Senin, Juni 09, 2008

Mobil Balap


 Belakangan dilingkungan kerja saya lagi demam balapan.

Balap karung? Oh..bukan..bukan...

Balap karir?..Nyerempet tapi bukan juga
Cuma balap mobil dikomputer aja kok (*plakk*...duh yang baca marah)

Senang rasanya bisa sejenak ’menjadi orang kaya’ punya mobil mewah yang bisa dimodifikasi sendiri tanpa keringetan berpikir berapa sisa tabungan aktual di bank, maklum uangnyapun uang virtual selama pemain bisa menang pertandingan maka disitu pemain bisa mendapat uang yang ditabung untuk biaya modif. Ndak pusing beli BBM juga.
Sejenak pula rasanya bebas merdeka bisa melanggar aturan tanpa perlu dikejar Polantas, nabrak kesana kemari tanpa masalah dan rasa sakit, serta tanpa surat tilang atau uang damai.

Pada sesi ’out run’ ternyata yang paling digemari. Artinya pemain yang bertanding melawan mobil lain dengan rute yang sangat bebas, yang penting mencapai jarak 300m maka lawan dinyatakan kalah.

Menipu lawan menjadi hal yang menyenangkan, tidak dihitung kok poin dosanya, yang penting menang. Bila perlu dari awal disenggol dulu lawannya agar terguling, atau berpura-pura lurus namun begitu didekati lawan dari belakang langsung berbelok dipersimpangan sehingga lawan terkecoh...keciaann deh loe... Ketawa lepas pun bergema

Hhakhakahak...

Kekekkkekkk...

Heueheuuehueueeee...dll nya pokoknya semua jenis tawa ada.

Senyum puas ketika bisa menipu dan akhirnya meninggalkan lawan yang kebingungan menyusuri rute mobil didepan...300m pun terlalui, uangpun bertambah.

Ada pula seorang kawan yang ketika menang dan mendapatkan uang hanya berpikir untuk modif tampilan supaya sangar, padahal ini game balapan. Walaaah ..... hehehe.... cara berpikir yang aneh. Pokoknya tampilan dulu, mesti sangar dulu, sampai lupa jenis pertandingan bukanlah kontes modif melainkan adu cepat. Meskipun penting untuk reputasi (dan pamer tentu saja...kikikkkikkk...), semestinya mengubah tampilan menjadi prioritas kedua, setelah tentunya menggunakan tabungan untuk modifikasi mesin dan hal teknis lainnya.
Salah fokus? Entahlah..yang pasti akhirnya mengeluh sendiri karena ditahap berikutnya yang mobilnya kencang-kencang, mobil dia sudah tidak bisa mengimbangi. Lagi-lagi contoh menggelitik tentang eksistensi yang dikedepankan dan melupakan esensi.

Yah..yang pasti dari permainan ini saja sudah ketahuan sifat dasar manusia (padahal selalu ingin ditutup-tutupi hekhekk..), yaitu: ingin menang dengan segala cara bahkan menyikut orang yang dianggap lawan dan berusaha menipunya...untuk kemudian tertawa diujung sana.
Lalu sepertinya saya juga diingatkan supaya tidak salah fokus, mengerti bidang yang digeluti dan curahkan energi disana. Tidak melebar kemana-mana, sehingga terpilah betul mana yang ’penting’ dan mana yang ’genting’, meskipun sedikit tetapi tajam, daripada banyak tetapi tumpul. Seorang bijak pernah berkata, ”Kegagalan bukan disebabkan karena kurangnya ilmu, tapi lebih karena ilmu yang ada tidak digunakan dengan sebaik-baiknya.”

Alangkah hebatnya Sang Pencipta karena sebenarnya kalau manusia jeli, maka dalam hal sekecil apapun selalu saja ada hikmah yang bisa dipetik dari kehidupan sehari-hari, tanpa harus nyepi dan semedi ke gunung.

Ternyata dalam game remeh temeh pun ada pelajaran yang bisa dipetik, dan semoga ini bukanlah cerminan diri kita, hanya semata game seru-seruan. Dan dalam hitungan ketiga .satu..dua..cklik...Anda lupakan semua..
Posted by ndablek at 09:44:23 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar