Kucing hitam bandara

Sesaat sebelum terbang ke Jambi minggu lalu saya sempat mengabadikan foto seekor kucing dari kejauhan bilik boarding room, maklum kalau dari dekat pasti saya sudah keluar dari lingkungan bandara dong? Hakhaks..garing..
Kucing ini menarik perhatian saya karena dia hidup sendiri, mengelana tanpa ada yang ngopeni. Bertugas sebagai pekerja dibandara juga bukan, peliharaan tukang kebon atau restoran juga sepertinya bukan. Saya merasa kalah jauh dari kucing itu, dia lebih berani menghadapi hidup. Saya kadang masih takut dengan tidak dipenuhinya Janji Besar dari Sang Pemilik Hidup ini, sehingga sisi finansial selalu dikedepankan bahkan rela mengorbankan kebahagiaan berkumpul dengan orang yang mencintai saya dan yang saya cintai.
Kucing hitam itu tidak terpelajar apalagi berijazah, tidak menjaga kesehatan dengan medical check up 1 tahun sekali, tidak bekerja dan menerima gaji, tidak bisa berpikir layaknya manusia..namun ia sehat terpelihara oleh kuasa Sang Pemilik Hidup..dia lincah bermain dengan semut-semut yang waktu itu sempat mengganggunya. Ahh..betapa hidup yang tanpa beban, meskipun saya juga sempat bingung dia makan dari mana..atau sempatkah menemukan tikus?
Atau hidup tanpa beban dan ekspresi stres kucing tersebut karena memang dia tidak berakal budi untuk mengungkapkannya? Jikalau demikian kenapa dengan akal budi yang seharusnya mempermudah hidup manusia kita justru dibuat penuh kekuatiran?
Ironi, namun inilah yang sering terjadi pada diri manusia, seringkali kekuatiran hidup dan ketidakpasrahan kepada Yang maha Kuasa menjadi biang masalah dari stres dan berjuta beban hidup yang lain...seperti saya!



