Beli film Kawin Kontrak
Didaerah Jawa Barat, disalah satu kota (sebut saja kota X) populer dengan fenomena kawin kontrak, dimana didesa tersebut sudah jamak ketika masyarakat ’menjual’ anak gadisnya untuk dikawini secara siri selama jangka waktu tertentu. Umumnya pelanggannya adalah expatriat dari Arab dan orang Jepang/Korea, demikian yang saya tahu dari media.
Nah ketika jalan-jalan kemarin di salah satu pusat perbelanjaan saya melihat ada film Indonesia berjudul ’Kawin Kontrak’ maka bayangan saya adalah dengan menonton film tersebut maka wacana tersebut menjadi semakin jelas dibenak saya, meskipun saya sadar pasti telah dimodifikasi menjadi komoditas film dengan bumbu disana sini. Maka sayapun segera membelinya dan menontonnya di rumah.
Wheladalah..... ternyata isinya bukan mengulas fenomena ’Kawin Kontrak’ dan hikmah apa yang bisa diambil dari sana, namun lebih pada membangun cerita dengan plot yang tidak jauh dari remaja yang mencari dan ingin menikmati kawin kontrak demi seks. Tidak apa-apa juga sih, namun ada yang mengganjal dibenak saya.
Pertama mengenai seks bebas yang diawal-awal cerita digambarkan ada sebuah pengajian dimana sang ustadz mewanti-wanti agar remaja tidak terjebak ke hubungan seks sebelum menikah. Nah ternyata dipelintir oleh remaja tadi dengan mengupayakan nikah siri supaya mereka bebas merasakan seks. Mulai dari mencari pasangan sesuai selera masing-masing, penggambaran sex appeal dan hubungan seks yang seronok hingga seolah semuanya digambarkan dari sudut yang sah, bisa ditertawakan dan tidak menyalahi kaidah nilai yang berlaku.
Sebenarnya yang saya kuatirkan adalah tema film maupun infotainment di Indonesia kini seolah tidak lagi memfilter apa yang sekiranya berefek negatif dan mana yang membangun moral. Karena sesuatu yang tabu dan selama ini dianggap negatif jika disajikan terus-menerus lama kelamaan akan dirasakan sebagai kewajaran oleh pemirsanya.
Mulai soal tema film sex bebas, tema horor dan kekerasan sampai infotainment tentang selebriti yang tersangkut narkoba menurut saya kok membahayakan generasi mendatang. Bukan apa-apa, tapi dijaman saya remaja yang akses informasinya tidak semudah dan seprovokatif sekarang saja banyak terjadi pelanggaran termasuk yang pernah saya lakukan, apalagi kalau diulas sebagai sesuatu yang ’modern’, ’gaul’? Mestinya selebriti yang masuk penjara juga tidak ditampilkan sebagai public figur karena fakta negatif bisa menjadi bias oleh simpati yang sengaja diciptakan televisi.
Dalam program acara disalah satu stasiun tv juga digambarkan bagaimana riuh dan serunya kehidupan malam, dugem dan segala party yang divisualisasikan sebagai sesuatu yang gaul, asyik, hot dan jaman sekarang banget denga baju minim, keringat, rokok dan alkohol. Bahkan iklannya didominasi iklan kondom, belum lagi tag line yang selalu disebut oleh Host adalah ’Stay away from drug and keep safe’ yang bisa saya konotasikan dengan jauhi narkoba dan pakai kondom saat having sex. Kenapa anjurannya bukannya jauhi seks bebas tapi ber-seks lah secara aman? Ini yang menjadi aneh buat saya yang sok moralis ini. Memang fenomena ini pasti ada dimasyarakat namun dengan mengangkatnya, maka seolah menjadi sesuatu yang dilegalkan secara norma.
Begitu pula ditayangan sinetron Indonesia gampang sekali ditemukan orang yang bermimik culas sedemikian rupa merencanakan sesuatu yang sangat jahat, apa nanti penonton tidak terpengaruh? Sebenarnya sejauh mana tanggungjawab dari si pembuat tayangan tsb? Apakah hanya berorientasi untung semata tanpa mengindahkan tanggungjawab moral?
Mau dibawa kemana ya moral bangsa ini? Duh..betapa memprihatinkan.
Nah ketika jalan-jalan kemarin di salah satu pusat perbelanjaan saya melihat ada film Indonesia berjudul ’Kawin Kontrak’ maka bayangan saya adalah dengan menonton film tersebut maka wacana tersebut menjadi semakin jelas dibenak saya, meskipun saya sadar pasti telah dimodifikasi menjadi komoditas film dengan bumbu disana sini. Maka sayapun segera membelinya dan menontonnya di rumah.
Wheladalah..... ternyata isinya bukan mengulas fenomena ’Kawin Kontrak’ dan hikmah apa yang bisa diambil dari sana, namun lebih pada membangun cerita dengan plot yang tidak jauh dari remaja yang mencari dan ingin menikmati kawin kontrak demi seks. Tidak apa-apa juga sih, namun ada yang mengganjal dibenak saya.
Pertama mengenai seks bebas yang diawal-awal cerita digambarkan ada sebuah pengajian dimana sang ustadz mewanti-wanti agar remaja tidak terjebak ke hubungan seks sebelum menikah. Nah ternyata dipelintir oleh remaja tadi dengan mengupayakan nikah siri supaya mereka bebas merasakan seks. Mulai dari mencari pasangan sesuai selera masing-masing, penggambaran sex appeal dan hubungan seks yang seronok hingga seolah semuanya digambarkan dari sudut yang sah, bisa ditertawakan dan tidak menyalahi kaidah nilai yang berlaku.
Sebenarnya yang saya kuatirkan adalah tema film maupun infotainment di Indonesia kini seolah tidak lagi memfilter apa yang sekiranya berefek negatif dan mana yang membangun moral. Karena sesuatu yang tabu dan selama ini dianggap negatif jika disajikan terus-menerus lama kelamaan akan dirasakan sebagai kewajaran oleh pemirsanya.
Mulai soal tema film sex bebas, tema horor dan kekerasan sampai infotainment tentang selebriti yang tersangkut narkoba menurut saya kok membahayakan generasi mendatang. Bukan apa-apa, tapi dijaman saya remaja yang akses informasinya tidak semudah dan seprovokatif sekarang saja banyak terjadi pelanggaran termasuk yang pernah saya lakukan, apalagi kalau diulas sebagai sesuatu yang ’modern’, ’gaul’? Mestinya selebriti yang masuk penjara juga tidak ditampilkan sebagai public figur karena fakta negatif bisa menjadi bias oleh simpati yang sengaja diciptakan televisi.
Dalam program acara disalah satu stasiun tv juga digambarkan bagaimana riuh dan serunya kehidupan malam, dugem dan segala party yang divisualisasikan sebagai sesuatu yang gaul, asyik, hot dan jaman sekarang banget denga baju minim, keringat, rokok dan alkohol. Bahkan iklannya didominasi iklan kondom, belum lagi tag line yang selalu disebut oleh Host adalah ’Stay away from drug and keep safe’ yang bisa saya konotasikan dengan jauhi narkoba dan pakai kondom saat having sex. Kenapa anjurannya bukannya jauhi seks bebas tapi ber-seks lah secara aman? Ini yang menjadi aneh buat saya yang sok moralis ini. Memang fenomena ini pasti ada dimasyarakat namun dengan mengangkatnya, maka seolah menjadi sesuatu yang dilegalkan secara norma.
Begitu pula ditayangan sinetron Indonesia gampang sekali ditemukan orang yang bermimik culas sedemikian rupa merencanakan sesuatu yang sangat jahat, apa nanti penonton tidak terpengaruh? Sebenarnya sejauh mana tanggungjawab dari si pembuat tayangan tsb? Apakah hanya berorientasi untung semata tanpa mengindahkan tanggungjawab moral?
Mau dibawa kemana ya moral bangsa ini? Duh..betapa memprihatinkan.



