Senin, Agustus 11, 2008

Kulit Pisang Itu



HARI
Sabtu merupakan hari belanja buah, setidaknya begitu bagi saya karena tiap hari Sabtu saya pasti menyempatkan diri membeli buah dipinggiran pasar dekat rumah. Maklum hidup terpisah dari istri, jauh dari keluarga membuat saya harus bersikap bijak, kalau hanya mengandalkan buah katering kantor mestinya tidak cukup buat kebutuhan badan yang sedemikian besar ini. Biasanya saya juga mengkonsumsi suplemen / vitamin namun itu kan kurang alami. Siang ini saya menyempatkan membeli sesisir pisang ambon, biar jantung sehat sehingga istri saya tidak perlu kuatir karena suaminya bisa jaga diri dengan baik.


Silahkan dipilih..dipilih...dipilih...eh..kok malah saya yang jualan.. hkkhkhkk... singkat kata saya berhasil menyingkirkan pisang yang jelek dan mendapatkan pisang yang baik, mulus dan minim flek doklat kehitaman. Tawar menawar harga dan akhirnya dengan suka cita saya bawa pulang pisang itu dan tak sabar memakannya.

 

Tidak habis memakannya dalam sehari maka pisang ini segera saja menjadi cadangan makanan saya hingga 3 hari. Mengagumkan ketika saya lihat sisa pisang yang masih ditangkainya itu masih segar meskipun gurat layu mulai nampak dikulitnya. Sangat berbeda dengan saudaranya yang terpisahkan dari tangkai maka dengan cepat kulit pisang itu ditaburi flek coklat kehitaman.

 

Hal yang sebenarnya lumrah dan sering saya lihat, namun baru kali ini saya memperhatikannya, seolah memberi tahu saya bahwa ketika sesuatu kehilangan suplai energi maka ia akan dengan cepat layu.

 

Rasanya sebagai manusia saya mengalami hal serupa,  ketika suplai energi itu mulai hilang, bisa yang bersifat lahir seperti makanan-minuman hingga yang bersifat batin seperti kebahagiaan, nurani, kesetiakawanan dan nilai kemanusiaan maka sejatinya manusia dalam bahaya menuju kematian.
Sejak saat ini saya akan mengecek lagi apakah suplai saya tersumbat, karena saya belum mau mati.



Posted by ndablek at 15:25:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Agustus 04, 2008

Kemben Melorot


Hahaha...jangan marah ya kalau Anda sedang searching dengan keyword ’kemben melorot’ ternyata blog ini yang ditemukan..maaf.


Saya memang mau mengulas tragedi kemben tapi dari sisi yang lain. Sudah diketahui umum dan bahkan saya sempat dikirimi gambarnya oleh seorang teman tragedi kemben melorot, mulai dari Dewi Persik hingga Sarah Azhari..hmm..tubuh yang luar biasa memang  memang amat disayangkan..(*ngelap keringet dulu nih..puff..gak boleh sampe KSO2 alias kelingan sing ora-ora haha)


Ramai-ramai orang menghujat mereka, terutama ke Dewi Persik yang memang sedang hangat dibicarakan orang karena tengah naik pamor. Dewi Persik diaggap tidak senonoh, tidak berusaha menjaga aurat dan sebagainya. Saya tidak sedang berusaha membelanya sih, memang saya setuju kalau goyangan Dewi dianggap erotis dan terlalu berlebihan. Namun untuk masalah kembennya saya rasa sebetulnya ada pihak yang lebih bisa dimintai pertanggung jawaban untuk kejadian tersebut.


Siapa?

Yupp.. Anda bisa membaca pikiran saya kalau mengatakan yang lebih bertanggung jawab semestinya adalah si perancang dan pembuat busana Dewi Persik. Kenapa? Ya karena dia sudah tahu persis busana tersebut akan digunakan untuk manggung oleh seorang Dewi yang gerakannya heboh, mestinya dia memberikan ukuran yang lebih ketat dan memberikan ekstra perlindungan untuk antisipasi kalau busana tersebut tidak sanggup mengimbangi mentul-mentulnya volume dada Dewi saat bergoyang.


Saya yakin Dewi tidak menghendakinya, jadi ya sebenarnya dia adalah korban..maka dia juga tidak mutlak yang salah.
Masalah gampang menyalahkan orang ini ternyata selain saya (yang dengan sengaja menyalahkan si desainer tadi) juga merupakan kecenderungan masyarakat Indonesia pada umumnya. Coba perhatikan, banyak penabrak lari yang sebenarnya lari bukan karena ingin melarikan diri tapi bisa jadi cenderung lari karena ingin menyelamatkan diri dari amuk massa. Padahal belum tentu si penabrak ini yang salah, tapi dia justru korban dari orang yang ugal-ugalan atau dari orang yang secara ceroboh menyeberang jalan secara tiba-tiba. Namun orang tidak mau tahu, pokoknya yang masih segar bugar dialah yang bersalah dalam kecelakaan.


Sudah kebiasaan umum juga kalau yang membawa kendaraan lebih besar menjadi lebih pantas disalahkan daripada menyalahkan yang sebenarnya melakukan kesalahan.


Kalau ada demonstrasi juga demikian, orang gampang saja menyalahkan polisi ketika ada korban yang jatuh, padahal dalam kondisi yang sangat chaos alias kacau dan genting tentunya keselamatan diri dan pihak pelapor juga tidak kalah penting. Sebenarnya kalau menurut saya polisi juga korban, karena dia hanya semacam pion yang diadu dengan demonstran yang seringkali dengan kalap malah berusaha menyakiti polisi penjaga ketertiban itu tadi.


Contoh lain ketika anak gagal, kecenderungan orang tua adalah menyalahkan anak yang dianggap malas belajar, padahal bisa jadi anak yang gagal itu adalah korban dari orang tua yang tidak memberinya perhatian dan arahan yang tepat.


Hhhh...kita memang masih perlu banyak belajar untuk lebih berhati-hati supaya tidak gampang menyalahkan orang lain


Posted by ndablek at 09:28:36 | Permanent Link | Comments (0) |

Hepi Bersdei



Entah siapa yang memulai, namun hingga kini saya masih tersenyum geli kalau mendengar orang menyanyikan lagu Happy Birthday namun dengan pelafalan ’hepi bersdei’ karena kadang yang menyanyikannya adalah orang yang jago inggris.
Yah...kesalahan yang dibiasakan oleh pendahulu kita (dulu mungkin akibat kurang mengerti) memang akhirnya sampai era milenium ini masih saja terbawa-bawa oleh generasi mudanya, bukan karena tidak tahu namun lebih karena tidak sadar bahwa yang diucapkan salah, cenderung karena kebiasaan saja dari kecil.
Inilah bahayanya hidup, mengataakan, melakukan atau memutuskan sesuatu karena kebiasaan atau sudah terbiasa. Saking biasanya kadang kita lupa untuk menelaah lebih dalam, apakah apa yang kita biasakan itu sudah tepat atau belum.


Kepada anak buah kita sering membiasakan menganggap mereka jongos yang bahkan untuk menghapus whiteboard, membereskan proyektor dan kabel usai meeting, mengambil print kita sendiri pun perlu anak buah yang bergerak, membiasakan anak buah yang datang dengan cara kita panggil dan bukannya kita yang mendatangi mereka.


Di kantor saya belakangan sering dipakai anak yang praktek kerja (PKL), namun alih-alih memberikan mereka ilmu dan pengalaman kerja, akhirnya kami malah lebih sering menyuruh mereka untuk memfotokopi, mengambilkan hasil print, membendel berkas, mengembalikan proyektor ke Dept lain, memanggilkan OB dan segala remeh yang lain yang semestinya bisa kami kerjakan sendiri. Bukan karena tidak ada waktu sehingga perlu pendelegasian, namun lebih karena ingin cari enaknya. Dalam diri kami bersemayam impian menjadi raja kecil ,jadi tiap ada kesempatan maka tak lupa memaksimalkannya. Justru ilmu kerja yang mereka cari tidak kami berikan.


Nampaknya kami masih terbiasa mencari enaknya diri sendiri..karena dari dulu ya begitu, turun menurun tanpa sempat menyadarinya hingga sekarang.  Jadi kasus perploncoan STPDN (dulu IPDN), lalu korupsi, kolusi, pungli, money politic dan sebagainya bukan diciptakan karena tapi karena sudah ada sebagai kebiasaan.




Posted by ndablek at 09:23:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Agustus 01, 2008

Semua bermanfaat, asal....

Pasti pembaca sekalian sudah tahu atau minimal pernah mendengar nama masakan seperti cap cay, pak lay, ayam bakar+lalapan, mie kuah, sayur asem, tahu/tempe bacem, asem-asem kikil, kangkung cah terasi, rujak cingur, kerapu tim, siomay Bandung, gulai, gudeg, timlo, pecel ndeso ataupun soto daging sapi.


Semuanya menjanjikan cita rasa khas masing-masing yang sudah barang tentu akan mampu menggoyang lidah para penikmatnya. Menulis dan membayangkannya saja sudah mamu membuat saya ngiler hahaha.. apalagi ditutup dengan secangkir wedang teh manis, atau segelas es jeruk nipis yang menyegarkan.


Tak hanya cita rasa, namun soal kandungan gizi baik protein maupun vitamin sudah barang tentu diberikan oleh masakan tersebut meskipun dalam porsi masing-masing. Akhirnya akan mampu diserap dengan baik oleh tubuh..yang semestinya akan memberikan kesehatan, pengganti sel tubuh yang rusak dan tambahan kekuatan. Membuat tubuh kita menjadi besar dan semakin tinggi hingga batas masing-masing.


Semuanya baik, namun coba kita bayangkan ya...seandainya semuanya itu dijejalkan kedalam mulut kita, kita makan dengan rakusnya atas nama kecukupan gizi dan kesehatan...mungkin respon setelah 30 menit menyantapnya sekaligus adalah rasa penuh, kembung, lalu tak tahan lagi akhirnya muntah..lalu lambung infeksi karena dipaksa terlalu melar dalam waktu singkat. Enzim pencerna juga tidak lagi mampu mencerna semua makanan tersebut dengan baik.


Yah..begitulah..ilustrasi diatas menggambarkan semua hal yang baik dan kelihatan perlu, namun jika terlampau dipaksakan serta merta pasti ada efeknya juga. Semua hal yang kelihatan (atau memang dipikirkan) baik tidak harus selalu dicoba dalam satu waktu secara instan untuk mewujudkan badan yang sehat dan kuat seperti badan Ade Ray. Bahkan Ade Ray saja butuh waktu bertahun-tahun, bukan 1-2 tahun.


Justru ketika makanan itu disantap pada waktu yang berbeda, maka selain tubuh akan merespon dengan baik(menyerapnya), maka lidahpun akan merasa dimanjakan, kandungan gizi akan termaksimalkan, isi kantong juga lebih bisa dikendalikan.


Kepada siapapun yang merasa berambisi, ingatlah ilustrasi makanan ini..semua hal itu diciptakan baik namun tidak semua hal itu perlu. Kegagalan bukanlah akibat kurang banyaknya ilmu&strategi, namun lebih pada kurangnya praktek pada ilmu&strategi sederhana yang sudah dimiliki. Karena meskipun memiliki hanya 1 keahlian namun jika diterapkan dengan sangat baik maka akan membawa pada kesuksesan besar.







Posted by ndablek at 14:52:51 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 16, 2008

Kucing hitam bandara


 Sesaat sebelum terbang ke Jambi minggu lalu saya sempat mengabadikan foto seekor kucing dari kejauhan bilik boarding room, maklum kalau dari dekat pasti saya sudah keluar dari lingkungan bandara dong? Hakhaks..garing..

Kucing ini menarik perhatian saya karena dia hidup sendiri, mengelana tanpa ada yang ngopeni. Bertugas sebagai pekerja dibandara juga bukan, peliharaan tukang kebon atau restoran juga sepertinya bukan. Saya merasa kalah jauh dari kucing itu, dia lebih berani menghadapi hidup. Saya kadang masih takut dengan tidak dipenuhinya Janji Besar dari Sang Pemilik Hidup ini, sehingga sisi finansial selalu dikedepankan bahkan rela mengorbankan kebahagiaan berkumpul dengan orang yang mencintai saya dan yang saya cintai.

Kucing hitam itu tidak terpelajar apalagi berijazah, tidak menjaga kesehatan dengan medical check up 1 tahun sekali, tidak bekerja dan menerima gaji, tidak bisa berpikir layaknya manusia..namun ia sehat terpelihara oleh kuasa Sang Pemilik Hidup..dia lincah bermain dengan semut-semut yang waktu itu sempat mengganggunya. Ahh..betapa hidup yang tanpa beban, meskipun saya juga sempat bingung dia makan dari mana..atau sempatkah menemukan tikus?

Atau hidup tanpa beban dan ekspresi stres kucing tersebut karena memang dia tidak berakal budi untuk mengungkapkannya? Jikalau demikian kenapa dengan akal budi yang seharusnya mempermudah hidup manusia kita justru dibuat penuh kekuatiran?

Ironi, namun inilah yang sering terjadi pada diri manusia, seringkali kekuatiran hidup dan ketidakpasrahan kepada Yang maha Kuasa menjadi biang masalah dari stres dan berjuta beban hidup yang lain...seperti saya!
Posted by ndablek at 18:01:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 09, 2008

Mobil Balap


 Belakangan dilingkungan kerja saya lagi demam balapan.

Balap karung? Oh..bukan..bukan...

Balap karir?..Nyerempet tapi bukan juga
Cuma balap mobil dikomputer aja kok (*plakk*...duh yang baca marah)

Senang rasanya bisa sejenak ’menjadi orang kaya’ punya mobil mewah yang bisa dimodifikasi sendiri tanpa keringetan berpikir berapa sisa tabungan aktual di bank, maklum uangnyapun uang virtual selama pemain bisa menang pertandingan maka disitu pemain bisa mendapat uang yang ditabung untuk biaya modif. Ndak pusing beli BBM juga.
Sejenak pula rasanya bebas merdeka bisa melanggar aturan tanpa perlu dikejar Polantas, nabrak kesana kemari tanpa masalah dan rasa sakit, serta tanpa surat tilang atau uang damai.

Pada sesi ’out run’ ternyata yang paling digemari. Artinya pemain yang bertanding melawan mobil lain dengan rute yang sangat bebas, yang penting mencapai jarak 300m maka lawan dinyatakan kalah.

Menipu lawan menjadi hal yang menyenangkan, tidak dihitung kok poin dosanya, yang penting menang. Bila perlu dari awal disenggol dulu lawannya agar terguling, atau berpura-pura lurus namun begitu didekati lawan dari belakang langsung berbelok dipersimpangan sehingga lawan terkecoh...keciaann deh loe... Ketawa lepas pun bergema

Hhakhakahak...

Kekekkkekkk...

Heueheuuehueueeee...dll nya pokoknya semua jenis tawa ada.

Senyum puas ketika bisa menipu dan akhirnya meninggalkan lawan yang kebingungan menyusuri rute mobil didepan...300m pun terlalui, uangpun bertambah.

Ada pula seorang kawan yang ketika menang dan mendapatkan uang hanya berpikir untuk modif tampilan supaya sangar, padahal ini game balapan. Walaaah ..... hehehe.... cara berpikir yang aneh. Pokoknya tampilan dulu, mesti sangar dulu, sampai lupa jenis pertandingan bukanlah kontes modif melainkan adu cepat. Meskipun penting untuk reputasi (dan pamer tentu saja...kikikkkikkk...), semestinya mengubah tampilan menjadi prioritas kedua, setelah tentunya menggunakan tabungan untuk modifikasi mesin dan hal teknis lainnya.
Salah fokus? Entahlah..yang pasti akhirnya mengeluh sendiri karena ditahap berikutnya yang mobilnya kencang-kencang, mobil dia sudah tidak bisa mengimbangi. Lagi-lagi contoh menggelitik tentang eksistensi yang dikedepankan dan melupakan esensi.

Yah..yang pasti dari permainan ini saja sudah ketahuan sifat dasar manusia (padahal selalu ingin ditutup-tutupi hekhekk..), yaitu: ingin menang dengan segala cara bahkan menyikut orang yang dianggap lawan dan berusaha menipunya...untuk kemudian tertawa diujung sana.
Lalu sepertinya saya juga diingatkan supaya tidak salah fokus, mengerti bidang yang digeluti dan curahkan energi disana. Tidak melebar kemana-mana, sehingga terpilah betul mana yang ’penting’ dan mana yang ’genting’, meskipun sedikit tetapi tajam, daripada banyak tetapi tumpul. Seorang bijak pernah berkata, ”Kegagalan bukan disebabkan karena kurangnya ilmu, tapi lebih karena ilmu yang ada tidak digunakan dengan sebaik-baiknya.”

Alangkah hebatnya Sang Pencipta karena sebenarnya kalau manusia jeli, maka dalam hal sekecil apapun selalu saja ada hikmah yang bisa dipetik dari kehidupan sehari-hari, tanpa harus nyepi dan semedi ke gunung.

Ternyata dalam game remeh temeh pun ada pelajaran yang bisa dipetik, dan semoga ini bukanlah cerminan diri kita, hanya semata game seru-seruan. Dan dalam hitungan ketiga .satu..dua..cklik...Anda lupakan semua..
Posted by ndablek at 09:44:23 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 02, 2008

Pedagang Keliling

Salah satu tulisan di Suara Merdeka ini sangat menarik, sehingga saya mengutipnya disini. Semoga author berkenan, semata apresiasi saya dan karena saya merasa telah sangat diingatkan.”

Salah satu kesukaanku adalah mengamati para pedagang keliling yang lewat disekitarku. Alasan utamanya, karena di antara dagangan itu, adalah jenis makanan kesukaanku, misalnya bubur ayam. Tetapi karena kemajuan zaman, sebagian diantaranya sudah tidak lagi mendorong atau memikul, melainkan sudah berganti kendaraan, termasuk penjual bubur ayam kesukaan ini.

Tetapi aku selalu punya masalah dengannya. Laju kendaraannya itu menjadi terlalu cepat dibanding keinginanku. Urut-urutannya adalah sebagai berikut: pertama kudengar denting pukulan sendok di mangkoknya. Kedua aku tergerak untuk memanggilnya. Ketiga, ketika aku keluar rumah ia sudah tidak ada. Penjual bubur ini lebih menyerupai pembalap katimbang pedagang keliling. Berkali-kali aku gagal berpacu dengan kecepatannya. Daripada untuk membeli semangkok bubur aku harus bertaruh nyawa, kuputuskan untuk berhenti berlangganan saja.

Pedagang bubur ayam ini mengajarkan kepadaku, betapa ada jenis kecepatan yang keliru. Indonesia termasuk negeri seperti itu: ingin cepat mengonsumsi tetapi gagal berproduksi. Risikonya, negeri ini berpotensi mencetak generasi benalu dari waktu ke waktu. Begitu perilaku negaranya, begitu pula perilaku rakyatnya. Ada banyak pengejar kecepatan i negeri ini yang menuju ke arah yang keliru: cepat kaya, cepat berkuasa, cepat populer untuk akhirnya cuma berakhir di ujung derita.

Kali ini masih pedagang bubur, tetapi dengan gerobak dorong yang kutemui agak jauh diluar kampungku. Aku menghentikannya karena sebuah penawaran yang tak biasa. Dari jauh tampak jelas bahwa ia menjual bubur yang belum pernah ada didunia yang tertulis mencolok di sisi kanan gerobaknya: ”BUBUR KACA”. Astaga, bubur apa ini? Apakah ini pedagang yang khusus melayani para pemain kuda lumping kesurupan pemakan beling alias pecahan kaca itu? Padahal setahuku, bahkan kesenian kuda lumping itu sudah menjadi barang langka.

Karenanya ku hampiri dia. Aku ingin tahu bubur apa gerangan ini dan siapa yang hendak memakannya. Olala, semua ini gara-gara tulisan yang kubaca itu belum rampung adanya. Bunyi lengkapnya adalah:” BUBUR KACA-NG HIJAU”. Cuma karena bidang gerobak ini tidak mencukupi, tulisan itu harus berbelok di sisi gerobak yang lainnya. Jadilah dari samping, yang terbaca adalah sebuah tulisan yang menawarkan dagangan paling aneh di dunia. Karena sibuk tergelak, aku gagal membeli bubur yang mestinya juga aku sukai ini. Dibenakku, bubur kacang hijau iu sudah rancu dengan remukan kaca yang dioplos didalamnya. Baru membayangkan saja seluruh tenggorokanku sudah gatal sedemikian rupa.

Pedagang ”bubur kaca” ini dengan jelas mengajarkan kepadaku sebuah spekulasi yang berbahaya. Bahwa inilah pedagang yang gagal membaca bidang gerobaknya sendiri. Betapa dengan gerobak sekecil itu, ia harus membuat tulisan sebesar itu sehingga ia harus menjalar ke mana-mana, ke bidang yang tidak semestinya sehingga mengacaukan mata pembacanya, dan akhirnya mengacaukan pula sumber rezekinya.

Tetapi jangankan pedagang yang lugu ini, karena memang begitu pula keadaan negeriku. Perencanaan adalah sebuah kemewahan karena apa yang telah direncanakan selalu luput dalam pelaksanaan. Karena apa yang dilaksanakan, malah bukan berasal dari perencanaan. Maka Indonesia yang luas ini, akan teramat luas bagi pikiran yang sempit. Maka lahan yang sempit pun akan menjadi padang belantara tanpa keluasan berpikir. Jangankan mengatasi kemiskinannya, membagikan bantuannya saja sudah begini rawan keributan.

Ada lagi pedagang yang satu ini, yang berkeliling kemana-mana tetapi tidak cukup dengan menjual dagangannya, melainkan juga keburukan pesaingnya. Sambil melayani pembeli, mulutnya akan nerocos menjual aib pesaingnya. Bahwa hanya aku yang begini, sementara dia selalu begitu. Jika ada seorang ketahuan berbelanja diseberang, ia segera menganggapnya sebagai permusuhan. Lama-lama pedagang ini tidak sibuk berjualan tapi sekedar sibuk marah dan uring-uringan dan akhirnya bangkrut sendiri. Pedagang ini dengan telak mengajariku, bahwa pesaing terberat di dalam hidup ini adalah kekeliruan diri sendiri.

Posted by ndablek at 11:25:13 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, April 28, 2008

Roti Tawar

Yah, roti tawar.. makanan sederhana peninggalan penjajah Eropa ini (namun penting buat orang seperti saya) belakangan populer diantara teman kantor saya, termasuk saya yang memang suka menyantapnya. Biasanya hanya dipakai buat sarapan pagi atau cemilan sore ditemani segelas teh Gopek atau kopi Nescafe instan hangat di istana pagupon saya.
Eh ternyata setelah dibawa ke kantor oleh seorang rekan, ternyata banyak yang menyambut positif. Senang rasanya mengetahui bahwa ternyata bukan hanya saya yang menyukainya, maklum sekarang jamannya roti abon Bread Talk dan donat J-Co...yang bukannya sombong, tapi justru saya kurang suka karena aroma wanginya yang sangat menyengat..kalau disuruh milih ya saya lebih pilih singkong goreng bawang putih...sedap dan pas banget disantap saat sore, apalagi disantapnya di serambi rumah dan diwarnai aroma tanah yang basah oleh air hujan.
Wah nikmat banget khas masa kecilku. Selain itu, ya alasan ekonomi aja sih saya suka roti tawar, harganya cukup bersahabat dengan kantong saya, apalagi beli sebungkus saja (Rp 6-7ribuan) bisa buat tiga hari sebelum basi di hari keempat. Nulis ini saja sambil makan roti tawar hehe..

Intermezzo nih terkait soal singkong tadi, didaerah Wonogiri yang terkenal gersang dan kering orang sudah tahu bahwa daerah itu populer dengan gaplek, yaitu sejenis makanan dari ubi kayu yang dikeringkan. Wis pokoknya, fresh-nya saja masuk kategori makanan kelas rendah, paling mewah ya cuma digoreng atau dibuat sawut ataupun getuk. Apalagi yang dikeringkan, gengsinya jelas tidak lebih tinggi dari nasi aking khas Pantura, dan jelas kalah sama intip gula aren pasar Gedhe. Yang menarik, orang mengenal singkong sebagai tanaman asli Indonesia..tapi benarkah?

Beberapa waktu yang lalu saya browsing internet dan menemukan suatu artikel, disana dijelaskan sejarah singkong ini yang ternyata merupakan tanaman asli Amerika Selatan, dibawa oleh penjajah Portugis sejak abad 16 namun baru sukses dibudidayakan dan dikomersilkan oleh Belanda tahun 1810 di Indonesia. Menarik ya, padahal kalau di film legenda atau jaman kerajaan-kerajaan kebun singkong sering dijadikan setting..lhah berarti sineas Indonesia kurang ekslorasi dong
J, kan duluan kerajaan itu daripada kebun singkongnya.

Saya tidak akan bahas lebih jauh sih, karena ingin kembali ke soal roti tawar.
Filosofi roti tawar ini adalah meskipun dia tawar (dan sangat murah) namun dia selalu siap dikombinasi dengan berbagai rasa selai, mentega, meses, susu kental, es krim, keju hingga telur dan sayur sehingga menjadi roti sandwich yang mengenyangkan dan memberi energi buat siapapun yang memakannya. Yah, justru dengan ketawarannya (baca : ke-minimalis-annya) roti ini bebas berbaur dengan makanan lain. Bagian roti yang besar bahkan seringkali dilupakan orang yang memakannya karena orang justru cenderung memperhatikan isinya.

Filosofi ini hampir mirip dengan air putih murni yang ditakdirkan tidak memiliki warna, rasa dan bau namun jika diminum bisa sangat memberi kesegaran, dan air putih ini juga siap untuk tidak eksis lagi ketika ia dicampur dengan teh, sirup, susu, kopi ataupun jahe. Orang tidak lagi menyebutnya, hanya materi pengisinya saja yang diperhatikan orang dan dipesan. Saya membayangkan seandainya roti tawar dan air putih ini bisa merasakan tentunya ia akan merasa sedih karena selalu dilupakan penikmatnya saat disandingkan dengan materi yang lain. Padahal tentunya tidak enak minum kopi, teh, susu, jahe dsbnya tanpa dicampur air putih lebih dulu. Demikian juga sangat tidak enak kalau makan selai tanpa roti, makan meses saja atau mentega saja..pasti eneg.

Namun seperti bumi yang rela segala sesuatu tumbuh dan berkembang dengan mengisap, menyedot, menginjak bahkan mengotorinya, tanpa harap pamrih, roti tawar dan air putih adalah dua materi yang rela dilupakan meskipun telah berjasa besar dan mengorbankan eksistensinya sendiri demi eksistensi materi lain.

Dari filosofi diatas, tanpa bermaksud menyinggung orang yang memperjuangkan ’nilai diri’ nya, mengingatkan saya untuk belajar dari roti tawar dan air putih. Betapa seringkali kita lebih mengutamakan eksistensi kita, selalu ingin bersaing dan tampil menjadi yang dipandang orang, disebut orang, diingat orang, dipuji orang.

Sebenarnya lebih baik bagi kita untuk tidak tampil namun bisa memberikan kebaikan kita kepada orang lain, sedapat mungkin biarkan orang lain saja yang mendapatkan eksistensinya. Pesan saya, hati-hati karena eksistensi yang diburu manusia dekat dengan ambisi dan arogansi. Jadi cukuplah buat saya sebagai manusia lebih memilih menemukan esensi kehidupan...meskipun nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan, karena seringkali masih saja mudah terjebak ke arah eksistensi.

Jadi sementara ini saya habiskan dulu sajalah roti tawar ini..
Posted by ndablek at 08:52:56 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, April 11, 2008

MP3 playerku, lorong bahagiaku





Malam ini saya merasa begitu damai, mengenang masa lalu yang begitu mudahnya mekar ke permukaan memori saya, hanya lewat lagu yang pernah populer disuatu masa maka seketika lamunan saya melayang mengenang masa indah yang telah lalu. Pengalaman yang membuat saya merasa mencapai tingkat ekstasi tertinggi. Unik memang, fase hidup saya rasanya terbagi 5, sebelum 1987, antara 1987-1993, antara 1993-1997, antara 1997-2002 dan setelah 2002...tinggal dengar lagu yang pas lirik atau sering saya dengar waktu itu maka akan segera terbangkitkan memori bawah sadar saya sesuai jamannya.

Kali ini saya mendengarkan lagu Yogyakarta milik KLA Project, maka kenangan di Jogjalah yang muncul. Adakalanya tersenyum mengenang perjuangan masa kuliah yang penuh impian, apalagi mengenang masa indah berpacaran waktu itu, oh betapa indahnya..tak terungkapkan lagi dengan kata-kata ketika asyik belajar bersama, janjian saya jemput di perpustakaan kampus UKDW atau mesra berkeliling kota diatas motor menghabiskan malam, dinner sederhana pun terasa sangat romantisnya sambil menikmati suasana Jogja dimalam hari. Sebuah bintangpun pernah kami jadikan simbol cinta (maklum lagi gombal-gombalnya hehe)..jika terpisah cukup janjian lihat bintang Barat itu dan memastikan salah satu dari kami yang ada dibelahan bumi yang lain sedang memandang bintang yang sama.
 
Gorengan terasa begitu renyahnya, pecel lele IKIP, ayam goreng bu Garasi, atau bakso Pak Kribo di Gejayan terasa begitu nikmatnya, kehujananpun terasa begitu riangnya. Tak perlu makanan cafe atau resto franchise mewah, senyapnya mobil atau megahnya rumah. Membayangkan wajah cantiknya pun sudah bisa membuat saya tersenyum sumringah.

Begitu pula ketika terbersit wajah Mbok Rah pembantu rumah kos yang pernah saya tinggali selama 2,5 tahun sebelum akhirnya saya pindah karena rumah itu tidak akan dikos kan lagi. Perempuan tua yang begitu sederhana dan sangat bersahaja namun sangat meninggalkan kesan mendalam, tiap pagi selalu menyediakan segelas teh hangat, menyapa saya, bahkan kalau mangga ibu kos sedang berbuah tak lupa pasti dikupaskannya untuk saya. Sopan dan sangat menghargai, tulus dan khas sekali meskipun saya tidak pernah memberinya uang sepeserpun. Roda hidupnya yang pernah mengalami masa penjajahan, masa pemberontakan PKI, jadi bakul tenongan (penjual makanan kecil keliling dengan menggendong bakul) dan terakhir menjadi pembantu membuatnya sangat senang jika melihat anak muda kuliah demi masa depan yang lebih cerah.

Begitu pula dengan pak Marno, sebut saja demikian, yang setia menemani saya dengan asap rokoknya di pos ronda ketika saya mengajar anak-anak SD atau sekedar bercengkrama ngalor ngidul saat mengikuti KKN di daerah selatan Timoho bersama 5 orang rekan lainnya dalam 1 grup. Belum lagi si Rudy tetangga kamar sebelah yang super setia menge-lap Binter Mercy bututnya yang diberi nama Reno, yang seolah mampu membuatnya pantas bergaya bak Reno Raines dalam serial Renegade. (haha..sorry Rud!)

Ada lagi pengalaman kehujanan di jalan menuju ke pasar Magelang ketika saya membawa 2 karung pakaian pesanan dengan sepeda motor. Terpaksa sebelum setor saya mesti mengelap plastiknya dulu biar tidak terlihat basah. Saking inginnya menabung demi membelikan sang pacar perhiasan emas dari keringat sendiri, apapun dijalani dengan berani, bahkan keterusan dagang sampai akhir kuliah bisa beli TV dan sepeda motor sendiri. Ke-nelangsa-an waktu itu hanyalah awal metamorfosis menuju kebahagiaan setelahnya.

Adakalanya saya sangat merindukan hal itu sampai merasa ingin lagi memutar waktu kembali ke masa itu, pulang lagi pada kedamaian karena saya sekarang merasa sangat sepi, sendiri diantara riuhnya Jakarta.  
Pernah ada masanya, bahkan mungkin sesekali masih saya lakukan..mencari kegiatan-kegiatan yang bisa menggantikan kebahagiaan masa itu. Dengan uang saya mencoba membeli dan menemukan kebahagiaan, hampir semua yang dulu hanya merupakan ’ke-andai-an’ telah saya wujudkan, bahkan yang dulu untuk membayangkanpun saya tidak berani telah saya lakonkan..namun tak pernah bertahan lama. Selalu saja saya kembali pada sepi, dan sekali lagi, sepertinya tidak ingin bangun dari kegairahan mimpi masa lalu, dimana saya berada diantara orang-orang yang tidak dikuasai ambisi, hidupnya mengalir, guyub, tulus dan jauh menghargai ’ke-manusia-an’ dibanding uang dan angka-angka, serta hidup tanpa obsesi berlebihan.

Banyak yang tidak terungkapkan disini, namun terbukti kini, memang kebahagiaan dan ketentraman batin tidak terbeli dengan uang, barang dan status .. hanya bisa dirasakan makna kesejatiannya setelah kita melewati masa itu, dan bagi saya sangat murah, hanya cukup dengan menyalakan MP3 player murahan saya sambil memejamkan mata dimalam yang dingin ini..

Sekarang saya sedang menunggu metamorfosis problema masa kini menjadi indah dimasa depan..

Posted by ndablek at 13:34:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, Maret 18, 2008

Gendutmu Deritaku


Belum lama ini saya pulang dari Pekanbaru menuju Jakarta dengan menempati kursi di kelas ekonomi yang sempit. Seperti biasanya pula saat check ini selalu meminta untuk diberi posisi dekat window agar bisa menikmati pemandangan dari atas awan atau posisi dekat aisle supaya bisa lebih leluasa berinteraksi dengan pramugari..yah..minimal kepretan kecantikan dan wanginya parfum yang bersliweran sudah mampu menghilangkan kejenuhan selama perjalanan.
Nah kalau duduk ditengah saya enggan karena sangat tidak menguntungkan buat saya yang berbadan agak besar ini. Namun waktu itu saat dipesawat saya melihat bangku resmi saya telah dikudeta orang lain, sehingga ditengah antrian penumpang lain yang akan lewat saya putuskan untuk mengalah daripada lalu lintas terhambat. Apesnya, penumpang yang duduk disebelah saya berbadan gendut sekali (untung ga bau), akibatnya kami harus berebutan untuk sekedar mendapatkan sandaran tangan yang sebenarnya adalah jatah saya. Lha wong sakit gendutnya luberan perutnya saja bisa memakan ruang batas saya.
Bisa dibayangkan betapa perjalanan kurang lebih 1 jam 20 menit terasa sangat menyesakkan dan capek, karena tidak ada ruang bergerak, sementara niatan untuk pindah terpaksa saya urungkan karena ternyata tidak ada lagi seat yang kosong.
Yah..mau apa lagi? Komplain? Kepada siapa? Pasal berapa pelanggarannya?
Tidak mungkin saya mengusirnya karena penumpang gendut ini juga membayar, sementara saya malah dibayari perusahaan tempat saya kerja.
Orang ini juga tidak bersalah karena mungkin waktu itu bagian reservasi/ticketing tidak menyuruhnya membeli kursi kelas bisnis yang lebih lega yang lebih cocok buat dimensi sebesar dia.

Ternyata terkadang meskipun yang kita kerjakan seolah tidak merugikan orang lain (karena dianggap hanya pengaruh ke diri sendiri) nyatanya bisa menimbulkan masalah dan menyiksa orang lain. Kalau dicerna-cerna lagi ya ujung-ujungnya ego, kenapa juga dia seenaknya sendiri makan banyak-banyak?
Namun hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya, bahwa semua hal yang kita lakukan memiliki efek ke orang lain, tidak hanya diri sendiri.
 Contoh:
- Kalau makan banyak dan enak dengan alasan toh kan tidak merugikan orang lain, tapi kalau meninggal gara-gara kolesterol atau obesitas kan ujung-ujungnya menyakiti keluarga yang ditinggalkan juga.
- Kalau kita punya event besar kemudian menyewa jasa pawang hujan, sebenarnya meskipun seolah tidak merugikan orang lain karena demi kepentingan bisnis tapi sebenarnya kita sedang memaksakan kehendak ke orang lain. Bisa jadi sebenarnya ada orang yang sangat membutuhkan hujan (misal kebakaran) justru disaat pawang yang kita sewa mengusirnya.
- Kalau kita malas menggunakan parfum dengan alasan 'PeDe aja lagi' bisa jadi berpotensi merugikan orang lain yang kebetulan 'wind angle' nya tidak pas...terpaksa menghirup udara yang sebelumnya telah mengalir diantara celah-celah ketiak kita.
- Terus kalau kita menyuruh anak kita untuk banyak mengikuti les pelajaran demi alasan agar cepat pintar, lebih maju, bagus untuk perkembangan wawasan dan keilmuannya, mungkin sebenarnya kita juga sedang memaksakan nilai ego kita sendiri dimata sejawat alih-alih ingin anak kita bahagia.
- Demikian juga saya saat bekerja, selalu didoktrin bagaimana mengalahkan kompetitor "Kill...(merk)" padahal tentunya dibelakang merk tersebut banyak terdapat rantai nafkah yang jika merk kompetitor ini dimatikan atau diganggu pertumbuhannya dengan sengaja, berarti saya juga telah ikut andil dalam memutus rantai nafkah yang sudah pasti menjadi tumpuan banyak orang didalamnya. Padahal tiap hari selalu memohon agar diberi rejeki yang halal, pamit pada keluarga dengan penuh kemesraan karena ingin bekerja mencari nafkah, bercita-cita hidup mulia bersama keluarga..nyatanya tanpa disadari nafkah itu didapat dari usaha-usaha menumbangkan kompetitor yang dianggap mengganggu pertumbuhan bisnis yang senyatanya juga bukan milik saya. Ambisi manajemen (yang juga bukan pemilik) untuk menjadi bisnis yang paling super dan paling hebat telah menjadi wajar dalam konteks dagang meskipun berpotensi mengorbankan irama kehidupan ratusan ribu bahkan jutaan orang.  

Nah, setelah pengalaman ini saya jadi ingin meneliti lagi, menelisik lebih dalam...jangan-jangan dalam kegiatan maupun kebiasaan reguler sehari-hari, saya telah merugikan dan terlalu jauh mengambil ruang kenyamanan orang lain, meskipun secara tidak langsung.
Semoga saja tidak.. dan kalaupun iya, ampunilah aku ya Gusti untuk segala kenaifan ini!

Posted by ndablek at 14:00:07 | Permanent Link | Comments (0) |
1 2