Jumat, Februari 22, 2008

Sak dhet sak nyet!


Sak dhet sak nyet.

Begitu istilahnya dikampung saya. Populer dan jamak sekali sekarang ini.

Orang minta apapun kalau bisa ya saat itu juga, tidak mau mengerti kondisi si terminta sedang apa. Menunggu dan belajar menunggu menjadi hal yang tidak penting.

Seperti saat saya tadi mengisi bensin saya lihat ada orang yang berkata dengan nada agak tinggi agar orang didepannya maju. Padahal ia adalah pengantri terakhir, sementara didepan orang yang dimarahinya masih ada 2 kendaraan lagi. Praktis meskipun orang yang didepannya sedikit menunda untuk maju bukan berarti kendaraan si pengeluh ini akan terlambat diisi kan? Diserobotpun juga sebenarnya tidak memungkinkan, orang ini hanya bermasalah dengan kesabaran yang cekak saja tampaknya.

Demikian juga suami terhadap istri, atasan terhadap bawahan hingga permintaan manusia kepada Tuhan, orang sekarang sudah tidak mau menunggu dan tidak mau tahu lagi bahwa segala sesuatu ada prosesnya dan mesti dibiasakan antri.

Seringkali kita lupa hakiki manusia mestinya saling menghargai, istri juga adalah manusia, peka dan halus perasaannya tapi acap kita paksa untuk melayani kemauan kita saat itu juga. Mulai minta pijat, minta dibuatkan minuman, minta mendiamkan anak yang lagi rewel, dan sederetan minta-minta lagi yang lain.

Kalau menunda dibilang tidak sayang lagi ke suami. Lha apa suami mulai lupa lebih banyak yang istrinya kerjakan justru saat tidak diminta? Kenapa malah jadi orang yang bermental peminta-minta dan manja?

Yang seinstan-instannya mie atau kopi sachet saja masih butuh waktu 3 menit untuk menyeduh airnya.


Sebagai karyawan juga demikian, memang kita ingin semua bergerak cepat dan bawahan bisa diatur sedemikian rupa, tapi hei..ingatlah mereka bukanlah budak obsesi karir kita semata, bukan pula babu. Mereka bukanlah robot, yang tidak punya kepentingan lain, yang setiap saat harus ada dan siap. Pun jika mereka tidak siap, jangan bilang kerja tidak niat atau malas. Mereka adalah karyawan juga, sama seperti karyawan diatasnya yang makan gaji bulanan, cuma beda usia kerja dan pangkat saja, jadi permintaan kepada bawahan hendaklah disampaikan dengan sopan dan mempertimbangkan prioritas kerja mereka. Bahkan jika mereka adalah karyawan upahan langsung kita, ingatlah bahwa kita tidak berhak membeli waktu dan kepentingannya.


Demikian pula saat kita berdoa, seringkali kita minta yang besar-besar dan segera, karena jika ditunda waktu terus berjalan dan kita akan kehilangan banyak hal. Tapi, bukankah Tuhanlah yang empunya waktu? Lalu apakah kita juga sudah mempersiapkan diri untuk menerima hal yang besar yang kita minta tadi?

Tanpa berniat mengecilkan kuasa-Nya, mestinya kita juga sadar manusia ciptaan-Nya jumlahnya sangat banyak dan bisa jadi hampir semua meminta kepada-Nya meskipun dengan cara masing-masing.

Kalau diranking tentunya dari sekian milyar manusia pasti ada saja yang lebih pantas untuk dipenuhi lebih dulu. Waktu adalah milik-Nya dan kita hanya bisa meminta serta pasrah selagi permintaan kita diproses…yang mungkin proses itupun butuh menunggu sikap dan perubahan kita terlebih dulu.


Ternyata saya lebih suka melihat orang-orang yang seringkali dicap ‘kelas rendah’, seperti bapak tua tukang cukur DPR (dibawah pohon rindang) - dekat kantor PDAM Setabelan 200meter dari rumah orang tua saya, yang saya anggap lebih bisa menunggu dengan sabar. Kadang bercengkerama, kadang sambil membersihkan alat-alat atau sisa rambut pelanggan, kadang hanya menerawang jauh sambil menyeruput secangkir kopi mencoba menikmati hidupnya yang tidak lagi nikmat bagi standar kebanyakan orang. Meskipun menunggu tapi disana saya lihat kepasrahan hidup dan keikhlasan dalam menjalani pekerjaannya. Ada imajinasi, keinginan, tapi saya rasa datangnya seorang yang butuh dicukur rambutnya adalah sesuatu benar-benar ditunggunya dengan sabar. Dalam penantiannya inilah terdapat dialog nyata antara manusia dengan keterbatasannya.


Seorang kawan bilang,“ Tapi dia tak akan berkembang menjadi lebih baik dan besar.”

“Besar dan baik menurut siapa?” timpal saya.

Bukankah rasa syukur tiap orang berbeda, dan ketika kita begitu agresif terobsesi dengan hal itu kalau mau jujur ujung-ujungnya adalah keserakahan, yah.. minimal keinginan dipandang ‘telah berhasil menjadi orang’.
(Lho yak opo, memang selama ini munyuk po? Seko uwit sing endi, kok ora tau ketemu? kekekekkk...)

So, dibalik keinginan ingin menciptakan lapangan kerjapun pasti ada yang mendasarinya, yaitu segepok uang dan segenggam berlian.


Jadi tanpa perlu training motivasi sebenarnya tukang cukur tadi telah sangat kuat dalam menjalani hidupnya sama seperti burung-burung yang terbang pagi dan baru pulang ke sarang menjelang gelap dengan perut yang kenyang. Yang dilakukan burung ini hanyalah terbang dan menjalani hidupnya tanpa obsesi berlebihan, apalagi keluhan.


Agaknya keberanian menunggu inilah yang bisa kita pelajari dalam menjalani hidup yang keras ini.

Posted by ndablek at 16:56:39 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Februari 20, 2008

Ling-Ling jadi Jawa



"Hahaha...Kok ono-ono wae yo?"
"Lha embuh kuwi sing nggawe...dadi isin aku."
Demikian petikan gojekan dua pembantu dirumah kos-kosan saya.
"Ya ditonton wae Mbak, disambi gorengan pisang kan mak nyuss..." kataku sambil meneruskan asyiknya menonton tv.
Acara tsb dibuat oleh Metro tv dalam rangka pekan Imlek sih.
Ceritanya begini.
Ada ibu tua yang yang bernama Nora  yang mendalami seni tari Jawa, dan kini selain mengajar disanggar beliau pun masih terhitung sebagai dosen senior ISI-Solo. Yang menarik adalah nama asli bu Nora ini adalah Kho Giok Lan, artinya dia masih berdarah Cina atau biasa disebut sebagai orang Tiong Hoa. Menarik karena beliau justru mengerti seni budaya dan bahasa Jawa lebih dalam dari orang Jawa sendiri.

Menarik memang bagi kita yang tinggal di Indonesia ini. Bukan barang langka orang asing, dari ras ataupun suku yang berbeda saling mempelajari bahasa, budaya dan adat satu sama lain dinegeri yang sangat kaya ragam ini. Namanya juga kemerdekaan hidup, berkreasi dan menikmati seni apapun bentuknya ya harus kita apresiasi dengan tulus. Hanya yang agak menggelitik adalah pernyataan salah satu tokoh yang diwawancara bahwa, akulturasi inilah yang telah dan akan membuat orang-orang seperti bu Nora lolos dari kerusuhan Mei 98.
Lha apa hubungannya ya? Saya kok ndak mengerti.
Semestinya akulturasi bukan berarti meleburkan sesuatu yang berbeda, memaksakan semua harus menjadi sama agar tidak terjadi benturan. Sungguh tidak bijak jika kita berpendapat seperti ini.
Untuk melalui jalan raya sebuah truk tidak harus menjadi sedan/minibus, yang penting arahnya sama dan saling mengerti etika supaya tidak saling serobot sehingga tidak terjadi kecelakaan. Iya kan?
Apa bukan seharusnya perbedaan itulah yang disandingkan tanpa perlu disama-samakan, demi keselamatan, toh negara ini adalah Negara Kesatuan RI dan bukanlah Negara Kesamaan RI.

Seperti dalam kasus nama, coba cermati kalau mau jujur kenapa sih hanya orang berdarah/bernama Cina saja yang dipaksa alias wajib mengganti namanya? Dan itu ditujukan atas nama kecintaan pada tanah air Indonesia tercinta ini.
Lha bagaimana dengan nama Khusnul, Syakieb, Margareth, Albert, Abu Bakar, Shanker, Piere, Marthin dll?
Kenapa mereka tidak diminta mengganti namanya menjadi yang mencerminkan ke Indonesiaan seperti Bejo, Amir, Tuti, Budi dll?
Kok saya pikir tidak adil ya. Meskipun pejabat bangsa ini telah sedikit membaik, namun grass root-nya belum seperti pimpinannya sekarang yang legawa dengan perbedaan semacam ini.

Nama sejatinya adalah hak azasi milik manusia. Kasihan deh, kenapa juga untuk hal yang mendasar seperti ini pemerintah kita justru lupa. Keciaaaan deh loe :)
Jadi menurut kacamata saya (yang tipis enggak tebal juga enggak ini), yah biarlah orang memberi/memakai nama sesuka mereka, kalaupun nantinya diganti biarlah itu karena niat mereka sendiri, bukan karena aturan apalagi paksaan...kali-kali aja dengan ganti nama rejekipun bisa lancar hehehe..
misal Azril jadi Ariel, Samijan jadi Ian, Sigit jadi Pasha, Wulan jadi Mulan dll.

Demikian juga kalau orang mau belajar budaya lain ya jangan dibilang itu bagus untuk menghindari ketidakharmonisan, tapi biarkan tumbuh alami sebagai ketertarikan yang sifatnya pribadi...saya dukung itu, so please jangan dipolitisir.
Biarkan juga merah, putih, biru, hijau, hitam tetap menjadi warnanya sendiri, kalaupun putih mau bergabung dengan merah dia akan jadi jambon, bukan putih yang dimerah-merahkan.

Marilah kita ber-akulturasi dimanapun kita berada baik dilingkungan dengan suku yang berbeda diluar Jawa, atau bahkan dengan ras yang berbeda di negeri orang dengan tetap memakai baju identitas kita sendiri. Budaya diluar budaya bawaan, kita jadikan pernik-pernik yang memperindah baju identitas kita tadi.
Kita bukan hewan seperti harimau yang hanya menerima makhluk lain asal 'berkostum' harimau bukan? Kita lebih mulia kok dari itu.

Juga, bahwa untuk diterima dilingkungan pria bukankah seorang wanita tidak perlu menjadi pria? Justru kehidupan pria akan lebih indah dan berwarna jika wanita tetap hadir sebagai wanita dengan segala keanggunannya.

Salam

Posted by ndablek at 19:20:08 | Permanent Link | Comments (0) |

Tanya kenapa?


Menurut saya era keterbukaan saat ini benar-benar telah memberikan cara pandang, berpikir dan bersikap orang yang sangat beda dengan 10 -15 tahun yang lalu...apalagi 20 tahun yang lalu saat saya masih ngejar layangan.
Sekarang dengan banyaknya infotainment, maka lebih banyak rahasia dapur yang diumbar menjadi konsumsi publik. Orang tidak lagi merasa risih atau jengah saat menceritakan aib keluarganya sendiri. Dan herannya orang juga semakin penasaran saja dengan aib orang lain, alih-alih ingin belajar dari pengalaman tsb.
Weladalah...pertanda apa yaa..hmmm...

Dalam berpakaianpun pergeseran norma dan nilai telah terjadi. Saya jadi ingat era 80-an akhir, masih terasa aneh dan janggal (atau barangkali liar) jika ada wanita yang memakai pakaian ketat apalagi terbuka. Yang wajar ya cuma di kolam renang, atau paling-paling di pantai, itupun sebenarnya versi Warkop saja supaya filmnya laris dipasaran. 
Kalau dulu (maaf nih) tali BH masih sangat sakral, tidak boleh terlihat bahkan mesti disamarkan dengan kaos dalam, namun kini lihatlah...justru banyak wanita yang dengan senang hati memamerkannya. Ada warna merah, krem, hitam, transparan bahkan yang sengaja diperlihatkan dengan model ikat leher.
Tidak ada lagi rasa malu dan risih, tapi justru bangga, berkesan modis, gaul dan seksi.

Banyak pula wanita yang super PeDe memamerkan lekuk tubuh indahnya sejak mulai leher, dada, perut, pinggang hingga paha(yang notabene untuk konsumsi suaminya). Dr berbagai bentuk, lekuk, ukuran dan cekungan kok ya kini seolah menjadi milik bersama. Siapapun boleh menikmati secara visual bahkan anak kecil...(tanggungjawab lho)
Okelah mungkin anda berpikir belahan dada juga dulu sudah dipopulerkan oleh para pesinden yang berbusana Jawa, saya tahu itu,tapi perlu diingat umumnya merekapun sudah tua, gombyor, keriput dan tidak menarik lagi secara seksual. Dada yang menyembulpun terpaksa ditampilkan akibat tidak bisa lagi disembunyikan. Tapi yo ndak apa-apa, toh hampir semua tidak serta merta jadi ngeres melihatnya.
Cuma ya itu tadi...kalau yang pamer wanita muda cantik singset nan putih aduhai..apalagi masih kenceng-kencengnya? Apa ya tidak sadar itu malah bisa mengundang masalah ya?
Demikian juga baju muslim yang sudah diciptakan dengan baik, eh semakin hari semakin diselewengkan. Yang penting pakai jilbab tapi bajunya masih aja ketat, lha itu kan sama saja, sami mawon lan podho wae Mbak.

Saya akui sebagai lelaki sayapun cukup 'terhibur' dengan fenomena ini, tapi bagi orang yang tidak menganggapnya sebagai hiburan kan celaka. Masih ingat dong pesan Bang Napi: " Kejahatan timbul bukan saja karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan..dan rangsangan!" Mbok yao nyadar  hei kaum wanita sekalian.

Satu hal mesti diingat, negara ini bukanlah negara dengan budaya liberal seperti dunia Barat, masih banyak yang ditabukan. Kalau di Amerika saya pernah baca kasus perkosaan umumnya terjadi karena balas dendam, ingin merusak masa depan/psikologi orang dan pemerasan. Kenapa? Karena mereka sudah terbiasa dengan yang terbuka. Mereka menabukan sedikit bagian saja. Sama seperti Bali kuno dan suku di Papua sekarang. tapi untuk mayoritas bangsa ini yang perkosaan lebih karena ngeresnya otak pelaku, sebaiknya ya jangan.
Logikanya begini, seandainya jempol kita ditabukan oleh nenek moyang dan harus selalu ditutupi, maka ketika selubung jempol dibuka sudah pasti jempol yang jarang terlihat ini akan merangsang lawan jenis.
Selama jempol belum dipublish secara luas untuk dikonsumsi publik, maka sebaiknya jangan diperlihatkan. Nanti efeknya bisa macam-macam.

Akhir kata dari ngawurnya saya...sebaiknya kita meminta pemerintah untuk 'mempublish' tubuh wanita supaya hal tersebut jadi biasa, wajar dan jamak. Atau kalau dinilai ekstrim, ya makanya mari...kaum wanita, tutuplah kembali sex appealmu dan hadiahkan hanya bagi suamimu saja.

Sementara menunggu action pemerintah, ya saya nikmati dulu visualisasi yang tersisa hehehe....
Cool
Posted by ndablek at 19:07:19 | Permanent Link | Comments (1) |

Selasa, Februari 12, 2008

Tren kota Solo



12 Feb 2008

Kota Solo tempat kelahiran saya..kadang disebut sebagai Surakarta, kadang juga disebut sebagai Sala..punya karakteristik yang cukup unik. Selain terkenal dengan wedangan dan lesehannya Solo cukup terkenal sebagai kota yang konsumtif. Berbagai jenis barang dan brand rasanya seperti gampang sekali terserap oleh penduduk kota yang dijuluki 'kota Bengawan' ini. Mungkin karena arti Bengawan (kali/sungai) sehingga uangpun mengikuti sifat air hehehe..mengalir terus.
Saya jadi ingat waktu dulu musim sepeda santai..ckckck..kalau hari Sabtu pagi apalagi Minggu maka jalan menuju luar kota akan sangat padat oleh puluhan ribu pengendara sepeda ini. Berbagai tipe dan merk mountain bike seperti Federal, Phoenix, BMX akan menjejali jalanan dan memaksa pengendara lain mengalah. Sayapun ikut juga dalam hobi massal tersebut, asyik memang. Konsep olah raga bahkan bergeser menjadi sarana kumpul-kumpul keluarga dan kolega, akrab-akraban teman sekelas, pamer-pameran sepeda, belanja ikan di waduk Cengklik bahkan sampai untuk pacaran. Mungkin kalau ada datanya maka orang Solo secara statistik mencapai puncak tertinggi dalam kesehatannya, grengnya melebihi BTW/ bike to work meskipun tanpa promosi.
Pernah ada lagi tren Tamiya, maka setiap anak merasa wajib memilikinya, bahkan bila perlu maksa orang tua biar ga dibilang kuper. Orang yang sudah tuapun tidak mau kalah, tetangga saya, koh Ming dan Mas Wiwiek, rajin sekali mengikuti lomba yang kadang diselenggarakan secara besar maupun yang di gang-gang. Semua tiba-tiba menjadi montir dadakan jika Tamiya-nya kurang kencang atau tidak seimbang. Waktu itu Solo penuh dengan montir teknik balap Tamiya.
Solo juga pernah tren dengan nasi bandeng dan susu segar komersil, She Jack yang sekarang populer bahkan menurut saya terkenal belakangan, karena perintisnya ada didepan SMA1 Margoyudan dan dekat bunderan Tipes. Ramai sekali untuk ukuran warung dengan menu andalan: sebungkus nasi putih dengan sejumput daging bandeng goreng dan secuil sambel terasi. Yang mampir bukan lagi dari kalangan menengah bawah tapi umumnya justru dari kalangan menengah atas. Heran memang, sebenarnya apa yang dicari kaum ini ya?
Tren rumah makan lesehan dan pancingan..apalagi..... tidak cuma puas di Solo bahkan sampai ke Janti dan Karangpandan pun warga Solo rela berbondong-bondong kesana hanya untuk menikmati ikan hasil pancingannya sendiri yang dimasak dengan bumbu bakar atau goreng.
Tak lama kemudian tren ikan Koi, maka banyak penghobi yang menganaktirikan ikannya dan mengganti dengan jenis Koi terutama yang sudah punya kolam. Waktu ikan Louhan pun demikian, harga bisa melambung tinggi, bahkan beberapa jenis ikan hias lain sempat susah dicari di Pasar Gede karena pedagangnya ganti dagangan.
Yang sekarang masih terasa adalah demam anthurium dan hookeri, tumbuhan berdaun yang tidak memiliki mekar bunga apalagi buah dan khasiat namun bisa berharga jutaan rupiah. Pernah saya baca ada orang yang rela membarter sedan Civic-nya dengan tanaman ini. Orang Solo ramai berburu tanaman ini, bahkan sekarang kalau lihat loper koran maka yang mendominasi dagangannya adalah majalah/tabloid agrikultur. Tren memang membawa rejeki bagi yang bisa memanfaatkannya dengan cerdik.
Bahkan diKaranganyar (pinggiran Solo) ada seorang buruh tani yang sekarang bisa memiliki rumah gedongan, mewah abis dengan pilar-pilar besar dan dihiasi dengan 4 buah mobil karena ketiban rejeki anthurium ini (kebun warisan). Hampir iri saya dibuatnya...makanya sekarang saya juga punya meskipun asalnya hibahan saja :)
Nah, belakangan ini pengendara motor juga sedang tren pakai spion lengkap kanan-kiri. Semua pemilik sepeda motor sibuk mencari spion kiri yang dulu sempat ditelantarkan bahkan digadaikan ke tukang klithikan (loak). Para pedagangpun mulai kebanjiran order, malah bisa inden kalau yang belinya dipasar loak...maklum nunggu barangnya ada dulu, entah curian entah digadaikan pemiliknya. Asal ditebus dengan kontan maka barang itu jadi barang legal dan halal. Harga spion kiri yang dulu cuma dihargai 3-5 ribu sekarang bahkan mencapai 15-25 ribu kalau orisinil.
Menariknya, tidak seperti tren yang lain yang bisa tumbuh dengan sendirinya, khusus tren yang satu ini hanyalah akibat dari peraturan Polantas yang mulai ditegakkan. Aneh memang, yang sifatnya kesenangan justru lebih diminati orang daripada yang bersifat untuk keselamatan.
Keinginan sudah melupakan kebutuhan.
Kepentingan mengalahkan penting itu sendiri.
Dan eksistensi menghilangkan esensi.

Masih banyak lagi tren yang tidak diceritakan disini, tapi bagaimanapun juga, aku bangga jadi 'cah Solo'...melebihi bangga jika disebut orang Indonesia.
Posted by ndablek at 15:18:38 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Februari 11, 2008

Audisi


11 Feb 2008
Pepatah ”hidup ini ibarat panggung sandiwara” semakin tervisualisasikan beberapa tahun terakhir ini dengan bermunculannya ajang pemilihan bakat di hampir semua stasiun teve swasta.
Mulai dari penyanyi pop, dangdut, anak kecil, tarian hingga keterampilan berkotbahpun dilombakan! Segala yang terbaik ingin ditampilkan, selain content yang dilombakan maka tiap inchi tubuh dan dandanan para penampil pun di komentari..mungkin kalau yang bersifat pujian saya rasa masih baik.Tapi yang umum terjadi adalah kritik ’membangun’ yang menurut saya belum tentu ’membangun’ karena sejatinya kritikan yang baik tentunya tidak disampaikan didepan khalayak ramai dan dilihat berjuta pemirsa. Walau bibir tersenyum dan terucap terima kasih namun siapa yang menjamin sanubari tak terluka, apalagi kalau komentator malah sibuk guyonan sendiri dan membiarkan penampil bermenit-menit seperti patung yang terbengong melihatnya.
Panggung sandiwara nampaknya tidak hanya ada di acara ini saja, bahkan dalam keseharian saja saya lihat banyak panggung-panggung mini dimana seseorang berusaha tampil yang ’terbaik menurut orang lain’ dan merelakan ’terbaik menurut keinginan sendiri’ merdeka menjadi diri sendiri. Mulai pejabat kelas kakap sampai PNS kelas teri, mulai Direktur sampai pegawai swasta terbawah. Bisa penuh janji manis sebelum Pemilu namun bisa ’nglali’ melupakan janji kalau sudah menjabat. Bisa garang dan kasar dirumah namun sekejap bisa berubah seperti ulama atau karyawan teladan yang sok alim didepan atasan...mau ngelawan manaaa beraniiii??
 
Nah, semangat menjadi diri sendiri dan tidak semata ingin terlihat baik dimata orang lain tampaknya sudah merupakan barang yang langka. Disatu sisi hal ini baik, namun tampaknya sudah kebablasan. Lihatlah di mal-mal dan pesta pernikahan betapa orang mendandani diri selain agar cantik dilihat pasangan, namun ternyata juga umumnya membawa misi agar tampak keren didepan orang lain, lebih menjual (diri?). Orang mendandani mobilnya dengan aksesoris eksterior yang luar biasa mahal, toh yang menikmati justru orang lain yang melihat mobil itu dari luar. Remaja ramai-ramai memasang Nada Tunggu / Ring Back Tone padahal yang menikmati orang lain sementara pemasang yang tidak menikmati malah rela ditarik biaya bulanan. Alih-alih ingin memberikan yang terbaik buat orang lain, atau sebenarnya manusia sudah terjebak masuk kedalam dunia ’kesombongan’ atau mungkin yang lebih agak pas adalah ’pamer’ apa yang bisa ditunjukkan terbaik, padahal belum tentu hal tersebut perlu dan belum tentu bisa dinikmati/ berfaedah bagi orang lain.
Baik sih baik, tapi apa dibutuhkan?

Di dunia kerja juga begitu, teman saya awalnya senang memiliki pegawai counter yang rajin, namun belakangan terlalu rajin ingin memberikan yang terbaik menurut versinya sendiri padahal tidak dibutuhkan dibisnis teman saya itu, misalnya terlalu kreatif memberi diskon/bonus/ngobrol dengan salesman (katanya biar gampang dapat info) tapi lupa membersihkan kaca etalase dan stok barang yang mulai kotor berdebu, terlalu rajin membaca brosur promosi seluler (alasan cari ilmu) tetapi mengganti poster/ spanduk yang lecek/ menulis kartu stok dengan benar saja saja mesti disuruh sampai teman saya pernah bilang kalau sepertinya pegawainya hanya sok berinisiatif, atau cari muka berhubung umur kerjanya belum genap setahun.
Jadi sebaiknya ya wajar saja ...seperti kata ibu saya ”Pokoknya segala yang ter-...  itu berpeluang tidak baik, kalau tidak tahan iman nanti terjerumus”.

Nah, apakah kita juga sering membuat orang lain tidak nyaman menjadi dirinya sendiri? Apakah kita terbiasa menghilangkan kebebasan orang lain demi kepentingan kita sendiri?
Mari tanyakan pada rumput yang bergoyang...kekekekkkekekkk...
Posted by ndablek at 18:33:19 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Februari 06, 2008

Jatuh Cinta




6 Feb 2008
Seorang sahabat lama baru saja saya telepon. Dari sekedar basa-basi untuk memecah kekakuan, menanyakan kabar hingga bercerita ngalor-ngidul. Ada perasaan senang, rindu, excited mendengar suaranya, bercanda dan ketawa-ketiwi yang asyik sekali. Pokoknya komunikasi berlangsung tanpa ada kekosongan, nyerocos dan sambung menyambung terus tanpa kehabisan bahan...meskipun lebih banyak basa-basinya.
Tak disangka ternyata baru saja dia putus lagi dari pacarnya, ”Ya ampuuunn..ini anak kok sering sekali gagal membina hubungan, apa sih masalahnya?” Batinku. Ternyata urusan jodoh bukanlah suatu perkara yang mudah, tidak hanya bagi sahabat saya ini tapi tentunya buat semua orang yang pernah merasakan jatuh cinta. Emosi seolah enggan berkompromi dengan logika.
Jatuh cinta memang berjuta rasanya, bisa membuat yang mengalaminya terbengong-bengong, melamun, berkhayal sampai terisak-isak sendiri tanpa perlu aba-aba komandan upacara.
Tidak ada urusan lain yang lebih penting daripada urusan percintaan ini, terutama bagi kaum remaja, seolah krisis moneter, politik, budaya dan kenaikan harga kedelai tidak bakalan mampu  mengalahkan skala kepentingan perasaan insan yang sedang dimabuk asmara.

Masa percintaan memang indah namun terkadang orang yang justru sudah hidup dalam lingkungan percintaan yang sesungguhnya (pernikahan) tidak lagi bisa merasakan bunga-bunga romansanya. Tinggal dan hidup bersama seolah sudah takdir yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya agar tidak ada kegagalan yang menimbulkan aib keluarga. Akibatnya cinta mula-mula yang penuh pengorbanan dan perhatian menjadi terpinggirkan...jika bukan terlupakan.

Kalau dulu demi menunjukkan perhatian orang yang sedang jatuh cinta pasti akan menanyakan ”Sudah makan belum, Sayang?, Gimana kondisimu, sehat?” dll. Tapi kala sudah menikah pertanyaan itu bukan lagi basa-basi atau menunjukkan perhatian namun memang benar-benar ada maksudnya.
”Sudah makan  belum?” bisa berarti ”Aku lapar nih, ayo beli makan/ kenapa kamu gak beli aja dari tadi?”
Atau umumnya berlanjut ke ” Kenapa gak segera makan? Ntar sakit loh, repot, mesti periksa dokter nebus obat dll yang biayanya besar..sayang kan!” Jadi sebenarnya pertanyaan tadi diungkapkan untuk mengukur berapa penghematan yang bisa dibuat, pertanyaan tersebut seringkali kehilangan esensinya.
Hal inipun kadang saya rasakan juga, seringkali saya malas berbasa-basi dengan istri saya karena merasa sudah seharusnya dia tahu persis kondisi saya, apa yang saya butuhkan dan apa yang kami butuhkan. Pernikahan bertahun-tahun harusnya membuat kedua insan saling kenal luar dalam jadi tidak perlu basa-basi lagi.
Bahan pembicaraan suami istri seringkali bukan lagi mengenai rasa/pernyataan cinta satu sama lain (yang mendasari kehidupan berumah tangga), tapi lebih sering terjerumus pada pembicaraan finansial, apa yang bisa dihemat, berapa tabungan sekarang, kenakalan si buyung lebih mirip siapa, tetangga bikin pagar baru / punya mobil baru, cucian sudah diangkat belum, kenapa lantai masih belum di pel, bulan depan jatah arisan kita bukan, mau nyumbang pernikahan si A berapa dll.
Seringkali dianggap cinta suami istri ini sudah sangat kuat sehingga tidak perlu lagi dikomunikasikan, di refresh bahkan untuk dipertanyakan! Kalaupun sudah agak pudar maka normatif yang berlaku akan bilang wajar, kan sudah bukan remaja lagi, inilah hidup yang sesungguhnya, cinta yang sesungguhnya ya begini...toh masing-masing telah memegang komitmen dan tanggungjawab berkeluarganya, jadi untuk macam-macam percuma aja.
Padahal komunikasi dan menyatakan rasa cinta satu sama lain sangatlah perlu, ibarat suplemen/vitamin bagi kehidupan percintaan kita, supaya kita ingat bahwa dalam hidup tidak harus  melulu persoalan uang, urusan house keeping dan bermasyarakat saja.
Nah sahabat lama saya tadi... sebenarnya mantan pacar saya.Sealed
(#!@$#$^%^&)
Posted by ndablek at 15:38:26 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Februari 04, 2008

Deadly Thought


3 Februari 2008


Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Ikan dan udang menghampiri dirimu


Petikan lirik lagu Koes Plus ini memang cukup menggambarkan kekayaan Indonesia yang memang sangat gemah ripah loh jinawi. Tanah nan subur, laut nan luas membentang di segala penjuru mata angin pulau-pulau di Indonesia.

Namun kini seolah sepertinya semua tidak berarti lagi, negeri yang subur tapi tanpa pengolahan dan manajemen yang baik telah membuat kehidupan mayoritas manusia yang ada di negara ini terpuruk dalam kemiskinan. Dagelan tenan.. rakyat kita semakin kurus dan tenggelam dalam lautan susu kebanggaannya sendiri. Tanah yang subur ini berubah menjadi makam, ibarat lumpur aktif, menyedot siapapun yang berada diatasnya kedalam kehidupan yang berada dibawah garis kemiskinan. Ibarat katak yang mati dalam panci karena terebus perlahan tanpa dia sadar bahwa loncatlah jalan keluarnya.

Trus apa dong yang salah?

Begitu banyak potensi alam yang sempurna untuk dijadikan tujuan wisata sehingga mampu meningkatkan ekonomi rakyat yang hidup disekitarnya seolah tidak ada harganya, dibiarkan mangkrak dan terbengkalai.

Eksploitasi hutan besar-besaran secara tidak terkendali telah membuat ibu pertiwi diperkosa untuk kemudian ditinggalkan dalam kondisi tercabik-cabik dan kuyu.

Negeri agraris pun hanya tinggal slogan warisan karena profesi petani tidak diminati lagi oleh kaum mudanya, pekerjaan ini telah menjadi pekerjaan kelas bawah dan rendahan, hanya cocok untuk orang yang tersingkir dari dunia akademis, industrialisasi dan modernisasi.

Di negeri agraris ini pulalah beras lokal, gula lokal, bahkan sampai kedelai lokal seperti dianaktirikan.

Hasil bumi luar negeri justru menguasai sebagian perut rakyat negeri ini sampai-sampai pernah ada masa dimana teknologi secanggih pesawat CN 235 dan 250 yang ditelorkan oleh kaum cerdas dan bergengsi negeri ini malah ditukar beras karena ternyata otak yang cerdas masih butuh perut yang kenyang!

Jadi sebetulnya daya tawar mana yang lebih tinggi, hasil bumi atau hasil industrialisasi?

Kalau diamat-amati justru negara dengan kekayaan yang pas-pasan justru yang mampu melesat menjadi negara maju. Ketika keadaan ini begitu memaksa manusia untuk bertahan justru disana lahirlah kreativitas dan inovasi, dan yang pasti, perasaan menghargai apa yang dimiliki dan menjaganya sebaik mungkin karena hanya itulah yang ada. Bandingkan dengan bangsa ini yang hidup dalam kekayaan, justru akhirnya tidak mampu menghargai apa yang dimiliki. Mengacuhkan dan menelantarkan harta yang telah ada ditangan karena dipikirnya kekayaan ini abadi.

What a deadly thought!

Posted by ndablek at 13:38:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Bangsa Maling

2 Februari 2008
Siang ini saya terhenyak oleh sms istri saya yang mengatakan baru saja dia kehilangan sebuah handphone CDMA yang berharga cukup mahal digerainya sendiri. Sayangnya ini bukan yang pertama dia kehilangan handphone atau uang pembayaran yang belum diterima tapi sudah terlena oleh pembeli lain.  Alasan yang diajukan, menurut istri saya adalah ramainya toko sehingga tidak sempat mengawasi barang dagangannya, apalagi harus berprasangka buruk dulu kepada konsumen kan tidak baik. Dan herannya kok orang merasa sah-sah saja mengambil barang yang bukan haknya?
Kontan saja saya marah menyesalkan kenapa kejadian seperti ini terjadi berulang-ulang. Perjuangan begitu keras namun uang tetap saja begitu seret dan enggan mendekat sementara modal ditangan justru melayang sia-sia. Ibarat ingin menangkap elang justru merpati ditangan terlepas dan terbang lagi.
Serta merta saya meminta istri untuk belajar tidak lugu dan tidak terbiasa berpraduga tidak bersalah terhadap setiap orang karena bisa saja orang tadi adalah maling! Yah... lingkungan ini telah membuat saya meminta istri saya untuk berpikiran negatif kepada tiap pembeli dengan mengatas namakan ANTISIPASI. Untung saya segera sadar.
Dan ternyata perlu 2 jam buat saya untuk memaafkannya itupun setelah saya memaksakan tidur siang supaya emosi di dada tidak berlanjut. Cinta saya yang tulus ternyata hanya dibibir saja, kenyataannya saya masih minta pamrih ke istri saya untuk tidak ceroboh. Duh Gusti ampuni saya, ikrar selalu setia dalam suka dan duka ternyata baru saya jalani separo saja.
Maling. Ya kenapa istilah ini mesti muncul dalam perbendaharaan bahasa Indonesia? Bukankah bangsa Indonesia adalah bangsa yang senantiasa digembar-gemborkan sebagai bangsa yang beradab, berbudaya, ramah dsb mestinya jauh dari tangan-tangan dan niat kotor? Bahkan sejak SD saya sudah ’dicekoki’ Pendidikan Moral Pancasila bahwa dasar negara, falsafah bangsa, ideologi dan segala tetek bengek tentang Indonesia adalah yang terbaik dari negara lain. Namun kenyataannya belum tentu semua benar teraplikasi dinegara ini.
Menurut saya kita justru terlalu senang membuat istilah yang membanggakan diri sendiri, lupa akan kesejatian siapa diri kita, kita hidup dimana, bagaimana kondisi yang ada disekitar kita dan bagaimana kita harus bermawas diri. Arogan telah membuat kita lengah dan semakin terpuruk.
Ironi.
Bangsa kita disebutkan selalu sebagai bangsa yang jujur, ramah dan penuh senyum. Mungkin yang mengatakan demikian adalah turis yang diikuti dan diketawai anak-anak kecil karena dianggap aneh..seperti kalau sekumpulan anak kecil menjumpai orang gila..sayang turis tadi tidak tahu apa makna senyum itu sehingga dianggap sebagai senyum keramahan.
Gotong-royong juga seolah kini menjauh dari kehidupan kita di Indonesia, kalaupun ada umumnya hanya karena sungkan - takut dibilang tidak bisa bermasyarakat – atau malah mungkin sebagai alibi untuk membolos kerja pada atasan alih-alih serius membantu tetangga.
Sering kali dimuat di koran mengenai perampasan dijalan yang mana pengendara lain malah cuek, hanya melihat untuk kemudian menceritakannya kepada teman-temannya seolah lebih seru dari kisah perceraian artis sinetron.
Bukankah mestinya mereka bergotong royong menghalang-halangi perampasan tersebut? Kenapa justru maling tadi yang mengerti bagaimana harus bergotong-royong membagi tugas?
Saya rasa ada yang salah dengan pendidikan di negara ini. Penonjolan sesuatu yang hanya teori belaka tanpa praktek implementasi dalam kehidupan sehari-hari telah membuat segala keagungan bangsa Indonesia yang besar ini berakhir pada jargon-jargon saja. Lihat saja vandalisme dan premanisme tetap saja ada dikalangan remaja sekolah meskipun tiap hari Senin mereka diharuskan menghadiri upacara, sejak jaman SMP saya diperas dulu sampai keponakan saya gede masih ada saja hal serupa.
Lihat saja betapa anggota dewan yang terhormat dengan seenak udelnya sendiri menjatah penghasilannya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan atau minimal perasaan rakyatnya.
Lha wong sudah gede gajinya kok masih minta tunjangan macam-macam, apa ini bukan maling juga hanya saja berkedok institusi? Kan sama dengan korupsi terorganisir. Tunjangan transportasinya saja 10 juta rupiah perbulan, glek...buat apa saja tho? Toh yang namanya mobil dinas pasti bisa ngeklaim BBM-nya, taruh kata tidak bisa, opo yo ora kebangetan jatah 2.200 liter hanya untuk sebulan? Sementara ada suatu daerah yang menjatah minyak tanah rakyatnya hanya 20 liter perbulan itupun bayar sendiri dan harus ditebus dengan antri berjam-jam dalam teriknya matahari dan panasnya hati.
Lha mbok eling sama rakyatnya!
Sementara pejabat eksekutif dan yudikatif lainpun juga beramai-ramai mencari celah korupsi demi kekayaan pribadi, minimal harus bisa balikin modal yang habis saat kampanye. Makanya ada teman saya bilang kenapa fasilitas apapun dinegara ini, dibagian kota manapun, pasti tidak berumur panjang karena akan selalu kurang perawatan. Ya jelas kurang, lha kalau dirawat kan nanti tidak rusak-rusak, padahal mark up yang paling menguntungkan ya dari pengadaan atau peremajaan. Masuk kan logikanya? Atau kalau belum mengerti, coba cek jalur pantura di Jawa Barat, kenapa tiap tahun selalu rusak dan kenapa pula selalu diperbaiki saat menjelang musim penghujan dan musim mudik?
Jamane jaman edan, sing ora edan ora keduman.
Nah kalau demikian, kenapa juga ya saya harus bingung-bingung mempermasalahkan asal muasal kata ’maling’ tadi?
Posted by ndablek at 13:38:12 | Permanent Link | Comments (0) |

Macetnya ibukota


1 Februari 2008
Waktu tempuh dari kantor menuju tempat tinggal saya di Jakarta sebenarnya ’hanya’ 20 – 25 menit, namun kali ini terpaksa saya tempuh hampir 3,5 jam akibat banjir yang berujung pada lumpuhnya lalu lintas Jakarta. Entah spekulasi kurang matang, nekad, kepentingan yang mendesak atau karena sudah kebelet buang air sehingga banyak pengendara mobil dan motor yang memaksa melintas digenangan yang dalam dan hasilnya sudah gampang diterka, merekapun terjebak. Namun ada juga macet yang disebabkan karena rasa sayang pada mobilnya, jadi meskipun saya yakin aman untuk dilalui tapi si pengendara pilih diam menunggu banjir surut.
Soal macet dan kebelet ini kok menjadi menarik ketika sepertinya di Jakarta ini kemanusiaan telah hilang dari peredaran peradaban. Banyak media dan LSM bahkan pemerintah membicarakan Hak Azasi Manusia namun hak untuk kencing dan buang air besar menjadi terabaikan saat banjir/macet dan tidak ada satupun media atau organisasi yang membahasnya.
Saya pun terpaksa mengencingi tiang jalan tol, wow..sungguh prestasi yang hanya bisa dibayangkan oleh kaum pekerja kantoran yang lain. Cuma yang terpikirkan adalah bagaimana kalau saya ingin buang air besar atau kalau saya adalah seorang wanita yang sedang terjebak kemacetan dijalan? Apa saya mesti meninggalkan mobil begitu saja dan mampir ketoko/rumah disisi jalan?Kalau pas dijalan tol yang macet seperti yang wajar kita temukan di Jakarta?
Secerdas apapun pasti tidak akan menemukan jalan keluar yang cukup elegan sebagai solusi atas permasalahan ini.
Wanita sebagai sosok yang saya kagumi karena unik dan luar biasa, kalau dia sehat akal, tentunya akan menjadi kehilangan muka dan harga diri kalau harus kencing ditepi jalan meskipun kalau terpaksa mau tidak mau harus dilakukan juga. Nah kalau ingin buang air besar?
Lepas dari masalah banjir akibat drainase yang jelek, kemacetan tanpa banjirpun sebenarnya sudah menjadi bagian hidup siapapun di Jakarta ini kecuali pejabat, karena mereka selalu menyerobot jalan orang dengan sirine vorj rider-nya.
Jadi siapa sebenarnya yang salah dalam problem kemacetan yang wajar dan jamak terjadi di ibukota ini? Kusut sekali.
Pemerintah mengatakan karena kemalasan orang menggunakan fasilitas angkutan umum, tapi apa mereka buta? Logikanya pasti supply lebih besar daripada demand sehingga banyak bus dan angkot yang sepi, nah kalau di Jakarta pernah tidak melihat bis yang sepi penumpang? Bukankah bis, angkot bahkan kereta selalu penuh sesak dan berjejal copet? Kenapa pemerintah malah membangun busway yang menyerobot luasan jalan?
Bagi pengendara mobil kesalahan selalu mereka tumpukan pada angkot dan bis yang suka ngetem dan menaik turunkan penumpang sembarangan serta pada sepeda motor yang suka menyerobot jalan. ”Apa mereka tidak tahu etika berkendara?”keluh pengemudi dibalik hembusan AC yang nyaman dan dendangan lagu kesayangannya.
Bagi supir bis dan angkot, penumpang adalah uang. Selain harus kejar setoran agar mereka bisa menopang nafkah keluarga, mereka juga harus menghormati hak pelanggan yang ingin diturunkan dititik yang dikehendaki. Istilahnya kerennya CRM atau Customer Retention Management.
Penumpang juga pasti marah dan tidak mau pakai angkutan itu lagi kalau sudah bilang STOP berkali-kali tapi berhentinya masih 400 meter  kemudian. CRM yang bagi karyawan kantoran adalah istilah yang super keren dan menjadi mewah dalam memenangkan pelanggan, serta harus ditebus dengan training seharga 3 juta rupiah, ternyata sudah dipraktekkan oleh supir bis dalam cara mereka sendiri.
Supir juga menjadi bodoh kalau banyak penumpang dilampu merah dia malah berhenti 400 meter kemudian dihalte. Memang anak istri mau dikasih makan apa, makan peraturan?
Bagi penumpang, menunggu angkutan dititik lampu merah merupakan favorit karena disitu biasanya angkutan melambat jadi ketahuan mana angkutan yang sudah penuh dan mana yang belum, jadi bisa milih gitu lho. Turun dititik yang yang pas juga menjadi kebutuhan karena cuaca panas yang tidak bersahabat di Jakarta ini. Hitung-hitung menghemat uang jajan es dimasa sulit dan penuh inflasi ini...mending dipakai buat nambah dana untuk beli tempe atau minyak tanah yang harganya terus melambung.
Bagi pengendara motor yang efisien, biang penyebab kemacetan selain bis dan angkot tentunya adalah mobil pribadi. Kenapa? Karena di Jakarta ini kalau dicermati pada jam sibuk, banyak sekali mobil-mobil yang dikendarai hanya oleh 1 orang saja padahal ukurannya sangat makan tempat karena umumnya dirancang untuk 4 – 8 penumpang. Motor menyelip menjadi wajar karena rasa kesal yang disebabkan oleh mobil tadi, sudah makan tempat masih coba menyerobot pula sehingga seringkali terlihat terjebak pada posisi miring dari lajur yang seharusnya, belum lagi betapa emisi yang demikian menyesakkan paru-paru dan membuat mata menjadi perih.
Bagi LSM dan kritikus, mestinya pemerintah menyediakan angkutan jalan yang bersih, aman dan nyaman serta pembangunan mesti berkonsep vertikal, bukan horizontal lagi karena lahan semakin terbatas. Tapi hal ini selalu di tanggapi dengan argumen atas nama budget. Lihat saja proyek monorail yang tiang-tiangnya mangkrak karena budgetnya cekak (kurang perhitungan atau dikorupsi?).
Nah saya sendiri masih kepikiran yang soal buang air besar tadi itu lho.
Apa ya kira-kira solusinya?
Posted by ndablek at 13:36:48 | Permanent Link | Comments (0) |

Aras-arasen


1 Februari 2008

Pagi ini sungguh istimewa.
Dengan mata berat saya melongok ke jendela ternyata hujan lebat, tapi ini hari kerja dimana pasti semua orang yang bekerja meskipun mengeluh akan tetap berjuang untuk masuk. Baik pakai motor atau mobil sama saja, di Jakarta ini semua tetap saja ada tidak enaknya masing-masing, apapun kondisi cuacanya.
Hal itulah yang sedikit memacu motivasi saya yang sedang malas ini untuk segera mandi dan berangkat, sepertinya sudah mirip ayam, baik hujan atau tidak hujan wajib mengumandangkan kokokannya. Ritmis.
Seperti biasanya pula Jakarta selalu menggenang dengan aspal terselimuti lumpur yang membuat pengendara harus ekstra hati-hati.

Dua persimpangan besar yang macet parah penuh amarah klakson akibat lampu traffic mati, berhasil saya lewati dengan sukses penuh kreativitas, yaitu mengajak orang untuk bergantian mengangkat motor keatas trotoar yang menjanjikan jalur bebas hambatan. Meskipun saya tahu ini salah namun ah...ini kan macet, hujan dan banjir maka seperti biasanya pula hukum yang terbiasa dilanggar akan semakin dilegalkan untuk dilanggar dan ketika yang melakukan berjumlah banyak (dianggap massa) maka saya yakin polisi juga tidak akan berani menegur apalagi menilang. Lha wong malah kadang mereka yang ngajari untuk melanggar dengan menyuruh jalan saat lampu masih merah.
Sampai dipertigaan terminal Pulo Gadung saya terpaksa menerima omelan dua orang wanita justru disaat mereka yang sembrono karena menyeberang dengan tiba-tiba, muncul dari balik angkot tanpa mencoba melihat keadaan sekitarnya. Kedua wanita ini menggunakan satu payung dan bergegas ingin keseberang dengan mengabaikan keselamatannya. Mungkin hujan telah mengacaukan konsentrasinya dan akhirnya saya harus kehilangan celana jas hujan akibat sobek saat kaki saya refleks menapak aspal mempertahankan keseimbangan bagai pendekar silat melewati danau.
Atau bisa jadi ini hanya karena kesalahan saya memaksa memakai waktu yang sama untuk melintas saat mereka memakai waktunya untuk menyeberang?

Namun cerita pagi ini belum berakhir disitu...saya melanjutkan perjalanan hingga setelah masuk gang Madura ban belakang bocor tertusuk paku hitam berkarat sementara tukang tambal ban yang biasa sudah membuka gerainya ternyata belum ada, mungkin masih nyaman mendengkur dibawah selimut yang sebenarnya juga saya idamkan disaat pagi hujan begini, suatu kemewahan yang dapat dinikmati tanpa harus menyewa kamar hotel nan mewah dan mencekik leher.
Emosi, saya luapkan dengan mengumpat segala kesialan hari ini apalagi baru dua hari sebelumnya saya mengganti ban motor saya karena bocor. Ironis memang, saat dingin dan hujan justru saya berpeluh karena harus mendorong motor sekitar 1 km menuju kantor. Pupus sudah harapan untuk masuk kantor tepat waktu hari ini, sia-sia sudah saya memacu motor dengan kecepatan tinggi dan mempertaruhkan keselamatan, sia-sia pula pelanggaran yang sudah dikreasikan dengan naik ke trotoar...semua menjadi tak berarti dan seketika itu saya tersadar kalau mengejar sesuatu dengan cara yang tidak tepat. Saya segera terdiam menyesali segala umpatan yang telah diluncurkan meskipun saya juga tidak yakin sepenuhnya apakah umpatan itu bisa ditarik kembali.

Waktu telah menjadi sedemikian pentingnya melebihi nyawa saya sendiri. Makna kehidupan mestinya adalah saat kita bisa memanfaatkan waktu yang kita miliki dan bukannya untuk dikuasai oleh waktu itu sendiri. Semestinya saya menguasai waktu dengan berangkat lebih awal.

Bersumber pada kemalasan ( Jawa: aras-arasen ) akibatnya waktu kerja pun menjadi lebih penting dari keselamatan, harga diri dan keluarga yang akan saya tinggalkan kalau saya sampai kehilangan nyawa.
Posted by ndablek at 13:35:57 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2