Selasa, April 29, 2008

Guling Buluk



Kala badan terasa lelah dan mata mulai mengantuk, pastilah dengan beringas saya akan mencari tilam peraduan, alias kasur untuk merebahkan diri. Nah, kenapa istilahnya ’peraduan’ itu saya juga ndak begitu mengerti, tapi kalau dari tafsiran bebas saya sih karena mungkin dulu belum ada kasur apalagi spring bed yang mental-mentul nyamleng tenan itu. Jadi bingung deh orang yang akan menyebutnya waktu itu, ini..itu..anu..wah kok angel tenan, ya wis peraduan sajalah. Soalnya kan sering dijadikan ajang eksekusi surat (nikah) dan mengadu kesaktian urat (syahwat)
J


Kasur tidak akan lengkap kalau tidak ditemani 2 kawan karibnya yaitu bantal dan guling. Bantal jelas buat menyangga kepala, kalau guling selain buat ajang tampungan iler, umumnya dipakai buat benda pelukan karena sifat dasar manusia senang dengan memeluk, ngunyel-unyel dan lain sebagainya. Nah hal ini juga yang sering bikin saya tidak puas kalau tidur dihotel berbintang, karena kualitas tidur saya mestinya jadi berkurang akibat ketiadaan benda panjang nan empuk ini. Terlalu beresiko kali ya kalau menyediakan guling karena orang cenderung tidur miring, akibatnya ngiler hehe...

Atau takut guling dimanfaatkan untuk hal lain? Hmm...bisa jadi..


Bahan guling sendiri macem-macem, ada yang diisi gulungan spon, ada yang diisi kapuk randu, bulu ketek..eh..bulu angsa, bahkan butiran-butiran semacam stereofoam. Harganyapun bervariasi dari yang termurah beli di Carrefour 19ribuan sampai yang ratusan ribu ada juga.


Uniknya, istri saya sering komplain akibat kesukaan saya sama guling buluk saya karena dibilang jeleklah, joroklah, ga matching dengan sprei lah dll, namun semakin dikomplain maka semakin pula saya pertahankan. Entah kenapa guling ini terlalu berharga untuk ditukar dengan yang baru. Sarungnyapun termasuk jarang dicuci, baru sah kalau sudah lewat tiga mingguan, kalaupun dicuci pasti akan langsung dipakai lagi hehe...
Dan karena selama ini saya tidak merasakan gangguan pernafasan, jadi mestinya tidak perlu dikuatirkan.


Yang saya tahu guling ini nyaman sekali karena empuk dan dingin, sedikit peyot dan ada bau khas disitu, parfum campur keringat campur sedikit kelembaban kali. Kadang saya sampai sedikit komplain kalau kebetulan pulang ke rumah menemui istri telah mengganti sarungnya.


Aneh? Yah tidak tahulah, yang pasti soal iler saya berani sumpah belum setitik pun saya torehkan disana. Bau wangi cucian baru kadang malah membuat saya merasa asing dengan sesuatu pada guling yang ’sangat intim’ ini. Ternyata tidak semua yang dianggap buduk adalah tidak berharga, maka mungkin ada hal-hal lain dikehidupan ini yang sepertinya sudah tidak pantas, perlu kita singkirkan, kita tukar dengan yang baru, atau kita cibir justru ternyata masih berharga buat orang lain meskipun dengan caranya sendiri.


Tinggal mau pakai sudut pandang yang mana. Saya harap dengan menjaga semaksimal mungkin kebersihannya (versi saya), istri saya tidak terganggu.


Mungkinkah anda mengalami hal yang sama?
Posted by ndablek at 15:25:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, April 28, 2008

Beli film Kawin Kontrak

Didaerah Jawa Barat, disalah satu kota (sebut saja kota X) populer dengan fenomena kawin kontrak, dimana didesa tersebut sudah jamak ketika masyarakat ’menjual’ anak gadisnya untuk dikawini secara siri selama jangka waktu tertentu. Umumnya pelanggannya adalah expatriat dari Arab dan orang Jepang/Korea, demikian yang saya tahu dari media.


Nah ketika jalan-jalan kemarin di salah satu pusat perbelanjaan saya melihat ada film Indonesia berjudul ’Kawin Kontrak’ maka bayangan saya adalah dengan menonton film tersebut maka wacana tersebut menjadi semakin jelas dibenak saya, meskipun saya sadar pasti telah dimodifikasi menjadi komoditas film dengan bumbu disana sini. Maka sayapun segera membelinya dan menontonnya di rumah.

Wheladalah.....   ternyata isinya bukan mengulas fenomena ’Kawin Kontrak’ dan hikmah apa yang bisa diambil dari sana, namun lebih pada membangun cerita dengan plot yang tidak jauh dari remaja yang mencari dan ingin menikmati kawin kontrak demi seks. Tidak apa-apa juga sih, namun ada yang mengganjal dibenak saya.

Pertama mengenai seks bebas yang diawal-awal cerita digambarkan ada sebuah pengajian dimana sang ustadz mewanti-wanti agar remaja tidak terjebak ke hubungan seks sebelum menikah. Nah ternyata dipelintir oleh remaja tadi dengan mengupayakan nikah siri supaya mereka bebas merasakan seks. Mulai dari mencari pasangan sesuai selera masing-masing, penggambaran sex appeal dan hubungan seks yang seronok hingga seolah semuanya digambarkan dari sudut yang sah, bisa ditertawakan dan tidak menyalahi kaidah nilai yang berlaku.


Sebenarnya yang saya kuatirkan adalah tema film maupun infotainment di Indonesia kini seolah tidak lagi memfilter apa yang sekiranya berefek negatif dan mana yang membangun moral. Karena sesuatu yang tabu dan selama ini dianggap negatif jika disajikan terus-menerus lama kelamaan akan dirasakan sebagai kewajaran oleh pemirsanya.


Mulai soal tema film sex bebas, tema horor dan kekerasan sampai infotainment tentang selebriti yang tersangkut narkoba menurut saya kok membahayakan generasi mendatang. Bukan apa-apa, tapi dijaman saya remaja yang akses informasinya tidak semudah dan seprovokatif sekarang saja banyak terjadi pelanggaran termasuk yang pernah saya lakukan, apalagi kalau diulas sebagai sesuatu yang ’modern’, ’gaul’? Mestinya selebriti yang masuk penjara juga tidak ditampilkan sebagai public figur karena fakta negatif bisa menjadi bias oleh simpati yang sengaja diciptakan televisi.


Dalam program acara disalah satu stasiun tv juga digambarkan bagaimana riuh dan serunya kehidupan malam,  dugem dan segala party yang divisualisasikan sebagai sesuatu yang gaul, asyik, hot dan jaman sekarang banget denga baju minim, keringat, rokok dan alkohol. Bahkan iklannya didominasi iklan kondom, belum lagi tag line yang selalu disebut oleh Host adalah ’Stay away from drug and  keep safe’ yang bisa saya konotasikan dengan jauhi narkoba dan pakai kondom saat having sex. Kenapa anjurannya bukannya jauhi seks bebas tapi ber-seks lah secara aman? Ini yang menjadi aneh buat saya yang sok moralis ini. Memang fenomena ini pasti ada dimasyarakat namun dengan mengangkatnya, maka seolah menjadi sesuatu yang dilegalkan secara norma.


Begitu pula ditayangan sinetron Indonesia gampang sekali ditemukan orang yang bermimik culas sedemikian rupa merencanakan sesuatu yang sangat jahat, apa nanti penonton tidak terpengaruh? Sebenarnya sejauh mana tanggungjawab dari si pembuat tayangan tsb? Apakah hanya berorientasi untung semata tanpa mengindahkan tanggungjawab moral?


Mau dibawa kemana ya moral bangsa ini? Duh..betapa memprihatinkan.
Posted by ndablek at 10:01:49 | Permanent Link | Comments (0) |

Roti Tawar

Yah, roti tawar.. makanan sederhana peninggalan penjajah Eropa ini (namun penting buat orang seperti saya) belakangan populer diantara teman kantor saya, termasuk saya yang memang suka menyantapnya. Biasanya hanya dipakai buat sarapan pagi atau cemilan sore ditemani segelas teh Gopek atau kopi Nescafe instan hangat di istana pagupon saya.
Eh ternyata setelah dibawa ke kantor oleh seorang rekan, ternyata banyak yang menyambut positif. Senang rasanya mengetahui bahwa ternyata bukan hanya saya yang menyukainya, maklum sekarang jamannya roti abon Bread Talk dan donat J-Co...yang bukannya sombong, tapi justru saya kurang suka karena aroma wanginya yang sangat menyengat..kalau disuruh milih ya saya lebih pilih singkong goreng bawang putih...sedap dan pas banget disantap saat sore, apalagi disantapnya di serambi rumah dan diwarnai aroma tanah yang basah oleh air hujan.
Wah nikmat banget khas masa kecilku. Selain itu, ya alasan ekonomi aja sih saya suka roti tawar, harganya cukup bersahabat dengan kantong saya, apalagi beli sebungkus saja (Rp 6-7ribuan) bisa buat tiga hari sebelum basi di hari keempat. Nulis ini saja sambil makan roti tawar hehe..

Intermezzo nih terkait soal singkong tadi, didaerah Wonogiri yang terkenal gersang dan kering orang sudah tahu bahwa daerah itu populer dengan gaplek, yaitu sejenis makanan dari ubi kayu yang dikeringkan. Wis pokoknya, fresh-nya saja masuk kategori makanan kelas rendah, paling mewah ya cuma digoreng atau dibuat sawut ataupun getuk. Apalagi yang dikeringkan, gengsinya jelas tidak lebih tinggi dari nasi aking khas Pantura, dan jelas kalah sama intip gula aren pasar Gedhe. Yang menarik, orang mengenal singkong sebagai tanaman asli Indonesia..tapi benarkah?

Beberapa waktu yang lalu saya browsing internet dan menemukan suatu artikel, disana dijelaskan sejarah singkong ini yang ternyata merupakan tanaman asli Amerika Selatan, dibawa oleh penjajah Portugis sejak abad 16 namun baru sukses dibudidayakan dan dikomersilkan oleh Belanda tahun 1810 di Indonesia. Menarik ya, padahal kalau di film legenda atau jaman kerajaan-kerajaan kebun singkong sering dijadikan setting..lhah berarti sineas Indonesia kurang ekslorasi dong
J, kan duluan kerajaan itu daripada kebun singkongnya.

Saya tidak akan bahas lebih jauh sih, karena ingin kembali ke soal roti tawar.
Filosofi roti tawar ini adalah meskipun dia tawar (dan sangat murah) namun dia selalu siap dikombinasi dengan berbagai rasa selai, mentega, meses, susu kental, es krim, keju hingga telur dan sayur sehingga menjadi roti sandwich yang mengenyangkan dan memberi energi buat siapapun yang memakannya. Yah, justru dengan ketawarannya (baca : ke-minimalis-annya) roti ini bebas berbaur dengan makanan lain. Bagian roti yang besar bahkan seringkali dilupakan orang yang memakannya karena orang justru cenderung memperhatikan isinya.

Filosofi ini hampir mirip dengan air putih murni yang ditakdirkan tidak memiliki warna, rasa dan bau namun jika diminum bisa sangat memberi kesegaran, dan air putih ini juga siap untuk tidak eksis lagi ketika ia dicampur dengan teh, sirup, susu, kopi ataupun jahe. Orang tidak lagi menyebutnya, hanya materi pengisinya saja yang diperhatikan orang dan dipesan. Saya membayangkan seandainya roti tawar dan air putih ini bisa merasakan tentunya ia akan merasa sedih karena selalu dilupakan penikmatnya saat disandingkan dengan materi yang lain. Padahal tentunya tidak enak minum kopi, teh, susu, jahe dsbnya tanpa dicampur air putih lebih dulu. Demikian juga sangat tidak enak kalau makan selai tanpa roti, makan meses saja atau mentega saja..pasti eneg.

Namun seperti bumi yang rela segala sesuatu tumbuh dan berkembang dengan mengisap, menyedot, menginjak bahkan mengotorinya, tanpa harap pamrih, roti tawar dan air putih adalah dua materi yang rela dilupakan meskipun telah berjasa besar dan mengorbankan eksistensinya sendiri demi eksistensi materi lain.

Dari filosofi diatas, tanpa bermaksud menyinggung orang yang memperjuangkan ’nilai diri’ nya, mengingatkan saya untuk belajar dari roti tawar dan air putih. Betapa seringkali kita lebih mengutamakan eksistensi kita, selalu ingin bersaing dan tampil menjadi yang dipandang orang, disebut orang, diingat orang, dipuji orang.

Sebenarnya lebih baik bagi kita untuk tidak tampil namun bisa memberikan kebaikan kita kepada orang lain, sedapat mungkin biarkan orang lain saja yang mendapatkan eksistensinya. Pesan saya, hati-hati karena eksistensi yang diburu manusia dekat dengan ambisi dan arogansi. Jadi cukuplah buat saya sebagai manusia lebih memilih menemukan esensi kehidupan...meskipun nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan, karena seringkali masih saja mudah terjebak ke arah eksistensi.

Jadi sementara ini saya habiskan dulu sajalah roti tawar ini..
Posted by ndablek at 08:52:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, April 23, 2008

Cekak syukur



Sejak akhir tahun hingga awal April ini seringkali saya mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan ketika bepergian dengan pesawat, apalagi malam hari. Yah, memang musimnya sedang banyak angin dan awan tebal sehingga didalam pesawat sering terasa ajrut-ajrutan. Kalau didarat kita masih bisa sadar bahwa tidak mungkin akan jatuh lebih dari 2 meter, tapi kalau diudara membayangkannya saja saya sudah ngeri. Paling sebal (bercampur takut sebenarnya) kalau saat pilot menurunkan ketinggian jelajah dengan terpaksa pesawat menembus awan tebal dibawahnya, yang berarti adrenalin akan dipacu, sport jantungpun dimulai. Takut pesawat akan kehilangan keseimbangan, takut badan pesawat pecah karena terguncang-guncang dan takut tersambar petir. Kalaupun yakin 1000% bahwa pesawat aman, tetap saja nggak ikhlas rasanya jantung ini dibuat dag dig dug dan berdesir-desir akibat kevakuuman udara..sumpah saya jadi manusia paling penakut sedunia. Apalagi saya pernah mengalami guncangan yang sangat ekstrim saat terbang malam dari Jogja menuju Jakarta sampai seruangan pesawat riuh oleh teriakan takut maupun teriakan doa. Pernah pula saat terbang dari Batam dan sudah mendekat kedaratan Pekanbaru tiba-tiba pesawat dipacu lagi untuk terbang tinggi lagi, beberapa kali terdengar suara hentakan seperti suara roda yang hendak dikeluarkan.Dugaan saya ada roda yang tidak mau keluar sehingga sepertinya pilot berulang kali mencoba, namun kali ini semua terdiam tanpa suara, tidak juga pilot atau crew yang menjelaskan kondisi sebenarnya.

Kalau dilaut saya juga pernah mengalaminya saat menumpang semacam jetfoil dari pulau Belitung menuju pulau Bangka. Dari 4,5 jam perjalanan sekitar 2,5 jam terombang ambing dilaut karena ombak yang sangat tinggi, saking ekstrimnya waktu melihat jendela sering bukan cakrawala yang terlihat tapi semua full biru air laut, suara badan kapal yang dihantam ombakpun sudah mengerikan, seperti ember pecah. Kalau sampai kapal terburai, jangankan untuk berenang wong kepala ini sudah pusing sekali, perutpun mual luar biasa. Rasanya hidup dan mati benar-benar sangat tipis, hanya karena kemurahan Gusti Pangeran saja kita bisa hidup. Betapa kita diingatkan untuk menghargai hidup dan memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik untuk memberikan kebahagiaan kepada orang tua dan keluarga. Sepertinya masih banyak hutang yang belum kita lunasi pada keluarga. Hidup yang sesaat sepertinya normal bisa saja terenggut sewaktu-waktu.

Namun ternyata ada yang tidak berpikir demikian. Saya prihatin melihat di televisi, disalah satu kota di Indonesia terjadi peristiwa mengenaskan tentang ibu dan anak yang meninggal akibat menenggak racun. Ceritanya si anak ini putus asa akibat tidak memiliki pekerjaan sehingga nekad bunuh diri dengan minum apotas yang dicampur air putih. Sang ibu yang mengetahui anaknya telah kaku sangat kaget sehingga oleh adik korban diberikan air minum supaya lebih tenang. Malang benar, ternyata air putih yang disambar ternyata adalah sisa racun yang dipakai untuk bunuh diri si korban. Sang ibu pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya menyusul anaknya. Tragis.
Saya heran, kenapa anak ini begitu putus asanya mengakhiri hidup yang sudah diberikan oleh Sang Khalik hanya karena masalah pekerjaan. Mungkin bukan masalah finansial saja, melainkan mungkin ada rasa gengsi / malu luar biasa yang menghinggapi sehingga ia nekad bunuh diri...termasuk secara tidak sengaja ikut membunuh ibunya sendiri.
Sering juga saya dengar berita mengenai anak sekolah yang bunuh diri karena malu uang SPPnya menunggak, karena putus cinta, tidak naik kelas dll.
Kenapa ya hidup ini tidak disyukuri, begitu murahkah hidup ini? Apakah kita sebangsa kucing yang punya sembilan nyawa? Buang satu sisa delapan? Coba tengok burung yang tidak pernah putus asa meskipun ia tidak bekerja, demikian pula cicak yang tidak pernah mengeluh karena harus memangsa nyamuk yang bisa terbang kesana kemari sementara ia cuma bisa merayap. Rasanya tidak ada cerita cicak yang membenamkan diri ke air kolam atau burung yang dengan sengaja membenturkan kepalanya ke dinding karena putus asa menghadapi hidupnya yang keras. Padahal kalau dipikir-pikir bisa jadi dalam 1 hari atau lebih hewan tsb tidak bisa mengisi perutnya sama sekali.
Manusia yang diciptakan tidak saja dengan naluri namun juga dilengkapi akal budi, tentunya lebih bisa berpikir jernih. So guys, marilah kita jujur pada diri sendiri, tidak perlu menjadi yang bukan diri kita, tidak perlu mengutamakan eksistensi, tidak perlu muram memandang keberadaan kita, dan belajar menerima - mensyukuri hal sederhana yang kita miliki sekecil apapun itu. Hidup ini ’mung mampir ngombe’  alias sangat singkat dibandingkan tuntutan kebutuhan duniawi yang tidak ada puasnya. Lebih baik tersenyum, tetap berusaha mencari jalan keluar dan meyakini untuk semua masalah pasti ada solusinya.

Salam

Posted by ndablek at 15:35:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, April 11, 2008

MP3 playerku, lorong bahagiaku





Malam ini saya merasa begitu damai, mengenang masa lalu yang begitu mudahnya mekar ke permukaan memori saya, hanya lewat lagu yang pernah populer disuatu masa maka seketika lamunan saya melayang mengenang masa indah yang telah lalu. Pengalaman yang membuat saya merasa mencapai tingkat ekstasi tertinggi. Unik memang, fase hidup saya rasanya terbagi 5, sebelum 1987, antara 1987-1993, antara 1993-1997, antara 1997-2002 dan setelah 2002...tinggal dengar lagu yang pas lirik atau sering saya dengar waktu itu maka akan segera terbangkitkan memori bawah sadar saya sesuai jamannya.

Kali ini saya mendengarkan lagu Yogyakarta milik KLA Project, maka kenangan di Jogjalah yang muncul. Adakalanya tersenyum mengenang perjuangan masa kuliah yang penuh impian, apalagi mengenang masa indah berpacaran waktu itu, oh betapa indahnya..tak terungkapkan lagi dengan kata-kata ketika asyik belajar bersama, janjian saya jemput di perpustakaan kampus UKDW atau mesra berkeliling kota diatas motor menghabiskan malam, dinner sederhana pun terasa sangat romantisnya sambil menikmati suasana Jogja dimalam hari. Sebuah bintangpun pernah kami jadikan simbol cinta (maklum lagi gombal-gombalnya hehe)..jika terpisah cukup janjian lihat bintang Barat itu dan memastikan salah satu dari kami yang ada dibelahan bumi yang lain sedang memandang bintang yang sama.
 
Gorengan terasa begitu renyahnya, pecel lele IKIP, ayam goreng bu Garasi, atau bakso Pak Kribo di Gejayan terasa begitu nikmatnya, kehujananpun terasa begitu riangnya. Tak perlu makanan cafe atau resto franchise mewah, senyapnya mobil atau megahnya rumah. Membayangkan wajah cantiknya pun sudah bisa membuat saya tersenyum sumringah.

Begitu pula ketika terbersit wajah Mbok Rah pembantu rumah kos yang pernah saya tinggali selama 2,5 tahun sebelum akhirnya saya pindah karena rumah itu tidak akan dikos kan lagi. Perempuan tua yang begitu sederhana dan sangat bersahaja namun sangat meninggalkan kesan mendalam, tiap pagi selalu menyediakan segelas teh hangat, menyapa saya, bahkan kalau mangga ibu kos sedang berbuah tak lupa pasti dikupaskannya untuk saya. Sopan dan sangat menghargai, tulus dan khas sekali meskipun saya tidak pernah memberinya uang sepeserpun. Roda hidupnya yang pernah mengalami masa penjajahan, masa pemberontakan PKI, jadi bakul tenongan (penjual makanan kecil keliling dengan menggendong bakul) dan terakhir menjadi pembantu membuatnya sangat senang jika melihat anak muda kuliah demi masa depan yang lebih cerah.

Begitu pula dengan pak Marno, sebut saja demikian, yang setia menemani saya dengan asap rokoknya di pos ronda ketika saya mengajar anak-anak SD atau sekedar bercengkrama ngalor ngidul saat mengikuti KKN di daerah selatan Timoho bersama 5 orang rekan lainnya dalam 1 grup. Belum lagi si Rudy tetangga kamar sebelah yang super setia menge-lap Binter Mercy bututnya yang diberi nama Reno, yang seolah mampu membuatnya pantas bergaya bak Reno Raines dalam serial Renegade. (haha..sorry Rud!)

Ada lagi pengalaman kehujanan di jalan menuju ke pasar Magelang ketika saya membawa 2 karung pakaian pesanan dengan sepeda motor. Terpaksa sebelum setor saya mesti mengelap plastiknya dulu biar tidak terlihat basah. Saking inginnya menabung demi membelikan sang pacar perhiasan emas dari keringat sendiri, apapun dijalani dengan berani, bahkan keterusan dagang sampai akhir kuliah bisa beli TV dan sepeda motor sendiri. Ke-nelangsa-an waktu itu hanyalah awal metamorfosis menuju kebahagiaan setelahnya.

Adakalanya saya sangat merindukan hal itu sampai merasa ingin lagi memutar waktu kembali ke masa itu, pulang lagi pada kedamaian karena saya sekarang merasa sangat sepi, sendiri diantara riuhnya Jakarta.  
Pernah ada masanya, bahkan mungkin sesekali masih saya lakukan..mencari kegiatan-kegiatan yang bisa menggantikan kebahagiaan masa itu. Dengan uang saya mencoba membeli dan menemukan kebahagiaan, hampir semua yang dulu hanya merupakan ’ke-andai-an’ telah saya wujudkan, bahkan yang dulu untuk membayangkanpun saya tidak berani telah saya lakonkan..namun tak pernah bertahan lama. Selalu saja saya kembali pada sepi, dan sekali lagi, sepertinya tidak ingin bangun dari kegairahan mimpi masa lalu, dimana saya berada diantara orang-orang yang tidak dikuasai ambisi, hidupnya mengalir, guyub, tulus dan jauh menghargai ’ke-manusia-an’ dibanding uang dan angka-angka, serta hidup tanpa obsesi berlebihan.

Banyak yang tidak terungkapkan disini, namun terbukti kini, memang kebahagiaan dan ketentraman batin tidak terbeli dengan uang, barang dan status .. hanya bisa dirasakan makna kesejatiannya setelah kita melewati masa itu, dan bagi saya sangat murah, hanya cukup dengan menyalakan MP3 player murahan saya sambil memejamkan mata dimalam yang dingin ini..

Sekarang saya sedang menunggu metamorfosis problema masa kini menjadi indah dimasa depan..

Posted by ndablek at 13:34:07 | Permanent Link | Comments (0) |