Naik pesawat terbang
Pesawat terbang sih sudah lama saya kenal..tapi menaikinya dan melesat cepat, terbang bersamanya mengangkasa sampai ketip-ketip yo belum lama, semenjak kerja saja. Selain dibiayai, kadang juga sudah bisa pergi dengan tabungan sendiri.. eleuh-eleuh… (padahal aslinya sering manfaatin reimburse point reward juga hahaha…)
Yah, kalau dihitung-hitung nih selain pernah nyobain maskapai luar, mungkin sudah ratusan kali terbang dengan maskapai Indonesia yang cukup merangsang adrenalin itu karena rumor dan opini yang beredar dimasyarakat. (wahh…bahasanya lebih santun nih, takut sama UU ITE *adijikkss..)
Beruntung standar perusahaan adalah memprioritaskan ke salah satu maskapai yang cukup tersohor di negeri ini, jadi relatif sedikit tenang meskipun maskapai itu memiliki catatan buruk juga yang terakhir di Yogya.
Selain sensasi terbang yang menyenangkan bisa pindah-pindah kota dalam waktu singkat, namun sebiasa-biasanya, semaklum-maklumnya, seyakin-yakinnya dan seberani-beraninya saya…ternyata saya ini masih punya rasa takut juga lho kalau naik pesawat. Terutama kalau cuaca mendung dan musim penghujan yang sudah pasti akan terjadi banyak goncangan dan ser-seran di udara. Wah ketambah lagi kalau terbangnya antara sore – malam.
Sayang hal ginian ini belum jadi perhatian suatu Departemen dalam perusahaan..diitung juga dong biaya kompensasinya! Ngeri tau! Loe sering bilang, ”Enak nih ini jalan-jalan terus…”
”Jalan-jalan moyang lu?” balas ku.
Hehe..back to topic.
Nah kalau sudah begitu, selain mencengkeram pegangan tangan erat-erat (meskipun gak ngaruh yah?) saya biasanya berusaha tenang dengan berdoa dan membaca-baca apapun yang ada tulisannya…hehe termasuk membaca nama pramugari dibajunya (ini berlaku khusus yang cantik aja lho hakhakhakkk..)
Ujung-ujungnya, saya merasa paling pasrah kepada Tuhan ya dalam kondisi itu, wis miturut karep-Mu wae Tuhan, aku manut…wong kalau dalam kondisi biasa saya ini cukup ngeyelan dan seenaknya sendiri sama Tuhan.
Naik pesawat, mirip dengan saat menjalani kehidupan. Saya sudah terbiasa menghadapi yang tidak enak, yang penuh tantangan, yang menakutkan, yang penuh ketidakpastian dll. Sungguh merupakan kemurahan Tuhan karena sampai sekarang saya masih bisa hidup dengan ’layak/cukup’ dan survive menghadapi semua rintangan tersebut.
Tapi masih saja, kekuatiran saya akan masa depan tidak menjadi hilang begitu saja padahal Tuhan telah berkali-kali membuktikan kalau Dia tidak pernah meninggalkan saya bermasalah tanpa jalan keluar. Saya paling takut kalau rencana tata kehidupan saya meleset dari rute yang telah ditentukan. Dan efeknya saya akan ’menunjuk-nunjuk’ siapapun yang saya rasa membuat itu terjadi, termasuk menyalahkan diri sendiri.
Sejauh ini melangkah, semakin banyak bukti penyertaan-Nya, semakin tua pula saya tapi belum membuat saya semakin dewasa, semakin percaya kalau Tuhan selalu melindungi.
Masih saja saya berkutat dengan kekuatiran masa depan saya dan akhirnya lebih berharap pada manusia dan logika daripada kepada Tuhan.
Semoga tidak terjadi pada anda.
