Aku yang tak pernah bisa lupakan dirinya, yang kini hadir diantara kita. Namun kujuga takkan bisa menepis bayangmu yang slama ini temani hidupku... ...... Kalau saja waktu itu ku tak jumpa dirinya, mungkin semua takkan seperti ini. Dirimu dan dirinya kini ada dihatiku, membawa aku dalam kehancuran... (by Ungu)
Lirik diatas pas banget sama kehidupan seorang kawan, sebut saja Maslinglung, dia mendatangi untuk mengungkapkan dan menanyakan problematika cintanya. Waktu sebelum menikah Maslinglung memang sempat mendua beberapa kali hingga terakhir yang paling mak nyus ya pas kenalan sama Putri Denok, dalam rangka mencari yang paling tepat sebenarnya..prinsip hidupnya adalah sebelum janur kuning melengkung maka sah-sah saja browsing dan searching for the best..
Tapi Dinda Cenil - istri yang sekarang- telah kadung dipacarinya bertahun-tahun dan saat itu pernikahan sudah semakin mendekat.Lha wong lama pacarannya saja sampe nglewati masa jabatan 4 Presiden RI kok. Kata hati ingin memutar haluan 360 derajat namun hatinya terganjal oleh rasa bersalah dan kasihan juga, karena selama ini tidak ada kesalahan yang dilakukan Dinda Cenil, pun secara gender juga tulen perempuan-orisinil, jadi ndak ada alasan yang mumpuni untuk atret, apalagi balik arah.
Alkisah, dengan berderai air mata Putri Denok mengibarkan kain putih dalam irama ¾ pertanda menyerah tanpa syarat dan melepaskan sang pujaan hati ke Dinda Cenil yang lebih awal ngelus-ngelus plus ngendus-ngendus Maslinglung. Namun tanpa diketahui Dinda Cenil, meskipun sempat dicurigai, Maslinglung ternyata masih menyimpan kisah cintanya itu. Demikian pula Putri Denok yang mencoba melupakan Maslinglung dengan mengejar lelaki lain ternyata tidak pernah menemukan kesepakatan luar dalam.
Hubungan pun dilanjutkan sebagai kawan, kirim-kiriman pesan lewat merpati maupun komunikasi virtualpun dilakoni, namun akhirnya tak kuasa pula Putri Denok mengungkapkan kalau ia masih menyimpan harapan dan cintanya ke Maslinglung. Maslinglunglah cinta abadinya, yang selama ini mampu membuatnya termehek-mehek.
Seperti disamber gledek, lha kok ndelalah ternyata sama, Maslinglungpun ternyata masih menyisakan satu ruang pondokan dihatinya yang tidak berani ia ungkapkan kepada Dinda Cenil. Maslinglung bingung, dia mencintai Dinda Cenil dan tidak menemukan kesalahannya sebagai istri, semua berjalan baik, namun dilain pihak Maslinglung ternyata juga selalu menyimpan angan untuk bisa bersanding dengan Putri Denok yang secara fair diakui juga memikat hatinya dengan versi kecantikan dan segala tingkah polahnya.
Tak tega menyakiti, namun tak tahan pula berdiam diri tersiksa perasaannya sendiri.Ibarat makan buah simalakama. Kalau dibandingkan head to head, Dinda Cenil dan Putri Denok pun laksana BMW seri3 dengan Mercedes Benz seri C, sama-sama kompetitifnya cuma beda tahun rakitan saja. Segala pengalihan konsentrasi telah dilakukan, alhasil justru semakin menguatkan kekangenannya ketika dia memberanikan diri untuk tidak berhubungan lagi dengan Putri Denok.
Kasihan Maslinglung..dibalik kemesraan yang ditunjukkannya kepada Dinda Cenil, pada saat yang sama ia berusaha mati-matian memendam kemesraan dan mengubur hatinya untuk Putri Denok yant telat dikenalnya. Ia bergumam,” Jauh dilubuk hatiku masih terukir namamu, jauh didasar jiwaku engkau masih kekasihku..”
Hehehe...Maslinglung..Maslinglung... Semoga cepetan dapat solusi ya!
”Peng-pengan sing sinau nek tetep ora lulus yo piye no?Huu...huu...”isak seorang gendhuk kepada emboknya.
Kegundahan dan kegaduhan hati para siswa daerah mulai menyeruak ke batas permukaan kecemasan. Di Padang dan Bojonegoro sampai diadakan doa bersama yang diprakarsai oleh sekolah, entah ada dikota mana lagi. Ora weruh.. Yang pasti pada doa bersama tersebut dihiasi mbrebes mili dan isak tangis para siswa, entah terharu entah takut. Terharu karena euforia ’it’s now or next year’ deg-deg plas emosi yang campur aduk - saya pernah ngalami itu, atau bisa jadi tangis takut karena begitu digembar-gemborkannya kengerian akan soal-soal ujian yang super sulit.
Yah memang, tahun belakangan ini Ujian Negara diadakan kembali dan soalnya disesuaikan standar Jakarta sampai-sampai sekelompok guru di Sulawesi membocorkan jawaban demi ...entah nasib anak didik atau nama sekolah atau bahkan reputasinya sendiri sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Hero without Sign Service...begitu versi londo-nya TOEFL 41 :).
Tapi sepertinya ketakutan ini justru lebih karena ekspos media yang dibesar-besarkan, sehingga sudah terlebih dulu menjatuhkan mental para siswa. Ibarat orang kekar yang kalah mental lihat tikus, maka meskipun tikus itu secara teori diatas kertas bisa dikalahkan namun kenyataannya orang justru lari terbirit-birit, ngicrit-ngicrit..bahkan bisa mati kalau saking paniknya lari trus kepleset nyemplung sumurJ
Terlepas dari campur tangan media, saya berharap seandainya ada siswa yang ketakutan menghadapi UN karena rumor, isu maupun desas-desus...cobalah tarik nafas dan tenangkan diri, persiapkan diri dengan belajar, tapi tak lupa pula untuk berdoa.
Niscaya dengan mental yang lebih tenang, pikiran lebih bisa menemui kejernihannya.
Andaipun gagal, maka ingatlah dalam perlombaan kehidupan ini tidak ada menang atau kalah..yang ada hanyalah menang atau belajar.
Semoga sukses ya Nduk!
Jadi heran, orang kalau protes dema-demo tuh kok suka banget mengaku-ngaku sebagai wong cilik, rakyat kecil dsb nya ya? Barusan saya lihat juga begitu diprogram Suara Anda Metro TV, ada bapak yang menyuarakan ketidakpantasan permintaan maaf Xanana terhadap Indonesia. Tapi yang saya mau bahas adalah kenapa penelpon mesti menyebut ”saya sebagai orang kecil merasakan bahwa...”
Saya jadi mikir, lha kalau terlalu ’menghayati’ menjadi wong cilik nanti apa ndak nanti keterusan jadi orang kecil beneran? Cuiliiikk sak cuiliiikkk cuiliiiike...sampai ketip-ketip.
Padahal untuk memajukan kehidupan dan negara ini yang dibutuhkan adalah ’orang-orang besar’ dalam artian orang yang legawa, pembelajar, ndak grusa-grusu, tidak brangasan dan tentunya cerdas dalm bertindak dan dalam menyikapi sesuatu.
Atau sebenarnya itu sebagai upaya untuk menunjukkan ke-mayoritasan-nya, karena masyarakat Indonesia tanah air beta ini umumnya masih dibawah garis kemiskinan? Tapi ya kalau untuk urusan politik bawa-bawa istilah itu ya jadi kurang pas. Lagipula justru biasanya orang akan memandang sebelah mata terhadap orang yang lebih lemah atau yang mengaku-ngaku lebih lemah.
Apa ndak lebih baik untuk meningkatkan bargaining power kita dalam mengkritisi politik atau pemerintah atau apapun, kita bersikap dan membawa peran sebagai orang besar, supaya dianggap penting dan lebih dipertimbangkan.
Bayangkan kalau semua bersikap sebagai ’orang besar’, apa ndak keder juga tuh para anggota dewan dan pejabat menghadapi ratusan juta penggedhe? Ibarat yang ngomong direktur dengan yang ngomong office boy kan pasti shareholder akan beda cara meresponnya.
Kecuali kalau memang untuk tujuan pribadi yang sifatnya menuju kerendahan hati, ya tidak apa-apa bersikap seperti orang kecil dan tidak penting. Tapi perlu diingat, umumnya orang yang benar-benar rendah hati biasanya berusaha sedapat mungkin menekan tuntutan terhadap pihak lain.
Hahaha..semakin nglantur aku!