Sabtu, Juni 21, 2008

Sapu Tangan

WAKTU kemarin lihat-lihat parfum di Batam (soalnya ndak beli hiks..takut kena razia bandara.. eh btw bener ndak tho kalau masih bisa lolos bawa cairan lebih dari 100mL???)...saya melihat seorang pria yang sedang melihat-lihat tas kulit sempat menyeka wajahnya dengan saputangannya warna biru muda. Oh no...oh noo... oh yes...oohh...nooo....wah opo tho iki? (kekekekkss...)

Hari geneee geto loooh masih pakai sapu tangan? Padahal secara medis dijamin dah, itu pasti kurang bagus, soalnya dalam kondisi basah keringat atau kena minyak wajah trus dimasukin lagi kedalam kantong (sehingga tidak ada sirkulasi udara dan cahaya) pasti akan mengundang jamur dan bakteri.
Saya sendiri lebih suka pakai tissue karena sekali pakai langsung buang, jadi sudah pasti lebih higienis. Selain itu juga lebih praktis kan daripada ngantongin saputangan, apalagi pas lagi pilek sentrap sentrup kayak Temon...wah..kan mesti juga ada yang nyepret atau malah sengaja disimpen dalam sapu tangan itu. Bayangkan saja saat dibuka lipatannya...mlenyek...lengket, ketarik-tarik...hiiiiiiii.....jijay jablay semlohai kalee..

Sapu tangan pernah berjaya pada masanya, namun kini sudah mulai ditinggalkan. Saya sempat canggung juga membawa tissue..takut terkesan cewek banget...tapi akhirnya memutuskan kita harus berpikir jernih, kebersihan tetaplah lebih penting dari image. Lagian saya ikut mbantuin penebang pohon untuk memanfaatkan kayu yang ditebangnya kan? hahahaa...(*plak!!)

Okelah, intinya, mungkin kita bisa belajar menjadi temen yang baik lewat cerita sapu tangan tadi.
Kemauan menyimpan cerita aib teman atau sahabat, menutupnya rapat dan rela kalau demi si teman tadi kita mau jadi tempat pembuangan ’ingus’-nya demi dia terlihat tampil menarik dan elegan. Kemudian merelakan dicuci dengan empati dan simpati yang harus diperas demi hilangnya aib ingus itu tadi...untuk kemudian menenaminya lagi.

Persahabatan seperti itu apa masih ada ya?



Posted by ndablek at 02:46:38 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar