Ayam bakar vs Bakar ayam

Uenak tenan memang ayam bakar warung langganan saya J , selain murah tentunya. Satu potong tepong (ngerti kan, maksudnya sepotong paha atas bawah) ditambah sambel pedas dan lalapannya cukup untuk menghabiskan sepiring nasi putih.
Meskipun makanan yang sifatnya dibakar menurut literatur kurang baik karena mengandung zat karsinogenik (apalagi kalau membakarnya pakai BBM bersubsidi, selain bakal pahit, bisa marah tuh pemerintah), tapi menurut saya sih selama menyantapnya tidak tiap hari alias masih sebatas lima hari sampai seminggu sekali sih rasanya masih aman. Jadi saya atur-atur saja kalau habis makan sate ya besoknya tidak langsung beli ayam atau ikan bakar.
Nah ayam ini saya suka karena selain campuran bumbu kecapnya yang pas, warung tempat saya beli ini selalu merebusnya terlebih dulu, jadi tidak seperti daging sate yang langsung dibakar. Jadi aman lah dari flu burung.
Tapi ngemeng-ngemeng tentang flu burung yang disebabkan virus H5N1 itu, saya agak tergelitik dan belum ada sih yang bisa menjelaskan ke saya.
Pertanyaan saya sih simple saja, menurut pemerintah dalam hal ini DepKes RI selama daging ayam dimasak sampai matang dengan suhu tertentu selama minimal batas waktu tertentu pula, maka daging ayam itu aman untuk dikonsumsi. Makanya pula sekarang gampang dilihat di outlet franchise beberapa fried chicken ternama selalu memberikan info bahwa ayam yang disajikan telah melewati proses pemasakan sesuai standar.
Nah, kalau gitu kenapa ya disisi lain ayam yang dicurigai berada disekitar ayam yang mati mendadak langsung digorok dan dibakar tanpa bumbu dulu di galian tanah? Kan sebenarnya (kalau memang aman) bisa dipilah dulu ayam mana yang mati dan ayam mana yang dicurigai. Ayam yang dicurigai ini dimasak saja dengan suhu dan batas waktu tertentu, lalu dibagikan kepada orang miskin yang membutuhkan. Pasti jumlahnya lumayan dan sangat membantu.
Sepertinya masih ada yang belum nyambung nih..



