Pak Tabah dan Bu Tegar kembali menunjukkan sikap bersyukurnya sekali lagi. Dengan rumah tanpa listrik, berlantai tanah dan untuk tidur hanya beralaskan dipan keras, namun mereka tetap bisa tersenyum lepas. Si Upik kecil yang makannya tidak teratur dan tidak bergizipun masih bisa riang berlarian kesana kemari. Justru Mbak Akademika yang serba berkecukupan sampai penasaran ingin menjajal gaya hidup kaum ini dibuat menangis terharu biru.
Yah, inilah potret kemiskinan di Indonesia yang masih ditayangkan di serial ”Jika Aku Menjadi” Trans TV yang belakangan cukup digemari.
Masyarakat diajak tidak hanya bersimpati namun juga berempati langsung, meskipun tayangan ini ujung-ujungnya tetap ’menjual’ kemiskinan dan kesengsaran hidup sebagai tema. Di akhir cerita si Mbak Akademika tadi menjelma sebagai malaikat yang memberikan sumbangan bantuan, mulai hiburan jalan-jalan, sembako hingga peralatan RT. Bahkan tak jarang mengontrakan kios beserta isinya tanpa dibekali ilmu marketing (entah akhirnya jadi bangkrut atau tidak) atau memberikan gerobak ataupun sebidang tanah untuk modal, memasangkan listrik dan memberikan televisi, kulkas yang entah dipertimbangkan bisa bayar bulanannya atau tidak..
Memang apapun namanya tapi yang jelas untuk keperluan tayangan seperti ini selalu dikontraskan dengan harta hibahan dari Sang Dermawan sebagai klimaks acara.
Tentu kita juga masih ingat dengan ’Bedah Rumah’, ’Uang Kaget’ dan beberapa reality show lain yang senada yang intinya mempertontonkan kemiskinan yang harus dikasihani, dan mimik polos kekagetan yang ditunjukkan si miskin.
Tak banyak yang diberikan oleh pembuat acara, namun sudah pasti keuntungan dari iklan jauh lebih besar yang bisa dinikmatinya.
Yah, inilah dunia nyata. Yang besar akan selalu lebih bisa mengambil keuntungan dari yang kecil.
Namun terlepas dari itu semua tayangan ini jauh lebih mending sih daripada tayangan sinetron yang semakin tidak bermutu, menjual kekerasan fisik maupun psikis, menonjolkan konflik tajam, menjual penindasan terhadap orang yang lemah dengan segala tipu daya dan keculasan. Bahkan akting kaum antagonis semua hampir sama tanpa variasi, yaitu dengan memelototkan mata dan memonyong-monyongkan bibir. Sementara kaum protogonis juga selalu menumpahkan air mata karena terinjak-injak harga diri dan martabatnya. Ketika dikritik maka biasanya si pembuat mengatakan ini realita yang terjadi dimasyarakat, tidak dilebih-lebihkan (HAAAHH??!!!), setidaknya di masyarakat Jakarta.
Saya mulai kuatir tayangan reality show diatas telah menggiring orang miskin berpikiran cupet (pendek) untuk mulai berharap dan bermimpi untuk menjadi bagian dari yang dibantu dengan seketika. Si Panjul yang miskin mungkin saja setelah melihat reality show itu isi doanya berubah menjadi ”Ya Tuhan jadikanlah aku sebagai target mereka selanjutnya..” atau mungkin si Cemplon pengemis cilik yang berusia 12 tahun marah ketika orang yang dimintainya uang tidak serta merta menunjukkan belas kasihan terhadapnya, seperti yang sudah dilihatnya terjadi pada Cemplon-Cemplon yang lain di TV.
Sementara bagi penonton kaya yang berpikirian cupet tayangan ini tidak lebih hanyalah sebagai hiburan semata, kemudian berpikir dalam hati ”Aku ngapain bantu orang lagi yah..toh yang baik hati sudah banyak kok, malah mereka sudah masuk tv”.
Kalau yang sinetron?
Mungkin ini dia yang dilupakan oleh pembuatnya, atau mungkin tahu tapi atas nama rating dan keuntungan duniawi maka mereka dengan sengaja membuat tayangan tak mendidik itu. Padahal media penularan budaya dan perilaku yang paling efektif adalah televisi. Dengar saja para penyiar radio di Jawa yang menggunakan logat Jakarta, para siswa yang tinggal di area medok telah mengubah bahasanya dengan lu – gue dan aksen Jakarta agar terlihat… eh terdengar gaul.
Ya itu karena tontonan yang dilihatnya…pergeseran budaya dan perilaku akibat tayangan tv.
Jadi yang ingin saya sampaikan ke para pembuat tayangan itu:
Jakarta memang di Indonesia, tapi Indonesia bukan cuma Jakarta bos!