Kamis, Maret 13, 2008

Profesi Mengemis


Kegagalan saya mengatur jam kerja sering membuat saya harus pulang malam setelah biasanya siang hari menjalani serangkaian meeting..dan meeting. Masalahnya kalau pimpinan meeting, ya memang itu seharusnya yang dikerjakan, mikir garis besar haluan perusahaan. Kalau selesai meeting ya sudah selesai pula kerjanya. Tapi kalau orang seperti saya ini meeting ya berarti ada pekerjaan yang harus ditunda dulu dan ada serangkaian pekerjaan baru tambahan hasil keputusan meeting.
Terima deh, saya terima kok, namanya juga masih karyawan bawahan, belajar rajin, menekuni dan sabar untuk bekal dikemudian hari. Karena kerja diperusahaan bukan nilainya yang penting tapi pembelajaran etika dan belajar dewasa, itu yang lebih penting buat saya yang masih hijau ini.
Sebagai manusia, saya merasa harus bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri dan keluarga, jadi bisa tidak bisa, mau tidak mau harus berprinsip Hidup adalah Perjuangan.

Malam ini seperti biasanya saya sempatkan sekalian makan, tujuannya kali ini ke sebuah warung makan Padang masih disekitar Sunter. Enak sih meskipun interiornya tak semegah RM Sederhana. Warung ini namanya Salero Bundo, meskipun saya tidak mania masakan Padang tapi harus saya akui secara subyektif bahwa rasa masakan Padang terbaik cuma saya temukan disana, terutama untuk kikil dan sambel terinya.
Saya mengambil best view dengan posisi duduk menghadap ke jalan ketika tiba-tiba saya terhenyak oleh seorang ibu tua berbaju kumal yang sepertinya memelototi tapi kemudian tersenyum sendiri sambil entah bicara apa, samar-samar terdengar. Sempat awalnya saya kira orang gila namun belakangan saya sadari ternyata dia adalah seorang pengemis saat sebuah kecrekan dari tutup botol bekas dia keluarkan dari tasnya. Lirik dan nadanya sumbang, demikian pula artikulasinya.
Ibu ini tidak saya beri uang karena saya pikir dia malas bekerja, ngamen saja tampaknya tidak niat begitu, demikian pikir saya, lagipula sebenarnya ada si pemilik warung yang sudah siap dengan recehan ditangan. Saya juga kepikiran kalau saya memberi uang berarti saya telah mensukseskan profesi ’ngemis’ yang identik dengan kemalasan bekerja, ini karena saya prihatin semakin banyak pengamen yang terlihat dijalanan maupun kampung-kampung...berarti pula saya membiarkan orang terjebak dalam kemalasannya.
Jurus saktinya hanya dengan wajah memelas dan kumal, membawa kecrekan tanpa senandung yang enak didengar, bahkan kalau tidak diberi uang malah mengumpat. Beda dengan Pengemis Sakti yang diceritakan di sandiwara radio Saur Sepuh yang justru sakti betulan.

Paling risih lagi kalau ada pengemis didepan gereja dan tempat ibadah lainnya, kok ya ngepasin jam bubaran kebaktian baru 'ndeprok' dekat pintu. Mereka paling tahu kotbah ditempat ibadah pasti dihimbau untuk mempraktekkan kasih terhadap sesama, dan mereka tahu mereka bisa memanfaatkan ajaran tsb untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa bekerja. Tidak mungkin 20% saja orang dari gereja tidak memberi, berarti kalau umat ada 1000 paling tidak 200 orang dikali Rp 100 s.d 5.000,- sudah masuk kekantong mereka, sementara tidak mungkin juga satpam mengusirnya, mungkin itu yang mereka pikirkan, dan memang selama ini selalu begitu.

Dididik oleh Satpol PP saja sulit, jadi dengan diberi uang makin malaslah mereka. Bahkan menurut investigasi media, seorang pengemis di Jakarta dalam sehari sanggup mengumpulkan Rp 40 – 60 ribu yang berarti menyamai bahkan mungkin melebihi gaji seorang fresh graduate tingkat Diploma.

Saya pernah melihat Oprah Show yang bereksperimen dengan memberi uang kejutan kepada seorang tunawisma di Amerika sana sejumlah USD 100.000 (setara Rp 900 juta). Ternyata tunawisma tersebut kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 6 bulan setelah menghambur-hamburkan uang tersebut dengan menyewa apartemen mahal, beli mobil SUV mewah, menikah, pesta pora dengan kumpulan kawan tunawismanya dan mabuk-mabukan. Sepertinya kaget secara mental sehingga tidak bisa berpikir jernih, uang tersebut seharusnya bisa dipakai sebagai dana abadi ataupun modal usaha kecil-kecilan tapi malah dihabiskan begitu saja. Saat diwawancara ia pun berkata tidak pernah terpikir akan hari esok mau seperti apa, mimpinya telah mati karena sudah terlalu lama menggelandang..

Memang saya masih pilih-pilih, untuk pengamen yang sopan, tidak memaksa serta bisa menyanyikan lagu dengan bagus selalu saya beri uang agak lebih karena saya anggap lebih profesional. Namun untuk tipe seperti ibu ini saya malas memberi karena saya anggap bukan pengamen melainkan pengemis.

Setelah menerima uang recehan ibu ini tidak segera beranjak, namun kali ini saya dengar dia berkata keras-keras mendoakan supaya si pemberi diberkati, diberi keselamatan dan rejeki yang lancar...baru kemudian berlalu sambil berjalan perlahan.
Namun saya kaget ketika mengetahui bahwa ibu tua ini meraba-raba sekitarnya, ternyata dia buta dan bukan gila seperi bayangan pertama saya tadi, jadi berarti tadi dia tersenyum mungkin berdasarkan insting terhadap suara sendok dan piring yang beradu.
Omongan yang tidak jelas dan pelan tadi mungkin sebenarnya adalah sapaan hormat terhadap orang yang dia harapkan akan memberikan kemurahan hati melalui sekedar kepingan uang receh.
Pelototan tadi mungkin adalah keinginannya memastikan setelah ada setitik cahaya redup dari etalase warung yang masuk ke lensa matanya.
Kelu lidah saya, tertegun, termangu seperti kehilangan setengah kesadaran. Menyesal sekali saya tidak mendapatkan berkat yang mengalir dari mulutnya, padahal saya selalu diajari untuk bersikap baik terhadap kaum papa dan terpinggirkan karena disana sebenarnya Tuhan ada untuk melihat sikap kita.
Namun ketertegunan (dan sedikit kemunafikan) membuat saya berat langkah untuk mengejar ibu itu dan memberinya uang, saya gengsi mengingat tidak sedari awal memberi. Saya bingung bagaimana harus bersikap, seolah sudah kadung.

Sampai saat ini, jujur saja masih menjadi dilema, batin bergejolak tiap kali melihat pengemis apalagi yang sudah renta atau malah yang masih kanak-kanak di tiap traffic light.
Campur aduk rasanya:
-         ada rasa marah, terhadap keluarga yang telah menelantarkannya,
-         ada rasa jengkel, karena kemalasan telah membuat mereka mencari jalan pintas bahkan seringkali menjadi profesi paling instan
-         ada rasa iba, karena bisa jadi memang kehidupan tidak berpihak kepada mereka
-         ada rasa bersalah, kalau memberi berarti membiasakan mereka mengemis
-         ada rasa berdosa, kalau tidak membantu sesama yang kesusahan
-         ada rasa ingin membantu pemerintah dalam mewujudkan kota yang bebas dari kaum ini 
-         ada rasa takut, kalau uang itu akan dipakai sembarangan, bahkan mungkin untuk judi atau beli miras atau nge-lem

Terlalu ingin sempurna malah jadi terlalu banyak yang dipertimbangkan, akhirnya malah no action.
Bukankah kita seringkali begitu juga?

Pemerintah sepertinya juga tidak serius mengentaskan masalah ini di Indonesia apalagi ditahun Visit Indonesia Year 2008 ini sudah semestinya wisatawan mendapat pemandangan yang indah, bukan pemandangan kemiskinan dan keterpinggiran.
Mungkin sebaiknya UUD 45 ps 34 ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” direvisi saja menjadi ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar diperangi oleh negara” , karena apapun yang dipelihara kalau berupa barang ya akan tetap awet, bahkan kalau yang dipelihara berupa makhluk hidup justru akan berkembang biak dan bertambah banyak.

Heeuuhhh....
Posted by ndablek at 14:48:13 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar