Tren kota Solo

12 Feb 2008
Kota Solo tempat kelahiran saya..kadang disebut sebagai Surakarta, kadang juga disebut sebagai Sala..punya karakteristik yang cukup unik. Selain terkenal dengan wedangan dan lesehannya Solo cukup terkenal sebagai kota yang konsumtif. Berbagai jenis barang dan brand rasanya seperti gampang sekali terserap oleh penduduk kota yang dijuluki 'kota Bengawan' ini. Mungkin karena arti Bengawan (kali/sungai) sehingga uangpun mengikuti sifat air hehehe..mengalir terus.
Saya jadi ingat waktu dulu musim sepeda santai..ckckck..kalau hari Sabtu pagi apalagi Minggu maka jalan menuju luar kota akan sangat padat oleh puluhan ribu pengendara sepeda ini. Berbagai tipe dan merk mountain bike seperti Federal, Phoenix, BMX akan menjejali jalanan dan memaksa pengendara lain mengalah. Sayapun ikut juga dalam hobi massal tersebut, asyik memang. Konsep olah raga bahkan bergeser menjadi sarana kumpul-kumpul keluarga dan kolega, akrab-akraban teman sekelas, pamer-pameran sepeda, belanja ikan di waduk Cengklik bahkan sampai untuk pacaran. Mungkin kalau ada datanya maka orang Solo secara statistik mencapai puncak tertinggi dalam kesehatannya, grengnya melebihi BTW/ bike to work meskipun tanpa promosi.
Pernah ada lagi tren Tamiya, maka setiap anak merasa wajib memilikinya, bahkan bila perlu maksa orang tua biar ga dibilang kuper. Orang yang sudah tuapun tidak mau kalah, tetangga saya, koh Ming dan Mas Wiwiek, rajin sekali mengikuti lomba yang kadang diselenggarakan secara besar maupun yang di gang-gang. Semua tiba-tiba menjadi montir dadakan jika Tamiya-nya kurang kencang atau tidak seimbang. Waktu itu Solo penuh dengan montir teknik balap Tamiya.
Solo juga pernah tren dengan nasi bandeng dan susu segar komersil, She Jack yang sekarang populer bahkan menurut saya terkenal belakangan, karena perintisnya ada didepan SMA1 Margoyudan dan dekat bunderan Tipes. Ramai sekali untuk ukuran warung dengan menu andalan: sebungkus nasi putih dengan sejumput daging bandeng goreng dan secuil sambel terasi. Yang mampir bukan lagi dari kalangan menengah bawah tapi umumnya justru dari kalangan menengah atas. Heran memang, sebenarnya apa yang dicari kaum ini ya?
Tren rumah makan lesehan dan pancingan..apalagi..... tidak cuma puas di Solo bahkan sampai ke Janti dan Karangpandan pun warga Solo rela berbondong-bondong kesana hanya untuk menikmati ikan hasil pancingannya sendiri yang dimasak dengan bumbu bakar atau goreng.
Tak lama kemudian tren ikan Koi, maka banyak penghobi yang menganaktirikan ikannya dan mengganti dengan jenis Koi terutama yang sudah punya kolam. Waktu ikan Louhan pun demikian, harga bisa melambung tinggi, bahkan beberapa jenis ikan hias lain sempat susah dicari di Pasar Gede karena pedagangnya ganti dagangan.
Yang sekarang masih terasa adalah demam anthurium dan hookeri, tumbuhan berdaun yang tidak memiliki mekar bunga apalagi buah dan khasiat namun bisa berharga jutaan rupiah. Pernah saya baca ada orang yang rela membarter sedan Civic-nya dengan tanaman ini. Orang Solo ramai berburu tanaman ini, bahkan sekarang kalau lihat loper koran maka yang mendominasi dagangannya adalah majalah/tabloid agrikultur. Tren memang membawa rejeki bagi yang bisa memanfaatkannya dengan cerdik.
Bahkan diKaranganyar (pinggiran Solo) ada seorang buruh tani yang sekarang bisa memiliki rumah gedongan, mewah abis dengan pilar-pilar besar dan dihiasi dengan 4 buah mobil karena ketiban rejeki anthurium ini (kebun warisan). Hampir iri saya dibuatnya...makanya sekarang saya juga punya meskipun asalnya hibahan saja :)
Nah, belakangan ini pengendara motor juga sedang tren pakai spion lengkap kanan-kiri. Semua pemilik sepeda motor sibuk mencari spion kiri yang dulu sempat ditelantarkan bahkan digadaikan ke tukang klithikan (loak). Para pedagangpun mulai kebanjiran order, malah bisa inden kalau yang belinya dipasar loak...maklum nunggu barangnya ada dulu, entah curian entah digadaikan pemiliknya. Asal ditebus dengan kontan maka barang itu jadi barang legal dan halal. Harga spion kiri yang dulu cuma dihargai 3-5 ribu sekarang bahkan mencapai 15-25 ribu kalau orisinil.
Menariknya, tidak seperti tren yang lain yang bisa tumbuh dengan sendirinya, khusus tren yang satu ini hanyalah akibat dari peraturan Polantas yang mulai ditegakkan. Aneh memang, yang sifatnya kesenangan justru lebih diminati orang daripada yang bersifat untuk keselamatan.
Keinginan sudah melupakan kebutuhan.
Kepentingan mengalahkan penting itu sendiri.
Dan eksistensi menghilangkan esensi.
Masih banyak lagi tren yang tidak diceritakan disini, tapi bagaimanapun juga, aku bangga jadi 'cah Solo'...melebihi bangga jika disebut orang Indonesia.



