Pendoa disampingku itu
Pagi itu cuaca sangat cerah, saya bangun sedikit siang karena hari Minggu, jadi kalau baru bangun jam delapan rasanya tidak masalah, bolehlah secara berkala saya memanjakan diri untuk bermalas-malasan sedikit lebih lama.
Setelah menikmati sarapan sederhana yang terdiri dari sebungkus wafer Tango, pisang dan segelas teh panas, saya bergegas menuju ke gereja biasa tempat saya ikut beribadah. Pagi itu saya sempat memilih untuk duduk di bangku yang masih longgar, cuma ada seorang pria duduk diujung bangku yang lainnya...yang terlihat sedang serius berdoa sembari terdengar gumaman doanya.
Tepat pukul 09.30..terdengar teng..teng..teng...begitu bunyi lonceng pertanda ibadah segera dimulai.
Seiring dengan jalannya ibadah, didalamnya ada beberapa segmen doa yang harus dilalui. Pertama saya angggap biasa, namun gumaman orang yang berada disamping saya ini lama kelamaan mulai mengganggu konsentrasi doa saya. Setiap kali pendeta ataupun lektor memimpin doa, maka dengan serta merta orang ini juga berdoa dengan kata-katanya sendiri yang diucapkan secara bergumam...terkadang sedikit berdesis..
”Kenapa sih gak dalam hati saja?!” batin saya.
Konsentrasi saya terganggu karena saya yang single tasking ini jadi tidak bisa mendengar jelas ucapan doa pendeta, sementara doa orang disebelah sayapun juga tidak jelas..
Dalam hati saya mulai menggerutu...padahal digereja...dan saat sedang ibadah...
Disaat terakhir menjelang pulang terdapat doa syafaat, sekali ini saya sudah pasang ancang-ancang. Awas, saya tidak akan kalah konsentrasi berdoa!
Sayapun sudah mempersiapkan diri untuk lebih berkonsentrasi lagi terhadap ’hanya suara doa pendeta’ ketimbang terganggu dengan gumaman dan desisan. Namun hal yang lucupun terjadi ketika pada doa terakhir penggumam disebelah saya tiba-tiba hening, saya justru merasa kehilangan.
Saya tunggu-tunggu dan coba perhatikan kalau-kalau saya yang kurang jelas mendengarnya. Hingga pendeta berkata ’Amin’ saya baru sadari kalau ternyata saya tidak memperhatikan kata-kata doa pendeta. Artinya sayapun tidak berdoa..hanya memejamkan mata namun sebenarnya mencari sumber pengganggu yang tiba-tiba hilang. Terlewat lah sudah kesempatan saya untuk bersama-sama jemaat berdoa syafaat.
Terlalu fokusnya saya pada kesempurnaan..sok benar..sok suci..sok khusyuk, membuat saya terusik terhadap bunyi doa tulus orang yang justru saya anggap sebagai pengganggu.
Mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari kalau saya terlalu fokus pada kesempurnaan, fokus mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, bisa jadi saya justru yang akan kehilangan saat terbaik hidup saya, karena orang hanya menaruh benci dan dengki kepada saya dan mereka menjauhi saya.
Jadi kalau dipikir-pikir, penggumam tadi justru lebih baik karena beribadah serius sesuai keyakinannya, sementara saya malah menyesal, kehilangan saat terbaik ibadah itu...seiring kehilangan suara desisannya.











