Sunday, October 25, 2009

Pelawak

Melihat Tukul, Srimulat, Cagur, Patrio dan banyak grup lain kadang membuat saya iri juga, senangnya ya kerja ga serius dan cengengesan begitu tapi dibayar mahal. Lebih mahal dari gaji karyawan managerial level yang bekerja keras memeras otak untuk melahirkan ide dan kreasi baru, konsolidasi anak buah hingga menjadi leader di lapangan.

Sudah begitu mereka terkenal pula, banyak yang ingin berdekatan sekedar berjabat tangan, berfoto bareng atau meminta tandatangan.. hmm… sekilas sungguh merupakan sebuah cara menjalani hidup yang menyenangkan.

Mulia, karena mendatangkan keceriaan bagi orang lain. Menghibur, terhibur dan dibayar!

Namun ternyata tidak semua orang bisa melucu, sering juga saya melihat orang yang berusaha melucu tapi tidak berhasil, malah garing dan wagu.

Dulu waktu ada API di TPI kita bisa melihat bahwa semua kontestan berlatih keras dan tampil luar biasa dengan skenario yang telah dirancang sedemikian rupa, namun tidak semua berhasil mengocok perut kita. Kalaupun penonton tertawa mungkin tertawa sinis karena tidak ada yang perlu ditertawakan.. hehe..

Jadi kesimpulan saya melawak itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk berhasil menjalani pekerjaan (yang sekilas indah dan menyenangkan karena selalu cengengesan dan serba bercanda) itu pasti dilatar belakangi oleh pemikiran super serius untuk mencapai target dalam durasi yang terbatas:

Penonton harus bisa terpingkal-pingkal!

Hal ini tentu lebih diperberat tatkala si pemain sendiri mood-nya sedang tidak baik karena ada masalah pribadi atau keluarga, yang mana pasti terjadi dalam hidup setiap manusia.

Kalau kita, saat mood sedang jelekpun masih dimungkinkan untuk bekerja, namun mood jelek pelawak tentu merupakan sebuah hambatan fatal dalam karirnya jika tidak pandai ditutupi.

Seorang teman pernah berkata, pelawak yang hebat adalah pelawak yang tidak tertawa ketika melawak. Dengan kata lain bisa menahan ketawa.Pendapat saya boleh jadi berbeda. Mereka bisa tidak tertawa mungkin karena lawakan yang sama diucapkan berulang-ulang hingga bosan dan tidak ada efek lucunya lagi bagi mereka. Bisa jadi karena sebenarnya mereka sedang dirundung masalah.

Yang lebih repot lagi, image pelawak ini tidak bisa ditanggalkan meskipun saat tidak bekerja. Jadi kemana-mana terpaksa berusaha tampil lucu, segar dan menghibur.

Nah, menurut saya ini sebenarnya justru merupakan tekanan tersendiri.

Jadi……Sebenarnya siapa yang lebih terhibur dan berbahagia: kita yang tertawa lepas karena lawakan pelawak atau pelawak yang berusaha mati-matian membuat kita tertawa?

Posted by ndablek at 15:20:16 | Permalink | No Comments »

Monday, October 19, 2009

Sumpah (Sampah??)

Membaca status seorang teman di FB mengenai kontrak anti korupsi para menteri tiba-tiba saya jadi tergelitik.  Seberapa efektif kah kontrak politik, sumpah jabatan atau sejenisnya itu?

Dokter punya sumpah profesi, tapi sering saya menjumpai oknum dokter yang profit oriented, ada yang suka mengganti resep dokter lain dan bilang jangan diteruskan, padahal obatnya masih banyak (belakangan saya ketahui isinya sama hanya beda produsen à mungkin demi mengejar insentif), ada yang  tidak empatik macam robot dan terkesan selalu jump to conclusion  tanpa mau mendengar sampai tuntas. Ada yang hasil labnya belum keluar, tapi berhubung dokternya sudah mau pulang akhirnya saya langsung dikasih resep. Bahkan saya juga pernah datang dalam kondisi sakit parah, tapi banyak ditanya-tanya kerja dimana dan ada asuransi tidak (karena ini mahal banget lho, katanya), baru dipersilahkan masuk ruang periksa setelah saya pastikan saya tercover perusahaan.

Pengen misuh sebenarnya, tapi itu sdh cerita lalu.

Ada juga oknum polisi, yang saya yakin juga ada sumpah pengabdiannya. Tapi sudah menjadi rahasia umum kalau ada oknum polisi juga menyukai suap, yang punya pengalaman ditilang lalu diajak damai pasti sudah banyak. Hebatnya mereka sudah pasang harga kadang tawar menawar persis seperti jual beli sayur di pasar. Saya pernah mengalami juga pakai kendaraan plat AD melewati kota Tasikmalaya (plat Z), ditilang karena menerobos lampu merah yang tertutup pohon lebat, yang kalau bukan orang Tasik pasti tidak tahu ada traffic light-nya.

Eh polisinya membenarkan tidak terlihatnya traffic light-nya itu tapi bilang tak peduli, itu bukan urusan mereka tapi DLLAJR. Hhegghh.. lalu diminta ‘titip 50ribu’ atau datang sidang.. Ya terpaksa pilih titip, masa saya harus ke Tasikmalaya lagi demi sidang hal sepele begitu? Solo – Tasik butuh 7 jam perjalanan darat, Bro!

Hebatnya lagi di Samsat tempat saya dulu ngurus SIM ada spanduk besar “Hindari calo”, tapi begitu selangkah masuk saja sudah banyak tawaran dari para calo. Logikanya para polisi kalau memang niat memberantas calo kan gampang saja, pasti wajahnya sudah sangat dihafal karena sliweran disitu. Eh..begitu masuk ruang foto, didalam juga ada calo, seenaknya masukin orang untuk foto tanpa antri.

Lalu, kalau melihat televisi mengenai persidangan, sebelum bersaksi pasti semua akan diminta bersumpah tapi tetap saja ya banyak yang memutar balikkan fakta. Lalu uang bermain disana.

Sumpah sepertinya tidak sakral lagi.

Kalau begitu, apakah sumpah itu masih diperlukan?

 

 

 

 

 

Posted by ndablek at 08:10:06 | Permalink | No Comments »

Monday, October 5, 2009

Master Hipnotis

Belakangan ini makin populer tayangan mengenai kekuatan hipnotis (atau kekuatan pikiran jika menurut versi pelaku) yang ada di TV.

Jam tayangnyapun ada yang sore hari ada pula yang malam hari.

Menyenangkan sekali nampaknya kalau kita bisa mengendalikan pikiran kita untuk mensugesti hal-hal positif , dimana segala pikiran ketakutan dan perasaan negatif bisa dienyahkan.

Bahkan beberapa artikel yang pernah saya baca, hipnotis ternyata bisa dimanfaatkan pula untuk keperluan medis dan terapi, misalnya untuk operasi, persalinan, mengatasi kecanduan, trauma, phobia, perilaku dan sebagainya. Misal untuk mengubah kenakalan remaja menjadi hilang dan terganti dengan sugesti untuk hormat pada orang tuanya.

Hmm… sepertinya ini kok adalah jalan pintas ya?

Legal atau tidak, etis atau tidak, wajar atau tidak..terserah anda menilainya.

Yang menjadi ganjelan saya adalah ketika hipnotis itu dipraktekan semena-mena, setidaknya dalam pandangan saya.

Menghipnotis orang lain kemudian memintanya untuk melakukan hal-hal yang lucu (baca: memalukan) bahkan kadang mengungkapkan sesuatu yang kurang pantas, rahasia pribadi dimuka umum hanya untuk hiburan semata. Parahnya lagi, ditayangkan di televisi yang bisa diakses siapapun dan dimanapun.

Seolah mengerjai atau mempermalukan bahkan menyakiti orang lain merupakan hal yang sah-sah saja, toh itu dikerjakan di alam bawah sadar dan antara pelaku dan si korban telah ‘berdamai’ dengan jabatan tangan dan ucapan terima kasih.

Cukup mengherankan memang, hanya dengan menepuk pundak, menjabat tangan, menatap mata atau bahkan hanya mendengar suara di telepon maka ketika si korban diperintahkan untuk tidur oleh si penghipnotis, seketika itu pula dia tertidur dalam ketidaksadarannya.

Terlepas dari apakah ini hiburan semata, fiksi, sihir, mistik, gendam atau bahkan ilmiah..namun menurut saya hal tersebut tidak pantas untuk ditayangkan.

Bayangkan jika yang 0,01% saja pemirsa yang melihat adalah orang yang tidak bisa memfilter bahkan kemudian berniat mempelajarinya untuk kegiatan negatif dan kejahatan lainnya.

Saya ragu kalau pembuat dan pelaku tayangan tersebut mau bertanggung jawab.

Apa pendapat anda?

Posted by ndablek at 18:21:14 | Permalink | No Comments »

Sunday, October 4, 2009

2 zona

Banyak yang bilang kalau mau maju semestinya kita berani meninggalkan comfort zone (zona nyaman) kita. Dengan ketidaknyamanan maka diri kita terpacu untuk beradaptasi lebih baik dan mengembangkan seluruh potensi yang ada untuk bertumbuh.

Kadang agak aneh kalo saya diminta menyatakan posisi sekarang ada di zona apa, krn kalo dibilang nyaman ya nyaman..kalo dibilang tidak nyaman ya tidak nyaman juga. Tinggal dari sisi mana saya memandangnya saja.
Ketika melihat kebawah, saya merasa nyaman…tatkala melihat ke atas maka ketidaknyamananlah yang muncul.

Ke dua zona ini jadinya kok mirip yin dan yang yah? hehehe…
Atau kalo dengan perumpamaan yang lain, sebenarnya jalan hidup ini seperti rel kereta, sementara diri kita adalah kereta yg melaju diatasnya.
Maksud saya adalah, sisi kehidupan terletak beriringan. Dimana ada ketidaknyamanan, maka pasti ada sisi kenyamanan dan sebaliknya…namun demikian kita pasti menggunakan keduanya untuk melaju menuju ketempat yang berbeda..bisa ke arah yg lebih baik, atau ke arah yg lebih buruk.

Ketidaknyamanan membuat kita terpacu untuk beradaptasi (dlm hal positif tentunya), namun kenyamanan membuat kita bisa balance untuk tetap mensyukuri proses yg telah dilalui.
Kenyamanan hidup yang kita terima dan rasa bersyukur, disaat yg sama membuat kita siap dan berani menerima ketidaknyamanan sebagai tantangan yang harus diatasi.

Jadi melihat kedepan dalam proporsi yg tepat antara ke bawah dan ke atas akan membuat kita melangkah lebih baik.

Posted by ndablek at 15:03:49 | Permalink | No Comments »