Semua mesti dibayar
DIJAMAN sekarang apa sih yang tidak perlu bayar? Mau makan enak ya mesti bayar lebih. Mau tidur nyaman ya mesti bayar hotel yang lebih mahal. Mau muter haluan aja bayar ke pak Ogah, mau nunggu lampu hijau nyala saja mesti membayar para pengamen dan pengemis. Senyumpun sekarang dikaitkan dengan uang, kalau potensial jadi konsumen ya disenyumin tapi kalau tidak ya bakal mlengos aja tuh SPG. Ndak percaya? Coba ada tidak SPG yang senyum sama pengunjung yang kelihatan kere dan tidak terawat?
Air putih yang dulu sepertinya sumber tak terbatas kini juga sudah dijual. Nah, kalau air pipis, kita kan memberikan sesuatu namun nyatanya ditarik bayaran juga. Mulai yang sekedar Rp 500,- hingga Rp 2.000,- sekali buang. Mahal pisan! Bahkan kalau di KLCC (Twin tower) saya pernah ditarik RM 2 untuk sekali masuk toilet...alamak...
Bahkan teman saya di Jepang mengatakan untuk membuang kursi anak yang sudah tidak terpakaipun harus membayar ke tukang sampahnya, cukup mahal kurang lebih Rp 40.000. Ndak tahulah suatu saat nanti menangis perlu bayar juga atau tidak.
Saya kuatir kelak untuk bernafaspun (menghisap dan membuang) mungkin manusia harus membayar karena tidak ada lagi yang gratis. Sinar matahari pun perlu dibayar. Pertemanan dan ketulusan hati juga berpotensi untuk dikomoditaskan, cinta tanpa uangpun tak bisa langgeng.
Untungnya untuk kentut belum perlu bayar ya hehe..
Nah mumpung sekarang belum perlu bayar marilah kita kentut sesuka hati kita..braatttt......breeetttt.....bruuoootttttt......



