Selasa, Maret 18, 2008

Gendutmu Deritaku


Belum lama ini saya pulang dari Pekanbaru menuju Jakarta dengan menempati kursi di kelas ekonomi yang sempit. Seperti biasanya pula saat check ini selalu meminta untuk diberi posisi dekat window agar bisa menikmati pemandangan dari atas awan atau posisi dekat aisle supaya bisa lebih leluasa berinteraksi dengan pramugari..yah..minimal kepretan kecantikan dan wanginya parfum yang bersliweran sudah mampu menghilangkan kejenuhan selama perjalanan.
Nah kalau duduk ditengah saya enggan karena sangat tidak menguntungkan buat saya yang berbadan agak besar ini. Namun waktu itu saat dipesawat saya melihat bangku resmi saya telah dikudeta orang lain, sehingga ditengah antrian penumpang lain yang akan lewat saya putuskan untuk mengalah daripada lalu lintas terhambat. Apesnya, penumpang yang duduk disebelah saya berbadan gendut sekali (untung ga bau), akibatnya kami harus berebutan untuk sekedar mendapatkan sandaran tangan yang sebenarnya adalah jatah saya. Lha wong sakit gendutnya luberan perutnya saja bisa memakan ruang batas saya.
Bisa dibayangkan betapa perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit terasa sangat menyesakkan dan capek, karena tidak ada ruang bergerak, sementara niatan untuk pindah terpaksa saya urungkan karena ternyata tidak ada lagi seat yang kosong.
Yah..mau apa lagi? Komplain? Kepada siapa? Pasal berapa pelanggarannya?
Tidak mungkin saya mengusirnya karena penumpang gendut ini juga membayar, sementara saya malah dibayari perusahaan tempat saya kerja.
Orang ini juga tidak bersalah karena mungkin waktu itu bagian reservasi/ticketing tidak menyuruhnya membeli kursi kelas bisnis yang lebih lega yang lebih cocok buat dimensi sebesar dia.

Ternyata terkadang meskipun yang kita kerjakan seolah tidak merugikan orang lain (karena dianggap hanya pengaruh ke diri sendiri) nyatanya bisa menimbulkan masalah dan menyiksa orang lain. Kalau dicerna-cerna lagi ya ujung-ujungnya ego, kenapa juga dia seenaknya sendiri makan banyak-banyak?
Namun hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya, bahwa semua hal yang kita lakukan memiliki efek ke orang lain, tidak hanya diri sendiri.
 Contoh:
- Kalau makan banyak dan enak dengan alasan toh kan tidak merugikan orang lain, tapi kalau meninggal gara-gara kolesterol atau obesitas kan ujung-ujungnya menyakiti keluarga yang ditinggalkan juga.
- Kalau kita punya event besar kemudian menyewa jasa pawang hujan, sebenarnya meskipun seolah tidak merugikan orang lain karena demi kepentingan bisnis tapi sebenarnya kita sedang memaksakan kehendak ke orang lain. Bisa jadi sebenarnya ada orang yang sangat membutuhkan hujan (misal kebakaran) justru disaat pawang yang kita sewa mengusirnya.
- Kalau kita malas menggunakan parfum dengan alasan 'PeDe aja lagi' bisa jadi berpotensi merugikan orang lain yang kebetulan 'wind angle' nya tidak pas...terpaksa menghirup udara yang sebelumnya telah mengalir diantara celah-celah ketiak kita.
- Terus kalau kita menyuruh anak kita untuk banyak mengikuti les pelajaran demi alasan agar cepat pintar, lebih maju, bagus untuk perkembangan wawasan dan keilmuannya, mungkin sebenarnya kita juga sedang memaksakan nilai ego kita sendiri dimata sejawat alih-alih ingin anak kita bahagia.
- Demikian juga saya saat bekerja, selalu didoktrin bagaimana mengalahkan kompetitor "Kill...(merk)" padahal tentunya dibelakang merk tersebut banyak terdapat rantai nafkah yang jika merk kompetitor ini dimatikan atau diganggu pertumbuhannya dengan sengaja, berarti saya juga telah ikut andil dalam memutus rantai nafkah yang sudah pasti menjadi tumpuan banyak orang didalamnya. Padahal tiap hari selalu memohon agar diberi rejeki yang halal, pamit pada keluarga dengan penuh kemesraan karena ingin bekerja mencari nafkah, bercita-cita hidup mulia bersama keluarga..nyatanya tanpa disadari nafkah itu didapat dari usaha-usaha menumbangkan kompetitor yang dianggap mengganggu pertumbuhan bisnis yang senyatanya juga bukan milik saya. Ambisi manajemen (yang juga bukan pemilik) untuk menjadi bisnis yang paling super dan paling hebat telah menjadi wajar dalam konteks dagang meskipun berpotensi mengorbankan irama kehidupan ratusan ribu bahkan jutaan orang.  

Nah, setelah pengalaman ini saya jadi ingin meneliti lagi, menelisik lebih dalam...jangan-jangan dalam kegiatan maupun kebiasaan reguler sehari-hari, saya telah merugikan dan terlalu jauh mengambil ruang kenyamanan orang lain, meskipun secara tidak langsung.
Semoga saja tidak.. dan kalaupun iya, ampunilah aku ya Gusti untuk segala kenaifan ini!

Posted by ndablek at 14:00:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Maret 13, 2008

Profesi Mengemis


Kegagalan saya mengatur jam kerja sering membuat saya harus pulang malam setelah biasanya siang hari menjalani serangkaian meeting..dan meeting. Masalahnya kalau pimpinan meeting, ya memang itu seharusnya yang dikerjakan, mikir garis besar haluan perusahaan. Kalau selesai meeting ya sudah selesai pula kerjanya. Tapi kalau orang seperti saya ini meeting ya berarti ada pekerjaan yang harus ditunda dulu dan ada serangkaian pekerjaan baru tambahan hasil keputusan meeting.
Terima deh, saya terima kok, namanya juga masih karyawan bawahan, belajar rajin, menekuni dan sabar untuk bekal dikemudian hari. Karena kerja diperusahaan bukan nilainya yang penting tapi pembelajaran etika dan belajar dewasa, itu yang lebih penting buat saya yang masih hijau ini.
Sebagai manusia, saya merasa harus bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri dan keluarga, jadi bisa tidak bisa, mau tidak mau harus berprinsip Hidup adalah Perjuangan.

Malam ini seperti biasanya saya sempatkan sekalian makan, tujuannya kali ini ke sebuah warung makan Padang masih disekitar Sunter. Enak sih meskipun interiornya tak semegah RM Sederhana. Warung ini namanya Salero Bundo, meskipun saya tidak mania masakan Padang tapi harus saya akui secara subyektif bahwa rasa masakan Padang terbaik cuma saya temukan disana, terutama untuk kikil dan sambel terinya.
Saya mengambil best view dengan posisi duduk menghadap ke jalan ketika tiba-tiba saya terhenyak oleh seorang ibu tua berbaju kumal yang sepertinya memelototi tapi kemudian tersenyum sendiri sambil entah bicara apa, samar-samar terdengar. Sempat awalnya saya kira orang gila namun belakangan saya sadari ternyata dia adalah seorang pengemis saat sebuah kecrekan dari tutup botol bekas dia keluarkan dari tasnya. Lirik dan nadanya sumbang, demikian pula artikulasinya.
Ibu ini tidak saya beri uang karena saya pikir dia malas bekerja, ngamen saja tampaknya tidak niat begitu, demikian pikir saya, lagipula sebenarnya ada si pemilik warung yang sudah siap dengan recehan ditangan. Saya juga kepikiran kalau saya memberi uang berarti saya telah mensukseskan profesi ’ngemis’ yang identik dengan kemalasan bekerja, ini karena saya prihatin semakin banyak pengamen yang terlihat dijalanan maupun kampung-kampung...berarti pula saya membiarkan orang terjebak dalam kemalasannya.
Jurus saktinya hanya dengan wajah memelas dan kumal, membawa kecrekan tanpa senandung yang enak didengar, bahkan kalau tidak diberi uang malah mengumpat. Beda dengan Pengemis Sakti yang diceritakan di sandiwara radio Saur Sepuh yang justru sakti betulan.

Paling risih lagi kalau ada pengemis didepan gereja dan tempat ibadah lainnya, kok ya ngepasin jam bubaran kebaktian baru 'ndeprok' dekat pintu. Mereka paling tahu kotbah ditempat ibadah pasti dihimbau untuk mempraktekkan kasih terhadap sesama, dan mereka tahu mereka bisa memanfaatkan ajaran tsb untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa bekerja. Tidak mungkin 20% saja orang dari gereja tidak memberi, berarti kalau umat ada 1000 paling tidak 200 orang dikali Rp 100 s.d 5.000,- sudah masuk kekantong mereka, sementara tidak mungkin juga satpam mengusirnya, mungkin itu yang mereka pikirkan, dan memang selama ini selalu begitu.

Dididik oleh Satpol PP saja sulit, jadi dengan diberi uang makin malaslah mereka. Bahkan menurut investigasi media, seorang pengemis di Jakarta dalam sehari sanggup mengumpulkan Rp 40 – 60 ribu yang berarti menyamai bahkan mungkin melebihi gaji seorang fresh graduate tingkat Diploma.

Saya pernah melihat Oprah Show yang bereksperimen dengan memberi uang kejutan kepada seorang tunawisma di Amerika sana sejumlah USD 100.000 (setara Rp 900 juta). Ternyata tunawisma tersebut kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 6 bulan setelah menghambur-hamburkan uang tersebut dengan menyewa apartemen mahal, beli mobil SUV mewah, menikah, pesta pora dengan kumpulan kawan tunawismanya dan mabuk-mabukan. Sepertinya kaget secara mental sehingga tidak bisa berpikir jernih, uang tersebut seharusnya bisa dipakai sebagai dana abadi ataupun modal usaha kecil-kecilan tapi malah dihabiskan begitu saja. Saat diwawancara ia pun berkata tidak pernah terpikir akan hari esok mau seperti apa, mimpinya telah mati karena sudah terlalu lama menggelandang..

Memang saya masih pilih-pilih, untuk pengamen yang sopan, tidak memaksa serta bisa menyanyikan lagu dengan bagus selalu saya beri uang agak lebih karena saya anggap lebih profesional. Namun untuk tipe seperti ibu ini saya malas memberi karena saya anggap bukan pengamen melainkan pengemis.

Setelah menerima uang recehan ibu ini tidak segera beranjak, namun kali ini saya dengar dia berkata keras-keras mendoakan supaya si pemberi diberkati, diberi keselamatan dan rejeki yang lancar...baru kemudian berlalu sambil berjalan perlahan.
Namun saya kaget ketika mengetahui bahwa ibu tua ini meraba-raba sekitarnya, ternyata dia buta dan bukan gila seperi bayangan pertama saya tadi, jadi berarti tadi dia tersenyum mungkin berdasarkan insting terhadap suara sendok dan piring yang beradu.
Omongan yang tidak jelas dan pelan tadi mungkin sebenarnya adalah sapaan hormat terhadap orang yang dia harapkan akan memberikan kemurahan hati melalui sekedar kepingan uang receh.
Pelototan tadi mungkin adalah keinginannya memastikan setelah ada setitik cahaya redup dari etalase warung yang masuk ke lensa matanya.
Kelu lidah saya, tertegun, termangu seperti kehilangan setengah kesadaran. Menyesal sekali saya tidak mendapatkan berkat yang mengalir dari mulutnya, padahal saya selalu diajari untuk bersikap baik terhadap kaum papa dan terpinggirkan karena disana sebenarnya Tuhan ada untuk melihat sikap kita.
Namun ketertegunan (dan sedikit kemunafikan) membuat saya berat langkah untuk mengejar ibu itu dan memberinya uang, saya gengsi mengingat tidak sedari awal memberi. Saya bingung bagaimana harus bersikap, seolah sudah kadung.

Sampai saat ini, jujur saja masih menjadi dilema, batin bergejolak tiap kali melihat pengemis apalagi yang sudah renta atau malah yang masih kanak-kanak di tiap traffic light.
Campur aduk rasanya:
-         ada rasa marah, terhadap keluarga yang telah menelantarkannya,
-         ada rasa jengkel, karena kemalasan telah membuat mereka mencari jalan pintas bahkan seringkali menjadi profesi paling instan
-         ada rasa iba, karena bisa jadi memang kehidupan tidak berpihak kepada mereka
-         ada rasa bersalah, kalau memberi berarti membiasakan mereka mengemis
-         ada rasa berdosa, kalau tidak membantu sesama yang kesusahan
-         ada rasa ingin membantu pemerintah dalam mewujudkan kota yang bebas dari kaum ini 
-         ada rasa takut, kalau uang itu akan dipakai sembarangan, bahkan mungkin untuk judi atau beli miras atau nge-lem

Terlalu ingin sempurna malah jadi terlalu banyak yang dipertimbangkan, akhirnya malah no action.
Bukankah kita seringkali begitu juga?

Pemerintah sepertinya juga tidak serius mengentaskan masalah ini di Indonesia apalagi ditahun Visit Indonesia Year 2008 ini sudah semestinya wisatawan mendapat pemandangan yang indah, bukan pemandangan kemiskinan dan keterpinggiran.
Mungkin sebaiknya UUD 45 ps 34 ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” direvisi saja menjadi ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar diperangi oleh negara” , karena apapun yang dipelihara kalau berupa barang ya akan tetap awet, bahkan kalau yang dipelihara berupa makhluk hidup justru akan berkembang biak dan bertambah banyak.

Heeuuhhh....
Posted by ndablek at 14:48:13 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Maret 06, 2008

Terlalu Pongah


Kalau anda doyan melihat tv seperti saya, pasti tidak bisa lepas dari yang namanya teks. Maklum kalau saya sih kemampuan Inggris masih cethek alias dangkal , tidak sehebat VJ MTV yang cas cis cus dan was wis wus tanpa perlu ekstra muncrat. 
Nah tahun-tahun belakangan ini teks pada film-film berbahasa asing terasa agak mengganjal, karena banyak serapan baru yang masih belum saya mengerti.
Misalnya band jadi 'ben', cake jadi 'keik', fashion jadi 'fesyen'  dll. Saya sih tidak tahu resmi/tidaknya, tapi kalau dipakai ditelevisi nasional ya mestinya resmi. Cuma yang mengganjal benak saya adalah kenapa semakin banyak dan mesti mirip ya? Kok tidak sekalian cake jadi 'kue', band jadi 'orkes', fashion jadi 'persandangan' kan lebih orisinil Indonesia :)
Yang saya kuatirkan sebenarnya adalah anak sekolah malah jadi bingung, misalnya suatu saat hidup diluar negeri/ harus menulis dalam bahasa Inggris bisa-bisa menjadi ragu atau malah tertukar dengan serapan tadi.
Mbok ya wis ya tetap pakai bahasa aslinya saja, jadi ndak mbingungke.

Maklumlah, saya ini mungkin salah satu orang yang berpikiran keluar jalur pakem.
Bagi saya biarlah English is English, bahasa Indonesia tetap bahasa Indonesia . Memakainya tinggal dikombinasi saja tanpa perlu diserap-serap daripada membingungkan. Perlu diingat sekarang ini telah masuk era globalisasi, perdagangan bebas dan era persaingan bebas tenaga kerja. Kita tidak bisa lagi selalu berpikiran bahwa milik bangsa ini yang terhebat sehingga seringkali malah terjebak dalam kekaguman berlebihan dan akhirnya menjerumuskan. Sehingga penguasaan kosa kata kita akan semakin kaya didunia perdagangan bebas ini.
Kalau dalam persaingan kerja yang dibutuhkan adalah bahasa Inggris ya mestinya lebih ditonjolkan. Kalau dalam trading kawasan Asia lebih dominan Mandarin ya sebaiknya dipelajari dengan baik.
Kalau bahasa daerah tidak ingin mati ya sebaiknya dibudayakan, tapi tidak perlu lah dinomorsatukan. Seperti suku dipedalaman Papua, memang dilematis, antara mengkonversi budaya atau mengarahkan mereka pada peradaban modern. Tapi menurut saya lebih prioritas yang kedua daripada tetap membiarkan mereka menggunakan koteka dan hidup dari memanah hewan. Tega amat sih kita selama ini...demi kebanggaan yang dipamer-pamerkan...rela mengorbankan harkat makhluk lain yang sejenis.

Entah kenapa budaya mengunggulkan diri (arogan tapi kosong) selalu melekat di diri setiap manusia Indonesia. Mari tengok Visit Indonesia Year yang terlalu berani mengundang wisatawan tapi persiapan untuk kenyamanan wisata tidak juga dibenahi.
Ini buktinya:
- Saya masih sering susah cari tempat sampah diruang publik
- Jalan dan sungai cenderung kotor penuh sampah
- Belum semua restoran memenuhi standar kesehatan, dan belum semua memasang harga yang transparan, umumnya setelah dikasir
- Transportasi umum masih jelek, kotor, penuh sesak dan rawan copet
- Vandalisme dan grafity liar masih merajalela
- Pungli masih berkembang subur
- Bandara masih kebanjiran
- Pengamen dan pengemis masih banyak di perempatan-perempatan jalan
- dan seabrek kecarut marutan tata kota, dll
Lha ini kok ujug-ujug sudah promosi keluar negeri, padahal belum siap.
Mestinya juga pemerintah berbenah dengan sarana umum lainnya seperti money changer dan peta kota ditiap terminal/stasiun/bandara/pelabuhan dengan jelas.
Bila perlu untuk kawasan wisata seluruh informasi keunikan/keunggulan obyek, nama jalan dan rambu disajikan dalam bahasa Inggris sehingga wisatawan tidak perlu takut bingung/tersesat. Harus diakui bahasa Indonesia tidak sepopuler bahasa Inggris sehingga mestinya kita lebih mengedepankan tamu asing tersebut selaku konsumen produk wisata Indonesia. Beda dengan Jerman, Jepang ataupun Cina, mereka ya sah-sah saja ngotot pakai bahasa asli karena keunggulan mereka akhirnya harus diakui oleh dunia internasional, tanpa belajar Inggrispun mereka tidak akan kalah bersaing didunia internasional, lha kalau bangsa ini?
Mestinya ya Dinas Pariwisata itu belajar marketing, supaya nanti tidak mengecewakan orang asing yang terlanjur datang, bagaimanapun mereka adalah konsumen dan akhirnya menjadi duta wisata Indonesia di negerinya.

Sebetulnya tulisan ini lebih ingin saya giring ke tema ”Terlalu pongah”. Kenapa?
- Karena hal itu pula banyak orang meremehkan orang lain yang dianggap lebih rendah atau lebih muda atau lebih miskin.
- Karena hal itu pula bangsa ini terjebak pada keterbelakangan karena selalu merasa ideologinya yang terbaik.
- Karena itu pula banyak orang menjadi sangat miskin karena fasilitas yang menjadi haknya dikorupsi pejabat yang merasa lebih berhak, tak peduli seberapa besar variabilitas pajak orang kaya tapi yang disalurkan ya segitu-gitu saja..itupun dengan catatan ’kalau disalurkan’.
- Karena hal itu pula ada ras yang mengaku lebih tinggi dan mencap ras lain lebih rendah.
- Karena itu ada agama dipertentangkan
- Karena hal itu pula banyak bangsa yang menginvasi bangsa lain karena merasa lebih berhak atas kendali negara yang lebih terbelakang...sudah gitu korban yang ditonjolkan cuma wanita dan anak-anak lagi (kasihan deh kaum pria hehehe...)
Bayangkan kalau semua berpikir kita adalah satu bangsa - bangsa manusia, One Nation Under God...seperti lirik White Lion...pasti tidak ada yang merasa lebih baik dari yang lain, dan tidak ada lagi permusuhan atau perebutan wilayah, karena yang dianggap musuh mungkin hanya alien dari Galaksi Phyteronisactyxz NZ-9.

Nah yang kocak lagi nih, sekarang malah telah terejawantah juga lho di acara televisi, Global TV terjebak oleh ’Happy Show’ yang saya rasa masuk pada kategori tsb. Menertawakan orang asing yang tentu saja minim dalam pengetahuan dan keterampilan berbahasa daerah Indonesia. Kok ya ada-ada saja, kita sudah latah audisi-audisian yang versi aslinya untuk cari bakat tapi di Indonesia jadi wadah mencela dan guyonan saja, eh sekarang kita lebih senang menertawakan kelemahan dan kesalahan orang lain yang disengaja.
Bukannya menertawakan kelemahan sendiri sehingga bisa bangkit dari keterpurukan ini.
Hahaha.... mari kita tertawakan diri sendiri..
Hahaha....
Hahaha...uhuk huekkk..huek...keselak aku..
Posted by ndablek at 12:15:15 | Permanent Link | Comments (0) |