Rabu, Februari 20, 2008

Ling-Ling jadi Jawa



"Hahaha...Kok ono-ono wae yo?"
"Lha embuh kuwi sing nggawe...dadi isin aku."
Demikian petikan gojekan dua pembantu dirumah kos-kosan saya.
"Ya ditonton wae Mbak, disambi gorengan pisang kan mak nyuss..." kataku sambil meneruskan asyiknya menonton tv.
Acara tsb dibuat oleh Metro tv dalam rangka pekan Imlek sih.
Ceritanya begini.
Ada ibu tua yang yang bernama Nora  yang mendalami seni tari Jawa, dan kini selain mengajar disanggar beliau pun masih terhitung sebagai dosen senior ISI-Solo. Yang menarik adalah nama asli bu Nora ini adalah Kho Giok Lan, artinya dia masih berdarah Cina atau biasa disebut sebagai orang Tiong Hoa. Menarik karena beliau justru mengerti seni budaya dan bahasa Jawa lebih dalam dari orang Jawa sendiri.

Menarik memang bagi kita yang tinggal di Indonesia ini. Bukan barang langka orang asing, dari ras ataupun suku yang berbeda saling mempelajari bahasa, budaya dan adat satu sama lain dinegeri yang sangat kaya ragam ini. Namanya juga kemerdekaan hidup, berkreasi dan menikmati seni apapun bentuknya ya harus kita apresiasi dengan tulus. Hanya yang agak menggelitik adalah pernyataan salah satu tokoh yang diwawancara bahwa, akulturasi inilah yang telah dan akan membuat orang-orang seperti bu Nora lolos dari kerusuhan Mei 98.
Lha apa hubungannya ya? Saya kok ndak mengerti.
Semestinya akulturasi bukan berarti meleburkan sesuatu yang berbeda, memaksakan semua harus menjadi sama agar tidak terjadi benturan. Sungguh tidak bijak jika kita berpendapat seperti ini.
Untuk melalui jalan raya sebuah truk tidak harus menjadi sedan/minibus, yang penting arahnya sama dan saling mengerti etika supaya tidak saling serobot sehingga tidak terjadi kecelakaan. Iya kan?
Apa bukan seharusnya perbedaan itulah yang disandingkan tanpa perlu disama-samakan, demi keselamatan, toh negara ini adalah Negara Kesatuan RI dan bukanlah Negara Kesamaan RI.

Seperti dalam kasus nama, coba cermati kalau mau jujur kenapa sih hanya orang berdarah/bernama Cina saja yang dipaksa alias wajib mengganti namanya? Dan itu ditujukan atas nama kecintaan pada tanah air Indonesia tercinta ini.
Lha bagaimana dengan nama Khusnul, Syakieb, Margareth, Albert, Abu Bakar, Shanker, Piere, Marthin dll?
Kenapa mereka tidak diminta mengganti namanya menjadi yang mencerminkan ke Indonesiaan seperti Bejo, Amir, Tuti, Budi dll?
Kok saya pikir tidak adil ya. Meskipun pejabat bangsa ini telah sedikit membaik, namun grass root-nya belum seperti pimpinannya sekarang yang legawa dengan perbedaan semacam ini.

Nama sejatinya adalah hak azasi milik manusia. Kasihan deh, kenapa juga untuk hal yang mendasar seperti ini pemerintah kita justru lupa. Keciaaaan deh loe :)
Jadi menurut kacamata saya (yang tipis enggak tebal juga enggak ini), yah biarlah orang memberi/memakai nama sesuka mereka, kalaupun nantinya diganti biarlah itu karena niat mereka sendiri, bukan karena aturan apalagi paksaan...kali-kali aja dengan ganti nama rejekipun bisa lancar hehehe..
misal Azril jadi Ariel, Samijan jadi Ian, Sigit jadi Pasha, Wulan jadi Mulan dll.

Demikian juga kalau orang mau belajar budaya lain ya jangan dibilang itu bagus untuk menghindari ketidakharmonisan, tapi biarkan tumbuh alami sebagai ketertarikan yang sifatnya pribadi...saya dukung itu, so please jangan dipolitisir.
Biarkan juga merah, putih, biru, hijau, hitam tetap menjadi warnanya sendiri, kalaupun putih mau bergabung dengan merah dia akan jadi jambon, bukan putih yang dimerah-merahkan.

Marilah kita ber-akulturasi dimanapun kita berada baik dilingkungan dengan suku yang berbeda diluar Jawa, atau bahkan dengan ras yang berbeda di negeri orang dengan tetap memakai baju identitas kita sendiri. Budaya diluar budaya bawaan, kita jadikan pernik-pernik yang memperindah baju identitas kita tadi.
Kita bukan hewan seperti harimau yang hanya menerima makhluk lain asal 'berkostum' harimau bukan? Kita lebih mulia kok dari itu.

Juga, bahwa untuk diterima dilingkungan pria bukankah seorang wanita tidak perlu menjadi pria? Justru kehidupan pria akan lebih indah dan berwarna jika wanita tetap hadir sebagai wanita dengan segala keanggunannya.

Salam

Posted by ndablek at 19:20:08 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar