Berhemat
Dalam masa krisis seperti sekarang, banyak pimpinan usaha mesti berpikir keras agar tetap bisa survive dan mampu melangkah tahun berikutnya.
Perlu menyiapkan strategi, langkah tepat untuk berhemat.
Kita perlu memilah lagi dengan cermat mana yang bisa dihemat, dihilangkan atau bahkan justru ditambah demi menyelamatkan aset yang lebih besar.
Untuk ukuran kantor sebagian teman saya, mematikan lampu saat jam istirahat dirasa cukup ampuh, toh karyawan tidak serta merta sakit mata kalau baca dikegelapan. Lagian salah sendiri masih baca di saat jam istirahat (Cuma mungkin terlupakan, dia begitu juga karena banyak kerjaannya, bukan maunya sendiri kali).
Ada yang mempersulit naik mobil wara-wiri dengan harus membuat form khusus terlebih dulu, untuk menghindari karyawan cuma muter-muter Jakarta seharian. Nah ini pasti sudah ekstrim pemikirannya, betapa repot efek yang ditimbulkan mulai kertas, waktu terbuang karena nunggu atasan tandatangan, dan bisa jadi ketinggalan mobil sehingga harus naik taxi..dan yang pasti PRASANGKA!
Ada juga yang pilih kehilangan uang DP tur 150 juta rupiah yang hangus dan kehilangan kepercayaan demi image terhadap grup…supaya tidak terkesan berfoya-foya mengapresiasi relasi yang memang sebelumnya telah berusaha keras memperbaiki performa, dan dijanjikan jalan-jalan waktu itu.
Tapi rasanya, semua hanya berhemat uang..atau setidaknya itu yang ada dipikiran mereka.
Tidak ada yang berhemat kata-kata yang menyakitkan, berhemat prasangka, berhemat cibiran, kesombongan, atau berhemat emosi, perintah gak penting, jilatan jurus kodok dan gosip gak penting.
Aku berhemat apa ya?