Senin, Agustus 04, 2008

Kemben Melorot


Hahaha...jangan marah ya kalau Anda sedang searching dengan keyword ’kemben melorot’ ternyata blog ini yang ditemukan..maaf.


Saya memang mau mengulas tragedi kemben tapi dari sisi yang lain. Sudah diketahui umum dan bahkan saya sempat dikirimi gambarnya oleh seorang teman tragedi kemben melorot, mulai dari Dewi Persik hingga Sarah Azhari..hmm..tubuh yang luar biasa memang  memang amat disayangkan..(*ngelap keringet dulu nih..puff..gak boleh sampe KSO2 alias kelingan sing ora-ora haha)


Ramai-ramai orang menghujat mereka, terutama ke Dewi Persik yang memang sedang hangat dibicarakan orang karena tengah naik pamor. Dewi Persik diaggap tidak senonoh, tidak berusaha menjaga aurat dan sebagainya. Saya tidak sedang berusaha membelanya sih, memang saya setuju kalau goyangan Dewi dianggap erotis dan terlalu berlebihan. Namun untuk masalah kembennya saya rasa sebetulnya ada pihak yang lebih bisa dimintai pertanggung jawaban untuk kejadian tersebut.


Siapa?

Yupp.. Anda bisa membaca pikiran saya kalau mengatakan yang lebih bertanggung jawab semestinya adalah si perancang dan pembuat busana Dewi Persik. Kenapa? Ya karena dia sudah tahu persis busana tersebut akan digunakan untuk manggung oleh seorang Dewi yang gerakannya heboh, mestinya dia memberikan ukuran yang lebih ketat dan memberikan ekstra perlindungan untuk antisipasi kalau busana tersebut tidak sanggup mengimbangi mentul-mentulnya volume dada Dewi saat bergoyang.


Saya yakin Dewi tidak menghendakinya, jadi ya sebenarnya dia adalah korban..maka dia juga tidak mutlak yang salah.
Masalah gampang menyalahkan orang ini ternyata selain saya (yang dengan sengaja menyalahkan si desainer tadi) juga merupakan kecenderungan masyarakat Indonesia pada umumnya. Coba perhatikan, banyak penabrak lari yang sebenarnya lari bukan karena ingin melarikan diri tapi bisa jadi cenderung lari karena ingin menyelamatkan diri dari amuk massa. Padahal belum tentu si penabrak ini yang salah, tapi dia justru korban dari orang yang ugal-ugalan atau dari orang yang secara ceroboh menyeberang jalan secara tiba-tiba. Namun orang tidak mau tahu, pokoknya yang masih segar bugar dialah yang bersalah dalam kecelakaan.


Sudah kebiasaan umum juga kalau yang membawa kendaraan lebih besar menjadi lebih pantas disalahkan daripada menyalahkan yang sebenarnya melakukan kesalahan.


Kalau ada demonstrasi juga demikian, orang gampang saja menyalahkan polisi ketika ada korban yang jatuh, padahal dalam kondisi yang sangat chaos alias kacau dan genting tentunya keselamatan diri dan pihak pelapor juga tidak kalah penting. Sebenarnya kalau menurut saya polisi juga korban, karena dia hanya semacam pion yang diadu dengan demonstran yang seringkali dengan kalap malah berusaha menyakiti polisi penjaga ketertiban itu tadi.


Contoh lain ketika anak gagal, kecenderungan orang tua adalah menyalahkan anak yang dianggap malas belajar, padahal bisa jadi anak yang gagal itu adalah korban dari orang tua yang tidak memberinya perhatian dan arahan yang tepat.


Hhhh...kita memang masih perlu banyak belajar untuk lebih berhati-hati supaya tidak gampang menyalahkan orang lain


Posted by ndablek at 09:28:36 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar