maya rumantir
J

 

Saya lagi mencari-cari bukunya tapi belum ketemu juga, tapi yang saya ingat disana ada beberapa hal berikut:

 

Nama                            : (standar)

Tempat, tgl lahir            : (standar)

Alamat                          : (standar)

Fans                             : (nyebutin AHA, NKOTB, Tina Turner, Jacko dll…gak kebalik tuh?!)

Hobi                              : (biasanya puter kaset)

Cita-cita                        : (ada yg sok-sok an ngisi pengen jadi sarjana teknik nuklir, dokter, trus juga

                                      presiden, duh…beraaatt kaleee!!)

Alamat libur                   : (wakawakwakwakwakwakkkkk…, padahal mungkin belum kesana…)

Kata Kenangan               : (sok dewasa..sebelum waktunya hahaha..)

 

Diperindah dengan gambar dll, trus terakhirnya pasang foto deh, yang udah dipotong sana sini biar ga keliatan kalo tuh foto aslinya bareng-bareng sama keluarga kkkikikikikikikikkk…

 

Ntar ku inget-inget lagi deh sudah dibuang ato belum bukunya J

 

Posted by ndablek at 14:29:23 | Permalink | No Comments »

Tuesday, November 18, 2008

Nrimo wae (2)


 

Di Solo saat ini sedang ribut-ribut masalah benteng Vastenburg yang akan dialihfungsikan sebagai hotel. Masih belum jelas sebenarnya, apakah benteng Vastenburg ini benar-benar dialihfungsikan, atau hanya akan menjadi aksen dari sebuah hotel.

Tapi yang pasti kalau membaca harian Solopos disana maka di rubrik Kriiing Solopos yang ada adalah kontroversi masyarakat mengenai hal ini meskipun sepertinya sekilas mereka sama awamnya dengan saya karena yang ditonjolkan adalah sms gontok-gontokan berisi opini, dan tidak ada yang menyebutkan data.

 

Yang menarik, dulu pada saat tidak ada rencana pembangunan hotel, benteng ini seperti tidak ada hilang ditelan bumi. Tidak pernah dirawat, tidak pernah jadi tujuan wisata anak sekolah maupun direnovasi. Bahkan saya pernah tanya anak SD mengenai benteng ini, mereka tidak tahu bahwa benteng tersebut ada. Hal yang aneh.

Namun begitu diulas oleh media maka tiba-tiba banyak warga yang menjadi budayawan dadakan ingin mempertahankan benteng tersebut meskipun senyatanya lahannya telah dijual dan menjadi milik perorangan. Dikatakan bahwa Vastenburg merupakan warisan sejarah, ciri khas Solo, monumen perjuangan warga Solo terhadap penjajahan Belanda, Solo sudah penuh dengan hotel dan Mal sehingga kehilangan ciri budayanya dsb. Entah juga, apakah mereka yang memprotes juga mempertahankan budaya lokal menggunakan andong saat bepergian dan menolak handphone karena demi mempertahankan daun lontar sebagai ciri media komunikasi sejarah Indonesia.

Hehehe…

 

Namun tak kalah sengit pula warga yang menyetujui dibangunnya hotel dikawasan itu dengan alasan kemajuan jaman dan mengatasnamakan pro bisnis, pro investor dan pro wisata. Lho… kok menghilangkan Vastenburg malah disebut pro wisata?

Lha iya, karena menurut mereka yang pro, selain jumlah turis yang semakin bertambah maka jika ingin lebih menarik minat wisatawan maka para turis harus diberikan berbagai pilihan penginapan yang representatif dengan rentang harga yang bervariasi.

Pembangunan Mal dan pusat perbelanjaan juga telah menjadi kebutuhan mutlak pariwisata. Dipaket tour luar negeri manapun pasti ada sesi shopping-nya. Ya analoginya seperti kalau kita punya uang dan waktu kemudian diminta memilih antara Singapore dan Cirebon, ya kira-kira begitulah perbandingannya…pasti mayoritas pilih ke Singapore yang banyak Mal dan hotel, tapi tetap menjaga warisan budaya ketimbang Cirebon.

 

Ada yang belum cocok sih disini, namun masing-masing mestinya mengerti memang ada yang perlu dipertahankan, namun juga tidak selamanya mempertahankan yang lama itu perlu..jika itu tidak membawa faedah selain nostalgia. Nah, pembangunan sendiri sebaiknya bukan meniadakan namun mengharmonisasikan dengan yang ada sebelumnya.

Posted by ndablek at 02:01:46 | Permalink | No Comments »

Nrimo wae (1)


 

 

Munculnya lokasi hotspot gratis yang mulai menjamur belakangan ini menjadi fenomena yang menarik. Banyak kaum intelek betulan maupun dadakan yang diuntungkan karena bebas menikmati layanan internet gratis tanpa batas selama ada WiFi. Bayangkan jika WiMax yang katanya memiliki radius jangkauan lebih luas akan muncul dan dipasang di taman-taman kota benar-benar diterapkan oleh pemerintah..hmm..terbayang wajah Indonesia baru.

 

Jadi ya wajar saja sekarang gampang sekali melihat orang menenteng-nenteng lap top atau membawanya di tas mereka. Bagaimana tidak, kalau menyewa jasa warnet paling tidak harus merogoh kocek Rp 6000 per jam nya..padahal kalau sudah mengakses situs, browsing maupun searching maka waktu 1 jam sangat cepat berlalu.

 

Namun seiring perkembangan teknologi, pasti ada ’sesuatu’ yang terkorbankan. Dengan adanya internet maka praktis kartu pos, perangko, telegram, telex, wartel menjadi barang basi. Apalagi dengan hadirnya mobile phone  dengan sms, mms maupun video call  maka hal-hal tadi segera saja menjadi usang dan tidak kompetitif lagi. Dan dengan merebaknya hotspot maka warnet juga mesti siap. Tentu saja dalam hal ini para pengusaha dan seluruh pihak yang terlibat dalam mencari untung dari sektor tersebut mesti legawa. Inilah bentuk kemajuan jaman dan efeknya memang kadang menyakitkan bagi sebagian orang yang tidak berubah atau berubahnya kalah cepat dibanding perubahan diluar.

 

Istilahnya seleksi teknologi kalau tidak ingin dibilang bunuh membunuh antar industri, seperti pada kasus VCD/DVD home theater dan bioskop. Yang diharapkan tentunya, pembunuhan industri ini tidak semakin brutal dan mengarah pada pembunuhan manusia. Jangan sampai karena saking pengen kompetitifnya maka mie atau ikan yang dijual diberi formalin agar awet, karena dengan begitu saling mematikan antar industri akhirnya akan berujung saling mematikan manusia yang lain.

 

Nah, kira-kira apa lagi yang akan jadi korban?

Posted by ndablek at 01:53:04 | Permalink | No Comments »

Wednesday, November 12, 2008

Aliranmu, berbeda dengan aliranku


 

 

Kata ’aliran’ seringkali kita dengar disandingkan dengan ’musik’, ’kepercayaan’, ’air’ dan sebagainya. Secara singkat orang menggunakan kata ’aliran’ ini untuk memberi penegasan pada dua atau beberapa hal yang mungkin secara konteks sama namun secara konten berbeda.

Misalnya pada musik dikenal aliran pop, hip hop, rock, jazz, bossanova dll. Tetap saja mereka mendengarkan, memainkan dan menjual ’musik/ alunan nada’ namun diharapkan bagi yang baru melihat sudah mengerti kira-kira alunan nada dari CD yang hendak dibelinya. Diharapkan juga mempermudah pecinta salah satu jenis aliran musik untuk mendapatkan apa yang dia sukai dan pas dengan selera dan hatinya.
 

Tiap orang memiliki penilaiannya sendiri terhadap jenis aliran musik yang disukainya, tidak harus sama dengan orang lain. Tidak ada yang memprotes hal ini.

Aliran lava atau air juga begitu. Coba amati..dari sumber yang sama tapi masing-masing memiliki rute dan jalannya sendiri. Ada yang melintas tanah kering, ada yang melintas batu, ada pula yang cenderung berkelok-kelok sendiri. Namun kalau dirunut semuanya dari satu sumber.
 

Lalu kenapa berbeda pemahaman jika aliran tersebut merupakan aliran ’kepercayaan’, maupun aliran ’agama’?

Sehingga dalam hal sepribadi agama dan keyakinanpun cenderung memaksakan yang ’dianggapnya paling pas’ …sampai lupa pas buat siapa?

 

Jadi membiarkan aliran itu tumbuh berkembang dan mendapatkan pengikutnya semestinya baik adanya. Laporkan kepada pihak yang berwenang jika sudah mengarah pada hal-hal yang merugikan orang lain..tapi selama tidak bertentangan dengan hukum positif..ya bukan hak kita melarangnya, ada institusi yang lebih berhak untuk itu.

Kamu dan aku sama, hidup dijaman ini, bukan dijaman dulu..sama-sama hanya mendengar dan membaca yang ditulis tanpa mengalaminya sendiri. Jadi tidak perlulah saling ngotot alirannya yang paling benar..apa yakin memang begitu penafsirannya?


Seperti dalam memilih musik, tidak perlu ada yang protes kecuali jika musik itu disetel keras-keras berulang-ulang ditelinga orang yang tidak bisa menikmatinya…karena berarti itu telah mengganggu.

Posted by ndablek at 10:31:33 | Permalink | No Comments »

Kutapaki hatimu


 

 

Pernahkah melihat, mengalami atau mungkin cukup membayangkan saja kalau tangan menapak pada sebuah kue tart tanpa sengaja?

Yang ditapak menjadi berbekas, namun ketika tangan diangkat dengan tujuan mengembalikan pada kondisi utuh, tetap saja tidak bisa karena sebagian dari kue tart tersebut telah lengket melekat pada tangan.

Ketika mencoba membasuhnya dengan air maka licin dan sedikit minyak dari kue tetap saja masih bisa dirasakan..tidak hilang begitu saja..bahkan aromanya masih tercium.

Perlu sabun yang kuat untuk mencuci dan menepiskan minyaknya, gosok seluruh permukaan kulit yang terkena..niscaya bekasnya akan hilang. Melegakan bagi pemilik tangan, namun bagi kue tadi tetaplah kehancuran dan terlanjur rusak..tidak ada yang bisa memperbaikinya.
 

Pemilik tangan bebas kembali memilih kue tart yang disukainya, namun berarti meninggalkan kue tart pertama dalam keadaan rusak.

Posted by ndablek at 10:26:06 | Permalink | No Comments »