Penipu Kupret

(gb. Mr S)
Kebetulan saya memiliki rumah yang ingin saya kontrakkan, jadi saya pasang iklan dikoran harian di kota Solo. Sempat ada beberapa yang tanya bahkan sampai janjian dilokasi meskipun akhirnya belum tentu diambil. Nah, ini sudah kedua kalinya saya menerima telepon dari orang yang mengaku tinggal di Jakarta dan setuju untuk mengambil rumah saya tanpa harus melihatnya atau bertemu langsung dengan saya karena dikatakan sudah ada staf (kasus 1) atau saudara (kasus 2) yang sudah lihat lokasinya.
Kasus 1: Terjadi pertengahan bulan lalu. Jelas tidak masuk akal karena yang dibicarakan orang yang mengaku bernama Haji Anwar ini berbeda ketika berbicara sebelumnya via telepon ke istri. Waktu ke istri dia bilang ingin pakai rumah untuk kantor distributor obat Cina, setuju untuk bayar sesuai penawaran tanpa harus lihat dulu. Ini yang membuat saya curiga sehingga saya menghubungi Haji Anwar. Waktu saya tolak dengan alasan rumah tsb peruntukannya untuk tempat tinggal dan bukan untuk kantor maka dia berkelit akan dipakai untuk mess karyawan (nah mana yang benar?). Bahkan mau menambah lima juta rupiah sebagai jaminan keutuhan rumah. Lebih ekstrim tho?
Makin curigalah saya, dimana-mana orang pasti ingin tahu lokasi, lihat interior, terus menawar. Lha kalau yang ini tanpa lihat malah mau nambah lima juta rupiah? Saya lalu bilang, akan saya pikirkan, nanti saya kabari. Akhirnya Haji Anwar ini tidak telepon lagi. Ya sudah, biarlah toh hati kecil saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.
Kasus 2, minggu lalu istri saya mengatakan dia dapat telepon lagi dari orang yang mengaku Ir. Tommi (0819.3289.xxxx) manajer bank BNI Jakarta yang akan segera mutasi akhir Mei ini ke Solo sehingga membutuhkan rumah. Hampir sama ceritanya, dia tidak bisa (atau tidak mau?) diajak bertemu langsung, mengatakan saudaranya sudah lihat lokasi. Dia menawar potong sejuta. Lumayan nih, batin saya (minimal dia nawar, berarti serius). Lalu saya minta bertemu dengan saudaranya saja, tapi permintaan ini ditolak, bahkan dengan setengah memaksa ingin segera transfer empat juta rupiah sebagai uang tanda jadi, maksudnya biar tidak diambil orang.
Saya mulai curiga, istripun bilang agar hati-hati terhadap hypnotis karena suaranya mirip haji Anwar (kasus 1). Namun karena penasaran, akhirnya saya berikan juga nomor rekening saya, setengah berharap bahwa saya hanya berpraduga saja padahal niat orang ini baik adanya.
Singkat cerita Ir Tommi ini menelpon saya dan mengatakan saya sebaiknya segera ke ATM terdekat untuk mengecek transferannya sudah masuk atau belum. Karena curiga saya berkata,” Oke, beri saya waktu dua jam karena saya masih bekerja.”, akhirnya Ir Tommy sepakat untuk menunggu kabar saya jam tujuh malam. Saya memang ngecek, tapi sebelum jam tujuh dan itupun lewat internet karena kebetulan saya mengaktifkan fasilitas tsb. Tidak ada uang masuk, padahal selama pengalaman saya transfer selalu tidak ada delay. Makin mencurigakan karena Ir Tommi ini saat menelepon saya sempat membaca ulang nomor rekening saya dan semua digit disebutkan dengan tepat.
Akhirnya tepat jam tujuh saya meng-sms dia, saya bilang uangnya belum masuk. Lalu dia menelepon saya:
”Bapak sekarang dimana?” tanyanya.
Saya jawab,” Saya baru saja pulang dari ATM, tidak ada uang masuk. Tadi betul ada nama saya tidak?”
”Namanya sudah muncul kok! Kenapa baru sekarang menghubungi saya?” ujarnya meninggi.
Aneh, dia tiba-tiba terkesan gusar dan sedikit membentak melanjutkan,” Kan sudah saya bilang hubungi saya saat di ATM! Kenapa pulang dulu?!”
Saya jawab kembali dengan tenang,”Ya sudah gini saja deh pak, kita tunggu sama-sama mungkin uangnya masuk sebentar lagi, besok saya kabari.”
Dengan nada tinggi lagi Ir. Tommi ini bilang,”Ya, sudah!”
”Tuuuuuuutttt........” telepon pun diputus tanpa sopan santun layaknya orang yang memang berniat transaksi.
Saya tersenyum geli penuh kemenangan, rasanya dia sudah kena batunya. Esoknya saya coba cek kembali untuk memastikan dan ternyata memang tidak ada transaksi. Hanya betul-betul penipuan yang tidak berhasil. Ir Tommi ini pun tidak menelepon saya lagi, diteleponpun susah. Jadi, biarlah ini jadi pelajaran supaya kita lebih berhati-hati lagi karena orang jaman sekarang semakin jahat. Jangan mudah tertipu oleh gelar keagamaan, status maupun jabatan sebagai kedok.
Untung istri saya cekatan berkoordinasi dengan saya, dan ternyata belakangan mengaku sebelumnya pernah menerima sms berantai mengenai penipuan pada transaksi jual-beli-sewa rumah. Si pengirim sms sudah tertipu dan hanya meminta untuk diteruskan ke satu nomor hp pemasang iklan baris dibawahnya, demikian seterusnya supaya setiap pemasang iklan berhati-hati.
Saya sempat hubungi call centre XL, namun dikatakan untuk kasus seperti itu mereka tidak bisa berbuat apa-apa (kecuali yang melibatkan nama pihak Excelcomindo).
Nada membentak begini pernah saya dengar juga sebelumnya di counter hp saya saat ada orang (Mr S) yang terhypnotis via hp, iming-iming dapat uang hadiah sepuluh juta rupiah,padahal tidak pernah ikut undian, dengan harus membeli voucher terlebih dulu sebagai pengganti pajak. Saya yang curiga karena transaksi telah mencapai 1,2 juta rupiah dan semua nomor voucher disebutkannya begitu saja lewat telepon, akhirnya minta bicara langsung dengan si penelepon (yang awalnya dibilang sebagai keponakan..atau mungkin Mr S dipaksa bilang begitu oleh si penelepon).
Penelepon akhirnya menutup pembicaraan dengan kasar dan marah karena saya ajak bicara. Modal saya memang terselamatkan karena orang ini saya tahan ditoko sebelum dijemput keluarganya, tapi kasihan juga karena mereka terpaksa membayar dengan hutang kesana kemari.
Yah..semoga si penipu kupret tadi jera!



