Friday, March 27, 2009

Helm SNI

Duuhh..byuh..byuh..byuh..aturan apalagi ini..hhmm..heeuuhh…

Sudah masyarakat lagi susah, duit pas-pasan lagi-lagi masih saja menjadi sasaran ketidakmatangan penerapan kebijakan pemerintah lewat instansinya.

 

Buat yang belum tahu, gini lho..sekarang ini semua pengendara sepeda motor mulai diwajibkan memakai helm dengan stiker SNI, alias yang sudah lulus Standar Nasional Indonesia untuk mengurangi resiko kecelakaan. (eh, bukannya resiko kecelakaan lebih bisa diminimalisir dengan perilaku berkendara dan uji kelaikan kendaraan yang ’bebas KKN’?)

 

Baikkah kebijakan ini? Tentu saja baik.

Mendukungkah saya? Jelas mendukung.

Lalu kenapa saya mempermasalahkannya?

Ya juelass Mas, Mbak, Om, Tante, Cik, Koh…


Masalahnya ada wacana bagi polisi untuk menilang pengendara yang tidak menggunakan helm SNI tersebut.

Nah lho? Bukannya ini malah nanti jadi lahan baru buat para ’pecinta damai’ tersebut?

Belum lagi terbayang kan rentetan efek dominonya, lha wong beberapa pengusaha helm tradisional atau berskala UKM mulai ada yang menghentikan ushanya karena takut merugi. Ujung-ujungnya karyawan yang sudah dibayar minim masih harus menelan pil pahit dirumahkan…dimasa yang serba tidak menetu ini pula.

Sungguh, sudah jatuh ketimpa tangga masih kejatuhan kelapa pula.

 

Masuk akal juga alasan para pengusaha itu karena mereka juga kuatir helmnya tidak laku, bahkan yang sudah laku ke pengecerpun kemungkinan besar akan dikembalikan ke produsen.

Masalah utamanya adalah sosialisasi yang terburu-buru. Menurut hemat saya setidaknya hal seperti ini mestinya sudah disosialisasikan 6-12 bulan sebelumnya, sehingga mata rantai yang ada didalamnya (termasuk konsumen) bisa mempersiapkan diri.

 

Kenapa saya senewen?

Lha iya, kan saya juga terlanjur membeli helm biasa dan sampai sekarang Skondisinya masih baik pula.

Meskipun demikian saya selalu memilih yang full face dan tidak terlalu tipis, meskipun bukan yang berlabel SNI. Bagi saya, kehati-hatian berkendara jauh lebih berperan dalam mengurangi resiko celaka dijalan.

 

Sudah begitu yang terbayang dibenak saya adalah bagaimana orang yang sudah membeli helm berlabel SNI, lalu mencopot stiker SNI tersebut karena jelek atau karena akan dicat ulang? Kan petugas ’pecinta damai’ bisa saja berkeras itu helm non SNI.

Apa nanti tidak malah jadi jual beli stiker untuk mengelabui petugas?

 

Penguasa..penguasa..makanya kalau melakukan rekrutmen itu mbok yang baik seperti perusahaan swasta, benar-benar difilter.

Jadi SDM yang bekerja didalamnya bisa menghasilkan kebijakan yang profesional dan strategis.

Lha wong yang sudah direkrut dengan baik saja masih punya kelemahan apalagi yang sembarangan.

 

Duuhh..byuh..byuh..byuh..

 

 

Posted by ndablek at 03:42:44 | Permalink | No Comments »

Wednesday, March 25, 2009

Saya dan tetangga baru


 

Belakangan ini saya bertemu kembali dengan teman lama yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa. Kami dulu kenal saat masih sama-sama kuliah di Jogja, saat dimana kami lagi culun-culunnya, yah..tahu sendiri kan mahasiswa Jogja secara kualitas finansial tidak sebaik mahasiswa Jakarta ataupun Bandung. Dulu kami kurus, tidak seperti sekarang yang sudah mulai gendut, seolah ingin lekas-lekas meninggalkan image udik, ga terurus dan miskin.

 

Nah kebetulan teman saya ini sedang mencari tempat tinggal didaerah Jakarta Pusat, sebelumnya dia bekerja dan tinggal didaerah Selatan. Jadilah akhirnya saya menginformasikan bahwa sebelah tempat tinggal saya kosong dan belum ada yang menyewa.

 

Hari-hari awal selalu kami isi dengan bercengkerama sepulang kerja seputar flashback kenangan saat di Jogja, saling bercerita kabar si A dan kabar si B yang begini dan yang begitu, yang sudah punya ini dan itu serta si C dan si D yang masih disini disitu aja.

Tapi lama-lama entah darimana datangnya seringkali kami terjebak pembicaraan yang terkait dengan penghasilan, harta yang sudah dimiliki dan mimpi-mimpi menjadi orang sukses dengan segala antusias masing-masing, meskipun dengan nada bercanda dan saling merendah.

Meskipun begitu saya tahu pasti saya pasti kalah soal penghasilan, karena jenis pekerjaan yang digeluti berbeda…setidaknya mobilnya lebih baru dan mahal dari punya saya.

 

Lama-lama jengah juga kalau begini, dulu kalau bercerita tentang pekerjaan maka yang terbayang adalah bagaimana bisa menjadi lebih baik dan saling bertukar informasi, tapi sekarang sepertinya tanpa perlu diungkap pun saya merasa sebaiknya menjadi pendengar saja karena sudah pasti ’lebih banyakan duitnya’ alias lebih advance tarafnya. Padahal semasa kuliah, saya dulu lebih makmur lho, setidaknya demikian pandangan saya..wong saya sudah naik motor sementara dia cuma jalan kaki.

 

Tapi yah.. nasib dan jalan hidup orang memang tidak bisa ditebak. Boleh jadi dulu lebih baik, sekarang malah sebaliknya. Saya diwisuda lebih dulu tidak berarti lebih sukses dari teman yang diwisuda belakangan..karena ternyata perusahaan yang dimasuki sangat memberi andil pada taraf hidup seseorang pada tahun-tahun berikutnya.

 

Tapi yang bisa dipetik dari cerita ini adalah saya harus selalu waspada bahwa keadaan sekarang tidak langgeng, jadi tidak boleh santai dan merasa puas dulu. Dan sebaik-baiknya keadaan orang lain, maka akan lebih baik lagi kalau saya bisa mensyukuri keadaan yang saya jalani sekarang sambil terus berusaha untuk meraih prestasi gemilang.


Yang terakhir..saya diingatkan untuk tidak meremehkan orang lain yang meskipun kondisinya sekarang dibawah saya dan belum ’diwisuda’, karena suatu saat kalau Tuhan berkenan maka dia bisa saja ada diatas saya dan saya hanya bisa mengagumi keberhasilannya saja.

Posted by ndablek at 09:08:17 | Permalink | No Comments »

Sunday, March 22, 2009

Cinta & Keadilan


 

 

Disebuah kampung pedalaman hidup seorang kepala suku yang terkenal sangat bijaksana. Agar rakyatnya hidup aman dan damai ia secara cermat menyusun undang-undang sebagai pedoman untuk setiap aspek kehidupan suku yang dipimpinnya.

 

Ternyata walaupun telah ada aturan tersebut rupanya masalah tetap saja ada. Suatu hari sang kepala suku mendapat laporan dari rakyatnya bahwa telah beberapa kali terjadi pencurian. Kemudian kepala suku segera mengumpulkan rakyatnya dan berkata,
”Kalian tahu bahwa undang-undang dibuat dan diterapkan untuk melindungi dan menolong kita bersama agar hidup dalam damai dan rasa aman. Pencurian ini harus dihentikan, maka apabila ada orang dari suku ini yang kedapatan mencuri kepadanya akan ditambah sepuluh cambukan menjadi dua puluh cambukan sebagai hukumannya.”

 

Waktu berjalan, namun si pencuri rupanya tidak gentar dengan ancaman kepala suku. Pencurian kembali lagi terjadi saat rakyat sibuk bekerja di ladang.

Kepala suku segera mengumpulkan rakyatnya dan berkata,”Tolong dengarkan saya, perbuatan ini harus dihentikan. Siapapun engkau segera bertobatlah dan biarkan rakyat hidup tenang. Pencurian ini menyakiti kita semua dan membuat kita saling curiga. Kini hukuman akan saya tambah menjadi tiga puluh cambukan jika ada yang kedapatan mencuri.”

 

Ternyata pencurian masih tetap terjadi. Maka kembali pada pertemuan rakyat kepala suku menegaskan,
”Demi kebaikan kalian sendiri maka pencurian ini harus dihentikan. Hukumannya akan saya tambah menjadi empat puluh cambukan jika kedapatan ada yang mencuri!”
Kepala suku mengatakan dengan pilu, kali ini kepedihan sangat nampak diwajahnya karena merasa ia sudah tidak disegani lagi. Orang yang berada didekatnya saja yang bisa melihat tetesan air matanya saat ia membubarkan pertemuan itu.

 

Sampai pada suatu hari sekelompok laki-laki datang kepadanya dan mengatakan bahwa pencurinya telah tertangkap. Berita itu segera tersebar dan semua orang berkumpul karena penasaran dengan wajah si pencuri dan ingin tahu tindakan yang akan diambil sang kepala suku terhadapnya.

 

Ketika si pencuri dibawa kedepan kepala suku, tampak wajah kepala suku yang sangat terpukul dan terguncang. Pencuri itu tidak lain adalah anaknya sendiri.

”Apa yang akan dilakukannya sekarang?” terdengar suara orang yang berkerumun disitu. Mereka ingin tahu sikap kepala suku, apakah ia akan tetap menegakkan hukum ataukah cintanya kepada anaknya akan mengalahkan hukum?

Rakyat menunggu dengan cemas, suasana terasa sangat mencekam.

 

Akhirnya kepala suku berkata,” Rakyatku tercinta..” nadanya terdengar berat,
” ..demi keamana dan tegaknya keadilan dikampung kita maka hukuman cambuk empat puluh kali harus dilaksanakan!” suaranya terdengar semakin bergetar sementara anaknya berusaha mengiba-iba dan mohon ampun.

Selanjutnya kepala suku segera memberikan instruksi kepada algojo untuk bersiap-siap dan mengikat anaknya ditiang pencambukan. Anaknya meronta dan menangis saat para algojo mulai membuka bajunya.

 

Saat itulah tanpa diduga sang kepala suku turun mendekati tiang, dan melepas jubah kebesarannya. Nampak bahu yang lebar dan kokoh mencerminkan kekuatannya.

Ia merangkul anaknya dengan lembut dan melindungi tubuh si anak dengan tubuhnya sendiri. Ia berbisik dengan lembut dipipi anaknya, entahlah apa yang dikatakannya namun keduanya terlihat menangis sehingga air mata keduanya bercampur.

Dan seketika itu sang kepala suku berseru dengan lantang pada algojo,” Segera mulailah hukumannya! Jangan banyak bertanya. Ini perintah!”

Dan genap empat puluh kali pula cambukan yang diterima sang kepala suku hingga membuatnya berdarah-darah dan lemah.

 

Rakyat yang menyaksikan peristiwa tersebut terhenyak dan membisu, takjub melihat bagaimana kepala suku menjalankan cinta dan keadilan dalam satu waktu.

”Dialah pemimpin sejati”, demikian gumam para rakyatnya.


Masih adakah pemimpin seperti itu dilingkungan Anda?

 

Posted by ndablek at 11:27:12 | Permalink | No Comments »

Friday, March 20, 2009

Terbanglah tinggi



Setelah sekian lama berusaha menepikanmu, mencoba fokus pada apa yang sekarang kujalani.. tiba-tiba secara tak sengaja kudengar berita pernikahanmu. Akupun ikut bahagia. Hingga kini kalau mendengarkan lagu atau terkenang suasana saat dulu hati kita terjalin, hati ini masih seperti tak percaya.

 

Antara ikut bahagia… tapi juga masih terasa mengejutkan, cukup membuatku terpaku kelu.

Hati ini seperti tertusuk duri, pedih…seperti luka yang tak bisa kering dalam semalam.

Aku senang karena akhirnya kamu menemukan pasangan hatimu, meskipun ternyata tidaklah mudah merelakanmu dimiliki. Tapi senyum bahagiamu itu meyakinkanku kamu bersama orang yang tepat.

 

Semoga pernikahanmu menjadi awal yang terbaik untuk kehidupan masa depanmu. Dan seandainya kamu menemukan tulisan ini, ketahuilah aku akan selalu mendoakanmu untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu.

Dan akan terus kujalani juga apa yang telah kujalani, hingga kita bertemu kembali suatu waktu nanti..dan mentertawakan kisah kita bersama.

Posted by ndablek at 01:14:44 | Permalink | Comments (2)

Wednesday, March 18, 2009

Saya yang sok pintar


Kalau Anda seorang karyawan yang sudah cukup mapan, meskipun gajinya juga tidak melulu besar namun setidaknya sudah berkecukupan, ada rumah dan kendaraan serta tabungan. Lalu tiba-tiba Anda diajari seorang mahasiswa tentang ”bagaimana menjadi seorang karyawan yang baik” padahal dia sendiri belum pernah bekerja dan bahkan untuk kekampusnya saja dia masih menggunakan sepeda bututnya, lengkap dengan tas ransel kumalnya.

Semua yang dia ajarkan hanyalah teori yang berasal dari buku dan diktat.

Apa yang ada dibenak Anda?

Bisa jadi Anda mengambil ilmunya, tapi kemungkinan besar mencemooh atau mentertawakan dalam hati karena merasa kondisi sebenarnya justru dia yang lebih perlu dibantu mengurus dirinya sendiri dulu.

 

Dalam bekerja seringkali saya merasa menjadi mahasiswa tadi. Seringkali saya ’terpaksa’ menjadi sok tahu, sok mengajari, sok menuntun orang lain untuk lebih maju sementara kondisi yang sebenarnya mereka jauh lebih baik daripada saya.
Setidaknya mereka telah mempraktekkan bisnis dibandingkan saya yang masih dalam tahap wacana. Secara takaran kemakmuran pun saya masih jauh dibawah para pebisnis itu. Apalagi dalam ukuran kemandirian dan keberanian mengelola resiko.


Tapi ketika mereka cenderung menolak ilmu yang kami bawakan, segera saja ada pendapat yang menjustifikasi bahwa mereka malas, sulit maju, kayu mati dan sebagainya.

Hei…bercerminlah dulu, belum tentu ketika posisi ditukar kita bisa menghasilkan separuh dari yang bisa dia hasilkan saat ini lho.


Jadi sebaiknya tidak sok tahu dan sok pintar ya..tapi menciptakan empati, berpikir seolah berada diposisi orang yang kita ajari. Dan tentunya kita cerminkan diri kita terlebih dulu dengan ’bukti’ supaya setidaknya mereka lebih yakin bahwa ilmu yang kita berikan pun telah berhasil mengembangkan nasib kita, meskipun dibidang yang berbeda.

Posted by ndablek at 04:52:59 | Permalink | No Comments »