Jumat, May 02, 2008

Kemecer menuju Ujian



”Peng-pengan sing sinau nek tetep ora lulus yo piye no
? Huu...huu...” isak seorang gendhuk kepada emboknya.

Kegundahan dan kegaduhan hati para siswa daerah mulai menyeruak ke batas permukaan kecemasan. Di Padang dan Bojonegoro sampai diadakan doa bersama yang diprakarsai oleh sekolah, entah ada dikota mana lagi. Ora weruh.. Yang pasti pada doa bersama tersebut dihiasi mbrebes mili dan isak tangis para siswa, entah terharu entah takut.
Terharu karena euforia ’it’s now or next year’ deg-deg plas emosi yang campur aduk - saya pernah ngalami itu, atau bisa jadi tangis takut karena begitu digembar-gemborkannya kengerian akan soal-soal ujian yang super sulit.

Yah memang, tahun belakangan ini Ujian Negara diadakan kembali dan soalnya disesuaikan standar Jakarta sampai-sampai sekelompok guru di Sulawesi membocorkan jawaban demi ...entah nasib anak didik atau nama sekolah atau bahkan reputasinya sendiri sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Hero without Sign Service...begitu versi londo-nya TOEFL 41 :).

Tapi sepertinya ketakutan ini justru lebih karena ekspos media yang dibesar-besarkan, sehingga sudah terlebih dulu menjatuhkan mental para siswa. Ibarat orang kekar yang kalah mental lihat tikus, maka meskipun tikus itu secara teori diatas kertas bisa dikalahkan namun kenyataannya orang justru lari terbirit-birit, ngicrit-ngicrit..bahkan bisa mati kalau saking paniknya lari trus kepleset nyemplung sumur
J

Terlepas dari campur tangan media, saya berharap seandainya ada siswa yang ketakutan menghadapi UN karena rumor, isu maupun desas-desus...cobalah tarik nafas dan tenangkan diri, persiapkan diri dengan belajar, tapi tak lupa pula untuk berdoa.

Niscaya dengan mental yang lebih tenang, pikiran lebih bisa menemui kejernihannya.
Andaipun gagal, maka ingatlah dalam perlombaan kehidupan ini tidak ada menang atau kalah..yang ada hanyalah menang atau belajar.

Semoga sukses ya Nduk!
Posted by ndablek at 11:15:18 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar