Perangkat, aparat atau keparat??

Saya terhenyak, karena meskipun jaman katanya sudah berubah ke arah yang lebih baik, jaman reformasi, namun saya masih melihat pemandangan para perangkat Kelurahan ini kebal-kebul menghisap sigaretnya sambil sesekali meminum kopi dan terus melanjutkan membaca koran pagi itu. Saya tidak merasa mereka sedang mencari komplain di media, namun memang itulah kebiasaannya.
Kenapa?
Karena pada saat ada seorang ibu masuk menanyakan BLT mereka seperti tidak serius, saling lempar tugas, tidak ada layanan khas pejabat publik yang ideal dan dicita-dicitakan. Akhirnya yang melayani adalah petugas wanita yang kebetulan juga melayani saya. Ibu ini memang paling muda, namun apakah itu berarti semua pekerjaan harus dilimpahkan kepadanya, sementara kalau dibandingkan gaji dan fasilitasnya mestinya yang senior mendapatkan lebih banyak sehingga sudah seharusnya yang senior kerjanya lebih banyak. Terlepas dari itu semua sudah seharusnya jiwa melayani dengan baik dan setulus hati ada pada mereka tanpa pamrih, karena itulah profesionalitas apalagi kalau sampai dibilang pekerjaan ini sebagai pengabdian.
Saya juga pernah mengalami kejadian saat saya mengendarai kendaraan melewati Tasikmalaya, saya salah arah karena rambu yang tertutup dedaunan pohon sehingga tidak terlihat sebagai rambu. Meskipun jelas-jelas plat polisi kendaraan saya dari luar kota dan saya menunjukkan rambu yang tertutup itu, polisi tidak mau tahu. Tetap menilang saya dan akhirnya bilang kalau rambu yang tertutup itu bukan urusannya, melainkan urusan DLLAJ.
Uang pun berpindah karena tawaran ’titip sidang’ menjadi masuk akal, tidak mungkin saya kembali lagi ke Tasikmalaya hanya untuk sidang.
Betapa keterpaksaan yang menjengkelkan.
Mungkin perangkat publik ataupun aparat publik dinegara ini masih lebih cocok disebut keparat!



