Terlalu Pongah

Kalau anda doyan melihat tv seperti saya, pasti tidak bisa lepas dari yang namanya teks. Maklum kalau saya sih kemampuan Inggris masih cethek alias dangkal , tidak sehebat VJ MTV yang cas cis cus dan was wis wus tanpa perlu ekstra muncrat.
Nah tahun-tahun belakangan ini teks pada film-film berbahasa asing terasa agak mengganjal, karena banyak serapan baru yang masih belum saya mengerti.
Misalnya band jadi 'ben', cake jadi 'keik', fashion jadi 'fesyen' dll. Saya sih tidak tahu resmi/tidaknya, tapi kalau dipakai ditelevisi nasional ya mestinya resmi. Cuma yang mengganjal benak saya adalah kenapa semakin banyak dan mesti mirip ya? Kok tidak sekalian cake jadi 'kue', band jadi 'orkes', fashion jadi 'persandangan' kan lebih orisinil Indonesia :)
Yang saya kuatirkan sebenarnya adalah anak sekolah malah jadi bingung, misalnya suatu saat hidup diluar negeri/ harus menulis dalam bahasa Inggris bisa-bisa menjadi ragu atau malah tertukar dengan serapan tadi.
Mbok ya wis ya tetap pakai bahasa aslinya saja, jadi ndak mbingungke.
Maklumlah, saya ini mungkin salah satu orang yang berpikiran keluar jalur pakem.
Bagi saya biarlah English is English, bahasa Indonesia tetap bahasa Indonesia . Memakainya tinggal dikombinasi saja tanpa perlu diserap-serap daripada membingungkan. Perlu diingat sekarang ini telah masuk era globalisasi, perdagangan bebas dan era persaingan bebas tenaga kerja. Kita tidak bisa lagi selalu berpikiran bahwa milik bangsa ini yang terhebat sehingga seringkali malah terjebak dalam kekaguman berlebihan dan akhirnya menjerumuskan. Sehingga penguasaan kosa kata kita akan semakin kaya didunia perdagangan bebas ini.
Kalau dalam persaingan kerja yang dibutuhkan adalah bahasa Inggris ya mestinya lebih ditonjolkan. Kalau dalam trading kawasan Asia lebih dominan Mandarin ya sebaiknya dipelajari dengan baik.
Kalau bahasa daerah tidak ingin mati ya sebaiknya dibudayakan, tapi tidak perlu lah dinomorsatukan. Seperti suku dipedalaman Papua, memang dilematis, antara mengkonversi budaya atau mengarahkan mereka pada peradaban modern. Tapi menurut saya lebih prioritas yang kedua daripada tetap membiarkan mereka menggunakan koteka dan hidup dari memanah hewan. Tega amat sih kita selama ini...demi kebanggaan yang dipamer-pamerkan...rela mengorbankan harkat makhluk lain yang sejenis.
Entah kenapa budaya mengunggulkan diri (arogan tapi kosong) selalu melekat di diri setiap manusia Indonesia. Mari tengok Visit Indonesia Year yang terlalu berani mengundang wisatawan tapi persiapan untuk kenyamanan wisata tidak juga dibenahi.
Ini buktinya:
- Saya masih sering susah cari tempat sampah diruang publik
- Jalan dan sungai cenderung kotor penuh sampah
- Belum semua restoran memenuhi standar kesehatan, dan belum semua memasang harga yang transparan, umumnya setelah dikasir
- Transportasi umum masih jelek, kotor, penuh sesak dan rawan copet
- Vandalisme dan grafity liar masih merajalela
- Pungli masih berkembang subur
- Bandara masih kebanjiran
- Pengamen dan pengemis masih banyak di perempatan-perempatan jalan
- dan seabrek kecarut marutan tata kota, dll
Lha ini kok ujug-ujug sudah promosi keluar negeri, padahal belum siap.
Mestinya juga pemerintah berbenah dengan sarana umum lainnya seperti money changer dan peta kota ditiap terminal/stasiun/bandara/pelabuhan dengan jelas.
Bila perlu untuk kawasan wisata seluruh informasi keunikan/keunggulan obyek, nama jalan dan rambu disajikan dalam bahasa Inggris sehingga wisatawan tidak perlu takut bingung/tersesat. Harus diakui bahasa Indonesia tidak sepopuler bahasa Inggris sehingga mestinya kita lebih mengedepankan tamu asing tersebut selaku konsumen produk wisata Indonesia. Beda dengan Jerman, Jepang ataupun Cina, mereka ya sah-sah saja ngotot pakai bahasa asli karena keunggulan mereka akhirnya harus diakui oleh dunia internasional, tanpa belajar Inggrispun mereka tidak akan kalah bersaing didunia internasional, lha kalau bangsa ini?
Mestinya ya Dinas Pariwisata itu belajar marketing, supaya nanti tidak mengecewakan orang asing yang terlanjur datang, bagaimanapun mereka adalah konsumen dan akhirnya menjadi duta wisata Indonesia di negerinya.
Sebetulnya tulisan ini lebih ingin saya giring ke tema ”Terlalu pongah”. Kenapa?
- Karena hal itu pula banyak orang meremehkan orang lain yang dianggap lebih rendah atau lebih muda atau lebih miskin.
- Karena hal itu pula bangsa ini terjebak pada keterbelakangan karena selalu merasa ideologinya yang terbaik.
- Karena itu pula banyak orang menjadi sangat miskin karena fasilitas yang menjadi haknya dikorupsi pejabat yang merasa lebih berhak, tak peduli seberapa besar variabilitas pajak orang kaya tapi yang disalurkan ya segitu-gitu saja..itupun dengan catatan ’kalau disalurkan’.
- Karena hal itu pula ada ras yang mengaku lebih tinggi dan mencap ras lain lebih rendah.
- Karena itu ada agama dipertentangkan
- Karena hal itu pula banyak bangsa yang menginvasi bangsa lain karena merasa lebih berhak atas kendali negara yang lebih terbelakang...sudah gitu korban yang ditonjolkan cuma wanita dan anak-anak lagi (kasihan deh kaum pria hehehe...)
Bayangkan kalau semua berpikir kita adalah satu bangsa - bangsa manusia, One Nation Under God...seperti lirik White Lion...pasti tidak ada yang merasa lebih baik dari yang lain, dan tidak ada lagi permusuhan atau perebutan wilayah, karena yang dianggap musuh mungkin hanya alien dari Galaksi Phyteronisactyxz NZ-9.
Nah yang kocak lagi nih, sekarang malah telah terejawantah juga lho di acara televisi, Global TV terjebak oleh ’Happy Show’ yang saya rasa masuk pada kategori tsb. Menertawakan orang asing yang tentu saja minim dalam pengetahuan dan keterampilan berbahasa daerah Indonesia. Kok ya ada-ada saja, kita sudah latah audisi-audisian yang versi aslinya untuk cari bakat tapi di Indonesia jadi wadah mencela dan guyonan saja, eh sekarang kita lebih senang menertawakan kelemahan dan kesalahan orang lain yang disengaja.
Bukannya menertawakan kelemahan sendiri sehingga bisa bangkit dari keterpurukan ini.
Hahaha.... mari kita tertawakan diri sendiri..
Hahaha....
Hahaha...uhuk huekkk..huek...keselak aku..



