Ekonomi yang tidak memihak
Sehabis berbelanja kebutuhan harian disalah satu raksasa retail di kawasan Jakarta Pusat, seperti biasa begitu keluar dari kasir pengunjung selalu disodori tawaran kartu cicilan, kartu belanja, kartu kredit dan segala tetek bengek keuntungan yang ditawarkannya. Berkali-kali pula saya menolaknya, karena kebetulan saya sudah memiliki 1 kartu kredit, bahkan dulu 2 kartu namun saya sudah menutupnya karena tidak maksimal penggunaannya.
Namun yang membuat saya masih heran hingga saat ini, justru bagi kaum pengutang seperti saya ini malah tawaran diskon dan berbagai macam kemudahan diberikan. Bagi yang kurang kontrol tentunya ini merupakan keuntungan bagi penerbit kartu kredit karena berarti jumlah transaksi orang yang tergiur akan meningkat. Tapi bagi pengutang yang ’bijak’ (supaya ga disebut penuh perhitungan hehe..) seperti saya ini, pasti hanya aksi profit taking saja yang saya lakukan.
Okelah disini tidak akan saya bahas kebiasaan saya ’mengadali’ penerbit kartu kredit, namun saya justru tertarik pada fenomena yang tidak adil ini. Tiap bulan pengutang (pemegang kartu kredit) selalu disodori katalog belanja yang penuh dengan diskon bahkan tak jarang sampai 50%, belum lagi tawaran bahwa transaksi tersebut bisa dicicil tanpa bunga hingga 12 kali.
Nah, selain saya yang masih miskin ini...setahu saya mayoritas pemegang kartu kredit kan rata-rata orang kaya. Jadi orang yang kaya dan ngutang pula, justru yang diberi kemudahan dan kemurahan.
Belum jauh saya beranjak dari mbak yang menawarkan kartu saya telah tiba didepan sebuah pameran perumahan yang kebetulan menawarkan lokasi didaerah Bekasi. Iseng-iseng saya mengambil brosur yang langsung dengan sigap didatangi mbak SPG yang cantik dan nyerocos menjelaskan seluk beluk dan keunggulan perumahan tersebut.
Sebenarnya saya lebih memperhatikan kecantikannya daripada rumah yang ditawarkan karena saya kurang tertarik daerah Bekasi, jauh dari tempat kerja saya, namun singkat cerita SPG ini menjelaskan bahwa rumah ini harganya bisa selisih 90 juta rupiah kalau dibeli dengan cash keras. Itu tipe kecil, kalau tipe yang besar bahkan tercantum dibrosur selisih hingga hampir 200 juta rupiah. Nah lho...iki piye tho? Jadi kalau orang kaya yang bisa bayar cash justru lebih diuntungkan daripada orang miskin yang cuma bisa KPR.. padahal developer juga sama-sama terima liquid dari pihak Bank kan?
Memang sungguh tidak enak jadi bagian dari orang yang miskin, sudah susah masih minim fasilitas kemudahan. Sudah gitu, mesti iri dan gigit jari melihat yang kaya justru semakin mudah mengumpulkan kekayaannya.
Uang memang tidak menjamin kebahagiaan, namun tanpa uang merupakan jaminan kesusahan.







