Wong Cuuiiilik!

(gb. wong cilik)
Jadi heran, orang kalau protes dema-demo tuh kok suka banget mengaku-ngaku sebagai wong cilik, rakyat kecil dsb nya ya? Barusan saya lihat juga begitu diprogram Suara Anda Metro TV, ada bapak yang menyuarakan ketidakpantasan permintaan maaf Xanana terhadap Indonesia. Tapi yang saya mau bahas adalah kenapa penelpon mesti menyebut ”saya sebagai orang kecil merasakan bahwa...”
Saya jadi mikir, lha kalau terlalu ’menghayati’ menjadi wong cilik nanti apa ndak nanti keterusan jadi orang kecil beneran? Cuiliiikk sak cuiliiikkk cuiliiiike...sampai ketip-ketip.
Padahal untuk memajukan kehidupan dan negara ini yang dibutuhkan adalah ’orang-orang besar’ dalam artian orang yang legawa, pembelajar, ndak grusa-grusu, tidak brangasan dan tentunya cerdas dalm bertindak dan dalam menyikapi sesuatu.
Atau sebenarnya itu sebagai upaya untuk menunjukkan ke-mayoritasan-nya, karena masyarakat Indonesia tanah air beta ini umumnya masih dibawah garis kemiskinan? Tapi ya kalau untuk urusan politik bawa-bawa istilah itu ya jadi kurang pas. Lagipula justru biasanya orang akan memandang sebelah mata terhadap orang yang lebih lemah atau yang mengaku-ngaku lebih lemah.
Apa ndak lebih baik untuk meningkatkan bargaining power kita dalam mengkritisi politik atau pemerintah atau apapun, kita bersikap dan membawa peran sebagai orang besar, supaya dianggap penting dan lebih dipertimbangkan.
Bayangkan kalau semua bersikap sebagai ’orang besar’, apa ndak keder juga tuh para anggota dewan dan pejabat menghadapi ratusan juta penggedhe?
Ibarat yang ngomong direktur dengan yang ngomong office boy kan pasti shareholder akan beda cara meresponnya.
Kecuali kalau memang untuk tujuan pribadi yang sifatnya menuju kerendahan hati, ya tidak apa-apa bersikap seperti orang kecil dan tidak penting. Tapi perlu diingat, umumnya orang yang benar-benar rendah hati biasanya berusaha sedapat mungkin menekan tuntutan terhadap pihak lain.
Hahaha..semakin nglantur aku!



