Pelawak
Sudah begitu mereka terkenal pula, banyak yang ingin berdekatan sekedar berjabat tangan, berfoto bareng atau meminta tandatangan.. hmm… sekilas sungguh merupakan sebuah cara menjalani hidup yang menyenangkan.
Mulia, karena mendatangkan keceriaan bagi orang lain. Menghibur, terhibur dan dibayar!
Namun ternyata tidak semua orang bisa melucu, sering juga saya melihat orang yang berusaha melucu tapi tidak berhasil, malah garing dan wagu.
Dulu waktu ada API di TPI kita bisa melihat bahwa semua kontestan berlatih keras dan tampil luar biasa dengan skenario yang telah dirancang sedemikian rupa, namun tidak semua berhasil mengocok perut kita. Kalaupun penonton tertawa mungkin tertawa sinis karena tidak ada yang perlu ditertawakan.. hehe..
Jadi kesimpulan saya melawak itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk berhasil menjalani pekerjaan (yang sekilas indah dan menyenangkan karena selalu cengengesan dan serba bercanda) itu pasti dilatar belakangi oleh pemikiran super serius untuk mencapai target dalam durasi yang terbatas:
Penonton harus bisa terpingkal-pingkal!
Hal ini tentu lebih diperberat tatkala si pemain sendiri mood-nya sedang tidak baik karena ada masalah pribadi atau keluarga, yang mana pasti terjadi dalam hidup setiap manusia.
Kalau kita, saat mood sedang jelekpun masih dimungkinkan untuk bekerja, namun mood jelek pelawak tentu merupakan sebuah hambatan fatal dalam karirnya jika tidak pandai ditutupi.
Seorang teman pernah berkata, pelawak yang hebat adalah pelawak yang tidak tertawa ketika melawak. Dengan kata lain bisa menahan ketawa.Pendapat saya boleh jadi berbeda. Mereka bisa tidak tertawa mungkin karena lawakan yang sama diucapkan berulang-ulang hingga bosan dan tidak ada efek lucunya lagi bagi mereka. Bisa jadi karena sebenarnya mereka sedang dirundung masalah.
Yang lebih repot lagi, image pelawak ini tidak bisa ditanggalkan meskipun saat tidak bekerja. Jadi kemana-mana terpaksa berusaha tampil lucu, segar dan menghibur.
Nah, menurut saya ini sebenarnya justru merupakan tekanan tersendiri.
Jadi……Sebenarnya siapa yang lebih terhibur dan berbahagia: kita yang tertawa lepas karena lawakan pelawak atau pelawak yang berusaha mati-matian membuat kita tertawa?