Senin, Agustus 11, 2008

Tatoo itu Lambang Kekuasaan




Suatu pagi yang normal di Jakarta ketika menuju sirkuit, bis carteran yang saya tumpangi terjebak kemacetan parah. Seperti biasanya kapasitas jalan yang sebenarnya sudah cukup besar masih saja disesaki oleh kendaraan yang berpacu menuju perhentian masing-masing. Cukup lama saya merambat disatu titik hingga saya mulai memperhatikan seoarng pengemudi angkot disebelah kiri bis yang saya tumpangi. Wajahnya bersahaja, berpakaian sederhana dan mengumbar senyum yang menurut saya sangat ramah kepada setiap penumpang yang akan naik.

 

Namun ada yang saya perhatikan dari supir tersebut, yaitu sebuah tatoo dilingkar lengan kanannya. Meskipun ada yang berpendapat bahwa tatoo merupakan sebuah karya seni bahkan warisan budaya namun dikalangan modern tatoo masih lebih lumrah digunakan dikalangan ’hitam’ kalaupun bukan seniman.

 

Hanya saja yang menarik adalah kontrasnya wajah dan senyuman orang ini dengan tatoo di lengannya. Kalau saja yang mentatoo adalah supir biasa yang sorot matanya saja seram, preman terminal atau musisi rock, saya masih akan menganggapnya angin lalu.

 

Saya jadi ingat pengalaman saya sendiri waktu remaja, dimana tidak jarang saya berpapasan dengan remaja garang dikampung, geng sekolah atau preman Mall. Seperti menatap tajam seolah akan menerkam, jika tidak mencari gara-gara dengan memelototi terlebih dulu bahkan meminta uang jajan. Meskipun sebenarnya saya tidak takut karena telah membekali dengan ilmu bela diri namun lelah juga berpura-pura takut dengan tidak berani menatap lama mata preman atau anak geng itu.
Lalu saya punya gagasan bahwa penampilan bisa jadi mengubah status saya dimata mereka. Akhirnya saya memutuskan menindik telinga kiri saya sendiri, dan memakai anting agar terkesan tidak kalah berandalnya dengan mereka.

 

Teori saya pun teruji, seringkali saya meladeni tatapan tajam preman atau anak geng kampung saya dengan tatapan wajar namun tidak berusaha semakin tajam. Anehnya saya seperti merasa mendapat status baru, dimana seringkali saya tidak lagi perlu membuang tatapan saya namun akhirnya justru orang yang pertama menatap tajam itu justru mengakhirinya sendiri dengan segera melihat ke arah lain..mungkin mereka jadi takut sendiri cari gara-gara hahaha...

 

Kini sejak bekerja diperkantoran anting itu tak lagi saya pakai, namun supir angkot yang murah senyum ini mengingatkan akan masa lalu saya..
Mungkin dia sedang menambah rasa aman karena lingkungan kerjanya yang rawan penodongan dan pemerasan oleh komplotan preman, meskipun ironis, seharusnya rasa aman bukanlah didapat dari atribut melainkan harus diberikan oleh pemerintah negeri ini selaku penyelenggara keamanan.


Cuma saya tergelitik, jangan-jangan dalam bekerjapun saya kembali memakai ’anting’ jabatan untuk memperoleh kekuasaan terhadap rekan kerja dan membuat mereka segan bukan karena kewibawaan saya pantas disegani tapi lebih karena segan karena ’anting’ yang memiliki kuasa seperti preman tadi.

Posted by ndablek at 15:49:05 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Juli 19, 2008

Semua mesti dibayar


 DIJAMAN sekarang apa sih yang tidak perlu bayar? Mau makan enak ya mesti bayar lebih. Mau tidur nyaman ya mesti bayar hotel yang lebih mahal. Mau muter haluan aja bayar ke pak Ogah, mau nunggu lampu hijau nyala saja mesti membayar para pengamen dan pengemis. Senyumpun sekarang dikaitkan dengan uang, kalau potensial jadi konsumen ya disenyumin tapi kalau tidak ya bakal mlengos aja tuh SPG. Ndak percaya? Coba ada tidak SPG yang senyum sama pengunjung yang kelihatan kere dan tidak terawat?


Air putih yang dulu sepertinya sumber tak terbatas kini juga sudah dijual. Nah, kalau air pipis, kita kan memberikan sesuatu namun nyatanya ditarik bayaran juga. Mulai yang sekedar Rp 500,- hingga Rp 2.000,- sekali buang. Mahal pisan! Bahkan kalau di KLCC (Twin tower) saya pernah ditarik RM 2 untuk sekali masuk toilet...alamak...


Bahkan teman saya di Jepang mengatakan untuk membuang kursi anak yang sudah tidak terpakaipun harus membayar ke tukang sampahnya, cukup mahal kurang lebih Rp 40.000. Ndak tahulah suatu saat nanti menangis perlu bayar juga atau tidak.


Saya kuatir kelak untuk bernafaspun (menghisap dan membuang) mungkin manusia harus membayar karena tidak ada lagi yang gratis. Sinar matahari pun perlu dibayar. Pertemanan dan ketulusan hati juga berpotensi untuk dikomoditaskan, cinta tanpa uangpun tak bisa langgeng.


Untungnya untuk kentut belum perlu bayar ya hehe..


Nah mumpung sekarang belum perlu bayar marilah kita kentut sesuka hati kita..braatttt......breeetttt.....bruuoootttttt......


Posted by ndablek at 16:52:12 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Juni 02, 2008

Wajah wanita



Sebagai pria
, tidak saya pungkiri ada jenis naluri kenakalan yang saya miliki terkait wanita. Terus terang saya senang sekali mengamati keindahan fisik wanita, bagi saya seperti the piece of finest art . Kalau ada yang gemar memandang lukisan alam, bagi saya wanita adalah lukisan hidup terbaik yang ada didunia. (tentunya yang saya bayangkan disini adalah yang cantik-cantik saja kkekkekekekkkk...maap main pisik)

Namun ada yang masih menggelitik benak saya, tidak tahu Anda pernah terpikir tidak tentang hal ini. Secara visual (dalam kondisi samar sekalipun) seorang wanita sangat mudah dikenali dari adanya gundukan buah dada yang alamak...benar-benar indah..huss! dan bentuk panggul yang khas. Nah saya bereksperimen dengan membandingkan sebanyak mungkin wajah wanita yang bisa saya ingat dan saya lihat meskipun hanya lewat media...dari seluruh ras manusia yang ada di bumi. Gambaran dari leher kebawah serta rambutnya saya hilangkan sehingga tersisa hanya bagian wajah saja.

Aneh, atau lebih tepat dibilang ajaib kali.. Dengan mudah saya mengenali bahwa inilah bentuk wajah seorang wanita, apapun rasnya, apapun warna kulitnya, apapun bentuk tulang dagu, tulang pipi, hidung, mata dan sebagainya. Padahal wanita memiliki bagian wajah yang sama dengan pria, dengan jumlah yang sama pula. Selain itu variasi wajah wanita juga sangatlah banyak. Namun kenapa saya masih saja bisa membedakannya dari pria?

Sebenarnya kode khusus apa ya yang bisa memberikan petunjuk tersebut?

Hal ini juga baru saya pikirkan (emang dasar kurang kerjaan out of the box, jadi mikirnya hal-hal beginian) ketika saya mengetik tulisan ini.
Hampir menggunakan jenis font apapun, bahkan yang tidak pernah saya gunakan, saya masih saja bisa membacanya.

Kenapa ya?
Posted by ndablek at 11:39:48 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, May 12, 2008

Ujian bareng pak Pulisi


Pendidikan sejatinya mendidik tidak sekedar mendapatkan nilai dan sanjungan, tapi bertujuan mampu menghasilkan manusia yang berbudi pekerti serta mampu mengatasi permasalahan dan dinamika hidup bersosial secara arif dan cerdas.


Namun sayang, hingga kini masih saja tingkat kepandaian dan kesiapan kerja senantiasa dikaitkan dengan nilai pelajaran yang sifatnya intelejensia, yang tentu saja tidak mewakili nilai manusia secara holistik yang juga memiliki unsur spiritual, sosial dan emosional.


Akhirnya ujianpun jadi momok yang menakutkan, bagi orang yang secara intelejensia kurang. Tak dinyana para gurupun ikut ketakutan sehingga melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh profesi guru.
Akhirnya ujian pun harus dijaga polisi. Seperti penjara saja sekolah masa kini.


Bahkan guru yang curang langsung digrebek bak maling oleh polisi Densus 88 yang notabene biasa menghadapi teroris. Apakah potensi kejahatan guru seperti teroris? Anda yang tahu.


Tapi ini bisa jadi pengalaman menarik yang bisa dibanggakan ke anak cucu. ” Cu..kakek dulu ujian aja bisa bareng pak Pulisi lho, hebat tho? Jadi ndak perlu jauh-jauh ke penjara, suasananya sudah dapet, Cu. ”
Posted by ndablek at 14:19:23 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, May 05, 2008

Ayam bakar vs Bakar ayam



Uenak tenan
memang ayam bakar warung langganan saya J
, selain murah tentunya. Satu potong tepong (ngerti kan, maksudnya sepotong paha atas bawah) ditambah sambel pedas dan lalapannya cukup untuk menghabiskan sepiring nasi putih.


Meskipun makanan yang sifatnya dibakar menurut literatur kurang baik karena mengandung zat karsinogenik (apalagi kalau membakarnya pakai BBM bersubsidi,
selain bakal pahit, bisa marah tuh pemerintah), tapi menurut saya sih selama menyantapnya tidak tiap hari alias masih sebatas lima hari sampai seminggu sekali sih rasanya masih aman. Jadi saya atur-atur saja kalau habis makan sate ya besoknya tidak langsung beli ayam atau ikan bakar.

Nah ayam ini saya suka karena selain campuran bumbu kecapnya yang pas, warung tempat saya beli ini selalu merebusnya terlebih dulu, jadi tidak seperti daging sate yang langsung dibakar. Jadi aman lah dari flu burung.


Tapi ngemeng-ngemeng tentang flu burung yang disebabkan virus H5N1 itu, saya agak tergelitik dan belum ada sih yang bisa menjelaskan ke saya.


Pertanyaan saya sih simple saja, menurut pemerintah dalam hal ini DepKes RI selama daging ayam dimasak sampai matang dengan suhu tertentu selama minimal batas waktu tertentu pula, maka daging ayam itu aman untuk dikonsumsi. Makanya pula sekarang gampang dilihat di outlet franchise beberapa fried chicken ternama selalu memberikan info bahwa ayam yang disajikan telah melewati proses pemasakan sesuai standar.


Nah, kalau gitu kenapa ya disisi lain ayam yang dicurigai berada disekitar ayam yang mati mendadak langsung digorok dan dibakar tanpa bumbu dulu di galian tanah? Kan sebenarnya (kalau memang aman) bisa dipilah dulu ayam mana yang mati dan ayam mana yang dicurigai. Ayam yang dicurigai ini dimasak saja dengan suhu dan batas waktu tertentu, lalu dibagikan kepada orang miskin yang membutuhkan. Pasti jumlahnya lumayan dan sangat membantu.


Sepertinya masih ada yang belum nyambung nih..
Posted by ndablek at 10:35:02 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, May 02, 2008

Kemecer menuju Ujian



”Peng-pengan sing sinau nek tetep ora lulus yo piye no
? Huu...huu...” isak seorang gendhuk kepada emboknya.

Kegundahan dan kegaduhan hati para siswa daerah mulai menyeruak ke batas permukaan kecemasan. Di Padang dan Bojonegoro sampai diadakan doa bersama yang diprakarsai oleh sekolah, entah ada dikota mana lagi. Ora weruh.. Yang pasti pada doa bersama tersebut dihiasi mbrebes mili dan isak tangis para siswa, entah terharu entah takut.
Terharu karena euforia ’it’s now or next year’ deg-deg plas emosi yang campur aduk - saya pernah ngalami itu, atau bisa jadi tangis takut karena begitu digembar-gemborkannya kengerian akan soal-soal ujian yang super sulit.

Yah memang, tahun belakangan ini Ujian Negara diadakan kembali dan soalnya disesuaikan standar Jakarta sampai-sampai sekelompok guru di Sulawesi membocorkan jawaban demi ...entah nasib anak didik atau nama sekolah atau bahkan reputasinya sendiri sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Hero without Sign Service...begitu versi londo-nya TOEFL 41 :).

Tapi sepertinya ketakutan ini justru lebih karena ekspos media yang dibesar-besarkan, sehingga sudah terlebih dulu menjatuhkan mental para siswa. Ibarat orang kekar yang kalah mental lihat tikus, maka meskipun tikus itu secara teori diatas kertas bisa dikalahkan namun kenyataannya orang justru lari terbirit-birit, ngicrit-ngicrit..bahkan bisa mati kalau saking paniknya lari trus kepleset nyemplung sumur
J

Terlepas dari campur tangan media, saya berharap seandainya ada siswa yang ketakutan menghadapi UN karena rumor, isu maupun desas-desus...cobalah tarik nafas dan tenangkan diri, persiapkan diri dengan belajar, tapi tak lupa pula untuk berdoa.

Niscaya dengan mental yang lebih tenang, pikiran lebih bisa menemui kejernihannya.
Andaipun gagal, maka ingatlah dalam perlombaan kehidupan ini tidak ada menang atau kalah..yang ada hanyalah menang atau belajar.

Semoga sukses ya Nduk!
Posted by ndablek at 11:15:18 | Permanent Link | Comments (0) |

Wong Cuuiiilik!


(gb. wong cilik)

Jadi heran, orang kalau protes dema-demo tuh kok suka banget mengaku-ngaku sebagai wong cilik, rakyat kecil dsb nya ya? Barusan saya lihat juga begitu diprogram Suara Anda Metro TV, ada bapak yang menyuarakan ketidakpantasan permintaan maaf Xanana terhadap Indonesia. Tapi yang saya mau bahas adalah kenapa penelpon mesti menyebut ”saya sebagai orang kecil merasakan bahwa...”  

Saya jadi mikir, lha kalau terlalu ’menghayati’ menjadi wong cilik nanti apa ndak nanti keterusan jadi orang kecil beneran? Cuiliiikk sak cuiliiikkk cuiliiiike...sampai ketip-ketip. 
Padahal untuk memajukan kehidupan dan negara ini yang dibutuhkan adalah ’orang-orang besar’  dalam artian orang yang legawa, pembelajar, ndak grusa-grusu, tidak brangasan dan tentunya cerdas dalm bertindak dan dalam menyikapi sesuatu.

Atau sebenarnya itu sebagai upaya untuk menunjukkan ke-mayoritasan-nya, karena masyarakat Indonesia tanah air beta ini umumnya masih dibawah garis kemiskinan? Tapi ya kalau untuk urusan politik bawa-bawa istilah itu ya jadi kurang pas. Lagipula justru biasanya orang akan memandang sebelah mata terhadap orang yang lebih lemah atau yang mengaku-ngaku lebih lemah.  

Apa ndak lebih baik untuk meningkatkan bargaining power kita dalam mengkritisi politik atau pemerintah atau apapun, kita bersikap dan membawa peran sebagai orang besar, supaya dianggap penting dan lebih dipertimbangkan.

Bayangkan kalau semua bersikap sebagai ’orang besar’, apa ndak keder juga tuh para anggota dewan dan pejabat menghadapi ratusan juta penggedhe?
Ibarat yang ngomong direktur dengan yang ngomong office boy kan pasti shareholder akan beda cara meresponnya.

Kecuali kalau memang untuk tujuan pribadi yang sifatnya menuju kerendahan hati, ya tidak apa-apa bersikap seperti orang kecil dan tidak penting. Tapi perlu diingat, umumnya orang yang benar-benar rendah hati biasanya berusaha sedapat mungkin menekan tuntutan terhadap pihak lain.

Hahaha..semakin nglantur aku!
Posted by ndablek at 11:06:30 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, April 29, 2008

Guling Buluk



Kala badan terasa lelah dan mata mulai mengantuk, pastilah dengan beringas saya akan mencari tilam peraduan, alias kasur untuk merebahkan diri. Nah, kenapa istilahnya ’peraduan’ itu saya juga ndak begitu mengerti, tapi kalau dari tafsiran bebas saya sih karena mungkin dulu belum ada kasur apalagi spring bed yang mental-mentul nyamleng tenan itu. Jadi bingung deh orang yang akan menyebutnya waktu itu, ini..itu..anu..wah kok angel tenan, ya wis peraduan sajalah. Soalnya kan sering dijadikan ajang eksekusi surat (nikah) dan mengadu kesaktian urat (syahwat)
J


Kasur tidak akan lengkap kalau tidak ditemani 2 kawan karibnya yaitu bantal dan guling. Bantal jelas buat menyangga kepala, kalau guling selain buat ajang tampungan iler, umumnya dipakai buat benda pelukan karena sifat dasar manusia senang dengan memeluk, ngunyel-unyel dan lain sebagainya. Nah hal ini juga yang sering bikin saya tidak puas kalau tidur dihotel berbintang, karena kualitas tidur saya mestinya jadi berkurang akibat ketiadaan benda panjang nan empuk ini. Terlalu beresiko kali ya kalau menyediakan guling karena orang cenderung tidur miring, akibatnya ngiler hehe...

Atau takut guling dimanfaatkan untuk hal lain? Hmm...bisa jadi..


Bahan guling sendiri macem-macem, ada yang diisi gulungan spon, ada yang diisi kapuk randu, bulu ketek..eh..bulu angsa, bahkan butiran-butiran semacam stereofoam. Harganyapun bervariasi dari yang termurah beli di Carrefour 19ribuan sampai yang ratusan ribu ada juga.


Uniknya, istri saya sering komplain akibat kesukaan saya sama guling buluk saya karena dibilang jeleklah, joroklah, ga matching dengan sprei lah dll, namun semakin dikomplain maka semakin pula saya pertahankan. Entah kenapa guling ini terlalu berharga untuk ditukar dengan yang baru. Sarungnyapun termasuk jarang dicuci, baru sah kalau sudah lewat tiga mingguan, kalaupun dicuci pasti akan langsung dipakai lagi hehe...
Dan karena selama ini saya tidak merasakan gangguan pernafasan, jadi mestinya tidak perlu dikuatirkan.


Yang saya tahu guling ini nyaman sekali karena empuk dan dingin, sedikit peyot dan ada bau khas disitu, parfum campur keringat campur sedikit kelembaban kali. Kadang saya sampai sedikit komplain kalau kebetulan pulang ke rumah menemui istri telah mengganti sarungnya.


Aneh? Yah tidak tahulah, yang pasti soal iler saya berani sumpah belum setitik pun saya torehkan disana. Bau wangi cucian baru kadang malah membuat saya merasa asing dengan sesuatu pada guling yang ’sangat intim’ ini. Ternyata tidak semua yang dianggap buduk adalah tidak berharga, maka mungkin ada hal-hal lain dikehidupan ini yang sepertinya sudah tidak pantas, perlu kita singkirkan, kita tukar dengan yang baru, atau kita cibir justru ternyata masih berharga buat orang lain meskipun dengan caranya sendiri.


Tinggal mau pakai sudut pandang yang mana. Saya harap dengan menjaga semaksimal mungkin kebersihannya (versi saya), istri saya tidak terganggu.


Mungkinkah anda mengalami hal yang sama?
Posted by ndablek at 15:25:07 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, April 28, 2008

Beli film Kawin Kontrak

Didaerah Jawa Barat, disalah satu kota (sebut saja kota X) populer dengan fenomena kawin kontrak, dimana didesa tersebut sudah jamak ketika masyarakat ’menjual’ anak gadisnya untuk dikawini secara siri selama jangka waktu tertentu. Umumnya pelanggannya adalah expatriat dari Arab dan orang Jepang/Korea, demikian yang saya tahu dari media.


Nah ketika jalan-jalan kemarin di salah satu pusat perbelanjaan saya melihat ada film Indonesia berjudul ’Kawin Kontrak’ maka bayangan saya adalah dengan menonton film tersebut maka wacana tersebut menjadi semakin jelas dibenak saya, meskipun saya sadar pasti telah dimodifikasi menjadi komoditas film dengan bumbu disana sini. Maka sayapun segera membelinya dan menontonnya di rumah.

Wheladalah.....   ternyata isinya bukan mengulas fenomena ’Kawin Kontrak’ dan hikmah apa yang bisa diambil dari sana, namun lebih pada membangun cerita dengan plot yang tidak jauh dari remaja yang mencari dan ingin menikmati kawin kontrak demi seks. Tidak apa-apa juga sih, namun ada yang mengganjal dibenak saya.

Pertama mengenai seks bebas yang diawal-awal cerita digambarkan ada sebuah pengajian dimana sang ustadz mewanti-wanti agar remaja tidak terjebak ke hubungan seks sebelum menikah. Nah ternyata dipelintir oleh remaja tadi dengan mengupayakan nikah siri supaya mereka bebas merasakan seks. Mulai dari mencari pasangan sesuai selera masing-masing, penggambaran sex appeal dan hubungan seks yang seronok hingga seolah semuanya digambarkan dari sudut yang sah, bisa ditertawakan dan tidak menyalahi kaidah nilai yang berlaku.


Sebenarnya yang saya kuatirkan adalah tema film maupun infotainment di Indonesia kini seolah tidak lagi memfilter apa yang sekiranya berefek negatif dan mana yang membangun moral. Karena sesuatu yang tabu dan selama ini dianggap negatif jika disajikan terus-menerus lama kelamaan akan dirasakan sebagai kewajaran oleh pemirsanya.


Mulai soal tema film sex bebas, tema horor dan kekerasan sampai infotainment tentang selebriti yang tersangkut narkoba menurut saya kok membahayakan generasi mendatang. Bukan apa-apa, tapi dijaman saya remaja yang akses informasinya tidak semudah dan seprovokatif sekarang saja banyak terjadi pelanggaran termasuk yang pernah saya lakukan, apalagi kalau diulas sebagai sesuatu yang ’modern’, ’gaul’? Mestinya selebriti yang masuk penjara juga tidak ditampilkan sebagai public figur karena fakta negatif bisa menjadi bias oleh simpati yang sengaja diciptakan televisi.


Dalam program acara disalah satu stasiun tv juga digambarkan bagaimana riuh dan serunya kehidupan malam,  dugem dan segala party yang divisualisasikan sebagai sesuatu yang gaul, asyik, hot dan jaman sekarang banget denga baju minim, keringat, rokok dan alkohol. Bahkan iklannya didominasi iklan kondom, belum lagi tag line yang selalu disebut oleh Host adalah ’Stay away from drug and  keep safe’ yang bisa saya konotasikan dengan jauhi narkoba dan pakai kondom saat having sex. Kenapa anjurannya bukannya jauhi seks bebas tapi ber-seks lah secara aman? Ini yang menjadi aneh buat saya yang sok moralis ini. Memang fenomena ini pasti ada dimasyarakat namun dengan mengangkatnya, maka seolah menjadi sesuatu yang dilegalkan secara norma.


Begitu pula ditayangan sinetron Indonesia gampang sekali ditemukan orang yang bermimik culas sedemikian rupa merencanakan sesuatu yang sangat jahat, apa nanti penonton tidak terpengaruh? Sebenarnya sejauh mana tanggungjawab dari si pembuat tayangan tsb? Apakah hanya berorientasi untung semata tanpa mengindahkan tanggungjawab moral?


Mau dibawa kemana ya moral bangsa ini? Duh..betapa memprihatinkan.
Posted by ndablek at 10:01:49 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Maret 13, 2008

Profesi Mengemis


Kegagalan saya mengatur jam kerja sering membuat saya harus pulang malam setelah biasanya siang hari menjalani serangkaian meeting..dan meeting. Masalahnya kalau pimpinan meeting, ya memang itu seharusnya yang dikerjakan, mikir garis besar haluan perusahaan. Kalau selesai meeting ya sudah selesai pula kerjanya. Tapi kalau orang seperti saya ini meeting ya berarti ada pekerjaan yang harus ditunda dulu dan ada serangkaian pekerjaan baru tambahan hasil keputusan meeting.
Terima deh, saya terima kok, namanya juga masih karyawan bawahan, belajar rajin, menekuni dan sabar untuk bekal dikemudian hari. Karena kerja diperusahaan bukan nilainya yang penting tapi pembelajaran etika dan belajar dewasa, itu yang lebih penting buat saya yang masih hijau ini.
Sebagai manusia, saya merasa harus bertanggung jawab terhadap diri saya sendiri dan keluarga, jadi bisa tidak bisa, mau tidak mau harus berprinsip Hidup adalah Perjuangan.

Malam ini seperti biasanya saya sempatkan sekalian makan, tujuannya kali ini ke sebuah warung makan Padang masih disekitar Sunter. Enak sih meskipun interiornya tak semegah RM Sederhana. Warung ini namanya Salero Bundo, meskipun saya tidak mania masakan Padang tapi harus saya akui secara subyektif bahwa rasa masakan Padang terbaik cuma saya temukan disana, terutama untuk kikil dan sambel terinya.
Saya mengambil best view dengan posisi duduk menghadap ke jalan ketika tiba-tiba saya terhenyak oleh seorang ibu tua berbaju kumal yang sepertinya memelototi tapi kemudian tersenyum sendiri sambil entah bicara apa, samar-samar terdengar. Sempat awalnya saya kira orang gila namun belakangan saya sadari ternyata dia adalah seorang pengemis saat sebuah kecrekan dari tutup botol bekas dia keluarkan dari tasnya. Lirik dan nadanya sumbang, demikian pula artikulasinya.
Ibu ini tidak saya beri uang karena saya pikir dia malas bekerja, ngamen saja tampaknya tidak niat begitu, demikian pikir saya, lagipula sebenarnya ada si pemilik warung yang sudah siap dengan recehan ditangan. Saya juga kepikiran kalau saya memberi uang berarti saya telah mensukseskan profesi ’ngemis’ yang identik dengan kemalasan bekerja, ini karena saya prihatin semakin banyak pengamen yang terlihat dijalanan maupun kampung-kampung...berarti pula saya membiarkan orang terjebak dalam kemalasannya.
Jurus saktinya hanya dengan wajah memelas dan kumal, membawa kecrekan tanpa senandung yang enak didengar, bahkan kalau tidak diberi uang malah mengumpat. Beda dengan Pengemis Sakti yang diceritakan di sandiwara radio Saur Sepuh yang justru sakti betulan.

Paling risih lagi kalau ada pengemis didepan gereja dan tempat ibadah lainnya, kok ya ngepasin jam bubaran kebaktian baru 'ndeprok' dekat pintu. Mereka paling tahu kotbah ditempat ibadah pasti dihimbau untuk mempraktekkan kasih terhadap sesama, dan mereka tahu mereka bisa memanfaatkan ajaran tsb untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa bekerja. Tidak mungkin 20% saja orang dari gereja tidak memberi, berarti kalau umat ada 1000 paling tidak 200 orang dikali Rp 100 s.d 5.000,- sudah masuk kekantong mereka, sementara tidak mungkin juga satpam mengusirnya, mungkin itu yang mereka pikirkan, dan memang selama ini selalu begitu.

Dididik oleh Satpol PP saja sulit, jadi dengan diberi uang makin malaslah mereka. Bahkan menurut investigasi media, seorang pengemis di Jakarta dalam sehari sanggup mengumpulkan Rp 40 – 60 ribu yang berarti menyamai bahkan mungkin melebihi gaji seorang fresh graduate tingkat Diploma.

Saya pernah melihat Oprah Show yang bereksperimen dengan memberi uang kejutan kepada seorang tunawisma di Amerika sana sejumlah USD 100.000 (setara Rp 900 juta). Ternyata tunawisma tersebut kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 6 bulan setelah menghambur-hamburkan uang tersebut dengan menyewa apartemen mahal, beli mobil SUV mewah, menikah, pesta pora dengan kumpulan kawan tunawismanya dan mabuk-mabukan. Sepertinya kaget secara mental sehingga tidak bisa berpikir jernih, uang tersebut seharusnya bisa dipakai sebagai dana abadi ataupun modal usaha kecil-kecilan tapi malah dihabiskan begitu saja. Saat diwawancara ia pun berkata tidak pernah terpikir akan hari esok mau seperti apa, mimpinya telah mati karena sudah terlalu lama menggelandang..

Memang saya masih pilih-pilih, untuk pengamen yang sopan, tidak memaksa serta bisa menyanyikan lagu dengan bagus selalu saya beri uang agak lebih karena saya anggap lebih profesional. Namun untuk tipe seperti ibu ini saya malas memberi karena saya anggap bukan pengamen melainkan pengemis.

Setelah menerima uang recehan ibu ini tidak segera beranjak, namun kali ini saya dengar dia berkata keras-keras mendoakan supaya si pemberi diberkati, diberi keselamatan dan rejeki yang lancar...baru kemudian berlalu sambil berjalan perlahan.
Namun saya kaget ketika mengetahui bahwa ibu tua ini meraba-raba sekitarnya, ternyata dia buta dan bukan gila seperi bayangan pertama saya tadi, jadi berarti tadi dia tersenyum mungkin berdasarkan insting terhadap suara sendok dan piring yang beradu.
Omongan yang tidak jelas dan pelan tadi mungkin sebenarnya adalah sapaan hormat terhadap orang yang dia harapkan akan memberikan kemurahan hati melalui sekedar kepingan uang receh.
Pelototan tadi mungkin adalah keinginannya memastikan setelah ada setitik cahaya redup dari etalase warung yang masuk ke lensa matanya.
Kelu lidah saya, tertegun, termangu seperti kehilangan setengah kesadaran. Menyesal sekali saya tidak mendapatkan berkat yang mengalir dari mulutnya, padahal saya selalu diajari untuk bersikap baik terhadap kaum papa dan terpinggirkan karena disana sebenarnya Tuhan ada untuk melihat sikap kita.
Namun ketertegunan (dan sedikit kemunafikan) membuat saya berat langkah untuk mengejar ibu itu dan memberinya uang, saya gengsi mengingat tidak sedari awal memberi. Saya bingung bagaimana harus bersikap, seolah sudah kadung.

Sampai saat ini, jujur saja masih menjadi dilema, batin bergejolak tiap kali melihat pengemis apalagi yang sudah renta atau malah yang masih kanak-kanak di tiap traffic light.
Campur aduk rasanya:
-         ada rasa marah, terhadap keluarga yang telah menelantarkannya,
-         ada rasa jengkel, karena kemalasan telah membuat mereka mencari jalan pintas bahkan seringkali menjadi profesi paling instan
-         ada rasa iba, karena bisa jadi memang kehidupan tidak berpihak kepada mereka
-         ada rasa bersalah, kalau memberi berarti membiasakan mereka mengemis
-         ada rasa berdosa, kalau tidak membantu sesama yang kesusahan
-         ada rasa ingin membantu pemerintah dalam mewujudkan kota yang bebas dari kaum ini 
-         ada rasa takut, kalau uang itu akan dipakai sembarangan, bahkan mungkin untuk judi atau beli miras atau nge-lem

Terlalu ingin sempurna malah jadi terlalu banyak yang dipertimbangkan, akhirnya malah no action.
Bukankah kita seringkali begitu juga?

Pemerintah sepertinya juga tidak serius mengentaskan masalah ini di Indonesia apalagi ditahun Visit Indonesia Year 2008 ini sudah semestinya wisatawan mendapat pemandangan yang indah, bukan pemandangan kemiskinan dan keterpinggiran.
Mungkin sebaiknya UUD 45 ps 34 ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” direvisi saja menjadi ” Fakir miskin dan anak-anak terlantar diperangi oleh negara” , karena apapun yang dipelihara kalau berupa barang ya akan tetap awet, bahkan kalau yang dipelihara berupa makhluk hidup justru akan berkembang biak dan bertambah banyak.

Heeuuhhh....
Posted by ndablek at 14:48:13 | Permanent Link | Comments (0) |