Senin, Agustus 11, 2008

Kemrungsung



Coba perhatikan apa yang salah dari foto yang saya ambil diatas?
Hahaha..betul sekali, ternyata tulisannya terbalik sehingga stiker pelindung akriliknya tidak jadi dilepas mungkin setelah disadari oleh pemasangnya. Neon box sign ini ada di bandara Hang Nadim Batam, tepatnya di lantai 2 dekat Bintan Lounge..

Entah sengaja atau kurang cermat, namun saya pikir ini karena kemrungsung saja sehingga kesalahan yang tidak perlu ini bisa terjadi dan mengundang senyum saya.
Ingin cepat ternyata tidak selalu menjadi solusi terbaik..kalau tanpa persiapan yang matang.

 

Karena ingin cepat sampai, maka orang cenderung mengabaikan keselamatan..
Karena ingin cepat minum, maka orang bisa tersedak..
Karena ingin cepat menjual, maka orang mengkarbit pisang..
Karena ingin cepat dipromosi, maka orang menjadi egois..
Karena ingin cepat selesai, maka orang menyuap..

 

Dan pemenangnya, eng ing eng....   here it goes....
Karena ingin cepat terpasang maka malah terbalik..
hahahaha....sumpah, tragis banget nih...



Posted by ndablek at 15:45:34 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Juli 19, 2008

Perangkat, aparat atau keparat??

BEBERAPA waktu yang lalu saya ada perlu mengurus beberapa administrasi kependudukan di Kelurahan tempat saya tinggal di salah satu kota di Jawa Tengah. Setelah minta pengantar dari pak RT maka pergilah saya menuju Kelurahan yang jaraknya hanya sepelemparan batu jauhnya dari rumah pak RT.


Saya terhenyak, karena meskipun jaman katanya sudah berubah ke arah yang lebih baik, jaman reformasi, namun saya masih melihat pemandangan para perangkat Kelurahan ini kebal-kebul menghisap sigaretnya sambil sesekali meminum kopi dan terus melanjutkan membaca koran pagi itu. Saya tidak merasa mereka sedang mencari komplain di media, namun memang itulah kebiasaannya.
Kenapa?
Karena pada saat ada seorang ibu masuk menanyakan BLT mereka seperti tidak serius, saling lempar tugas, tidak ada layanan khas pejabat publik yang ideal dan dicita-dicitakan. Akhirnya yang melayani adalah petugas wanita yang kebetulan juga melayani saya. Ibu ini memang paling muda, namun apakah itu berarti semua pekerjaan harus dilimpahkan kepadanya, sementara kalau dibandingkan gaji dan fasilitasnya mestinya yang senior mendapatkan lebih banyak sehingga sudah seharusnya yang senior kerjanya lebih banyak. Terlepas dari itu semua sudah seharusnya jiwa melayani dengan baik dan setulus hati ada pada mereka tanpa pamrih, karena itulah profesionalitas apalagi kalau sampai dibilang pekerjaan ini sebagai pengabdian.

Saya juga pernah mengalami kejadian saat saya mengendarai kendaraan melewati Tasikmalaya, saya salah arah karena rambu yang tertutup dedaunan pohon sehingga tidak terlihat sebagai rambu. Meskipun jelas-jelas plat polisi kendaraan saya dari luar kota dan saya menunjukkan rambu yang tertutup itu, polisi tidak mau tahu. Tetap menilang saya dan akhirnya bilang kalau rambu yang tertutup itu bukan urusannya, melainkan urusan DLLAJ.
Uang pun berpindah karena tawaran ’titip sidang’ menjadi masuk akal, tidak mungkin saya kembali lagi ke Tasikmalaya hanya untuk sidang.

Betapa keterpaksaan yang menjengkelkan.


Mungkin perangkat publik ataupun aparat publik dinegara ini masih lebih cocok disebut keparat!




Posted by ndablek at 16:56:58 | Permanent Link | Comments (0) |

Lambatnya internet kantor


 MENGGUNAKAN internet sekarang sudah menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan lagi, baik untuk bekerja, mencari informasi maupun sekedar mencari hiburan. Apapun hampir bisa dicari disana mulai dari informasi ’lurus dan terang’ sampai dengan informasi ’kusut dan gelap’. Kebutuhan untuk mendownload email tatkala email kantor bermasalah juga penting.


Cuma saya heran dengan aturan beberapa kantor, bahwa bandwith sangat dipengaruhi golongan dan jabatan. Otomatis untuk golongan menengah bawah alias kaum ndelosor ya cuma dapat kepretan saja. Download file berukuran 1 MB dipastikan menjadi lama padahal jelas hal itu mengganggu ritme kerja staf operasional. Kontradiktif dan kontraproduktif, karena justru orang arus bawah  waktunya lebih tersita untuk operasional sehingga pemakaian waktu yang optimal menjadi sangat penting, ketimbang kaum penggede yang tidak banyak memanfaatkannya. Toh kerjanya lebih banyak meeting, mikar mikir, ngusul dan...... sudah, ya cuma itu...tidak tersita untuk membuat laporan harian grafik, analisa dan sebagainya. Semua hampir dikarjakan oleh bawahan maupun ajudannya.


Yang bikin saya kemingkel geli, dikantor seorang teman di salah satu kota di Sumatera, dengan alasan efisiensi dan agar karyawan tidak malas bekerja maka manajemennya memutuskan koneksi dibuka dua kali sehari yaitu pukul 10 – 11 dan pukul 14 -15. Hahahaa..,aturan yang aneeehh...


Dimana coba letak efisiensinya? Yang ada kan malah kemacetan arus karena semua orang jadi terkonsentrasi di jam itu, lagian kalau ada hal mendesak tapi akses ditutup jadi mesti ke warnet..atau rela berkorban dengan pulsa pribadi.


Bingung deh....


Posted by ndablek at 16:35:29 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 02, 2008

Norma Hahahaha...



P
ernahkah memperhatikan dilayar televisi atau saat menonton pertandingan olahraga secara langsung maka ada ritual khusus yang dilakukan yang berbeda dengan ritual pertandingan jenis lain. Maksud saya misalnya pada sepakbola, disetiap klub bola manapun, bermain dimanapun, apapun eventnya maka setiap seorang pemain berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan pasti dia akan dikerubuti dan dipeluk rekan-rekan se-timnya.

Namun beda lagi halnya jika seorang pemain voli berhasil mencetak angka pasti tidak ada pelukan dan rangkulan berlebihan, namun hanya tempelan tangan saja.

Pada bulu tangkis, jika pemain sudah mengakhiri permainan dalam sebuah set maka pasti si pemenang akan mengangkat kedua tangannya sembari mengepalkan tangan yang tidak sedang memegang raket.

Kenapa make up lebih cocok digunakan wanita, bisa mempercantik penampilan? Ketika dicoba pada pria justru akan terkesan menjijikkan. Padahal taruhlah jenis torehan warnanya dibuat sama. Mengapa pakaian pria itu-itu saja modelnya, beda dengan wanita yang variasinya sangat banyak tapi tetap pantas? Justru ketika Ivan Gunawan berani memakai pakaian yang beda maka yang ada dibenak adalah..”Bences amat seeeh?”

Selalu saja cewek tomboi lebih gampang diterima daripada cowok feminin.
Coba bayangkan seandainya:
1.      Setelah gol maka para pemain tidak bergerombol namun masing-masing cukup mengepalkan tangan sambil kembali ke posisi masing-masing.
2.      Setelah memenangkan set pertandingan maka pebulu tangkis hanya saling tempel tangan saja tapi tidak mengepalkan tangan.
3.      Pemain voli setelah mencetak angka, segera berpelukan dan bahkan saling bergelayut layaknya pemain bola.
4.      Seorang pria kantoran memakai baju bervariasi, mulai gaun, rok mini, tanktop, kadang celana panjang plus kaos, sepatu hak dll serta ber make up. Sementara wanita selalu bercelana panjang/pendek dan kaos atau kemeja serta tidak make up.

 

Aneh? Janggal? Takut dikira gila? Takut dikira melanggar pakem? Atau karena ya memang sudah begitu dari dulu, kenapa dipertanyakan lagi?

Hahaha..mungkin inilah yang dinamakan normatif tak tertulis, sudah nyaman dan terlalu aneh kalau sampai diubah dengan semena-mena meskipun dalam rangka ”VARIASI / TEROBOSAN”.

Mungkin itu pula yang membuat saya nyaman untuk nunggu gajian, belanja awal bulan, akhir bulan ngitung-ngitung hari dst.

Mungkin itu pula yang mengakibatkan dimana-mana loading pekerjaan selalu berbanding terbalik dengan usia kerja dan jabatan.

Ada yang berminat berani keluar dari pakem?
Posted by ndablek at 11:51:38 | Permanent Link | Comments (0) |