Aras-arasen
1 Februari 2008
Pagi ini sungguh istimewa.
Dengan mata berat saya melongok ke jendela ternyata hujan lebat, tapi ini hari kerja dimana pasti semua orang yang bekerja meskipun mengeluh akan tetap berjuang untuk masuk. Baik pakai motor atau mobil sama saja, di Jakarta ini semua tetap saja ada tidak enaknya masing-masing, apapun kondisi cuacanya.
Hal itulah yang sedikit memacu motivasi saya yang sedang malas ini untuk segera mandi dan berangkat, sepertinya sudah mirip ayam, baik hujan atau tidak hujan wajib mengumandangkan kokokannya. Ritmis.
Seperti biasanya pula Jakarta selalu menggenang dengan aspal terselimuti lumpur yang membuat pengendara harus ekstra hati-hati.
Dua persimpangan besar yang macet parah penuh amarah klakson akibat lampu traffic mati, berhasil saya lewati dengan sukses penuh kreativitas, yaitu mengajak orang untuk bergantian mengangkat motor keatas trotoar yang menjanjikan jalur bebas hambatan. Meskipun saya tahu ini salah namun ah...ini kan macet, hujan dan banjir maka seperti biasanya pula hukum yang terbiasa dilanggar akan semakin dilegalkan untuk dilanggar dan ketika yang melakukan berjumlah banyak (dianggap massa) maka saya yakin polisi juga tidak akan berani menegur apalagi menilang. Lha wong malah kadang mereka yang ngajari untuk melanggar dengan menyuruh jalan saat lampu masih merah.
Sampai dipertigaan terminal Pulo Gadung saya terpaksa menerima omelan dua orang wanita justru disaat mereka yang sembrono karena menyeberang dengan tiba-tiba, muncul dari balik angkot tanpa mencoba melihat keadaan sekitarnya. Kedua wanita ini menggunakan satu payung dan bergegas ingin keseberang dengan mengabaikan keselamatannya. Mungkin hujan telah mengacaukan konsentrasinya dan akhirnya saya harus kehilangan celana jas hujan akibat sobek saat kaki saya refleks menapak aspal mempertahankan keseimbangan bagai pendekar silat melewati danau.
Atau bisa jadi ini hanya karena kesalahan saya memaksa memakai waktu yang sama untuk melintas saat mereka memakai waktunya untuk menyeberang?
Namun cerita pagi ini belum berakhir disitu...saya melanjutkan perjalanan hingga setelah masuk gang Madura ban belakang bocor tertusuk paku hitam berkarat sementara tukang tambal ban yang biasa sudah membuka gerainya ternyata belum ada, mungkin masih nyaman mendengkur dibawah selimut yang sebenarnya juga saya idamkan disaat pagi hujan begini, suatu kemewahan yang dapat dinikmati tanpa harus menyewa kamar hotel nan mewah dan mencekik leher.
Emosi, saya luapkan dengan mengumpat segala kesialan hari ini apalagi baru dua hari sebelumnya saya mengganti ban motor saya karena bocor. Ironis memang, saat dingin dan hujan justru saya berpeluh karena harus mendorong motor sekitar 1 km menuju kantor. Pupus sudah harapan untuk masuk kantor tepat waktu hari ini, sia-sia sudah saya memacu motor dengan kecepatan tinggi dan mempertaruhkan keselamatan, sia-sia pula pelanggaran yang sudah dikreasikan dengan naik ke trotoar...semua menjadi tak berarti dan seketika itu saya tersadar kalau mengejar sesuatu dengan cara yang tidak tepat. Saya segera terdiam menyesali segala umpatan yang telah diluncurkan meskipun saya juga tidak yakin sepenuhnya apakah umpatan itu bisa ditarik kembali.
Waktu telah menjadi sedemikian pentingnya melebihi nyawa saya sendiri. Makna kehidupan mestinya adalah saat kita bisa memanfaatkan waktu yang kita miliki dan bukannya untuk dikuasai oleh waktu itu sendiri. Semestinya saya menguasai waktu dengan berangkat lebih awal.
Bersumber pada kemalasan ( Jawa: aras-arasen ) akibatnya waktu kerja pun menjadi lebih penting dari keselamatan, harga diri dan keluarga yang akan saya tinggalkan kalau saya sampai kehilangan nyawa.



