Gendutmu Deritaku

Belum lama ini saya pulang dari Pekanbaru menuju Jakarta dengan menempati kursi di kelas ekonomi yang sempit. Seperti biasanya pula saat check ini selalu meminta untuk diberi posisi dekat window agar bisa menikmati pemandangan dari atas awan atau posisi dekat aisle supaya bisa lebih leluasa berinteraksi dengan pramugari..yah..minimal kepretan kecantikan dan wanginya parfum yang bersliweran sudah mampu menghilangkan kejenuhan selama perjalanan.
Nah kalau duduk ditengah saya enggan karena sangat tidak menguntungkan buat saya yang berbadan agak besar ini. Namun waktu itu saat dipesawat saya melihat bangku resmi saya telah dikudeta orang lain, sehingga ditengah antrian penumpang lain yang akan lewat saya putuskan untuk mengalah daripada lalu lintas terhambat. Apesnya, penumpang yang duduk disebelah saya berbadan gendut sekali (untung ga bau), akibatnya kami harus berebutan untuk sekedar mendapatkan sandaran tangan yang sebenarnya adalah jatah saya. Lha wong sakit gendutnya luberan perutnya saja bisa memakan ruang batas saya.
Bisa dibayangkan betapa perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit terasa sangat menyesakkan dan capek, karena tidak ada ruang bergerak, sementara niatan untuk pindah terpaksa saya urungkan karena ternyata tidak ada lagi seat yang kosong.
Yah..mau apa lagi? Komplain? Kepada siapa? Pasal berapa pelanggarannya?
Tidak mungkin saya mengusirnya karena penumpang gendut ini juga membayar, sementara saya malah dibayari perusahaan tempat saya kerja.
Orang ini juga tidak bersalah karena mungkin waktu itu bagian reservasi/ticketing tidak menyuruhnya membeli kursi kelas bisnis yang lebih lega yang lebih cocok buat dimensi sebesar dia.
Ternyata terkadang meskipun yang kita kerjakan seolah tidak merugikan orang lain (karena dianggap hanya pengaruh ke diri sendiri) nyatanya bisa menimbulkan masalah dan menyiksa orang lain. Kalau dicerna-cerna lagi ya ujung-ujungnya ego, kenapa juga dia seenaknya sendiri makan banyak-banyak?
Namun hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya, bahwa semua hal yang kita lakukan memiliki efek ke orang lain, tidak hanya diri sendiri.
Contoh:
- Kalau makan banyak dan enak dengan alasan toh kan tidak merugikan orang lain, tapi kalau meninggal gara-gara kolesterol atau obesitas kan ujung-ujungnya menyakiti keluarga yang ditinggalkan juga.
- Kalau kita punya event besar kemudian menyewa jasa pawang hujan, sebenarnya meskipun seolah tidak merugikan orang lain karena demi kepentingan bisnis tapi sebenarnya kita sedang memaksakan kehendak ke orang lain. Bisa jadi sebenarnya ada orang yang sangat membutuhkan hujan (misal kebakaran) justru disaat pawang yang kita sewa mengusirnya.
- Kalau kita malas menggunakan parfum dengan alasan 'PeDe aja lagi' bisa jadi berpotensi merugikan orang lain yang kebetulan 'wind angle' nya tidak pas...terpaksa menghirup udara yang sebelumnya telah mengalir diantara celah-celah ketiak kita.
- Terus kalau kita menyuruh anak kita untuk banyak mengikuti les pelajaran demi alasan agar cepat pintar, lebih maju, bagus untuk perkembangan wawasan dan keilmuannya, mungkin sebenarnya kita juga sedang memaksakan nilai ego kita sendiri dimata sejawat alih-alih ingin anak kita bahagia.
- Demikian juga saya saat bekerja, selalu didoktrin bagaimana mengalahkan kompetitor "Kill...(merk)" padahal tentunya dibelakang merk tersebut banyak terdapat rantai nafkah yang jika merk kompetitor ini dimatikan atau diganggu pertumbuhannya dengan sengaja, berarti saya juga telah ikut andil dalam memutus rantai nafkah yang sudah pasti menjadi tumpuan banyak orang didalamnya. Padahal tiap hari selalu memohon agar diberi rejeki yang halal, pamit pada keluarga dengan penuh kemesraan karena ingin bekerja mencari nafkah, bercita-cita hidup mulia bersama keluarga..nyatanya tanpa disadari nafkah itu didapat dari usaha-usaha menumbangkan kompetitor yang dianggap mengganggu pertumbuhan bisnis yang senyatanya juga bukan milik saya. Ambisi manajemen (yang juga bukan pemilik) untuk menjadi bisnis yang paling super dan paling hebat telah menjadi wajar dalam konteks dagang meskipun berpotensi mengorbankan irama kehidupan ratusan ribu bahkan jutaan orang.
Nah, setelah pengalaman ini saya jadi ingin meneliti lagi, menelisik lebih dalam...jangan-jangan dalam kegiatan maupun kebiasaan reguler sehari-hari, saya telah merugikan dan terlalu jauh mengambil ruang kenyamanan orang lain, meskipun secara tidak langsung.
Semoga saja tidak.. dan kalaupun iya, ampunilah aku ya Gusti untuk segala kenaifan ini!



