MP3 playerku, lorong bahagiaku

Malam ini saya merasa begitu damai, mengenang masa lalu yang begitu mudahnya mekar ke permukaan memori saya, hanya lewat lagu yang pernah populer disuatu masa maka seketika lamunan saya melayang mengenang masa indah yang telah lalu. Pengalaman yang membuat saya merasa mencapai tingkat ekstasi tertinggi. Unik memang, fase hidup saya rasanya terbagi 5, sebelum 1987, antara 1987-1993, antara 1993-1997, antara 1997-2002 dan setelah 2002...tinggal dengar lagu yang pas lirik atau sering saya dengar waktu itu maka akan segera terbangkitkan memori bawah sadar saya sesuai jamannya.
Kali ini saya mendengarkan lagu Yogyakarta milik KLA Project, maka kenangan di Jogjalah yang muncul. Adakalanya tersenyum mengenang perjuangan masa kuliah yang penuh impian, apalagi mengenang masa indah berpacaran waktu itu, oh betapa indahnya..tak terungkapkan lagi dengan kata-kata ketika asyik belajar bersama, janjian saya jemput di perpustakaan kampus UKDW atau mesra berkeliling kota diatas motor menghabiskan malam, dinner sederhana pun terasa sangat romantisnya sambil menikmati suasana Jogja dimalam hari. Sebuah bintangpun pernah kami jadikan simbol cinta (maklum lagi gombal-gombalnya hehe)..jika terpisah cukup janjian lihat bintang Barat itu dan memastikan salah satu dari kami yang ada dibelahan bumi yang lain sedang memandang bintang yang sama.
Gorengan terasa begitu renyahnya, pecel lele IKIP, ayam goreng bu Garasi, atau bakso Pak Kribo di Gejayan terasa begitu nikmatnya, kehujananpun terasa begitu riangnya. Tak perlu makanan cafe atau resto franchise mewah, senyapnya mobil atau megahnya rumah. Membayangkan wajah cantiknya pun sudah bisa membuat saya tersenyum sumringah.
Begitu pula ketika terbersit wajah Mbok Rah pembantu rumah kos yang pernah saya tinggali selama 2,5 tahun sebelum akhirnya saya pindah karena rumah itu tidak akan dikos kan lagi. Perempuan tua yang begitu sederhana dan sangat bersahaja namun sangat meninggalkan kesan mendalam, tiap pagi selalu menyediakan segelas teh hangat, menyapa saya, bahkan kalau mangga ibu kos sedang berbuah tak lupa pasti dikupaskannya untuk saya. Sopan dan sangat menghargai, tulus dan khas sekali meskipun saya tidak pernah memberinya uang sepeserpun. Roda hidupnya yang pernah mengalami masa penjajahan, masa pemberontakan PKI, jadi bakul tenongan (penjual makanan kecil keliling dengan menggendong bakul) dan terakhir menjadi pembantu membuatnya sangat senang jika melihat anak muda kuliah demi masa depan yang lebih cerah.
Begitu pula dengan pak Marno, sebut saja demikian, yang setia menemani saya dengan asap rokoknya di pos ronda ketika saya mengajar anak-anak SD atau sekedar bercengkrama ngalor ngidul saat mengikuti KKN di daerah selatan Timoho bersama 5 orang rekan lainnya dalam 1 grup. Belum lagi si Rudy tetangga kamar sebelah yang super setia menge-lap Binter Mercy bututnya yang diberi nama Reno, yang seolah mampu membuatnya pantas bergaya bak Reno Raines dalam serial Renegade. (haha..sorry Rud!)
Ada lagi pengalaman kehujanan di jalan menuju ke pasar Magelang ketika saya membawa 2 karung pakaian pesanan dengan sepeda motor. Terpaksa sebelum setor saya mesti mengelap plastiknya dulu biar tidak terlihat basah. Saking inginnya menabung demi membelikan sang pacar perhiasan emas dari keringat sendiri, apapun dijalani dengan berani, bahkan keterusan dagang sampai akhir kuliah bisa beli TV dan sepeda motor sendiri. Ke-nelangsa-an waktu itu hanyalah awal metamorfosis menuju kebahagiaan setelahnya.
Adakalanya saya sangat merindukan hal itu sampai merasa ingin lagi memutar waktu kembali ke masa itu, pulang lagi pada kedamaian karena saya sekarang merasa sangat sepi, sendiri diantara riuhnya Jakarta.
Pernah ada masanya, bahkan mungkin sesekali masih saya lakukan..mencari kegiatan-kegiatan yang bisa menggantikan kebahagiaan masa itu. Dengan uang saya mencoba membeli dan menemukan kebahagiaan, hampir semua yang dulu hanya merupakan ’ke-andai-an’ telah saya wujudkan, bahkan yang dulu untuk membayangkanpun saya tidak berani telah saya lakonkan..namun tak pernah bertahan lama. Selalu saja saya kembali pada sepi, dan sekali lagi, sepertinya tidak ingin bangun dari kegairahan mimpi masa lalu, dimana saya berada diantara orang-orang yang tidak dikuasai ambisi, hidupnya mengalir, guyub, tulus dan jauh menghargai ’ke-manusia-an’ dibanding uang dan angka-angka, serta hidup tanpa obsesi berlebihan.
Banyak yang tidak terungkapkan disini, namun terbukti kini, memang kebahagiaan dan ketentraman batin tidak terbeli dengan uang, barang dan status .. hanya bisa dirasakan makna kesejatiannya setelah kita melewati masa itu, dan bagi saya sangat murah, hanya cukup dengan menyalakan MP3 player murahan saya sambil memejamkan mata dimalam yang dingin ini..
Sekarang saya sedang menunggu metamorfosis problema masa kini menjadi indah dimasa depan..



