Macetnya ibukota
1 Februari 2008
Waktu tempuh dari kantor menuju tempat tinggal saya di Jakarta sebenarnya ’hanya’ 20 – 25 menit, namun kali ini terpaksa saya tempuh hampir 3,5 jam akibat banjir yang berujung pada lumpuhnya lalu lintas Jakarta. Entah spekulasi kurang matang, nekad, kepentingan yang mendesak atau karena sudah kebelet buang air sehingga banyak pengendara mobil dan motor yang memaksa melintas digenangan yang dalam dan hasilnya sudah gampang diterka, merekapun terjebak. Namun ada juga macet yang disebabkan karena rasa sayang pada mobilnya, jadi meskipun saya yakin aman untuk dilalui tapi si pengendara pilih diam menunggu banjir surut.
Soal macet dan kebelet ini kok menjadi menarik ketika sepertinya di Jakarta ini kemanusiaan telah hilang dari peredaran peradaban. Banyak media dan LSM bahkan pemerintah membicarakan Hak Azasi Manusia namun hak untuk kencing dan buang air besar menjadi terabaikan saat banjir/macet dan tidak ada satupun media atau organisasi yang membahasnya.
Saya pun terpaksa mengencingi tiang jalan tol, wow..sungguh prestasi yang hanya bisa dibayangkan oleh kaum pekerja kantoran yang lain. Cuma yang terpikirkan adalah bagaimana kalau saya ingin buang air besar atau kalau saya adalah seorang wanita yang sedang terjebak kemacetan dijalan? Apa saya mesti meninggalkan mobil begitu saja dan mampir ketoko/rumah disisi jalan?Kalau pas dijalan tol yang macet seperti yang wajar kita temukan di Jakarta?
Secerdas apapun pasti tidak akan menemukan jalan keluar yang cukup elegan sebagai solusi atas permasalahan ini.
Wanita sebagai sosok yang saya kagumi karena unik dan luar biasa, kalau dia sehat akal, tentunya akan menjadi kehilangan muka dan harga diri kalau harus kencing ditepi jalan meskipun kalau terpaksa mau tidak mau harus dilakukan juga. Nah kalau ingin buang air besar?
Lepas dari masalah banjir akibat drainase yang jelek, kemacetan tanpa banjirpun sebenarnya sudah menjadi bagian hidup siapapun di Jakarta ini kecuali pejabat, karena mereka selalu menyerobot jalan orang dengan sirine vorj rider-nya.
Jadi siapa sebenarnya yang salah dalam problem kemacetan yang wajar dan jamak terjadi di ibukota ini? Kusut sekali.
Pemerintah mengatakan karena kemalasan orang menggunakan fasilitas angkutan umum, tapi apa mereka buta? Logikanya pasti supply lebih besar daripada demand sehingga banyak bus dan angkot yang sepi, nah kalau di Jakarta pernah tidak melihat bis yang sepi penumpang? Bukankah bis, angkot bahkan kereta selalu penuh sesak dan berjejal copet? Kenapa pemerintah malah membangun busway yang menyerobot luasan jalan?
Bagi pengendara mobil kesalahan selalu mereka tumpukan pada angkot dan bis yang suka ngetem dan menaik turunkan penumpang sembarangan serta pada sepeda motor yang suka menyerobot jalan. ”Apa mereka tidak tahu etika berkendara?”keluh pengemudi dibalik hembusan AC yang nyaman dan dendangan lagu kesayangannya.
Bagi supir bis dan angkot, penumpang adalah uang. Selain harus kejar setoran agar mereka bisa menopang nafkah keluarga, mereka juga harus menghormati hak pelanggan yang ingin diturunkan dititik yang dikehendaki. Istilahnya kerennya CRM atau Customer Retention Management.
Penumpang juga pasti marah dan tidak mau pakai angkutan itu lagi kalau sudah bilang STOP berkali-kali tapi berhentinya masih 400 meter kemudian. CRM yang bagi karyawan kantoran adalah istilah yang super keren dan menjadi mewah dalam memenangkan pelanggan, serta harus ditebus dengan training seharga 3 juta rupiah, ternyata sudah dipraktekkan oleh supir bis dalam cara mereka sendiri.
Supir juga menjadi bodoh kalau banyak penumpang dilampu merah dia malah berhenti 400 meter kemudian dihalte. Memang anak istri mau dikasih makan apa, makan peraturan?
Bagi penumpang, menunggu angkutan dititik lampu merah merupakan favorit karena disitu biasanya angkutan melambat jadi ketahuan mana angkutan yang sudah penuh dan mana yang belum, jadi bisa milih gitu lho. Turun dititik yang yang pas juga menjadi kebutuhan karena cuaca panas yang tidak bersahabat di Jakarta ini. Hitung-hitung menghemat uang jajan es dimasa sulit dan penuh inflasi ini...mending dipakai buat nambah dana untuk beli tempe atau minyak tanah yang harganya terus melambung.
Bagi pengendara motor yang efisien, biang penyebab kemacetan selain bis dan angkot tentunya adalah mobil pribadi. Kenapa? Karena di Jakarta ini kalau dicermati pada jam sibuk, banyak sekali mobil-mobil yang dikendarai hanya oleh 1 orang saja padahal ukurannya sangat makan tempat karena umumnya dirancang untuk 4 – 8 penumpang. Motor menyelip menjadi wajar karena rasa kesal yang disebabkan oleh mobil tadi, sudah makan tempat masih coba menyerobot pula sehingga seringkali terlihat terjebak pada posisi miring dari lajur yang seharusnya, belum lagi betapa emisi yang demikian menyesakkan paru-paru dan membuat mata menjadi perih.
Bagi LSM dan kritikus, mestinya pemerintah menyediakan angkutan jalan yang bersih, aman dan nyaman serta pembangunan mesti berkonsep vertikal, bukan horizontal lagi karena lahan semakin terbatas. Tapi hal ini selalu di tanggapi dengan argumen atas nama budget. Lihat saja proyek monorail yang tiang-tiangnya mangkrak karena budgetnya cekak (kurang perhitungan atau dikorupsi?).
Nah saya sendiri masih kepikiran yang soal buang air besar tadi itu lho.
Apa ya kira-kira solusinya?



