Hepi Bersdei

Entah siapa yang memulai, namun hingga kini saya masih tersenyum geli kalau mendengar orang menyanyikan lagu Happy Birthday namun dengan pelafalan ’hepi bersdei’ karena kadang yang menyanyikannya adalah orang yang jago inggris.
Yah...kesalahan yang dibiasakan oleh pendahulu kita (dulu mungkin akibat kurang mengerti) memang akhirnya sampai era milenium ini masih saja terbawa-bawa oleh generasi mudanya, bukan karena tidak tahu namun lebih karena tidak sadar bahwa yang diucapkan salah, cenderung karena kebiasaan saja dari kecil.
Inilah bahayanya hidup, mengataakan, melakukan atau memutuskan sesuatu karena kebiasaan atau sudah terbiasa. Saking biasanya kadang kita lupa untuk menelaah lebih dalam, apakah apa yang kita biasakan itu sudah tepat atau belum.
Kepada anak buah kita sering membiasakan menganggap mereka jongos yang bahkan untuk menghapus whiteboard, membereskan proyektor dan kabel usai meeting, mengambil print kita sendiri pun perlu anak buah yang bergerak, membiasakan anak buah yang datang dengan cara kita panggil dan bukannya kita yang mendatangi mereka.
Di kantor saya belakangan sering dipakai anak yang praktek kerja (PKL), namun alih-alih memberikan mereka ilmu dan pengalaman kerja, akhirnya kami malah lebih sering menyuruh mereka untuk memfotokopi, mengambilkan hasil print, membendel berkas, mengembalikan proyektor ke Dept lain, memanggilkan OB dan segala remeh yang lain yang semestinya bisa kami kerjakan sendiri. Bukan karena tidak ada waktu sehingga perlu pendelegasian, namun lebih karena ingin cari enaknya. Dalam diri kami bersemayam impian menjadi raja kecil ,jadi tiap ada kesempatan maka tak lupa memaksimalkannya. Justru ilmu kerja yang mereka cari tidak kami berikan.
Nampaknya kami masih terbiasa mencari enaknya diri sendiri..karena dari dulu ya begitu, turun menurun tanpa sempat menyadarinya hingga sekarang. Jadi kasus perploncoan STPDN (dulu IPDN), lalu korupsi, kolusi, pungli, money politic dan sebagainya bukan diciptakan karena tapi karena sudah ada sebagai kebiasaan.



