Senin, Februari 11, 2008

Audisi


11 Feb 2008
Pepatah ”hidup ini ibarat panggung sandiwara” semakin tervisualisasikan beberapa tahun terakhir ini dengan bermunculannya ajang pemilihan bakat di hampir semua stasiun teve swasta.
Mulai dari penyanyi pop, dangdut, anak kecil, tarian hingga keterampilan berkotbahpun dilombakan! Segala yang terbaik ingin ditampilkan, selain content yang dilombakan maka tiap inchi tubuh dan dandanan para penampil pun di komentari..mungkin kalau yang bersifat pujian saya rasa masih baik.Tapi yang umum terjadi adalah kritik ’membangun’ yang menurut saya belum tentu ’membangun’ karena sejatinya kritikan yang baik tentunya tidak disampaikan didepan khalayak ramai dan dilihat berjuta pemirsa. Walau bibir tersenyum dan terucap terima kasih namun siapa yang menjamin sanubari tak terluka, apalagi kalau komentator malah sibuk guyonan sendiri dan membiarkan penampil bermenit-menit seperti patung yang terbengong melihatnya.
Panggung sandiwara nampaknya tidak hanya ada di acara ini saja, bahkan dalam keseharian saja saya lihat banyak panggung-panggung mini dimana seseorang berusaha tampil yang ’terbaik menurut orang lain’ dan merelakan ’terbaik menurut keinginan sendiri’ merdeka menjadi diri sendiri. Mulai pejabat kelas kakap sampai PNS kelas teri, mulai Direktur sampai pegawai swasta terbawah. Bisa penuh janji manis sebelum Pemilu namun bisa ’nglali’ melupakan janji kalau sudah menjabat. Bisa garang dan kasar dirumah namun sekejap bisa berubah seperti ulama atau karyawan teladan yang sok alim didepan atasan...mau ngelawan manaaa beraniiii??
 
Nah, semangat menjadi diri sendiri dan tidak semata ingin terlihat baik dimata orang lain tampaknya sudah merupakan barang yang langka. Disatu sisi hal ini baik, namun tampaknya sudah kebablasan. Lihatlah di mal-mal dan pesta pernikahan betapa orang mendandani diri selain agar cantik dilihat pasangan, namun ternyata juga umumnya membawa misi agar tampak keren didepan orang lain, lebih menjual (diri?). Orang mendandani mobilnya dengan aksesoris eksterior yang luar biasa mahal, toh yang menikmati justru orang lain yang melihat mobil itu dari luar. Remaja ramai-ramai memasang Nada Tunggu / Ring Back Tone padahal yang menikmati orang lain sementara pemasang yang tidak menikmati malah rela ditarik biaya bulanan. Alih-alih ingin memberikan yang terbaik buat orang lain, atau sebenarnya manusia sudah terjebak masuk kedalam dunia ’kesombongan’ atau mungkin yang lebih agak pas adalah ’pamer’ apa yang bisa ditunjukkan terbaik, padahal belum tentu hal tersebut perlu dan belum tentu bisa dinikmati/ berfaedah bagi orang lain.
Baik sih baik, tapi apa dibutuhkan?

Di dunia kerja juga begitu, teman saya awalnya senang memiliki pegawai counter yang rajin, namun belakangan terlalu rajin ingin memberikan yang terbaik menurut versinya sendiri padahal tidak dibutuhkan dibisnis teman saya itu, misalnya terlalu kreatif memberi diskon/bonus/ngobrol dengan salesman (katanya biar gampang dapat info) tapi lupa membersihkan kaca etalase dan stok barang yang mulai kotor berdebu, terlalu rajin membaca brosur promosi seluler (alasan cari ilmu) tetapi mengganti poster/ spanduk yang lecek/ menulis kartu stok dengan benar saja saja mesti disuruh sampai teman saya pernah bilang kalau sepertinya pegawainya hanya sok berinisiatif, atau cari muka berhubung umur kerjanya belum genap setahun.
Jadi sebaiknya ya wajar saja ...seperti kata ibu saya ”Pokoknya segala yang ter-...  itu berpeluang tidak baik, kalau tidak tahan iman nanti terjerumus”.

Nah, apakah kita juga sering membuat orang lain tidak nyaman menjadi dirinya sendiri? Apakah kita terbiasa menghilangkan kebebasan orang lain demi kepentingan kita sendiri?
Mari tanyakan pada rumput yang bergoyang...kekekekkkekekkk...
Posted by ndablek at 18:33:19 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar