Rabu, Agustus 27, 2008

Ekonomi yang tidak memihak

Sehabis berbelanja kebutuhan harian disalah satu raksasa retail di kawasan Jakarta Pusat, seperti biasa begitu keluar dari kasir pengunjung selalu disodori tawaran kartu cicilan, kartu belanja, kartu kredit dan segala tetek bengek keuntungan yang ditawarkannya. Berkali-kali pula saya menolaknya, karena kebetulan saya sudah memiliki 1 kartu kredit, bahkan dulu 2 kartu namun saya sudah menutupnya karena tidak maksimal penggunaannya.

Namun yang membuat saya masih heran hingga saat ini, justru bagi kaum pengutang seperti saya ini malah tawaran diskon dan berbagai macam kemudahan diberikan. Bagi yang kurang kontrol tentunya ini merupakan keuntungan bagi penerbit kartu kredit karena berarti jumlah transaksi orang yang tergiur akan meningkat. Tapi bagi pengutang yang ’bijak’ (supaya ga disebut penuh perhitungan hehe..) seperti saya ini, pasti hanya aksi profit taking saja yang saya lakukan.

Okelah disini tidak akan saya bahas kebiasaan saya ’mengadali’ penerbit kartu kredit, namun saya justru tertarik pada fenomena yang tidak adil ini. Tiap bulan pengutang (pemegang kartu kredit) selalu disodori katalog belanja yang penuh dengan diskon bahkan tak jarang sampai 50%, belum lagi tawaran bahwa transaksi tersebut bisa dicicil tanpa bunga hingga 12 kali.

Nah, selain saya yang masih miskin ini...setahu saya mayoritas pemegang kartu kredit kan rata-rata orang kaya. Jadi orang yang kaya dan ngutang pula, justru yang diberi kemudahan dan kemurahan.

Belum jauh saya beranjak dari mbak yang menawarkan kartu saya telah tiba didepan sebuah pameran perumahan yang kebetulan menawarkan lokasi didaerah Bekasi. Iseng-iseng saya mengambil brosur yang langsung dengan sigap didatangi mbak SPG yang cantik dan nyerocos menjelaskan seluk beluk dan keunggulan perumahan tersebut.

Sebenarnya saya lebih memperhatikan kecantikannya daripada rumah yang ditawarkan karena saya kurang tertarik daerah Bekasi, jauh dari tempat kerja saya, namun singkat cerita SPG ini menjelaskan bahwa rumah ini harganya bisa selisih 90 juta rupiah kalau dibeli dengan cash keras. Itu tipe kecil, kalau tipe yang besar bahkan tercantum dibrosur selisih hingga hampir 200 juta rupiah. Nah lho...iki piye tho? Jadi kalau orang kaya yang bisa bayar cash justru lebih diuntungkan daripada orang miskin yang cuma bisa KPR.. padahal developer juga sama-sama terima liquid dari pihak Bank kan?

Memang sungguh tidak enak jadi bagian dari orang yang miskin, sudah susah masih minim fasilitas kemudahan. Sudah gitu, mesti iri dan gigit jari melihat yang kaya justru semakin mudah mengumpulkan kekayaannya.

Uang memang tidak menjamin kebahagiaan, namun tanpa uang merupakan jaminan kesusahan.


Posted by ndablek at 12:28:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Agustus 22, 2008

Merampas lebih disukai

Di Jakarta ini sering sekali saya menjumpai pengendara motor yang masuk jalur berlawanan untuk menghindari kemacetan. Tadi pagipun saya masih sempat dibentak dengan raungan knalpot karena hampir bertabrakan. Yang aneh, posisi saya dijalur kiri sedang menunggu truk yang menyeberang, sementara dia dijalur kanan mau mencuri jalan lewat ruang yang tersisa dibelakang pantat truk.

Sudah kaget melihat orang seolah akan menabrak, masih dapat bonus raungan knalpot. Sungguh bikin keki dan rasanya kalau dia bukan buruh pabrik tetangga maka akan saya ajak berantem saja orang kemlinti itu.


Heran, sekarang ini orang Jakarta sudah tidak mau menunggu tapi cenderung menyerobot. Sudah begitu kalau pas salah perhitungan maka dia yang marah. Saya jadi ingat kejadian sebelumnya dimana jelas-jelas ada orang yang menabrak saya, tapi justru dia yang minta ganti rugi
àkebetulan buruh pabrik yang sama. Benar-benar menjengkelkan.

 

Namun suatu ketika pernah pula saya berusaha menghentikan laju kendaraan saya untuk memberi jalan kepada penyeberang jalan..eh justru dia ragu akan kebaikan saya. Berkali-kali celingukan bingung dan malah tidak segera melintas hingga amarah klakson mobil dibelakang saya menyalak dengan kejamnya. Kesemrawutan lalu lintas telah membiasakan dirinya untuk menyerobot menyeberang diantara deru mesin dan was wus nya para pembalap jalanan, dan beku sudah hatinya terhadap pemberian tulus orang lain.


 

Kalau dipikir-pikir, sejak kecil dulu permainan kitapun sudah penuh dengan aroma rampas-merampas. Saya dulu waktu di kampung senang sekali main umbul (potongan gambar yang diadu terbangkan, jika ada gambar yang dalam posisi terbuka maka pemiliknya dinyatakan sebagai pemenang, dan berhak atas segepok potongan gambarnya). Jika sudah menang maka rasanya senang sekali mengambil milik teman yang kalah itu, meskipun kadang yang kalah sampai menangis. Jadi dari kecil sudah dibiasakan lingkungan untuk senang merampas milik orang lain dan senang melihat orang lain sedih, jadi ya tidak heran dengan perilaku orang dewasa sekarang ini.

 

Mulai dari perampasan ide, perampasan hak bicara, perampasan hak beragama, perampasan kehormatan, karir, hingga perampasan uang dan perampasan kejujuran.

 

Hmm..jadi hari ini apa ya yang belum saya rampas?



Posted by ndablek at 18:14:16 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Agustus 21, 2008

Keheningan yang Mengejutkan

 

Umumnya keheningan membuat suasana menjadi damai, tenang dan nyaman. Tidak ada gangguan sehingga kita dapat beristirahat dengan baik, membebaskan diri sejenak dari suara bising dan pikiran yang menyesakkan.

Namun keheningan yang satu ini cukup membuat saya kaget pada awalnya apalagi pejabat kantor saya tatkala seorang sahabat baik menyatakan keinginannya untuk mundur dari carut marutnya situasi kerja, yang semestinya diperangi dan diatasi.


Dari sosok yang tidak pernah mengeluh, tanpa pernah menunjukkan sikap kecewa, jarang menunjukkan kemarahan, selalu siap untuk setiap tugas, selalu menebar senyum ini muncul pernyataan bahwa selama ini terjadi ketidakpuasan dalam karir kerja ditempat kami. Solusinya adalah bekerja di tempat kerja lain yang menawarkan penghargaan dan fasilitas sepadan dengan tanggung jawab yang diemban.

Siapa yang mengira..

 

Justru kami yang selama ini mengeluh, bercanda sinis, bersungut-sungut mengenai jenjang karir ditempat kami malah hingga saat ini masih ada dikursinya dan bertahan awet dalam pekerjaannya. Sungguh berkebalikan keadaannya..yang perbedaannya adalah pada keberanian memutuskan sikap.

 

Semoga ini bisa jadi pengalaman yang berarti bagi saya terutama jika menghadapi situasi serupa, bahwa keheningan tidak selamanya berarti kepuasan, ketentraman dan semua ’under control’ tapi keheningan bisa jadi menghanyutkan...kehilangan asset yang sebenarnya sangat potensial bagi perusahaan..

Lock up employee? Ke laut ajah..

 

Maka dengan menghargai setiap masukan dan mengenali setiap keluhan dari sekitar saya merupakan sebuah keharusan, karena disitulah sebenarnya orang masih peduli pada kondisi yang dihadapi, belum putus asa dan masih menaruh harapan besar pada saya. Kalau tak ada yang mengeluh, sebaiknya saya mulai menggali, bergaul dengan mereka.

 

Serupa dalam hidup berkeluarga, kalau istri, suami atau anak cenderung diam, tidak banyak masukan ataupun keluhan bisa jadi itu bukanlah tanda kepuasan atau kebahagiaan namun peluang adanya ketidakberesan dalam manajemen keluarga.



 

Posted by ndablek at 13:12:48 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Agustus 11, 2008

Pendoa disampingku itu


 Pagi itu cuaca sangat cerah, saya bangun sedikit siang karena hari Minggu, jadi kalau baru bangun jam delapan rasanya tidak masalah, bolehlah secara berkala saya memanjakan diri untuk bermalas-malasan sedikit lebih lama.

 

Setelah menikmati sarapan sederhana yang terdiri dari sebungkus wafer Tango, pisang dan segelas teh panas, saya bergegas menuju ke gereja biasa tempat saya ikut beribadah. Pagi itu saya sempat memilih untuk duduk di bangku yang masih longgar, cuma ada seorang pria duduk diujung bangku yang lainnya...yang terlihat sedang serius berdoa sembari terdengar gumaman doanya.

Tepat pukul 09.30..terdengar teng..teng..teng...begitu bunyi lonceng pertanda ibadah segera dimulai.
Seiring dengan jalannya ibadah, didalamnya ada beberapa segmen doa yang harus dilalui. Pertama saya angggap biasa, namun gumaman orang yang berada disamping saya ini lama kelamaan mulai mengganggu konsentrasi doa saya. Setiap kali pendeta ataupun lektor memimpin doa, maka dengan serta merta orang ini juga berdoa dengan kata-katanya sendiri yang diucapkan secara bergumam...terkadang sedikit berdesis..
”Kenapa sih gak dalam hati saja?!” batin saya.

Konsentrasi saya terganggu karena saya yang single tasking ini jadi tidak bisa mendengar jelas ucapan doa pendeta, sementara doa orang disebelah sayapun juga tidak jelas..
Dalam hati saya mulai menggerutu...padahal digereja...dan saat sedang ibadah...

Disaat terakhir menjelang pulang terdapat doa syafaat, sekali ini saya sudah pasang ancang-ancang. Awas, saya tidak akan kalah konsentrasi berdoa!
Sayapun sudah mempersiapkan diri untuk lebih berkonsentrasi lagi terhadap ’hanya suara doa pendeta’ ketimbang terganggu dengan gumaman dan desisan. Namun hal yang lucupun terjadi ketika pada doa terakhir penggumam disebelah saya tiba-tiba hening, saya justru merasa kehilangan.

Saya tunggu-tunggu dan coba perhatikan kalau-kalau saya yang kurang jelas mendengarnya. Hingga pendeta berkata ’Amin’ saya baru sadari kalau ternyata saya tidak memperhatikan kata-kata doa pendeta. Artinya sayapun tidak berdoa..hanya memejamkan mata namun sebenarnya mencari sumber pengganggu yang tiba-tiba hilang. Terlewat lah sudah kesempatan saya untuk bersama-sama jemaat berdoa syafaat.

 

Terlalu fokusnya saya pada kesempurnaan..sok benar..sok suci..sok khusyuk, membuat saya terusik terhadap bunyi doa tulus orang yang justru saya anggap sebagai pengganggu.

Mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari kalau saya terlalu fokus pada kesempurnaan, fokus mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, bisa jadi saya justru yang akan kehilangan saat terbaik hidup saya, karena orang hanya menaruh benci dan dengki kepada saya dan mereka menjauhi saya.

 
Jadi kalau dipikir-pikir, penggumam tadi justru lebih baik karena beribadah serius sesuai keyakinannya, sementara saya malah menyesal, kehilangan saat terbaik ibadah itu...seiring kehilangan suara desisannya.


Posted by ndablek at 15:50:58 | Permanent Link | Comments (0) |

Tatoo itu Lambang Kekuasaan




Suatu pagi yang normal di Jakarta ketika menuju sirkuit, bis carteran yang saya tumpangi terjebak kemacetan parah. Seperti biasanya kapasitas jalan yang sebenarnya sudah cukup besar masih saja disesaki oleh kendaraan yang berpacu menuju perhentian masing-masing. Cukup lama saya merambat disatu titik hingga saya mulai memperhatikan seoarng pengemudi angkot disebelah kiri bis yang saya tumpangi. Wajahnya bersahaja, berpakaian sederhana dan mengumbar senyum yang menurut saya sangat ramah kepada setiap penumpang yang akan naik.

 

Namun ada yang saya perhatikan dari supir tersebut, yaitu sebuah tatoo dilingkar lengan kanannya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa tatoo merupakan sebuah karya seni bahkan warisan budaya namun dikalangan modern tatoo masih lebih lumrah digunakan dikalangan ’hitam’ kalaupun bukan seniman.

 

Hanya saja yang menarik adalah kontrasnya wajah dan senyuman orang ini dengan tatoo di lengannya. Kalau saja yang mentatoo adalah supir biasa yang sorot matanya saja seram, preman terminal atau musisi rock, saya masih akan menganggapnya angin lalu.

 

Saya jadi ingat pengalaman saya sendiri waktu remaja, dimana tidak jarang saya berpapasan dengan remaja garang dikampung, geng sekolah atau preman Mall. Seperti menatap tajam seolah akan menerkam, jika tidak mencari gara-gara dengan memelototi terlebih dulu bahkan meminta uang jajan. Meskipun sebenarnya saya tidak takut karena telah membekali dengan ilmu bela diri namun lelah juga berpura-pura takut dengan tidak berani menatap lama mata preman atau anak geng itu.
Lalu saya punya gagasan bahwa penampilan bisa jadi mengubah status saya dimata mereka. Akhirnya saya memutuskan menindik telinga kiri saya sendiri, dan memakai anting agar terkesan tidak kalah berandalnya dengan mereka.

 

Teori saya pun teruji, seringkali saya meladeni tatapan tajam preman atau anak geng kampung saya dengan tatapan wajar namun tidak berusaha semakin tajam. Anehnya saya seperti merasa mendapat status baru, dimana seringkali saya tidak lagi perlu membuang tatapan saya namun akhirnya justru orang yang pertama menatap tajam itu justru mengakhirinya sendiri dengan segera melihat ke arah lain..mungkin mereka jadi takut sendiri cari gara-gara hahaha...

 

Kini sejak bekerja diperkantoran anting itu tak lagi saya pakai, namun supir angkot yang murah senyum ini mengingatkan akan masa lalu saya..
Mungkin dia sedang menambah rasa aman karena lingkungan kerjanya yang rawan penodongan dan pemerasan oleh komplotan preman, meskipun ironis, seharusnya rasa aman bukanlah didapat dari atribut melainkan harus diberikan oleh pemerintah negeri ini selaku penyelenggara keamanan.


Cuma saya tergelitik, jangan-jangan dalam bekerjapun saya kembali memakai ’anting’ jabatan untuk memperoleh kekuasaan terhadap rekan kerja dan membuat mereka segan bukan karena kewibawaan saya pantas disegani tapi lebih karena segan karena ’anting’ yang memiliki kuasa seperti preman tadi.

Posted by ndablek at 15:49:05 | Permanent Link | Comments (0) |

Kemrungsung



Coba perhatikan apa yang salah dari foto yang saya ambil diatas?
Hahaha..betul sekali, ternyata tulisannya terbalik sehingga stiker pelindung akriliknya tidak jadi dilepas mungkin setelah disadari oleh pemasangnya. Neon box sign ini ada di bandara Hang Nadim Batam, tepatnya di lantai 2 dekat Bintan Lounge..

Entah sengaja atau kurang cermat, namun saya pikir ini karena kemrungsung saja sehingga kesalahan yang tidak perlu ini bisa terjadi dan mengundang senyum saya.
Ingin cepat ternyata tidak selalu menjadi solusi terbaik..kalau tanpa persiapan yang matang.

 

Karena ingin cepat sampai, maka orang cenderung mengabaikan keselamatan..
Karena ingin cepat minum, maka orang bisa tersedak..
Karena ingin cepat menjual, maka orang mengkarbit pisang..
Karena ingin cepat dipromosi, maka orang menjadi egois..
Karena ingin cepat selesai, maka orang menyuap..

 

Dan pemenangnya, eng ing eng....   here it goes....
Karena ingin cepat terpasang maka malah terbalik..
hahahaha....sumpah, tragis banget nih...



Posted by ndablek at 15:45:34 | Permanent Link | Comments (0) |

Kulit Pisang Itu



HARI
Sabtu merupakan hari belanja buah, setidaknya begitu bagi saya karena tiap hari Sabtu saya pasti menyempatkan diri membeli buah dipinggiran pasar dekat rumah. Maklum hidup terpisah dari istri, jauh dari keluarga membuat saya harus bersikap bijak, kalau hanya mengandalkan buah katering kantor mestinya tidak cukup buat kebutuhan badan yang sedemikian besar ini. Biasanya saya juga mengkonsumsi suplemen / vitamin namun itu kan kurang alami. Siang ini saya menyempatkan membeli sesisir pisang ambon, biar jantung sehat sehingga istri saya tidak perlu kuatir karena suaminya bisa jaga diri dengan baik.


Silahkan dipilih..dipilih...dipilih...eh..kok malah saya yang jualan.. hkkhkhkk... singkat kata saya berhasil menyingkirkan pisang yang jelek dan mendapatkan pisang yang baik, mulus dan minim flek doklat kehitaman. Tawar menawar harga dan akhirnya dengan suka cita saya bawa pulang pisang itu dan tak sabar memakannya.

 

Tidak habis memakannya dalam sehari maka pisang ini segera saja menjadi cadangan makanan saya hingga 3 hari. Mengagumkan ketika saya lihat sisa pisang yang masih ditangkainya itu masih segar meskipun gurat layu mulai nampak dikulitnya. Sangat berbeda dengan saudaranya yang terpisahkan dari tangkai maka dengan cepat kulit pisang itu ditaburi flek coklat kehitaman.

 

Hal yang sebenarnya lumrah dan sering saya lihat, namun baru kali ini saya memperhatikannya, seolah memberi tahu saya bahwa ketika sesuatu kehilangan suplai energi maka ia akan dengan cepat layu.

 

Rasanya sebagai manusia saya mengalami hal serupa,  ketika suplai energi itu mulai hilang, bisa yang bersifat lahir seperti makanan-minuman hingga yang bersifat batin seperti kebahagiaan, nurani, kesetiakawanan dan nilai kemanusiaan maka sejatinya manusia dalam bahaya menuju kematian.
Sejak saat ini saya akan mengecek lagi apakah suplai saya tersumbat, karena saya belum mau mati.



Posted by ndablek at 15:25:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Agustus 04, 2008

Kemben Melorot


Hahaha...jangan marah ya kalau Anda sedang searching dengan keyword ’kemben melorot’ ternyata blog ini yang ditemukan..maaf.


Saya memang mau mengulas tragedi kemben tapi dari sisi yang lain. Sudah diketahui umum dan bahkan saya sempat dikirimi gambarnya oleh seorang teman tragedi kemben melorot, mulai dari Dewi Persik hingga Sarah Azhari..hmm..tubuh yang luar biasa memang  memang amat disayangkan..(*ngelap keringet dulu nih..puff..gak boleh sampe KSO2 alias kelingan sing ora-ora haha)


Ramai-ramai orang menghujat mereka, terutama ke Dewi Persik yang memang sedang hangat dibicarakan orang karena tengah naik pamor. Dewi Persik diaggap tidak senonoh, tidak berusaha menjaga aurat dan sebagainya. Saya tidak sedang berusaha membelanya sih, memang saya setuju kalau goyangan Dewi dianggap erotis dan terlalu berlebihan. Namun untuk masalah kembennya saya rasa sebetulnya ada pihak yang lebih bisa dimintai pertanggung jawaban untuk kejadian tersebut.


Siapa?

Yupp.. Anda bisa membaca pikiran saya kalau mengatakan yang lebih bertanggung jawab semestinya adalah si perancang dan pembuat busana Dewi Persik. Kenapa? Ya karena dia sudah tahu persis busana tersebut akan digunakan untuk manggung oleh seorang Dewi yang gerakannya heboh, mestinya dia memberikan ukuran yang lebih ketat dan memberikan ekstra perlindungan untuk antisipasi kalau busana tersebut tidak sanggup mengimbangi mentul-mentulnya volume dada Dewi saat bergoyang.


Saya yakin Dewi tidak menghendakinya, jadi ya sebenarnya dia adalah korban..maka dia juga tidak mutlak yang salah.
Masalah gampang menyalahkan orang ini ternyata selain saya (yang dengan sengaja menyalahkan si desainer tadi) juga merupakan kecenderungan masyarakat Indonesia pada umumnya. Coba perhatikan, banyak penabrak lari yang sebenarnya lari bukan karena ingin melarikan diri tapi bisa jadi cenderung lari karena ingin menyelamatkan diri dari amuk massa. Padahal belum tentu si penabrak ini yang salah, tapi dia justru korban dari orang yang ugal-ugalan atau dari orang yang secara ceroboh menyeberang jalan secara tiba-tiba. Namun orang tidak mau tahu, pokoknya yang masih segar bugar dialah yang bersalah dalam kecelakaan.


Sudah kebiasaan umum juga kalau yang membawa kendaraan lebih besar menjadi lebih pantas disalahkan daripada menyalahkan yang sebenarnya melakukan kesalahan.


Kalau ada demonstrasi juga demikian, orang gampang saja menyalahkan polisi ketika ada korban yang jatuh, padahal dalam kondisi yang sangat chaos alias kacau dan genting tentunya keselamatan diri dan pihak pelapor juga tidak kalah penting. Sebenarnya kalau menurut saya polisi juga korban, karena dia hanya semacam pion yang diadu dengan demonstran yang seringkali dengan kalap malah berusaha menyakiti polisi penjaga ketertiban itu tadi.


Contoh lain ketika anak gagal, kecenderungan orang tua adalah menyalahkan anak yang dianggap malas belajar, padahal bisa jadi anak yang gagal itu adalah korban dari orang tua yang tidak memberinya perhatian dan arahan yang tepat.


Hhhh...kita memang masih perlu banyak belajar untuk lebih berhati-hati supaya tidak gampang menyalahkan orang lain


Posted by ndablek at 09:28:36 | Permanent Link | Comments (0) |

Hepi Bersdei



Entah siapa yang memulai, namun hingga kini saya masih tersenyum geli kalau mendengar orang menyanyikan lagu Happy Birthday namun dengan pelafalan ’hepi bersdei’ karena kadang yang menyanyikannya adalah orang yang jago inggris.
Yah...kesalahan yang dibiasakan oleh pendahulu kita (dulu mungkin akibat kurang mengerti) memang akhirnya sampai era milenium ini masih saja terbawa-bawa oleh generasi mudanya, bukan karena tidak tahu namun lebih karena tidak sadar bahwa yang diucapkan salah, cenderung karena kebiasaan saja dari kecil.
Inilah bahayanya hidup, mengataakan, melakukan atau memutuskan sesuatu karena kebiasaan atau sudah terbiasa. Saking biasanya kadang kita lupa untuk menelaah lebih dalam, apakah apa yang kita biasakan itu sudah tepat atau belum.


Kepada anak buah kita sering membiasakan menganggap mereka jongos yang bahkan untuk menghapus whiteboard, membereskan proyektor dan kabel usai meeting, mengambil print kita sendiri pun perlu anak buah yang bergerak, membiasakan anak buah yang datang dengan cara kita panggil dan bukannya kita yang mendatangi mereka.


Di kantor saya belakangan sering dipakai anak yang praktek kerja (PKL), namun alih-alih memberikan mereka ilmu dan pengalaman kerja, akhirnya kami malah lebih sering menyuruh mereka untuk memfotokopi, mengambilkan hasil print, membendel berkas, mengembalikan proyektor ke Dept lain, memanggilkan OB dan segala remeh yang lain yang semestinya bisa kami kerjakan sendiri. Bukan karena tidak ada waktu sehingga perlu pendelegasian, namun lebih karena ingin cari enaknya. Dalam diri kami bersemayam impian menjadi raja kecil ,jadi tiap ada kesempatan maka tak lupa memaksimalkannya. Justru ilmu kerja yang mereka cari tidak kami berikan.


Nampaknya kami masih terbiasa mencari enaknya diri sendiri..karena dari dulu ya begitu, turun menurun tanpa sempat menyadarinya hingga sekarang.  Jadi kasus perploncoan STPDN (dulu IPDN), lalu korupsi, kolusi, pungli, money politic dan sebagainya bukan diciptakan karena tapi karena sudah ada sebagai kebiasaan.




Posted by ndablek at 09:23:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Agustus 01, 2008

Semua bermanfaat, asal....

Pasti pembaca sekalian sudah tahu atau minimal pernah mendengar nama masakan seperti cap cay, pak lay, ayam bakar+lalapan, mie kuah, sayur asem, tahu/tempe bacem, asem-asem kikil, kangkung cah terasi, rujak cingur, kerapu tim, siomay Bandung, gulai, gudeg, timlo, pecel ndeso ataupun soto daging sapi.


Semuanya menjanjikan cita rasa khas masing-masing yang sudah barang tentu akan mampu menggoyang lidah para penikmatnya. Menulis dan membayangkannya saja sudah mamu membuat saya ngiler hahaha.. apalagi ditutup dengan secangkir wedang teh manis, atau segelas es jeruk nipis yang menyegarkan.


Tak hanya cita rasa, namun soal kandungan gizi baik protein maupun vitamin sudah barang tentu diberikan oleh masakan tersebut meskipun dalam porsi masing-masing. Akhirnya akan mampu diserap dengan baik oleh tubuh..yang semestinya akan memberikan kesehatan, pengganti sel tubuh yang rusak dan tambahan kekuatan. Membuat tubuh kita menjadi besar dan semakin tinggi hingga batas masing-masing.


Semuanya baik, namun coba kita bayangkan ya...seandainya semuanya itu dijejalkan kedalam mulut kita, kita makan dengan rakusnya atas nama kecukupan gizi dan kesehatan...mungkin respon setelah 30 menit menyantapnya sekaligus adalah rasa penuh, kembung, lalu tak tahan lagi akhirnya muntah..lalu lambung infeksi karena dipaksa terlalu melar dalam waktu singkat. Enzim pencerna juga tidak lagi mampu mencerna semua makanan tersebut dengan baik.


Yah..begitulah..ilustrasi diatas menggambarkan semua hal yang baik dan kelihatan perlu, namun jika terlampau dipaksakan serta merta pasti ada efeknya juga. Semua hal yang kelihatan (atau memang dipikirkan) baik tidak harus selalu dicoba dalam satu waktu secara instan untuk mewujudkan badan yang sehat dan kuat seperti badan Ade Ray. Bahkan Ade Ray saja butuh waktu bertahun-tahun, bukan 1-2 tahun.


Justru ketika makanan itu disantap pada waktu yang berbeda, maka selain tubuh akan merespon dengan baik(menyerapnya), maka lidahpun akan merasa dimanjakan, kandungan gizi akan termaksimalkan, isi kantong juga lebih bisa dikendalikan.


Kepada siapapun yang merasa berambisi, ingatlah ilustrasi makanan ini..semua hal itu diciptakan baik namun tidak semua hal itu perlu. Kegagalan bukanlah akibat kurang banyaknya ilmu&strategi, namun lebih pada kurangnya praktek pada ilmu&strategi sederhana yang sudah dimiliki. Karena meskipun memiliki hanya 1 keahlian namun jika diterapkan dengan sangat baik maka akan membawa pada kesuksesan besar.







Posted by ndablek at 14:52:51 | Permanent Link | Comments (0) |