Niat baik yang malah menambah kerepotan
Cerita ini mengingatkan saya akan sesuatu.
Si Tiwul berencana memasang lukisan di dinding rumahnya, segala sesuatunya telah siap, posisi juga telah diukur dan hanya tinggal memukul paku dengan palu saja maka terpasanglah lukisan tadi. Sangat sederhana, mudah dan cepat, akan selesailah pekerjaan memasang tersebut.
Tetapi pada saat akan memukul paku, datanglah si Panjul membantu memegang lukisan tersebut sambil berkata,
” Wul, jika langsung dipasang kurang indah, sebaiknya di dinding diberi kayu triplek dahulu agar lebih indah.”
Sambil menurunkan lukisan si Panjul berkata kembali, ”Tunggu sebentar ya, dirumah ada triplek yang bisa dipakai, aku ambil sebentar.”
Tiwul yang mendengar rencana baik itupun setuju saja.
Panjul segera pulang, setengah jam kemudian kembali dengan membawa triplek dan mencoba memasangnya tetapi ternyata triplek tersebut kebesaran.
” Wul, triplek kita kebesaran, sebaiknya kita potong dahulu saja agar tampak lebih serasi.”
Maka si Tiwul pun mengangguk menuruti ide si Panjul sambil berkata,” Njul, aku tidak punya gergaji, bagaimana mengecilkannya?”
Panjul yang baik hati ini segera menjawab,” Tunggu sebentar ya, aku akan keluar mencari pinjaman.”
Kira-kira sejam kemudian Panjul kembali dengan membawa gergaji, namun sayang mata gergajinya sudah tidak tajam, kurang bagus tapi masih bisa dipakai daripada tidak ada sama sekali. Setelah digergaji kini nampaklah ukurannya telah serasi namunpinggirannya sangat kasar karena gergaji yang tidak tajam tadi.
Si Panjul kembali berkata,” Apakah kamu punya amplas?”
Tiwul menjawab,” Sepertinya aku masih punya dan ada beberapa lembar di gudang.”
Akhirnya mereka berdua menuju ke gudang dan dengan susah payah bongkar sana bongkar sini mencari kertas amplas. Sial, kertas amplas ditemukan tapi karena terlalu halus maka setelah setengah jam mengamplas tak pula halus pinggiran triplek tadi.
Sambil kelelahan Panjul berkata,” Wul, tampaknya amplas ini tidak sesuai kebutuhan kita, aku akan meminjam serutan kayu saja. Dalam sekejap pasti beres dan halus.”
Berjam-jam Tiwul menunggu Panjul akhirnya dapat juga serutan yang dimaksud. Dengan rasa puas dan bangga Panjul menunjukkan serutan tersebut,” Wah, aku capek sekali berkeliling-keliling karena teman kita jarang ada yang punya. Untunglah aku bertemu teman kita si Kuncung yang mengatakan bahwa dia punya serutan yang tidak terpakai. Akupun bongkar sana-sini membantunya mencari digudang, syukurlah tidak sia-sia.”
”Ayo Wul, kita selesaikan pekerjaan yang tertunda tadi!” ujarnya bersemangat.
Saat menyerut sadarlah mereka bahwa mata pisau serutan itu tumpul dan berkarat karena sudah lama tidak terpakai.
”Wul, kamu punya batu asahan pisau tidak?”
Tiwulpun segera ke dapur mencari batu asahan pisau. Berdua mereka mengasah mata pisau serutan kayu tadi. Karena tidak biasa maka pegal-pegal lah tangan mereka karena sudah lama mengasah tapi mata pisau itu tak kunjung tajam juga.
30 menit mereka mengasahnya dan akhirnya berhasil membuat tajam mata pisau tersebut.
Tetapi karena serutan itu sudah lama tidak terpakai plus ditambah pemakainya tidak tahu cara yang benar menyerut kayu, maka gagang kayu serutan yang tua itupun patah.
Dengan marah, jengkel dan putus asa mereka berdua berhenti sambil menyeka peluh.
Panjul berkata,” Wul, coba kamu aja yang sekaran cari pinjaman serutan yang lain barangkali masih ada yang punya dalam kondisi baik. Kalaupun tidak ada, pinjam apalah yang penting bisa menghaluskan triplek ini. Kikir, gerinda atau terserah apa deh yang ada.”
Akhirnya setelah berkeliling cukup lama Tiwul kembali pulang ke rumahnya sambil membawa kikir.
”Njul, aku Cuma dapat pinjaman kikir besi kecil ini, bibirku sampai dower kakiku sampai berasa patah demi mencari kikir ini karena rata-rata mereka tidak memiliki alat pertukangan.”
Malang benar, kikir besi kecil itupun tidak menolong, bahkan membuat pinggiran triplek semakin tidak rata.
Ditengah kelelahan si Panjul muncul ide lagi,” Wul, mari kita cari pohon yang kuat, nanti kita buat sendiri saja gagang serutan kayu tadi dari pohon yang kita tebang!”
Akhirnya mereka berhasil menebang pohon, potong dahan sana terlalu besar, potong dahan sini terlalu kecil. Sana-sini hasilnya tetap saja kurang bagus. Sesampai dirumah mereka kembali bekerja untuk membuat gagang yang pas. Kayu dilubangi, digergaji dan diamplas. Kayu kurang rata diratakan, lubang kurang besar dibesarkan, kayu kurang halus dihaluskan.
Kesibukan mereka akhirnya beralih untuk menghasilkan gagang serutan kayu dan setelah menjelang sore mereka baru bisa membuat gagang dengan ukuran yang pas. Akhirnya mereka kembali menyerut triplek namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Setelah hampir sejam merekapun menyerah, sambil duduk memandangi kerjaan yang berantakan, hasil yang tidak karu-karuan. Sana-sini tercecer peralatan. Jengkel, lelah, marah dan putus asa campur aduk dalam benak mereka..mengapa pekerjaan memasang lukisan berkembang menjadi sedemikian jauh?
Setelah terduduk 10 menit, Panjul yang super antusias ini kembali bangkit dan dengan bersemangat berkata,”Wul, kamu tunggu disini ya, aku akan ke pinggiran kota. Disana ada tukang kayu yang terampil.”
Tiwul yang kecapekan hanya bisa diam dan mengangguk saja, maka pergilah si Panjul.
Singkat kata, tibalah Panjul dipingiran kota. Ruang kerja tukang itu tidak begitu luas, disana-sini berantakan alat sebagaimana layaknya pertukangan. Panjul pada awalnya hanya ingin meminta bantuan tapi demi melihat banyak hal yang tidak beres dan kurang berkenan dihatinya maka Panjul yang baik dan antusias ini tergugah untuk membenahi ruangan si tukang tadi. Dia berkata,” Hai Mas, ruanganmu ini tidak terlalu besar, semestinya bisa diatur lebih rapi lagi. Meja disana, kursi disini, alat-alat sebaiknya dibuatkan kota khusus agar mudah mencarinya, kemudian balok kayu bla..bla..bla..”
Si tukang kayu mendengar ide bagus Panjul mengangguk-angguk setuju, kemudian mulailah mereka berdua bergotong royong merapikan ruangan tersebut. Pindah sana pindah sini, geser sana geser sini, gotong ini gotong itu.
Sampai malam Tiwul menunggu Panjul yang belum juga kembali. Akhirnya karena merasa cemas Tiwul segera bergegas menyusul ke pinggiran kota untuk melihat kondisi Panjul, dengan meninggalkan rumah dalam kondisi berantakan dan belum dibersihkan.
Ketika sampai didekat rumah tukang kayu, dari kejauhan Tiwul melihat Panjul sedang asyik menggotong-gotong meja.
Tampaknya Panjul justru lupa dengan tujuan semula.