Rabu, Februari 06, 2008

Jatuh Cinta




6 Feb 2008
Seorang sahabat lama baru saja saya telepon. Dari sekedar basa-basi untuk memecah kekakuan, menanyakan kabar hingga bercerita ngalor-ngidul. Ada perasaan senang, rindu, excited mendengar suaranya, bercanda dan ketawa-ketiwi yang asyik sekali. Pokoknya komunikasi berlangsung tanpa ada kekosongan, nyerocos dan sambung menyambung terus tanpa kehabisan bahan...meskipun lebih banyak basa-basinya.
Tak disangka ternyata baru saja dia putus lagi dari pacarnya, ”Ya ampuuunn..ini anak kok sering sekali gagal membina hubungan, apa sih masalahnya?” Batinku. Ternyata urusan jodoh bukanlah suatu perkara yang mudah, tidak hanya bagi sahabat saya ini tapi tentunya buat semua orang yang pernah merasakan jatuh cinta. Emosi seolah enggan berkompromi dengan logika.
Jatuh cinta memang berjuta rasanya, bisa membuat yang mengalaminya terbengong-bengong, melamun, berkhayal sampai terisak-isak sendiri tanpa perlu aba-aba komandan upacara.
Tidak ada urusan lain yang lebih penting daripada urusan percintaan ini, terutama bagi kaum remaja, seolah krisis moneter, politik, budaya dan kenaikan harga kedelai tidak bakalan mampu  mengalahkan skala kepentingan perasaan insan yang sedang dimabuk asmara.

Masa percintaan memang indah namun terkadang orang yang justru sudah hidup dalam lingkungan percintaan yang sesungguhnya (pernikahan) tidak lagi bisa merasakan bunga-bunga romansanya. Tinggal dan hidup bersama seolah sudah takdir yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya agar tidak ada kegagalan yang menimbulkan aib keluarga. Akibatnya cinta mula-mula yang penuh pengorbanan dan perhatian menjadi terpinggirkan...jika bukan terlupakan.

Kalau dulu demi menunjukkan perhatian orang yang sedang jatuh cinta pasti akan menanyakan ”Sudah makan belum, Sayang?, Gimana kondisimu, sehat?” dll. Tapi kala sudah menikah pertanyaan itu bukan lagi basa-basi atau menunjukkan perhatian namun memang benar-benar ada maksudnya.
”Sudah makan  belum?” bisa berarti ”Aku lapar nih, ayo beli makan/ kenapa kamu gak beli aja dari tadi?”
Atau umumnya berlanjut ke ” Kenapa gak segera makan? Ntar sakit loh, repot, mesti periksa dokter nebus obat dll yang biayanya besar..sayang kan!” Jadi sebenarnya pertanyaan tadi diungkapkan untuk mengukur berapa penghematan yang bisa dibuat, pertanyaan tersebut seringkali kehilangan esensinya.
Hal inipun kadang saya rasakan juga, seringkali saya malas berbasa-basi dengan istri saya karena merasa sudah seharusnya dia tahu persis kondisi saya, apa yang saya butuhkan dan apa yang kami butuhkan. Pernikahan bertahun-tahun harusnya membuat kedua insan saling kenal luar dalam jadi tidak perlu basa-basi lagi.
Bahan pembicaraan suami istri seringkali bukan lagi mengenai rasa/pernyataan cinta satu sama lain (yang mendasari kehidupan berumah tangga), tapi lebih sering terjerumus pada pembicaraan finansial, apa yang bisa dihemat, berapa tabungan sekarang, kenakalan si buyung lebih mirip siapa, tetangga bikin pagar baru / punya mobil baru, cucian sudah diangkat belum, kenapa lantai masih belum di pel, bulan depan jatah arisan kita bukan, mau nyumbang pernikahan si A berapa dll.
Seringkali dianggap cinta suami istri ini sudah sangat kuat sehingga tidak perlu lagi dikomunikasikan, di refresh bahkan untuk dipertanyakan! Kalaupun sudah agak pudar maka normatif yang berlaku akan bilang wajar, kan sudah bukan remaja lagi, inilah hidup yang sesungguhnya, cinta yang sesungguhnya ya begini...toh masing-masing telah memegang komitmen dan tanggungjawab berkeluarganya, jadi untuk macam-macam percuma aja.
Padahal komunikasi dan menyatakan rasa cinta satu sama lain sangatlah perlu, ibarat suplemen/vitamin bagi kehidupan percintaan kita, supaya kita ingat bahwa dalam hidup tidak harus  melulu persoalan uang, urusan house keeping dan bermasyarakat saja.
Nah sahabat lama saya tadi... sebenarnya mantan pacar saya.Sealed
(#!@$#$^%^&)
Posted by ndablek at 15:38:26 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar