Senin, Agustus 11, 2008

Pendoa disampingku itu


 Pagi itu cuaca sangat cerah, saya bangun sedikit siang karena hari Minggu, jadi kalau baru bangun jam delapan rasanya tidak masalah, bolehlah secara berkala saya memanjakan diri untuk bermalas-malasan sedikit lebih lama.

 

Setelah menikmati sarapan sederhana yang terdiri dari sebungkus wafer Tango, pisang dan segelas teh panas, saya bergegas menuju ke gereja biasa tempat saya ikut beribadah. Pagi itu saya sempat memilih untuk duduk di bangku yang masih longgar, cuma ada seorang pria duduk diujung bangku yang lainnya...yang terlihat sedang serius berdoa sembari terdengar gumaman doanya.

Tepat pukul 09.30..terdengar teng..teng..teng...begitu bunyi lonceng pertanda ibadah segera dimulai.
Seiring dengan jalannya ibadah, didalamnya ada beberapa segmen doa yang harus dilalui. Pertama saya angggap biasa, namun gumaman orang yang berada disamping saya ini lama kelamaan mulai mengganggu konsentrasi doa saya. Setiap kali pendeta ataupun lektor memimpin doa, maka dengan serta merta orang ini juga berdoa dengan kata-katanya sendiri yang diucapkan secara bergumam...terkadang sedikit berdesis..
”Kenapa sih gak dalam hati saja?!” batin saya.

Konsentrasi saya terganggu karena saya yang single tasking ini jadi tidak bisa mendengar jelas ucapan doa pendeta, sementara doa orang disebelah sayapun juga tidak jelas..
Dalam hati saya mulai menggerutu...padahal digereja...dan saat sedang ibadah...

Disaat terakhir menjelang pulang terdapat doa syafaat, sekali ini saya sudah pasang ancang-ancang. Awas, saya tidak akan kalah konsentrasi berdoa!
Sayapun sudah mempersiapkan diri untuk lebih berkonsentrasi lagi terhadap ’hanya suara doa pendeta’ ketimbang terganggu dengan gumaman dan desisan. Namun hal yang lucupun terjadi ketika pada doa terakhir penggumam disebelah saya tiba-tiba hening, saya justru merasa kehilangan.

Saya tunggu-tunggu dan coba perhatikan kalau-kalau saya yang kurang jelas mendengarnya. Hingga pendeta berkata ’Amin’ saya baru sadari kalau ternyata saya tidak memperhatikan kata-kata doa pendeta. Artinya sayapun tidak berdoa..hanya memejamkan mata namun sebenarnya mencari sumber pengganggu yang tiba-tiba hilang. Terlewat lah sudah kesempatan saya untuk bersama-sama jemaat berdoa syafaat.

 

Terlalu fokusnya saya pada kesempurnaan..sok benar..sok suci..sok khusyuk, membuat saya terusik terhadap bunyi doa tulus orang yang justru saya anggap sebagai pengganggu.

Mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari kalau saya terlalu fokus pada kesempurnaan, fokus mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, bisa jadi saya justru yang akan kehilangan saat terbaik hidup saya, karena orang hanya menaruh benci dan dengki kepada saya dan mereka menjauhi saya.

 
Jadi kalau dipikir-pikir, penggumam tadi justru lebih baik karena beribadah serius sesuai keyakinannya, sementara saya malah menyesal, kehilangan saat terbaik ibadah itu...seiring kehilangan suara desisannya.


Posted by ndablek at 15:50:58 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, Juni 24, 2008

Berangkat 10’ lebih awal



Pagi ini saya terbangun lebih awal berhubung saya menumpang eh kok terkesan ga bayar   ya? Menaiki terkesan naik diatas atap ... maksudnya ”membeli tiket secara resmi terus duduk didalam kereta Argo Dwipangga” itu lho, dari Solo menuju Jakarta.
Jam bangun tidur yang biasanya pk 06.00 ketika dua alarm hape saya menyala dengan keras, tadi pagi tidak sempat berbunyi karena sudah keburu saya matikan sebelum bersuara. Bukan karena rajin, tapi karena memang tidak bisa tidur nyenyak, posisi kursi yang bisa direbahkan kebelakang 45 derajat masih terasa tidak nyaman bagi tulang punggung saya. Berkali-kali terbangun akibat badan sering melorot, sementara kaki juga pegal tidak bisa sepenuhnya selonjor karena terlalu sempit.
Untung sebelah saya seorang wanita muda blasteran Jawa Arab yang cukup cantik jadi iseng-iseng  kalau pas bangun saya sempatkan memandanginya...lumayan tombo nguaaantuuuuuk....
Memang wanita akan terlihat cantik saat dia tertidur..

Okelah, cukup sudah soal wanita tadi....ntar jadi KSO2 alias kelingan sing ora-ora.
Singkat cerita, saya tiba dirumah pukul 05.30..nah jam segitu males banget tidur lagi karena bisa diprediksi kalau tidur jadi nanggung.
Saya meneruskan dengan ritual pagi, lalu setelah menyeruput teh panas dan kesumpel roti jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.50, berangkat ahh..

Biasa gas dibejek habis maen diatas 60km/h sekarang justru tidak pernah sampai 50km/h. Berkendara menjadi lebih rileks, sedikit ketawa melihat orang pada ngebut dan  buru-buru..ahh kali ini saya tidak seperti kalian.
Tapi lama kelamaan jengkel juga sering diklakson dan melihat orang yang pada gak sabar mau minta jalan.. ”Apa situ ndak tahu tho, saya ini sedang nyantai..ngebut-ngebut gitu bahaya, eman sama keluarga!” batin saya.
Tapi sejenak habis membatin, saya jadi ingat kalau saya berangkat seperti biasa meskipun tidak begitu ugal-ugalan namun sering juga mengklakson-klakson orang minta jalan. Sering juga merasa jengkel karena orang yang didepan saya ini lelet banget plus membuat manuver yang makan waktu dan tempat.

Hahaha...kutu tengik! Ternyata saya sendiri tidak berbeda dari orang yang biasanya saya umpat, ndak ada bedanya!
Situasinya sama, yang membedakan hanyalah sudut pandang saja..kalau lagi buru-buru maka orang yang berkendara dengan pelan menjadi menjengkelkan dan bersalah, sementara kalau saya lagi nyantai maka orang yang ngebut dan cepat menjadi menyebalkan.

Didalam dunia kerja juga demikian adanya, batas perbedaan antara dinamis, fleksibel dan serba cepat sangat tipis bedanya dengan manajemen tanpa perencanaan dan grusa grusu dalam menyiapkan strategi baru.
Bagi punggawa kantor, orang yang kekeuh bekerja sesuai plan kadang terkesan bekerja lambat, padahal bisa jadi sebenarnya orang yang sama yang merasa semua hal serba lambat tadi sedang kemrungsung oleh ketidaksiapannya sendiri dalam me-manage pekerjaannya.


Posted by ndablek at 00:28:04 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Juni 21, 2008

Sapu Tangan

WAKTU kemarin lihat-lihat parfum di Batam (soalnya ndak beli hiks..takut kena razia bandara.. eh btw bener ndak tho kalau masih bisa lolos bawa cairan lebih dari 100mL???)...saya melihat seorang pria yang sedang melihat-lihat tas kulit sempat menyeka wajahnya dengan saputangannya warna biru muda. Oh no...oh noo... oh yes...oohh...nooo....wah opo tho iki? (kekekekkss...)

Hari geneee geto loooh masih pakai sapu tangan? Padahal secara medis dijamin dah, itu pasti kurang bagus, soalnya dalam kondisi basah keringat atau kena minyak wajah trus dimasukin lagi kedalam kantong (sehingga tidak ada sirkulasi udara dan cahaya) pasti akan mengundang jamur dan bakteri.
Saya sendiri lebih suka pakai tissue karena sekali pakai langsung buang, jadi sudah pasti lebih higienis. Selain itu juga lebih praktis kan daripada ngantongin saputangan, apalagi pas lagi pilek sentrap sentrup kayak Temon...wah..kan mesti juga ada yang nyepret atau malah sengaja disimpen dalam sapu tangan itu. Bayangkan saja saat dibuka lipatannya...mlenyek...lengket, ketarik-tarik...hiiiiiiii.....jijay jablay semlohai kalee..

Sapu tangan pernah berjaya pada masanya, namun kini sudah mulai ditinggalkan. Saya sempat canggung juga membawa tissue..takut terkesan cewek banget...tapi akhirnya memutuskan kita harus berpikir jernih, kebersihan tetaplah lebih penting dari image. Lagian saya ikut mbantuin penebang pohon untuk memanfaatkan kayu yang ditebangnya kan? hahahaa...(*plak!!)

Okelah, intinya, mungkin kita bisa belajar menjadi temen yang baik lewat cerita sapu tangan tadi.
Kemauan menyimpan cerita aib teman atau sahabat, menutupnya rapat dan rela kalau demi si teman tadi kita mau jadi tempat pembuangan ’ingus’-nya demi dia terlihat tampil menarik dan elegan. Kemudian merelakan dicuci dengan empati dan simpati yang harus diperas demi hilangnya aib ingus itu tadi...untuk kemudian menenaminya lagi.

Persahabatan seperti itu apa masih ada ya?



Posted by ndablek at 02:46:38 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, May 12, 2008

SMS Maut 0866



Belakangan ini di Riau (mungkin juga Sumatera daerah lain) sedang dihebohkan dengan adanya SMS berantai yang memperingatkan tentang adanya SMS maut (tidak hanya goyang nih yang maut) hehe. Sayapun sempat dapat sms tersebut yang isinya kurang lebih” Hati-hati jika menerima sms atau telp dari no 0866 atau 0666. Jangan diangkat jika layar berwarna merah. Sudah kejadian di Batam, Bengkalis dan Jakarta ada orang yang meninggal saat menerima telp tersebut.


Sempat keder juga waktu sebuah koran ternama di Riau – ”Tribun Pekanbaru” menempatkannya sebagai headline. Tapi ternyata hanya merupakan ulasan saja, karena kasus ini sedang dilacak oleh pihak kepolisian. Namun ada juga kisah seorang calon pengantin yang tiba-tiba masuk RS gara-gara menerima sms tersebut, bahkan ia menjadi phobia...entah ia memang sudah phobia atau karena saking takutnya ia malah jadi phobia, hilang akal sehatnya. Yang pasti diceritakan bahwa ia terpaksa opname di RS.


Setelah saya pikir dengan mencoba tetap tenang, akhirnya saya memutuskan ini hanyalah sebuah hoax saja. Kemungkinan paling besar ya strategi bisnis, ada tiga hal:


Yang pertama, pihak kompetitor yang sudah lebih dulu ada merasa terganggu sehingga perlu ’membunuh’ citra produk baru tersebut dengan membuat hasutan-hasutan. Bahkan pada beberapa versi sms sempat ditulis bahwa ini adalah nomor AXIS (GSM yang Baik). Tapi inipun ditolak pihak AXIS karena mereka tidak menggunakan prefix 0866 melainkan 0838.


Yang kedua, kemungkinan pemain baru ini (entah siapa) ingin lebih dikenal dengan menciptakan kekisruhan dimasyarakat, mungkin nanti ujung-ujungnya permohonan maaf dan mengatakan isu tersebut tidak benar dan sengaja dihembuskan kompetitor. Nah, dengan demikian langsung dapat promosi gratis. Image sudah menancap kuat dengan sendirinya.


Yang ketiga, ada kemungkinan karena tarif yang murah saat ini ada pihak yang ingin supaya pulsa cepat habis...makanya menciptakan isu-isu yang dijamin akan cukup signifikan menyumbang berkurangnya pulsa.
Tapi yang paling masuk akal bagi saya adalah kita bisa saja mati atau celaka saat membaca sms atau menerima telepon masuk saat mengendarai motor atau menyetir mobil dijalan yang semrawut sementara kita melaju seperti pembalap.


Kalau ada yang bilang ini akibat paparan sinar infra merah...lah kan tidak semua hp memiliki fasilitas ini. Lagipula infra merahpun harus benar-benar adu jangkrik, gak bisa goyang sedikit karena pasti koneksi akan putus. Frekuensi sinar infra merah juga termasuk tinggi, diatas frekuensi gelombang yang dipakai hp sekitar 800 - 1800MHz. Jadi hp pun gak bisa menjangkau lagi.


Kalau ditinjau dari rumusnya: λ = C/ f   , dimana c= konstan.
Didapati bahwa panjang gelombang (λ) berbanding terbalik dengan frekuensi (f). Sinar UV matahari ternyata memiliki energi yang lebih besar, tapi efeknya pun tidak serta merta.
Jadi bagaimana menurut Anda?

 

Posted by ndablek at 14:26:53 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, April 23, 2008

Cekak syukur



Sejak akhir tahun hingga awal April ini seringkali saya mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan ketika bepergian dengan pesawat, apalagi malam hari. Yah, memang musimnya sedang banyak angin dan awan tebal sehingga didalam pesawat sering terasa ajrut-ajrutan. Kalau didarat kita masih bisa sadar bahwa tidak mungkin akan jatuh lebih dari 2 meter, tapi kalau diudara membayangkannya saja saya sudah ngeri. Paling sebal (bercampur takut sebenarnya) kalau saat pilot menurunkan ketinggian jelajah dengan terpaksa pesawat menembus awan tebal dibawahnya, yang berarti adrenalin akan dipacu, sport jantungpun dimulai. Takut pesawat akan kehilangan keseimbangan, takut badan pesawat pecah karena terguncang-guncang dan takut tersambar petir. Kalaupun yakin 1000% bahwa pesawat aman, tetap saja nggak ikhlas rasanya jantung ini dibuat dag dig dug dan berdesir-desir akibat kevakuuman udara..sumpah saya jadi manusia paling penakut sedunia. Apalagi saya pernah mengalami guncangan yang sangat ekstrim saat terbang malam dari Jogja menuju Jakarta sampai seruangan pesawat riuh oleh teriakan takut maupun teriakan doa. Pernah pula saat terbang dari Batam dan sudah mendekat kedaratan Pekanbaru tiba-tiba pesawat dipacu lagi untuk terbang tinggi lagi, beberapa kali terdengar suara hentakan seperti suara roda yang hendak dikeluarkan.Dugaan saya ada roda yang tidak mau keluar sehingga sepertinya pilot berulang kali mencoba, namun kali ini semua terdiam tanpa suara, tidak juga pilot atau crew yang menjelaskan kondisi sebenarnya.

Kalau dilaut saya juga pernah mengalaminya saat menumpang semacam jetfoil dari pulau Belitung menuju pulau Bangka. Dari 4,5 jam perjalanan sekitar 2,5 jam terombang ambing dilaut karena ombak yang sangat tinggi, saking ekstrimnya waktu melihat jendela sering bukan cakrawala yang terlihat tapi semua full biru air laut, suara badan kapal yang dihantam ombakpun sudah mengerikan, seperti ember pecah. Kalau sampai kapal terburai, jangankan untuk berenang wong kepala ini sudah pusing sekali, perutpun mual luar biasa. Rasanya hidup dan mati benar-benar sangat tipis, hanya karena kemurahan Gusti Pangeran saja kita bisa hidup. Betapa kita diingatkan untuk menghargai hidup dan memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik untuk memberikan kebahagiaan kepada orang tua dan keluarga. Sepertinya masih banyak hutang yang belum kita lunasi pada keluarga. Hidup yang sesaat sepertinya normal bisa saja terenggut sewaktu-waktu.

Namun ternyata ada yang tidak berpikir demikian. Saya prihatin melihat di televisi, disalah satu kota di Indonesia terjadi peristiwa mengenaskan tentang ibu dan anak yang meninggal akibat menenggak racun. Ceritanya si anak ini putus asa akibat tidak memiliki pekerjaan sehingga nekad bunuh diri dengan minum apotas yang dicampur air putih. Sang ibu yang mengetahui anaknya telah kaku sangat kaget sehingga oleh adik korban diberikan air minum supaya lebih tenang. Malang benar, ternyata air putih yang disambar ternyata adalah sisa racun yang dipakai untuk bunuh diri si korban. Sang ibu pun akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya menyusul anaknya. Tragis.
Saya heran, kenapa anak ini begitu putus asanya mengakhiri hidup yang sudah diberikan oleh Sang Khalik hanya karena masalah pekerjaan. Mungkin bukan masalah finansial saja, melainkan mungkin ada rasa gengsi / malu luar biasa yang menghinggapi sehingga ia nekad bunuh diri...termasuk secara tidak sengaja ikut membunuh ibunya sendiri.
Sering juga saya dengar berita mengenai anak sekolah yang bunuh diri karena malu uang SPPnya menunggak, karena putus cinta, tidak naik kelas dll.
Kenapa ya hidup ini tidak disyukuri, begitu murahkah hidup ini? Apakah kita sebangsa kucing yang punya sembilan nyawa? Buang satu sisa delapan? Coba tengok burung yang tidak pernah putus asa meskipun ia tidak bekerja, demikian pula cicak yang tidak pernah mengeluh karena harus memangsa nyamuk yang bisa terbang kesana kemari sementara ia cuma bisa merayap. Rasanya tidak ada cerita cicak yang membenamkan diri ke air kolam atau burung yang dengan sengaja membenturkan kepalanya ke dinding karena putus asa menghadapi hidupnya yang keras. Padahal kalau dipikir-pikir bisa jadi dalam 1 hari atau lebih hewan tsb tidak bisa mengisi perutnya sama sekali.
Manusia yang diciptakan tidak saja dengan naluri namun juga dilengkapi akal budi, tentunya lebih bisa berpikir jernih. So guys, marilah kita jujur pada diri sendiri, tidak perlu menjadi yang bukan diri kita, tidak perlu mengutamakan eksistensi, tidak perlu muram memandang keberadaan kita, dan belajar menerima - mensyukuri hal sederhana yang kita miliki sekecil apapun itu. Hidup ini ’mung mampir ngombe’  alias sangat singkat dibandingkan tuntutan kebutuhan duniawi yang tidak ada puasnya. Lebih baik tersenyum, tetap berusaha mencari jalan keluar dan meyakini untuk semua masalah pasti ada solusinya.

Salam

Posted by ndablek at 15:35:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Maret 06, 2008

Terlalu Pongah


Kalau anda doyan melihat tv seperti saya, pasti tidak bisa lepas dari yang namanya teks. Maklum kalau saya sih kemampuan Inggris masih cethek alias dangkal , tidak sehebat VJ MTV yang cas cis cus dan was wis wus tanpa perlu ekstra muncrat. 
Nah tahun-tahun belakangan ini teks pada film-film berbahasa asing terasa agak mengganjal, karena banyak serapan baru yang masih belum saya mengerti.
Misalnya band jadi 'ben', cake jadi 'keik', fashion jadi 'fesyen'  dll. Saya sih tidak tahu resmi/tidaknya, tapi kalau dipakai ditelevisi nasional ya mestinya resmi. Cuma yang mengganjal benak saya adalah kenapa semakin banyak dan mesti mirip ya? Kok tidak sekalian cake jadi 'kue', band jadi 'orkes', fashion jadi 'persandangan' kan lebih orisinil Indonesia :)
Yang saya kuatirkan sebenarnya adalah anak sekolah malah jadi bingung, misalnya suatu saat hidup diluar negeri/ harus menulis dalam bahasa Inggris bisa-bisa menjadi ragu atau malah tertukar dengan serapan tadi.
Mbok ya wis ya tetap pakai bahasa aslinya saja, jadi ndak mbingungke.

Maklumlah, saya ini mungkin salah satu orang yang berpikiran keluar jalur pakem.
Bagi saya biarlah English is English, bahasa Indonesia tetap bahasa Indonesia . Memakainya tinggal dikombinasi saja tanpa perlu diserap-serap daripada membingungkan. Perlu diingat sekarang ini telah masuk era globalisasi, perdagangan bebas dan era persaingan bebas tenaga kerja. Kita tidak bisa lagi selalu berpikiran bahwa milik bangsa ini yang terhebat sehingga seringkali malah terjebak dalam kekaguman berlebihan dan akhirnya menjerumuskan. Sehingga penguasaan kosa kata kita akan semakin kaya didunia perdagangan bebas ini.
Kalau dalam persaingan kerja yang dibutuhkan adalah bahasa Inggris ya mestinya lebih ditonjolkan. Kalau dalam trading kawasan Asia lebih dominan Mandarin ya sebaiknya dipelajari dengan baik.
Kalau bahasa daerah tidak ingin mati ya sebaiknya dibudayakan, tapi tidak perlu lah dinomorsatukan. Seperti suku dipedalaman Papua, memang dilematis, antara mengkonversi budaya atau mengarahkan mereka pada peradaban modern. Tapi menurut saya lebih prioritas yang kedua daripada tetap membiarkan mereka menggunakan koteka dan hidup dari memanah hewan. Tega amat sih kita selama ini...demi kebanggaan yang dipamer-pamerkan...rela mengorbankan harkat makhluk lain yang sejenis.

Entah kenapa budaya mengunggulkan diri (arogan tapi kosong) selalu melekat di diri setiap manusia Indonesia. Mari tengok Visit Indonesia Year yang terlalu berani mengundang wisatawan tapi persiapan untuk kenyamanan wisata tidak juga dibenahi.
Ini buktinya:
- Saya masih sering susah cari tempat sampah diruang publik
- Jalan dan sungai cenderung kotor penuh sampah
- Belum semua restoran memenuhi standar kesehatan, dan belum semua memasang harga yang transparan, umumnya setelah dikasir
- Transportasi umum masih jelek, kotor, penuh sesak dan rawan copet
- Vandalisme dan grafity liar masih merajalela
- Pungli masih berkembang subur
- Bandara masih kebanjiran
- Pengamen dan pengemis masih banyak di perempatan-perempatan jalan
- dan seabrek kecarut marutan tata kota, dll
Lha ini kok ujug-ujug sudah promosi keluar negeri, padahal belum siap.
Mestinya juga pemerintah berbenah dengan sarana umum lainnya seperti money changer dan peta kota ditiap terminal/stasiun/bandara/pelabuhan dengan jelas.
Bila perlu untuk kawasan wisata seluruh informasi keunikan/keunggulan obyek, nama jalan dan rambu disajikan dalam bahasa Inggris sehingga wisatawan tidak perlu takut bingung/tersesat. Harus diakui bahasa Indonesia tidak sepopuler bahasa Inggris sehingga mestinya kita lebih mengedepankan tamu asing tersebut selaku konsumen produk wisata Indonesia. Beda dengan Jerman, Jepang ataupun Cina, mereka ya sah-sah saja ngotot pakai bahasa asli karena keunggulan mereka akhirnya harus diakui oleh dunia internasional, tanpa belajar Inggrispun mereka tidak akan kalah bersaing didunia internasional, lha kalau bangsa ini?
Mestinya ya Dinas Pariwisata itu belajar marketing, supaya nanti tidak mengecewakan orang asing yang terlanjur datang, bagaimanapun mereka adalah konsumen dan akhirnya menjadi duta wisata Indonesia di negerinya.

Sebetulnya tulisan ini lebih ingin saya giring ke tema ”Terlalu pongah”. Kenapa?
- Karena hal itu pula banyak orang meremehkan orang lain yang dianggap lebih rendah atau lebih muda atau lebih miskin.
- Karena hal itu pula bangsa ini terjebak pada keterbelakangan karena selalu merasa ideologinya yang terbaik.
- Karena itu pula banyak orang menjadi sangat miskin karena fasilitas yang menjadi haknya dikorupsi pejabat yang merasa lebih berhak, tak peduli seberapa besar variabilitas pajak orang kaya tapi yang disalurkan ya segitu-gitu saja..itupun dengan catatan ’kalau disalurkan’.
- Karena hal itu pula ada ras yang mengaku lebih tinggi dan mencap ras lain lebih rendah.
- Karena itu ada agama dipertentangkan
- Karena hal itu pula banyak bangsa yang menginvasi bangsa lain karena merasa lebih berhak atas kendali negara yang lebih terbelakang...sudah gitu korban yang ditonjolkan cuma wanita dan anak-anak lagi (kasihan deh kaum pria hehehe...)
Bayangkan kalau semua berpikir kita adalah satu bangsa - bangsa manusia, One Nation Under God...seperti lirik White Lion...pasti tidak ada yang merasa lebih baik dari yang lain, dan tidak ada lagi permusuhan atau perebutan wilayah, karena yang dianggap musuh mungkin hanya alien dari Galaksi Phyteronisactyxz NZ-9.

Nah yang kocak lagi nih, sekarang malah telah terejawantah juga lho di acara televisi, Global TV terjebak oleh ’Happy Show’ yang saya rasa masuk pada kategori tsb. Menertawakan orang asing yang tentu saja minim dalam pengetahuan dan keterampilan berbahasa daerah Indonesia. Kok ya ada-ada saja, kita sudah latah audisi-audisian yang versi aslinya untuk cari bakat tapi di Indonesia jadi wadah mencela dan guyonan saja, eh sekarang kita lebih senang menertawakan kelemahan dan kesalahan orang lain yang disengaja.
Bukannya menertawakan kelemahan sendiri sehingga bisa bangkit dari keterpurukan ini.
Hahaha.... mari kita tertawakan diri sendiri..
Hahaha....
Hahaha...uhuk huekkk..huek...keselak aku..
Posted by ndablek at 12:15:15 | Permanent Link | Comments (0) |

Rabu, Februari 20, 2008

Tanya kenapa?


Menurut saya era keterbukaan saat ini benar-benar telah memberikan cara pandang, berpikir dan bersikap orang yang sangat beda dengan 10 -15 tahun yang lalu...apalagi 20 tahun yang lalu saat saya masih ngejar layangan.
Sekarang dengan banyaknya infotainment, maka lebih banyak rahasia dapur yang diumbar menjadi konsumsi publik. Orang tidak lagi merasa risih atau jengah saat menceritakan aib keluarganya sendiri. Dan herannya orang juga semakin penasaran saja dengan aib orang lain, alih-alih ingin belajar dari pengalaman tsb.
Weladalah...pertanda apa yaa..hmmm...

Dalam berpakaianpun pergeseran norma dan nilai telah terjadi. Saya jadi ingat era 80-an akhir, masih terasa aneh dan janggal (atau barangkali liar) jika ada wanita yang memakai pakaian ketat apalagi terbuka. Yang wajar ya cuma di kolam renang, atau paling-paling di pantai, itupun sebenarnya versi Warkop saja supaya filmnya laris dipasaran. 
Kalau dulu (maaf nih) tali BH masih sangat sakral, tidak boleh terlihat bahkan mesti disamarkan dengan kaos dalam, namun kini lihatlah...justru banyak wanita yang dengan senang hati memamerkannya. Ada warna merah, krem, hitam, transparan bahkan yang sengaja diperlihatkan dengan model ikat leher.
Tidak ada lagi rasa malu dan risih, tapi justru bangga, berkesan modis, gaul dan seksi.

Banyak pula wanita yang super PeDe memamerkan lekuk tubuh indahnya sejak mulai leher, dada, perut, pinggang hingga paha(yang notabene untuk konsumsi suaminya). Dr berbagai bentuk, lekuk, ukuran dan cekungan kok ya kini seolah menjadi milik bersama. Siapapun boleh menikmati secara visual bahkan anak kecil...(tanggungjawab lho)
Okelah mungkin anda berpikir belahan dada juga dulu sudah dipopulerkan oleh para pesinden yang berbusana Jawa, saya tahu itu,tapi perlu diingat umumnya merekapun sudah tua, gombyor, keriput dan tidak menarik lagi secara seksual. Dada yang menyembulpun terpaksa ditampilkan akibat tidak bisa lagi disembunyikan. Tapi yo ndak apa-apa, toh hampir semua tidak serta merta jadi ngeres melihatnya.
Cuma ya itu tadi...kalau yang pamer wanita muda cantik singset nan putih aduhai..apalagi masih kenceng-kencengnya? Apa ya tidak sadar itu malah bisa mengundang masalah ya?
Demikian juga baju muslim yang sudah diciptakan dengan baik, eh semakin hari semakin diselewengkan. Yang penting pakai jilbab tapi bajunya masih aja ketat, lha itu kan sama saja, sami mawon lan podho wae Mbak.

Saya akui sebagai lelaki sayapun cukup 'terhibur' dengan fenomena ini, tapi bagi orang yang tidak menganggapnya sebagai hiburan kan celaka. Masih ingat dong pesan Bang Napi: " Kejahatan timbul bukan saja karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan..dan rangsangan!" Mbok yao nyadar  hei kaum wanita sekalian.

Satu hal mesti diingat, negara ini bukanlah negara dengan budaya liberal seperti dunia Barat, masih banyak yang ditabukan. Kalau di Amerika saya pernah baca kasus perkosaan umumnya terjadi karena balas dendam, ingin merusak masa depan/psikologi orang dan pemerasan. Kenapa? Karena mereka sudah terbiasa dengan yang terbuka. Mereka menabukan sedikit bagian saja. Sama seperti Bali kuno dan suku di Papua sekarang. tapi untuk mayoritas bangsa ini yang perkosaan lebih karena ngeresnya otak pelaku, sebaiknya ya jangan.
Logikanya begini, seandainya jempol kita ditabukan oleh nenek moyang dan harus selalu ditutupi, maka ketika selubung jempol dibuka sudah pasti jempol yang jarang terlihat ini akan merangsang lawan jenis.
Selama jempol belum dipublish secara luas untuk dikonsumsi publik, maka sebaiknya jangan diperlihatkan. Nanti efeknya bisa macam-macam.

Akhir kata dari ngawurnya saya...sebaiknya kita meminta pemerintah untuk 'mempublish' tubuh wanita supaya hal tersebut jadi biasa, wajar dan jamak. Atau kalau dinilai ekstrim, ya makanya mari...kaum wanita, tutuplah kembali sex appealmu dan hadiahkan hanya bagi suamimu saja.

Sementara menunggu action pemerintah, ya saya nikmati dulu visualisasi yang tersisa hehehe....
Cool
Posted by ndablek at 19:07:19 | Permanent Link | Comments (1) |

Rabu, Februari 06, 2008

Jatuh Cinta




6 Feb 2008
Seorang sahabat lama baru saja saya telepon. Dari sekedar basa-basi untuk memecah kekakuan, menanyakan kabar hingga bercerita ngalor-ngidul. Ada perasaan senang, rindu, excited mendengar suaranya, bercanda dan ketawa-ketiwi yang asyik sekali. Pokoknya komunikasi berlangsung tanpa ada kekosongan, nyerocos dan sambung menyambung terus tanpa kehabisan bahan...meskipun lebih banyak basa-basinya.
Tak disangka ternyata baru saja dia putus lagi dari pacarnya, ”Ya ampuuunn..ini anak kok sering sekali gagal membina hubungan, apa sih masalahnya?” Batinku. Ternyata urusan jodoh bukanlah suatu perkara yang mudah, tidak hanya bagi sahabat saya ini tapi tentunya buat semua orang yang pernah merasakan jatuh cinta. Emosi seolah enggan berkompromi dengan logika.
Jatuh cinta memang berjuta rasanya, bisa membuat yang mengalaminya terbengong-bengong, melamun, berkhayal sampai terisak-isak sendiri tanpa perlu aba-aba komandan upacara.
Tidak ada urusan lain yang lebih penting daripada urusan percintaan ini, terutama bagi kaum remaja, seolah krisis moneter, politik, budaya dan kenaikan harga kedelai tidak bakalan mampu  mengalahkan skala kepentingan perasaan insan yang sedang dimabuk asmara.

Masa percintaan memang indah namun terkadang orang yang justru sudah hidup dalam lingkungan percintaan yang sesungguhnya (pernikahan) tidak lagi bisa merasakan bunga-bunga romansanya. Tinggal dan hidup bersama seolah sudah takdir yang harus dijalani dengan sebaik-baiknya agar tidak ada kegagalan yang menimbulkan aib keluarga. Akibatnya cinta mula-mula yang penuh pengorbanan dan perhatian menjadi terpinggirkan...jika bukan terlupakan.

Kalau dulu demi menunjukkan perhatian orang yang sedang jatuh cinta pasti akan menanyakan ”Sudah makan belum, Sayang?, Gimana kondisimu, sehat?” dll. Tapi kala sudah menikah pertanyaan itu bukan lagi basa-basi atau menunjukkan perhatian namun memang benar-benar ada maksudnya.
”Sudah makan  belum?” bisa berarti ”Aku lapar nih, ayo beli makan/ kenapa kamu gak beli aja dari tadi?”
Atau umumnya berlanjut ke ” Kenapa gak segera makan? Ntar sakit loh, repot, mesti periksa dokter nebus obat dll yang biayanya besar..sayang kan!” Jadi sebenarnya pertanyaan tadi diungkapkan untuk mengukur berapa penghematan yang bisa dibuat, pertanyaan tersebut seringkali kehilangan esensinya.
Hal inipun kadang saya rasakan juga, seringkali saya malas berbasa-basi dengan istri saya karena merasa sudah seharusnya dia tahu persis kondisi saya, apa yang saya butuhkan dan apa yang kami butuhkan. Pernikahan bertahun-tahun harusnya membuat kedua insan saling kenal luar dalam jadi tidak perlu basa-basi lagi.
Bahan pembicaraan suami istri seringkali bukan lagi mengenai rasa/pernyataan cinta satu sama lain (yang mendasari kehidupan berumah tangga), tapi lebih sering terjerumus pada pembicaraan finansial, apa yang bisa dihemat, berapa tabungan sekarang, kenakalan si buyung lebih mirip siapa, tetangga bikin pagar baru / punya mobil baru, cucian sudah diangkat belum, kenapa lantai masih belum di pel, bulan depan jatah arisan kita bukan, mau nyumbang pernikahan si A berapa dll.
Seringkali dianggap cinta suami istri ini sudah sangat kuat sehingga tidak perlu lagi dikomunikasikan, di refresh bahkan untuk dipertanyakan! Kalaupun sudah agak pudar maka normatif yang berlaku akan bilang wajar, kan sudah bukan remaja lagi, inilah hidup yang sesungguhnya, cinta yang sesungguhnya ya begini...toh masing-masing telah memegang komitmen dan tanggungjawab berkeluarganya, jadi untuk macam-macam percuma aja.
Padahal komunikasi dan menyatakan rasa cinta satu sama lain sangatlah perlu, ibarat suplemen/vitamin bagi kehidupan percintaan kita, supaya kita ingat bahwa dalam hidup tidak harus  melulu persoalan uang, urusan house keeping dan bermasyarakat saja.
Nah sahabat lama saya tadi... sebenarnya mantan pacar saya.Sealed
(#!@$#$^%^&)
Posted by ndablek at 15:38:26 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Februari 04, 2008

Deadly Thought


3 Februari 2008


Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Ikan dan udang menghampiri dirimu


Petikan lirik lagu Koes Plus ini memang cukup menggambarkan kekayaan Indonesia yang memang sangat gemah ripah loh jinawi. Tanah nan subur, laut nan luas membentang di segala penjuru mata angin pulau-pulau di Indonesia.

Namun kini seolah sepertinya semua tidak berarti lagi, negeri yang subur tapi tanpa pengolahan dan manajemen yang baik telah membuat kehidupan mayoritas manusia yang ada di negara ini terpuruk dalam kemiskinan. Dagelan tenan.. rakyat kita semakin kurus dan tenggelam dalam lautan susu kebanggaannya sendiri. Tanah yang subur ini berubah menjadi makam, ibarat lumpur aktif, menyedot siapapun yang berada diatasnya kedalam kehidupan yang berada dibawah garis kemiskinan. Ibarat katak yang mati dalam panci karena terebus perlahan tanpa dia sadar bahwa loncatlah jalan keluarnya.

Trus apa dong yang salah?

Begitu banyak potensi alam yang sempurna untuk dijadikan tujuan wisata sehingga mampu meningkatkan ekonomi rakyat yang hidup disekitarnya seolah tidak ada harganya, dibiarkan mangkrak dan terbengkalai.

Eksploitasi hutan besar-besaran secara tidak terkendali telah membuat ibu pertiwi diperkosa untuk kemudian ditinggalkan dalam kondisi tercabik-cabik dan kuyu.

Negeri agraris pun hanya tinggal slogan warisan karena profesi petani tidak diminati lagi oleh kaum mudanya, pekerjaan ini telah menjadi pekerjaan kelas bawah dan rendahan, hanya cocok untuk orang yang tersingkir dari dunia akademis, industrialisasi dan modernisasi.

Di negeri agraris ini pulalah beras lokal, gula lokal, bahkan sampai kedelai lokal seperti dianaktirikan.

Hasil bumi luar negeri justru menguasai sebagian perut rakyat negeri ini sampai-sampai pernah ada masa dimana teknologi secanggih pesawat CN 235 dan 250 yang ditelorkan oleh kaum cerdas dan bergengsi negeri ini malah ditukar beras karena ternyata otak yang cerdas masih butuh perut yang kenyang!

Jadi sebetulnya daya tawar mana yang lebih tinggi, hasil bumi atau hasil industrialisasi?

Kalau diamat-amati justru negara dengan kekayaan yang pas-pasan justru yang mampu melesat menjadi negara maju. Ketika keadaan ini begitu memaksa manusia untuk bertahan justru disana lahirlah kreativitas dan inovasi, dan yang pasti, perasaan menghargai apa yang dimiliki dan menjaganya sebaik mungkin karena hanya itulah yang ada. Bandingkan dengan bangsa ini yang hidup dalam kekayaan, justru akhirnya tidak mampu menghargai apa yang dimiliki. Mengacuhkan dan menelantarkan harta yang telah ada ditangan karena dipikirnya kekayaan ini abadi.

What a deadly thought!

Posted by ndablek at 13:38:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Macetnya ibukota


1 Februari 2008
Waktu tempuh dari kantor menuju tempat tinggal saya di Jakarta sebenarnya ’hanya’ 20 – 25 menit, namun kali ini terpaksa saya tempuh hampir 3,5 jam akibat banjir yang berujung pada lumpuhnya lalu lintas Jakarta. Entah spekulasi kurang matang, nekad, kepentingan yang mendesak atau karena sudah kebelet buang air sehingga banyak pengendara mobil dan motor yang memaksa melintas digenangan yang dalam dan hasilnya sudah gampang diterka, merekapun terjebak. Namun ada juga macet yang disebabkan karena rasa sayang pada mobilnya, jadi meskipun saya yakin aman untuk dilalui tapi si pengendara pilih diam menunggu banjir surut.
Soal macet dan kebelet ini kok menjadi menarik ketika sepertinya di Jakarta ini kemanusiaan telah hilang dari peredaran peradaban. Banyak media dan LSM bahkan pemerintah membicarakan Hak Azasi Manusia namun hak untuk kencing dan buang air besar menjadi terabaikan saat banjir/macet dan tidak ada satupun media atau organisasi yang membahasnya.
Saya pun terpaksa mengencingi tiang jalan tol, wow..sungguh prestasi yang hanya bisa dibayangkan oleh kaum pekerja kantoran yang lain. Cuma yang terpikirkan adalah bagaimana kalau saya ingin buang air besar atau kalau saya adalah seorang wanita yang sedang terjebak kemacetan dijalan? Apa saya mesti meninggalkan mobil begitu saja dan mampir ketoko/rumah disisi jalan?Kalau pas dijalan tol yang macet seperti yang wajar kita temukan di Jakarta?
Secerdas apapun pasti tidak akan menemukan jalan keluar yang cukup elegan sebagai solusi atas permasalahan ini.
Wanita sebagai sosok yang saya kagumi karena unik dan luar biasa, kalau dia sehat akal, tentunya akan menjadi kehilangan muka dan harga diri kalau harus kencing ditepi jalan meskipun kalau terpaksa mau tidak mau harus dilakukan juga. Nah kalau ingin buang air besar?
Lepas dari masalah banjir akibat drainase yang jelek, kemacetan tanpa banjirpun sebenarnya sudah menjadi bagian hidup siapapun di Jakarta ini kecuali pejabat, karena mereka selalu menyerobot jalan orang dengan sirine vorj rider-nya.
Jadi siapa sebenarnya yang salah dalam problem kemacetan yang wajar dan jamak terjadi di ibukota ini? Kusut sekali.
Pemerintah mengatakan karena kemalasan orang menggunakan fasilitas angkutan umum, tapi apa mereka buta? Logikanya pasti supply lebih besar daripada demand sehingga banyak bus dan angkot yang sepi, nah kalau di Jakarta pernah tidak melihat bis yang sepi penumpang? Bukankah bis, angkot bahkan kereta selalu penuh sesak dan berjejal copet? Kenapa pemerintah malah membangun busway yang menyerobot luasan jalan?
Bagi pengendara mobil kesalahan selalu mereka tumpukan pada angkot dan bis yang suka ngetem dan menaik turunkan penumpang sembarangan serta pada sepeda motor yang suka menyerobot jalan. ”Apa mereka tidak tahu etika berkendara?”keluh pengemudi dibalik hembusan AC yang nyaman dan dendangan lagu kesayangannya.
Bagi supir bis dan angkot, penumpang adalah uang. Selain harus kejar setoran agar mereka bisa menopang nafkah keluarga, mereka juga harus menghormati hak pelanggan yang ingin diturunkan dititik yang dikehendaki. Istilahnya kerennya CRM atau Customer Retention Management.
Penumpang juga pasti marah dan tidak mau pakai angkutan itu lagi kalau sudah bilang STOP berkali-kali tapi berhentinya masih 400 meter  kemudian. CRM yang bagi karyawan kantoran adalah istilah yang super keren dan menjadi mewah dalam memenangkan pelanggan, serta harus ditebus dengan training seharga 3 juta rupiah, ternyata sudah dipraktekkan oleh supir bis dalam cara mereka sendiri.
Supir juga menjadi bodoh kalau banyak penumpang dilampu merah dia malah berhenti 400 meter kemudian dihalte. Memang anak istri mau dikasih makan apa, makan peraturan?
Bagi penumpang, menunggu angkutan dititik lampu merah merupakan favorit karena disitu biasanya angkutan melambat jadi ketahuan mana angkutan yang sudah penuh dan mana yang belum, jadi bisa milih gitu lho. Turun dititik yang yang pas juga menjadi kebutuhan karena cuaca panas yang tidak bersahabat di Jakarta ini. Hitung-hitung menghemat uang jajan es dimasa sulit dan penuh inflasi ini...mending dipakai buat nambah dana untuk beli tempe atau minyak tanah yang harganya terus melambung.
Bagi pengendara motor yang efisien, biang penyebab kemacetan selain bis dan angkot tentunya adalah mobil pribadi. Kenapa? Karena di Jakarta ini kalau dicermati pada jam sibuk, banyak sekali mobil-mobil yang dikendarai hanya oleh 1 orang saja padahal ukurannya sangat makan tempat karena umumnya dirancang untuk 4 – 8 penumpang. Motor menyelip menjadi wajar karena rasa kesal yang disebabkan oleh mobil tadi, sudah makan tempat masih coba menyerobot pula sehingga seringkali terlihat terjebak pada posisi miring dari lajur yang seharusnya, belum lagi betapa emisi yang demikian menyesakkan paru-paru dan membuat mata menjadi perih.
Bagi LSM dan kritikus, mestinya pemerintah menyediakan angkutan jalan yang bersih, aman dan nyaman serta pembangunan mesti berkonsep vertikal, bukan horizontal lagi karena lahan semakin terbatas. Tapi hal ini selalu di tanggapi dengan argumen atas nama budget. Lihat saja proyek monorail yang tiang-tiangnya mangkrak karena budgetnya cekak (kurang perhitungan atau dikorupsi?).
Nah saya sendiri masih kepikiran yang soal buang air besar tadi itu lho.
Apa ya kira-kira solusinya?
Posted by ndablek at 13:36:48 | Permanent Link | Comments (0) |