Roti Tawar
Yah, roti tawar.. makanan sederhana peninggalan penjajah Eropa ini (namun penting buat orang seperti saya) belakangan populer diantara teman kantor saya, termasuk saya yang memang suka menyantapnya. Biasanya hanya dipakai buat sarapan pagi atau cemilan sore ditemani segelas teh Gopek atau kopi Nescafe instan hangat di istana pagupon saya.
Eh ternyata setelah dibawa ke kantor oleh seorang rekan, ternyata banyak yang menyambut positif. Senang rasanya mengetahui bahwa ternyata bukan hanya saya yang menyukainya, maklum sekarang jamannya roti abon Bread Talk dan donat J-Co...yang bukannya sombong, tapi justru saya kurang suka karena aroma wanginya yang sangat menyengat..kalau disuruh milih ya saya lebih pilih singkong goreng bawang putih...sedap dan pas banget disantap saat sore, apalagi disantapnya di serambi rumah dan diwarnai aroma tanah yang basah oleh air hujan.
Wah nikmat banget khas masa kecilku. Selain itu, ya alasan ekonomi aja sih saya suka roti tawar, harganya cukup bersahabat dengan kantong saya, apalagi beli sebungkus saja (Rp 6-7ribuan) bisa buat tiga hari sebelum basi di hari keempat. Nulis ini saja sambil makan roti tawar hehe..
Intermezzo nih terkait soal singkong tadi, didaerah Wonogiri yang terkenal gersang dan kering orang sudah tahu bahwa daerah itu populer dengan gaplek, yaitu sejenis makanan dari ubi kayu yang dikeringkan. Wis pokoknya, fresh-nya saja masuk kategori makanan kelas rendah, paling mewah ya cuma digoreng atau dibuat sawut ataupun getuk. Apalagi yang dikeringkan, gengsinya jelas tidak lebih tinggi dari nasi aking khas Pantura, dan jelas kalah sama intip gula aren pasar Gedhe. Yang menarik, orang mengenal singkong sebagai tanaman asli Indonesia..tapi benarkah?
Beberapa waktu yang lalu saya browsing internet dan menemukan suatu artikel, disana dijelaskan sejarah singkong ini yang ternyata merupakan tanaman asli Amerika Selatan, dibawa oleh penjajah Portugis sejak abad 16 namun baru sukses dibudidayakan dan dikomersilkan oleh Belanda tahun 1810 di Indonesia. Menarik ya, padahal kalau di film legenda atau jaman kerajaan-kerajaan kebun singkong sering dijadikan setting..lhah berarti sineas Indonesia kurang ekslorasi dong J, kan duluan kerajaan itu daripada kebun singkongnya.
Saya tidak akan bahas lebih jauh sih, karena ingin kembali ke soal roti tawar.
Filosofi roti tawar ini adalah meskipun dia tawar (dan sangat murah) namun dia selalu siap dikombinasi dengan berbagai rasa selai, mentega, meses, susu kental, es krim, keju hingga telur dan sayur sehingga menjadi roti sandwich yang mengenyangkan dan memberi energi buat siapapun yang memakannya. Yah, justru dengan ketawarannya (baca : ke-minimalis-annya) roti ini bebas berbaur dengan makanan lain. Bagian roti yang besar bahkan seringkali dilupakan orang yang memakannya karena orang justru cenderung memperhatikan isinya.
Filosofi ini hampir mirip dengan air putih murni yang ditakdirkan tidak memiliki warna, rasa dan bau namun jika diminum bisa sangat memberi kesegaran, dan air putih ini juga siap untuk tidak eksis lagi ketika ia dicampur dengan teh, sirup, susu, kopi ataupun jahe. Orang tidak lagi menyebutnya, hanya materi pengisinya saja yang diperhatikan orang dan dipesan. Saya membayangkan seandainya roti tawar dan air putih ini bisa merasakan tentunya ia akan merasa sedih karena selalu dilupakan penikmatnya saat disandingkan dengan materi yang lain. Padahal tentunya tidak enak minum kopi, teh, susu, jahe dsbnya tanpa dicampur air putih lebih dulu. Demikian juga sangat tidak enak kalau makan selai tanpa roti, makan meses saja atau mentega saja..pasti eneg.
Namun seperti bumi yang rela segala sesuatu tumbuh dan berkembang dengan mengisap, menyedot, menginjak bahkan mengotorinya, tanpa harap pamrih, roti tawar dan air putih adalah dua materi yang rela dilupakan meskipun telah berjasa besar dan mengorbankan eksistensinya sendiri demi eksistensi materi lain.
Dari filosofi diatas, tanpa bermaksud menyinggung orang yang memperjuangkan ’nilai diri’ nya, mengingatkan saya untuk belajar dari roti tawar dan air putih. Betapa seringkali kita lebih mengutamakan eksistensi kita, selalu ingin bersaing dan tampil menjadi yang dipandang orang, disebut orang, diingat orang, dipuji orang.
Sebenarnya lebih baik bagi kita untuk tidak tampil namun bisa memberikan kebaikan kita kepada orang lain, sedapat mungkin biarkan orang lain saja yang mendapatkan eksistensinya. Pesan saya, hati-hati karena eksistensi yang diburu manusia dekat dengan ambisi dan arogansi. Jadi cukuplah buat saya sebagai manusia lebih memilih menemukan esensi kehidupan...meskipun nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan, karena seringkali masih saja mudah terjebak ke arah eksistensi.
Jadi sementara ini saya habiskan dulu sajalah roti tawar ini..
Eh ternyata setelah dibawa ke kantor oleh seorang rekan, ternyata banyak yang menyambut positif. Senang rasanya mengetahui bahwa ternyata bukan hanya saya yang menyukainya, maklum sekarang jamannya roti abon Bread Talk dan donat J-Co...yang bukannya sombong, tapi justru saya kurang suka karena aroma wanginya yang sangat menyengat..kalau disuruh milih ya saya lebih pilih singkong goreng bawang putih...sedap dan pas banget disantap saat sore, apalagi disantapnya di serambi rumah dan diwarnai aroma tanah yang basah oleh air hujan.
Wah nikmat banget khas masa kecilku. Selain itu, ya alasan ekonomi aja sih saya suka roti tawar, harganya cukup bersahabat dengan kantong saya, apalagi beli sebungkus saja (Rp 6-7ribuan) bisa buat tiga hari sebelum basi di hari keempat. Nulis ini saja sambil makan roti tawar hehe..
Intermezzo nih terkait soal singkong tadi, didaerah Wonogiri yang terkenal gersang dan kering orang sudah tahu bahwa daerah itu populer dengan gaplek, yaitu sejenis makanan dari ubi kayu yang dikeringkan. Wis pokoknya, fresh-nya saja masuk kategori makanan kelas rendah, paling mewah ya cuma digoreng atau dibuat sawut ataupun getuk. Apalagi yang dikeringkan, gengsinya jelas tidak lebih tinggi dari nasi aking khas Pantura, dan jelas kalah sama intip gula aren pasar Gedhe. Yang menarik, orang mengenal singkong sebagai tanaman asli Indonesia..tapi benarkah?
Beberapa waktu yang lalu saya browsing internet dan menemukan suatu artikel, disana dijelaskan sejarah singkong ini yang ternyata merupakan tanaman asli Amerika Selatan, dibawa oleh penjajah Portugis sejak abad 16 namun baru sukses dibudidayakan dan dikomersilkan oleh Belanda tahun 1810 di Indonesia. Menarik ya, padahal kalau di film legenda atau jaman kerajaan-kerajaan kebun singkong sering dijadikan setting..lhah berarti sineas Indonesia kurang ekslorasi dong J, kan duluan kerajaan itu daripada kebun singkongnya.
Saya tidak akan bahas lebih jauh sih, karena ingin kembali ke soal roti tawar.
Filosofi roti tawar ini adalah meskipun dia tawar (dan sangat murah) namun dia selalu siap dikombinasi dengan berbagai rasa selai, mentega, meses, susu kental, es krim, keju hingga telur dan sayur sehingga menjadi roti sandwich yang mengenyangkan dan memberi energi buat siapapun yang memakannya. Yah, justru dengan ketawarannya (baca : ke-minimalis-annya) roti ini bebas berbaur dengan makanan lain. Bagian roti yang besar bahkan seringkali dilupakan orang yang memakannya karena orang justru cenderung memperhatikan isinya.
Filosofi ini hampir mirip dengan air putih murni yang ditakdirkan tidak memiliki warna, rasa dan bau namun jika diminum bisa sangat memberi kesegaran, dan air putih ini juga siap untuk tidak eksis lagi ketika ia dicampur dengan teh, sirup, susu, kopi ataupun jahe. Orang tidak lagi menyebutnya, hanya materi pengisinya saja yang diperhatikan orang dan dipesan. Saya membayangkan seandainya roti tawar dan air putih ini bisa merasakan tentunya ia akan merasa sedih karena selalu dilupakan penikmatnya saat disandingkan dengan materi yang lain. Padahal tentunya tidak enak minum kopi, teh, susu, jahe dsbnya tanpa dicampur air putih lebih dulu. Demikian juga sangat tidak enak kalau makan selai tanpa roti, makan meses saja atau mentega saja..pasti eneg.
Namun seperti bumi yang rela segala sesuatu tumbuh dan berkembang dengan mengisap, menyedot, menginjak bahkan mengotorinya, tanpa harap pamrih, roti tawar dan air putih adalah dua materi yang rela dilupakan meskipun telah berjasa besar dan mengorbankan eksistensinya sendiri demi eksistensi materi lain.
Dari filosofi diatas, tanpa bermaksud menyinggung orang yang memperjuangkan ’nilai diri’ nya, mengingatkan saya untuk belajar dari roti tawar dan air putih. Betapa seringkali kita lebih mengutamakan eksistensi kita, selalu ingin bersaing dan tampil menjadi yang dipandang orang, disebut orang, diingat orang, dipuji orang.
Sebenarnya lebih baik bagi kita untuk tidak tampil namun bisa memberikan kebaikan kita kepada orang lain, sedapat mungkin biarkan orang lain saja yang mendapatkan eksistensinya. Pesan saya, hati-hati karena eksistensi yang diburu manusia dekat dengan ambisi dan arogansi. Jadi cukuplah buat saya sebagai manusia lebih memilih menemukan esensi kehidupan...meskipun nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan, karena seringkali masih saja mudah terjebak ke arah eksistensi.
Jadi sementara ini saya habiskan dulu sajalah roti tawar ini..



