Deadly Thought
3 Februari 2008
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Petikan lirik lagu Koes Plus ini memang cukup menggambarkan kekayaan Indonesia yang memang sangat gemah ripah loh jinawi. Tanah nan subur, laut nan luas membentang di segala penjuru mata angin pulau-pulau di Indonesia.
Namun kini seolah sepertinya semua tidak berarti lagi, negeri yang subur tapi tanpa pengolahan dan manajemen yang baik telah membuat kehidupan mayoritas manusia yang ada di negara ini terpuruk dalam kemiskinan. Dagelan tenan.. rakyat kita semakin kurus dan tenggelam dalam lautan susu kebanggaannya sendiri. Tanah yang subur ini berubah menjadi makam, ibarat lumpur aktif, menyedot siapapun yang berada diatasnya kedalam kehidupan yang berada dibawah garis kemiskinan. Ibarat katak yang mati dalam panci karena terebus perlahan tanpa dia sadar bahwa loncatlah jalan keluarnya.
Trus apa dong yang salah?
Begitu banyak potensi alam yang sempurna untuk dijadikan tujuan wisata sehingga mampu meningkatkan ekonomi rakyat yang hidup disekitarnya seolah tidak ada harganya, dibiarkan mangkrak dan terbengkalai.
Eksploitasi hutan besar-besaran secara tidak terkendali telah membuat ibu pertiwi diperkosa untuk kemudian ditinggalkan dalam kondisi tercabik-cabik dan kuyu.
Negeri agraris pun hanya tinggal slogan warisan karena profesi petani tidak diminati lagi oleh kaum mudanya, pekerjaan ini telah menjadi pekerjaan kelas bawah dan rendahan, hanya cocok untuk orang yang tersingkir dari dunia akademis, industrialisasi dan modernisasi.
Di negeri agraris ini pulalah beras lokal, gula lokal, bahkan sampai kedelai lokal seperti dianaktirikan.
Hasil bumi luar negeri justru menguasai sebagian perut rakyat negeri ini sampai-sampai pernah ada masa dimana teknologi secanggih pesawat CN 235 dan 250 yang ditelorkan oleh kaum cerdas dan bergengsi negeri ini malah ditukar beras karena ternyata otak yang cerdas masih butuh perut yang kenyang!
Jadi sebetulnya daya tawar mana yang lebih tinggi, hasil bumi atau hasil industrialisasi?
Kalau diamat-amati justru negara dengan kekayaan yang pas-pasan justru yang mampu melesat menjadi negara maju. Ketika keadaan ini begitu memaksa manusia untuk bertahan justru disana lahirlah kreativitas dan inovasi, dan yang pasti, perasaan menghargai apa yang dimiliki dan menjaganya sebaik mungkin karena hanya itulah yang ada. Bandingkan dengan bangsa ini yang hidup dalam kekayaan, justru akhirnya tidak mampu menghargai apa yang dimiliki. Mengacuhkan dan menelantarkan harta yang telah ada ditangan karena dipikirnya kekayaan ini abadi.
What a deadly thought!



