Monday, December 15, 2008

Ketiak



Topik yang aneh, tapi foto yang memukau….  J

Disinilah sumber utama bau badan seseorang, makanya selalu saja ada yang bilang kalau babi itu baunya luar biasa karena ketiaknya ada empat. Kalau tidak telaten dalam menjaga kebersihan dan kesegarannya (waduh..busyet) maka warga sekitar bisa beringsut menjauh demi menjaga kontinuitas pernafasannya.

 

Beberapa produk iklan mulai menyasar orang yang concern dengan ketiak, misalnya deodorant mulai spray sampai yang model roll on demi menghindari burket. Saya sendiri pernah punya teman yang menurut saya bermasalah, karena kalau dalam satu mobil pakai  AC pasti kepala ini mulai nyut-nyutan tidak karuan..semoga saya tidak menjadi penyebab yang sama buat teman yang lain J

Herannya kok ada wanita yang mau jadi istri mereka, dan tentunya tidur seranjang bersebelahan. Hmm.. belum lagi kalau lagi beraktivitas ’yang satu itu’ wah..asli gak kebayang aroma yang muncul yang masih bisa ditahan oleh si istri hehehe…

 

Tapi itulah anehnya, ternyata kalau singa menggunakan bau dari air seni untuk menandai wilayah dan menunjukkan daya tarik pada lawan jenis, maka manusia dikaruniai hormon feromon yang khas, berbeda satu dengan yang lain yang justru disukai lawan jenisnya. Teman tadi contohnya…si istri mungkin betul-betul kesirep, lupa daratan.

Apalagi wanita memang menyukai aroma, jadi wahai kaum pria inilah pengalaman saya..kalau dekat dengan wanita yang dipuja usahakanlah menggunakan wewangian 1 jam sebelumnya (yang sudah sedikit bercampur aroma asli badan)….dijamin deh tuh cewek bakal klepek-klepek.

Tapi dengan catatan jenis aroma pria tadi kebetulan pas dengan selera dan kebutuhan si wanita, karena tiap wanita memiliki selera yang berbeda pula. Jadi takarannya mesti dijaga supaya tidak berlebihan. Cukur rapi deh, atau hilangkan secara berkala supaya tidak kecut asem, prengus, atau apek.

Berbeda dengan kaum pria yang justru menyukai bau palsu dari parfum dan bukan bau asli keringat wanita.

 

Nah sumber bau badan ini sebenarnya merupakan akumulasi keringat asli yang mengering dan tersimpan lengket dibulu ketiak, atau tepatnya disebut rambut ketiak manusia.

Tapi menarik karena ciptaan Tuhan yang satu ini dijauhi semua wanita dan sebagian lelaki, dengan alasan meningkatkan estetika dan menurunkan kadar bau demi kemaslahatan umat.

Sebagaimana kita tahu, semua ciptaan Tuhan dalam tubuh manusia pasti ada manfaatnya sekecil dan setersembunyi apapun letaknya. Namun justru sekarang tidak lagi diminati si empunya, padahal menurut sebuah riset sebenarnya bulu ketiak yang dibudidayakan justru bisa menurunkan resiko kanker payudara pada wanita.

 

Herannya hanya dinegara yang telah mengenal ’peradaban’ saja yang terjadi fenomena ini, sementara di daerah yang relatif tertinggal dan terisolir mereka sepertinya malah tidak memperhatikan hal ini. Saya jadi ingat dulu kalau nonton film jaman Warkop 80-an masih ada saja aktris entah utama atau figuran yang membiarkan bulu keti-nya tersorot kamera. Hmm..pergeseran budaya? Mungkin saja.

 

Bahkan sekarang banyak waxing disajikan di salon demi efektivitas dan estetika ketiak wanita..sampai tak berbekas dan bersisa selembarpun. Dijamin pria akan tergila-gila!

Ya memang sih, saya kalau melihat wanita masih ada bulu ketiaknya atau sedikit masih ada sisa cukurannya item-item ya jadi risih, ilfil…apalagi kalau dia bau. Huuhh..minggiran sono, rendem dulu deh pakai tawas sama air kembang! J

 

Jaman memang sudah berubah, desain baju wanita sekarang memang tidak lagi berpihak pada rambut ketiak dan selera pria pula yang akhirnya menggiring wanita melakukan penggundulan ketiak, agar sebagaimana hutan yang gundul maka dia tidak akan bisa menyimpan kandungan air keringat sehingga wangi parfum asli bisa lebih terjaga kemurniannya…ciieeehhh….

 

Ketiak..ketiak, apes nasibmu, rambutmu mulai terpinggirkan oleh jaman.

 

 

 


 

Posted by ndablek at 01:16:30 | Permalink | No Comments »

Thursday, December 11, 2008

Jenuh


 

Kejenuhan yang hebat menyerang saya beberapa minggu ini. Sebenarnya apa yang dikerjakan sama saja sejak lama namun kali ini saya mulai jenuh.

Kehidupan saya jika di Jakarta begitu monoton, bangun pk 6.00 berangkat kerja pk. 7.00 lalu baru beranjak pulang dari kantor selalu diatas pk 18.30. sembari pulang mampir makan dan tiba dirumah pk. 20.00 seringkali lebih larut. Istirahat sejenak sembari menonton tv menjadi kebiasaan saya selanjutnya hingga pk 22.30 saya tidur..dan begitu seterusnya setiap hari dari Senin – Jumat. Praktis cuma 2,5jam yang saya nikmati waktu bebasnya.

 

Pekerjaan yang menumpuk selalu saja menjadi alasan yang sama bagi saya. Rasanya begitu ada pekerjaan maka saya tidak ingin membiarkannya terbengkalai, sedapatnya semua harus beres. Namun sepertinya itulah bumerang saya karena setiap order yang saya ambil atau diminta atasan selalu diselesaikan. Sepertinya itu juga yang membuat mereka juga semakin asyik menyerahkan atau sedikit-sedikit memberi tugas.

 

Yang memang nyleneh adalah sebenarnya yang bukan atasan langsung ikut-ikutan memberi tugas tanpa koordinasi, entah malas mencari tahu..tidak tahu..atau memang tidak mau tahu loading yang bersangkutan. Yang celaka kan pion bontot seperti saya ini. Belum lagi kalau ternyata yang diminta hal yang tidak penting tapi minta prioritas. Saya sendiri juga masih segan untuk mengungkapkan secara langsung, masih menaruh hormat dan berharap mereka semakin bijak. Eh lha kok ternyata tidak juga berubah, bahkan tidak sedikitpun untuk sekedar mengarah kesana. Masih saja mengajak mitang-miting yang menyita waktu padahal ada hierarkhi yang seharusnya sangat jelas memisahkan tanggungjawab jabatan. Kalau meeting selesai kan bos sudah tidak ada kerjaan, tapi kelas kroco gini selain harus menunda kerjaan reguler maka sehabis meeting berarti mendapat tugas baru. Sehingga tidak jarang malam-malam dirumah masih buka notebook.


Jangan salah lho, sayapun kalau yang harian begitu tidak dianggap lembur…nanggung soalnya. Untung saya hidup sendiri di Jakarta, andai kalau ada keluarga..wah ga terbayang marahnya keluarga saya karena tidak mendapat waktu pribadi saya.


Saya masih ingat jelas ada sindiran guyon dari teman Divisi lain yang selevel begini, “Wah hebat, sering banget meeting sama Direksi, saya aja ketemu GM dalam sebulan bisa dihitung dengan jari!”
 
Heran, ini bukan perusahaan yang salah sebenarnya. Tapi lebih pada bagian yang salah, karena saya amati teman yang dibagian lain seperti bekerja pada umumnya, tidak overloading, tidak sering under time pressure dan kadang justru kelihatan sangat senggang. Bisa tengbur, alias bunyi teng..trus kabur. Kalaupun telat ya palingan jam 5 sore sudah bisa pulang.

Seharusnya bekerja itu untuk membuat hidup kita menjadi penuh dan utuh, bukan malah hidup terpasung untuk bekerja. Jadi kerja untuk hidup dan bukan hidup untuk kerja..emang kebo?

Saya saja dalam memberi tugas untuk bawahan selalu bertanya loadingnya dulu, tidak serta merta atau sembarangan, supaya mereka juga tidak terbebani berlebihan. Saya sangat mengerti sesama karyawan tak usahlah saling merepotkan satu sama lain dengan hal yang tidak vital.

 

Mungkin mulai besok saya harus mulai disiplin terhadap diri saya sendiri, patuh terhadap kontrak kerja, tidak sok loyalis, seberapapun yang bisa diselesaikan pk 16.30 ya sudah..segitu saja. Kalau deadline terlewat, ya biarkan saja biar atasan mengerti waktu kerja saya yang 8 jam sehari itu sudah tidak cukup lagi..sehingga kalau mau lebih ya sudah semestinya di balancing dengan apresiasi yang lebih pula.

Mbalelo? Iya, tapi hidup saya bisa jauh lebih berarti daripada sekedar mengisinya dengan pekerjaan.

Mau ikut mbalelo?

Posted by ndablek at 10:15:20 | Permalink | No Comments »

Monday, December 1, 2008

Kesetaraan Urinoir


Saya yakin  semua sudah familiar dengan benda disebelah ini, bahkan kaum wanita yang tidak pernah memakainyapun tahu persis perangkat ini digunakan untuk apa.

Kok bisa? Ya iya karena biasanya dari pintu toilet umum yang jarang ditutup maka benda yang menempel didinding ini sudah bisa terlihat.


Gagah tegak menempel didinding…semoga segagah dan setegak yang akan menggunakannya

 

Namanya urinoir, merupakan sarana resmi yang senantiasa menganga bagi si tegak dan si gagah tadi untuk mengeluarkan air berisi vitamin dan zat sisa serta racun yang tidak diserap oleh tubuh. Umumnya dia dilengkapi dengan tombol flush bisa manual maupun matic (haha..lu kata transmisi mobil apa?) berupa sensor yang jika ditinggalkan pemakainya maka dengan sendirinya dia membilas sendiri.

Ada juga yang fungsi tombol kran tadi digantikan kran yang sesungguhnya..yang diputar itu..terutama jika kita menjumpainya di terminal, SPBU yang masih tertinggal higienitasnya. Sudah kotor, bahkan kalau tidak tahu debit alirannya maka saat memutar kran celana kita bakal jadi terpercik.

Yup benar sekali, urinoir telah resmi ditunjuk untuk menggantikan pohon dan tembok yang sebelumnya menjadi sasaran tembak kaum pria.

 

Dia dipasang berderet rapi, jika beruntung maka antar jaraknya akan ada sekat pemisah (yang seringkali ga ikhlas karena cuma separuh) yang ditujukan agar kaum pria tidak saling lirik dan mengomentari rekannya tentu saja hhehe..

Bila kondisi yang cuma separuh itu dihadapi maka terpaksa si pemakai merapatkan tubuhnya ke benda ini…beda halnya jika ukurannya cukup bisa disombongkan..mungkin tidak perlulah nempel-nempel rapat, bahkan kalau perlu sengaja diperlihatkan biar rekan sebelah minder 

 

Yang saya herankan sebenarnya mengapa kaum pria dianggap tidak cukup perlu untuk menggunakan sarana yang tertutup seperti toilet wanita? Padahal bisa saja kan diciptakan urinoir wanita yang bisa dipasang berderet menghadap tembok yang dilengkapi spray jet gitu…tapi tetap saja yang muncul adalah toilet tertutup. Apakah pria tidak cukup layak untuk hal serupa?

 

Seringkali saya tergelitik, memang belum paham juga sih, mengapa pria seringkali banyak ’dikalahkan’ untuk hal-hal tertentu.

Misalnya KDRT selalu identik suami yang telah mengerasi istrinya..tentunya bukan ’keras’ yang itu…enak soalnya, gak mungkin istri mengadu karena enak kan? Apalagi kalo sudah dapat masih minta tambah pula J

 

Tapi kekerasan istri terhadap suami pasti orang akan segera berpikir ’ulah suami juga sih sebabnya’.

Tapi tidak ada juga yang membela pria akibat caci maki dan kata-kata pedas wanita padahal ini kan bisa masuk kategori kekerasan non fisik. Lha wong nyata-nyata tamparan wanita atau tendangan ke kantong menyan pria aja jarang diangkat sebagai materi ’kekerasan oleh wanita’, tapi sesuatu yang layak diterima pria bahkan untuk berkali-kali ditampilkan di sinetron dan reality show. Nah lho?!

 

Kemudian kalau pasutri ribut maka yang tidur di sofa adalah suami, ada lagi etika untuk mempersilahkan wanita jalan duluan, atau pria menarik kursi bagi wanita sementara untuk dia sendiri ya tarik aja sendiri kursinya.

Terjadi juga untuk siapa yang mesti nyetir mobil dan buka tutup pintu mobil yang ’beretika’.

Lihat saja produsen apapun berlomba-lomba menyasar wanita, jumlahnya lebih banyak dari yang menyasar pria. Mulai dari baju beraneka model, sepatu, kosmetik, aksesoris, parfum, majalah hingga suplemen diet.

Jadi sebenarnya pada beberapa hal wanita lebih diuntungkan daripada pria…karena lebih banyak dimengerti dan diistimewakan.

Betul gak? 

 

 

Posted by ndablek at 12:04:49 | Permalink | No Comments »

Bung Harto dan Pak Karno?


 

 

”Apalah arti sebuah nama?” kata rekan 1 kepada rekan 2. Ungkapan ini sudah jamak kita dengar biasanya saat seseorang mengomentari nama sesuatu atau nama orang yang lain.

Tapi yang belum pernah kita dengar adalah, ” Apalah arti sebuah panggilan?”


Menarik ditelusuri karena panggilan generik ternyata berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Untuk pria ada Mas, Bang, Pak, Kak, Bung, Lai sementara untuk wanita ada Mbak, Jeng, Bu, Nona, bahkan di Indonesia timur sana ada panggilan ”Cewek” untuk menggantikan nama.

Dan tentunya masih banyak lagi lainnya.


Panggilan ”Bung” kini sudah jarang lagi kita dengar dibandingkan jaman dulu. Mungkin yang masih memakainya untuk umum dan komersil adalah para komentator olahraga tinju dan sepak bola. Umumnya untuk memanggil pria dewasa sudah lebih umum dengan ”Pak”. Pangggilan ini terasa lebih pas untuk urusan kerja profesional di dunia bisnis.

Ya terang aja, coba berani tidak ada anda memanggil atasan atau klien anda dengan panggilan ”Bung”..wah bisa dikemplang kanan kiri deh sampeyan J

  

Fenomena khusus terjadi pada panggilan presiden RI kita, Suharto yang lebih muda justru seringkali disebutkan dengan ”Pak” daripada Sukarno yang lebih tua dengan panggilan ”Bung”.

Bahkan pada satu kesempatan di Metro tv yang membahas tentang Supersemar maka siapapun narasumbernya selalu menyebut kedua tokoh tersebut pak Harto dan Bung Karno.

Yah inilah susahnya kalau sesuatu yang belum ada tandingannya, maka sebutan bisa jadi melekat, spesial dan janggal dilepaskan.


Namun sebenarnya tak penting apapun sebutannya, yang terlebih penting adalah sumbangsih yang bisa diberikan pada negara.

 

Nah, bagaimana kebiasaan anda menyebutnya? Apakah Bung Harto dan Pak Karno?

 

Posted by ndablek at 11:57:22 | Permalink | No Comments »