Senin, Agustus 11, 2008

Tatoo itu Lambang Kekuasaan




Suatu pagi yang normal di Jakarta ketika menuju sirkuit, bis carteran yang saya tumpangi terjebak kemacetan parah. Seperti biasanya kapasitas jalan yang sebenarnya sudah cukup besar masih saja disesaki oleh kendaraan yang berpacu menuju perhentian masing-masing. Cukup lama saya merambat disatu titik hingga saya mulai memperhatikan seoarng pengemudi angkot disebelah kiri bis yang saya tumpangi. Wajahnya bersahaja, berpakaian sederhana dan mengumbar senyum yang menurut saya sangat ramah kepada setiap penumpang yang akan naik.

 

Namun ada yang saya perhatikan dari supir tersebut, yaitu sebuah tatoo dilingkar lengan kanannya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa tatoo merupakan sebuah karya seni bahkan warisan budaya namun dikalangan modern tatoo masih lebih lumrah digunakan dikalangan ’hitam’ kalaupun bukan seniman.

 

Hanya saja yang menarik adalah kontrasnya wajah dan senyuman orang ini dengan tatoo di lengannya. Kalau saja yang mentatoo adalah supir biasa yang sorot matanya saja seram, preman terminal atau musisi rock, saya masih akan menganggapnya angin lalu.

 

Saya jadi ingat pengalaman saya sendiri waktu remaja, dimana tidak jarang saya berpapasan dengan remaja garang dikampung, geng sekolah atau preman Mall. Seperti menatap tajam seolah akan menerkam, jika tidak mencari gara-gara dengan memelototi terlebih dulu bahkan meminta uang jajan. Meskipun sebenarnya saya tidak takut karena telah membekali dengan ilmu bela diri namun lelah juga berpura-pura takut dengan tidak berani menatap lama mata preman atau anak geng itu.
Lalu saya punya gagasan bahwa penampilan bisa jadi mengubah status saya dimata mereka. Akhirnya saya memutuskan menindik telinga kiri saya sendiri, dan memakai anting agar terkesan tidak kalah berandalnya dengan mereka.

 

Teori saya pun teruji, seringkali saya meladeni tatapan tajam preman atau anak geng kampung saya dengan tatapan wajar namun tidak berusaha semakin tajam. Anehnya saya seperti merasa mendapat status baru, dimana seringkali saya tidak lagi perlu membuang tatapan saya namun akhirnya justru orang yang pertama menatap tajam itu justru mengakhirinya sendiri dengan segera melihat ke arah lain..mungkin mereka jadi takut sendiri cari gara-gara hahaha...

 

Kini sejak bekerja diperkantoran anting itu tak lagi saya pakai, namun supir angkot yang murah senyum ini mengingatkan akan masa lalu saya..
Mungkin dia sedang menambah rasa aman karena lingkungan kerjanya yang rawan penodongan dan pemerasan oleh komplotan preman, meskipun ironis, seharusnya rasa aman bukanlah didapat dari atribut melainkan harus diberikan oleh pemerintah negeri ini selaku penyelenggara keamanan.


Cuma saya tergelitik, jangan-jangan dalam bekerjapun saya kembali memakai ’anting’ jabatan untuk memperoleh kekuasaan terhadap rekan kerja dan membuat mereka segan bukan karena kewibawaan saya pantas disegani tapi lebih karena segan karena ’anting’ yang memiliki kuasa seperti preman tadi.

Posted by ndablek at 15:49:05 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar
Tulis komentar