Sak dhet sak nyet!

Sak dhet sak nyet.
Begitu istilahnya dikampung saya. Populer dan jamak sekali sekarang ini.
Orang minta apapun kalau bisa ya saat itu juga, tidak mau mengerti kondisi si terminta sedang apa. Menunggu dan belajar menunggu menjadi hal yang tidak penting.
Seperti saat saya tadi mengisi bensin saya lihat ada orang yang berkata dengan nada agak tinggi agar orang didepannya maju. Padahal ia adalah pengantri terakhir, sementara didepan orang yang dimarahinya masih ada 2 kendaraan lagi. Praktis meskipun orang yang didepannya sedikit menunda untuk maju bukan berarti kendaraan si pengeluh ini akan terlambat diisi kan? Diserobotpun juga sebenarnya tidak memungkinkan, orang ini hanya bermasalah dengan kesabaran yang cekak saja tampaknya.
Demikian juga suami terhadap istri, atasan terhadap bawahan hingga permintaan manusia kepada Tuhan, orang sekarang sudah tidak mau menunggu dan tidak mau tahu lagi bahwa segala sesuatu ada prosesnya dan mesti dibiasakan antri.
Seringkali kita lupa hakiki manusia mestinya saling menghargai, istri juga adalah manusia, peka dan halus perasaannya tapi acap kita paksa untuk melayani kemauan kita saat itu juga. Mulai minta pijat, minta dibuatkan minuman, minta mendiamkan anak yang lagi rewel, dan sederetan minta-minta lagi yang lain.
Kalau menunda dibilang tidak sayang lagi ke suami. Lha apa suami mulai lupa lebih banyak yang istrinya kerjakan justru saat tidak diminta? Kenapa malah jadi orang yang bermental peminta-minta dan manja?
Yang seinstan-instannya mie atau kopi sachet saja masih butuh waktu 3 menit untuk menyeduh airnya.
Sebagai karyawan juga demikian, memang kita ingin semua bergerak cepat dan bawahan bisa diatur sedemikian rupa, tapi hei..ingatlah mereka bukanlah budak obsesi karir kita semata, bukan pula babu. Mereka bukanlah robot, yang tidak punya kepentingan lain, yang setiap saat harus ada dan siap. Pun jika mereka tidak siap, jangan bilang kerja tidak niat atau malas. Mereka adalah karyawan juga, sama seperti karyawan diatasnya yang makan gaji bulanan, cuma beda usia kerja dan pangkat saja, jadi permintaan kepada bawahan hendaklah disampaikan dengan sopan dan mempertimbangkan prioritas kerja mereka. Bahkan jika mereka adalah karyawan upahan langsung kita, ingatlah bahwa kita tidak berhak membeli waktu dan kepentingannya.
Demikian pula saat kita berdoa, seringkali kita minta yang besar-besar dan segera, karena jika ditunda waktu terus berjalan dan kita akan kehilangan banyak hal. Tapi, bukankah Tuhanlah yang empunya waktu? Lalu apakah kita juga sudah mempersiapkan diri untuk menerima hal yang besar yang kita minta tadi?
Tanpa berniat mengecilkan kuasa-Nya, mestinya kita juga sadar manusia ciptaan-Nya jumlahnya sangat banyak dan bisa jadi hampir semua meminta kepada-Nya meskipun dengan cara masing-masing.
Kalau diranking tentunya dari sekian milyar manusia pasti ada saja yang lebih pantas untuk dipenuhi lebih dulu. Waktu adalah milik-Nya dan kita hanya bisa meminta serta pasrah selagi permintaan kita diproses…yang mungkin proses itupun butuh menunggu sikap dan perubahan kita terlebih dulu.
Ternyata saya lebih suka melihat orang-orang yang seringkali dicap ‘kelas rendah’, seperti bapak tua tukang cukur DPR (dibawah pohon rindang) - dekat kantor PDAM Setabelan 200meter dari rumah orang tua saya, yang saya anggap lebih bisa menunggu dengan sabar. Kadang bercengkerama, kadang sambil membersihkan alat-alat atau sisa rambut pelanggan, kadang hanya menerawang jauh sambil menyeruput secangkir kopi mencoba menikmati hidupnya yang tidak lagi nikmat bagi standar kebanyakan orang. Meskipun menunggu tapi disana saya lihat kepasrahan hidup dan keikhlasan dalam menjalani pekerjaannya. Ada imajinasi, keinginan, tapi saya rasa datangnya seorang yang butuh dicukur rambutnya adalah sesuatu benar-benar ditunggunya dengan sabar. Dalam penantiannya inilah terdapat dialog nyata antara manusia dengan keterbatasannya.
Seorang kawan bilang,“ Tapi dia tak akan berkembang menjadi lebih baik dan besar.”
“Besar dan baik menurut siapa?” timpal saya.
Bukankah rasa syukur tiap orang berbeda, dan ketika kita begitu agresif terobsesi dengan hal itu kalau mau jujur ujung-ujungnya adalah keserakahan, yah.. minimal keinginan dipandang ‘telah berhasil menjadi orang’.
(Lho yak opo, memang selama ini munyuk po? Seko uwit sing endi, kok ora tau ketemu? kekekekkk...)
So, dibalik keinginan ingin menciptakan lapangan kerjapun pasti ada yang mendasarinya, yaitu segepok uang dan segenggam berlian.
Jadi tanpa perlu training motivasi sebenarnya tukang cukur tadi telah sangat kuat dalam menjalani hidupnya sama seperti burung-burung yang terbang pagi dan baru pulang ke sarang menjelang gelap dengan perut yang kenyang. Yang dilakukan burung ini hanyalah terbang dan menjalani hidupnya tanpa obsesi berlebihan, apalagi keluhan.
Agaknya keberanian menunggu inilah yang bisa kita pelajari dalam menjalani hidup yang keras ini.



