Sunday, February 15, 2009

Sesuatu tentang selingkuh


Disaat semua sudah terjadi, mapan dan mengalir begitu rupa menyongsong cita dan asa masa depan, tiba-tiba sosokmu hadir dihidupnya. Sekian banyak wanita yang dia kenal, tapi dirimu menyimpan pesona yang luar biasa-yang belum pernah dia temui sebelumnya. Banyak wanita didunia ini yang cantik namun kecantikanmu lain, sinergis dengan kecerdasanmu, tutur katamu, perilaku, kegigihan serta sifatmu yang begitu anggun. Dirimu adalah sosok impian yang selama ini dia cari, mengapa kalian baru bertemu? Mengapa dia melewatkanmu?

 

Tak cukup rasanya selembar kertas untuk menggambarkan pesonamu. Yang dia tahu, ada perasaan yang diluar biasanya saat menatap dan mendengarmu berbicara. Namun dia sudah ada yang punya, sementara masa depanmu masih sangat menjanjikan beragam warna.

 

Ingin dia tepiskan bayangmu, namun semakin kuat usahanya maka semakin pula sosok dirimu semakin nyata dibenaknya.

Apakah dirimu adalah belahan jiwanya? Lalu apa artinya dengan wanita yang telah mendampinginya selama ini? Bagaimana dengan cinta yang sangat besar dan jiwa raga yang telah diabdikan untuknya? Bahkan tanpa wanita tersebut  dia tak akan menjadi seperti saat ini.

 

Hhhh…dia akan sangat berdosa jika meninggalkannya, menghancurkan angannya, namun rasa ini begitu tajam menusuk hatinya dan enggan pergi. Tidak mungkin sesuatu yang telah diputuskan dihapus begitu saja.

Mengapa dia harus jatuh hati disaat semua telah terjadi? Mengapakah kalian ditakdirkan bertemu? Mengapa tidak sejak dulu?

Adakah jalan bagi kalian? Ataukah ini yang dimaksud bahwa cinta tak harus memiliki?

Posted by ndablek at 14:25:19 | Permalink | No Comments »

Tayanganmu itu lho..


 

Pak Tabah dan Bu Tegar kembali menunjukkan sikap bersyukurnya sekali lagi. Dengan rumah tanpa listrik, berlantai tanah dan untuk tidur hanya beralaskan dipan keras, namun mereka tetap bisa tersenyum lepas. Si Upik kecil yang makannya tidak teratur dan tidak bergizipun masih bisa riang berlarian kesana kemari. Justru Mbak Akademika yang serba berkecukupan sampai penasaran ingin menjajal gaya hidup kaum ini dibuat menangis terharu biru.

 

Yah, inilah potret kemiskinan di Indonesia yang masih ditayangkan di serial ”Jika Aku Menjadi” Trans TV yang belakangan cukup digemari.

Masyarakat diajak tidak hanya bersimpati namun juga berempati langsung, meskipun tayangan ini ujung-ujungnya tetap ’menjual’ kemiskinan dan kesengsaran hidup sebagai tema. Di akhir cerita si Mbak Akademika tadi menjelma sebagai malaikat yang memberikan sumbangan bantuan, mulai hiburan jalan-jalan, sembako hingga peralatan RT. Bahkan tak jarang mengontrakan kios beserta isinya tanpa dibekali ilmu marketing (entah akhirnya jadi bangkrut atau tidak) atau memberikan gerobak ataupun sebidang tanah untuk modal, memasangkan listrik  dan memberikan televisi, kulkas yang entah dipertimbangkan bisa bayar bulanannya atau tidak..

 

Memang apapun namanya tapi yang jelas untuk keperluan tayangan seperti ini selalu dikontraskan dengan harta hibahan dari Sang Dermawan sebagai klimaks acara.

Tentu kita juga masih ingat dengan ’Bedah Rumah’, ’Uang Kaget’ dan beberapa reality show lain yang senada yang intinya mempertontonkan kemiskinan yang harus dikasihani, dan mimik polos kekagetan yang ditunjukkan si miskin.

Tak banyak yang diberikan oleh pembuat acara, namun sudah pasti keuntungan dari iklan jauh lebih besar yang bisa dinikmatinya.

 

Yah, inilah dunia nyata. Yang besar akan selalu lebih bisa mengambil keuntungan dari yang kecil.

 

Namun terlepas dari itu semua tayangan ini jauh lebih mending sih daripada tayangan sinetron yang semakin tidak bermutu, menjual kekerasan fisik maupun psikis, menonjolkan konflik tajam, menjual penindasan terhadap orang yang lemah dengan segala tipu daya dan keculasan. Bahkan akting kaum antagonis semua hampir sama tanpa variasi, yaitu dengan memelototkan mata dan memonyong-monyongkan bibir. Sementara kaum protogonis juga selalu menumpahkan air mata karena terinjak-injak harga diri dan martabatnya. Ketika dikritik maka biasanya si pembuat mengatakan ini realita yang terjadi dimasyarakat, tidak dilebih-lebihkan (HAAAHH??!!!), setidaknya di masyarakat Jakarta.

 

Saya mulai kuatir tayangan reality show diatas telah menggiring orang miskin berpikiran cupet (pendek) untuk mulai berharap dan bermimpi untuk menjadi bagian dari yang dibantu dengan seketika. Si Panjul yang miskin mungkin saja setelah melihat reality show itu isi doanya berubah menjadi ”Ya Tuhan jadikanlah aku sebagai target mereka selanjutnya..” atau mungkin si Cemplon pengemis cilik yang berusia 12 tahun marah ketika orang yang dimintainya uang tidak serta merta menunjukkan belas kasihan terhadapnya, seperti yang sudah dilihatnya terjadi pada Cemplon-Cemplon yang lain di TV.

 

Sementara bagi penonton kaya yang berpikirian cupet tayangan ini tidak lebih hanyalah sebagai hiburan semata, kemudian berpikir dalam hati ”Aku ngapain bantu orang lagi yah..toh yang baik hati sudah banyak kok, malah mereka sudah masuk tv”.

 

Kalau yang sinetron?

Mungkin ini dia yang dilupakan oleh pembuatnya, atau mungkin tahu tapi atas nama rating dan keuntungan duniawi maka mereka dengan sengaja membuat tayangan tak mendidik itu. Padahal media penularan budaya dan perilaku yang paling efektif adalah televisi. Dengar saja para penyiar radio di Jawa yang menggunakan logat Jakarta, para siswa yang tinggal di area medok telah mengubah bahasanya dengan lu – gue dan aksen Jakarta agar terlihat… eh terdengar gaul.

 

Ya itu karena tontonan yang dilihatnya…pergeseran budaya dan perilaku akibat tayangan tv.

Jadi yang ingin saya sampaikan ke para pembuat tayangan itu:

Jakarta memang di Indonesia, tapi Indonesia bukan cuma Jakarta bos!

 

Posted by ndablek at 14:01:52 | Permalink | No Comments »

Monday, February 9, 2009

Berani?

Pernah merasa takut?

Bisa takut akan kejahatan, takut sakit, takut hantu, takut di PHK dan sebagainya. Kalau dulu masih remaja termasuk takut tidak laku bagi gadis pujaan hehehe..

Untuk melawan ketakutan, maka dibutuhkan keberanian. Tapi dengan berani bukan berarti tidak takut. Nah lho? Bingung kan…

Berani bisa berarti takut tapi tetap menghadapinya dengan persiapan sebelumnya.

Yah memang sih, keberanian sangat mudah diucapkan tapi kenyataannya uuuhhh..

 

Seperrti saya misalnya, sampai sekarang masih aja takut untuk mengambil kebebasan dan kemerdekaan dalam menjalani hidup. Lho kok? Lha iya, karena saya masih diatur jam kerja, uang masih dijatah bulanan, kerja harian sebagian masih karena instruksi. Mungkin apa yang saya jalani juga masih dijalani banyak orang.

 

Namun tayangan di Kick Andy hari Minggu kemarin benar-benar mengusik pikiran saya, dimana ternyata didunia ini, bahkan tidak begitu jauh..yaitu di Indonesia ada orang yang sedemikian berani menjalani apa yang diyakininya.

 

Ada pak Bambang alias Paimo yang dengan yakin dan berani melintasi benua dengan bersepeda diwilayah yang benar-benar baru buatnya. Hanya bermodal keyakinan, meninggalkan keluarga sementara waktu demi mewujudkan kebebasan dan cita-cita yang pernah diidamkannya. Dan tetap pulang selamat.

Ada Herman Wenas yang berjalan kaki membelah Amerika demi promosi Indonesia dan pesan pendidikan. Tekadnya begitu besar untuk berperan dalam dunia pendidikan Indonesia dengan berusaha menggalang dana.

 

Lalu ada juga pak Ham yang menjual seluruh hartanya di New York kemudian dengan uang tersebut kembali ke Indonesia seorang diri menggunakan kapal layar kecil. Bahkan Vasco de Gamma ataupun Christopher Colombus pun saya yakin tidak berlayar sendirian. Pak Ham mengarungi lautan karena meyakini dan menjalani apa yang memang diinginkannya.

 

Yang terakhir ada Jefri yang keliling dunia selama 2 tahun 8 bulan dan singgah di 72 negara nonstop dengan mengendarai sepeda motornya demi sebuah pesan perdamaian bagi umat manusia, meskipun dia sendiri nyaris celaka karena ditembaki orang di Afganistan.

Melihat kegigihan dan keyakinan mereka dalam menjalani apa yang mereka impikan benar-benar membuat saya merasa kecil, penakut bahkan pengecut. Saya hanya menjalani apa yang harus saya jalani meskipun seringkali saya merasa ini bukan jalan yang saya kehendaki.

Pembelaan diri saya karang dengan membuat pernyataan bahwa memang kadang kita tidak bisa menjalani yang kita mau, karena jalan hidup kita mengharuskan demikian.

Namun sekali lagi itu terbantah..karena pada dasarnya hidup ini sepenuhnya berisi pilihan, tinggal kita berani atau tidak memutuskan sesuai kata hati kita.

Tpi aku masih takuuuutttt………. glekk..

Posted by ndablek at 10:42:04 | Permalink | No Comments »