Monday, October 19, 2009

Sumpah (Sampah??)

Membaca status seorang teman di FB mengenai kontrak anti korupsi para menteri tiba-tiba saya jadi tergelitik.  Seberapa efektif kah kontrak politik, sumpah jabatan atau sejenisnya itu?

Dokter punya sumpah profesi, tapi sering saya menjumpai oknum dokter yang profit oriented, ada yang suka mengganti resep dokter lain dan bilang jangan diteruskan, padahal obatnya masih banyak (belakangan saya ketahui isinya sama hanya beda produsen à mungkin demi mengejar insentif), ada yang  tidak empatik macam robot dan terkesan selalu jump to conclusion  tanpa mau mendengar sampai tuntas. Ada yang hasil labnya belum keluar, tapi berhubung dokternya sudah mau pulang akhirnya saya langsung dikasih resep. Bahkan saya juga pernah datang dalam kondisi sakit parah, tapi banyak ditanya-tanya kerja dimana dan ada asuransi tidak (karena ini mahal banget lho, katanya), baru dipersilahkan masuk ruang periksa setelah saya pastikan saya tercover perusahaan.

Pengen misuh sebenarnya, tapi itu sdh cerita lalu.

Ada juga oknum polisi, yang saya yakin juga ada sumpah pengabdiannya. Tapi sudah menjadi rahasia umum kalau ada oknum polisi juga menyukai suap, yang punya pengalaman ditilang lalu diajak damai pasti sudah banyak. Hebatnya mereka sudah pasang harga kadang tawar menawar persis seperti jual beli sayur di pasar. Saya pernah mengalami juga pakai kendaraan plat AD melewati kota Tasikmalaya (plat Z), ditilang karena menerobos lampu merah yang tertutup pohon lebat, yang kalau bukan orang Tasik pasti tidak tahu ada traffic light-nya.

Eh polisinya membenarkan tidak terlihatnya traffic light-nya itu tapi bilang tak peduli, itu bukan urusan mereka tapi DLLAJR. Hhegghh.. lalu diminta ‘titip 50ribu’ atau datang sidang.. Ya terpaksa pilih titip, masa saya harus ke Tasikmalaya lagi demi sidang hal sepele begitu? Solo – Tasik butuh 7 jam perjalanan darat, Bro!

Hebatnya lagi di Samsat tempat saya dulu ngurus SIM ada spanduk besar “Hindari calo”, tapi begitu selangkah masuk saja sudah banyak tawaran dari para calo. Logikanya para polisi kalau memang niat memberantas calo kan gampang saja, pasti wajahnya sudah sangat dihafal karena sliweran disitu. Eh..begitu masuk ruang foto, didalam juga ada calo, seenaknya masukin orang untuk foto tanpa antri.

Lalu, kalau melihat televisi mengenai persidangan, sebelum bersaksi pasti semua akan diminta bersumpah tapi tetap saja ya banyak yang memutar balikkan fakta. Lalu uang bermain disana.

Sumpah sepertinya tidak sakral lagi.

Kalau begitu, apakah sumpah itu masih diperlukan?

 

 

 

 

 

Posted by ndablek at 08:10:06
Comments

Leave a Reply